CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 68


__ADS_3

BAB 68


"Mas…" Panggil Yuna lirih. 


Satrio menoleh ke arah sang istri, wajahnya tersenyum, "tidak papa, biarkan saja, jika mereka menginginkan kekuasaan, aku bisa apa ma? Kamu gak papa kan menemani masa tuaku dalam kesusahan?" Satrio berujar pasrah. "Yang penting aku tak lagi menyakiti dan memaksa Juna, dia sudah terlalu banyak berkorban dan mengalah demi menuruti kemauan para orang tua di sekitar nya." 


Yuna mengusap wajah dan pundak sang suami, "asal mas Satrio baik baik saja, aku sudah sangat bersyukur, dan aku yakin kita tak akan hidup susah," Bisik Yuna lirih, mengingat kondisi Satrio yang akhir akhir ini tidak baik baik saja, memang ingin apa lagi? Suami nya baik dan bertanggung jawab, bahkan selama menikah, Yuna sudah menyiapkan diri dengan menyimpan beberapa aset dan investasi, agar masa tuanya bersama Satrio tak sampai merepotkan kedua anak nya. 


"Aku baik baik saja ma… tolong jangan beritahu anak anak tentang kondisiku." Balas Satrio, wajah Satrio memucat setelah perdebatan dengan adik adiknya beberapa saat yang lalu. 


Yuna mengangguk pasrah, demi menjaga agar Satrio tidak stress karena keinginannya tidak dipatuhi, Satrio memijat pelipisnya, "Kenapa orang orang suruhanku belum juga menemukan siapa pelaku yang menjebak Juna?" Gerutu Satrio ketika melihat ponselnya tak menampakkan notifikasi pesan maupun panggilan. 


"Sebaiknya istirahat dulu mas," Yuna menyarankan. 


"Tidak bisa ma, aku harus menyiapkan banyak hal, agar nanti Arjuna siap dengan berbagai situasi." Satrio membolak balik, berkas berkas pekerjaan yang baru saja ia bawa pulang, "Aku masih kepikiran dengan ancaman orang itu mah, jika sampai video video Juna tersebar, bukan tidak mungkin jika para pemegang saham akan hengkang menarik investasi mereka, jika hal itu terjadi aku yakin Bayu dan Hari, tak akan siap dengan itu, harapan DENt PHARMATION hanya ada di pundak Juna." Keluh Satrio, "sementara aku tak punya muka jika harus mengemis bantuan pada keluarga besan, aku tak mau ma, karena bisa berdiri di atas kaki ku sendiri, itu adalah harga diriku."


"Iya, aku mengerti mas, besok masih ada waktu untuk berbincang dengan Arjuna, sekarang tenangkan pikiran dulu." Bujuk Yuna agar Satrio mau beristirahat. 


__ADS_1



.


 


Sementara itu, masih di rumah yang sama, tapi di bilik berbeda. 


Sepasang pengantin baru sedang duduk diam bersandar di headboard, tanpa saling berbincang, bahkan perdebatan penting tak penting yang biasa mewarnai malam menjelang tidur pun kini tak terjadi, tentu saja membuat Juna merasa aneh, dan serba salah. 


"Sayang…" Panggil Juna ketika sang istri belum juga bersuara. 


"Aku ngantuk," Elak Emira ketika Juna hendak menggenggam tangannya.  


Emira menyibak selimutnya, wajahnya kusut cemberut, sementara hatinya mulai carut marut, padahal baru beberapa saat lalu ia mandi air hangat supaya tidurnya lelap. "Aku lagi gak mood bicara, kita bicara besok saja,"


Arjuna mencebikkan bibirnya, ia sangat berharap bisa menceritakan bahwa antara dirinya dan Ayunda tak ada hubungan apa apa, selain saudara sepupu, tapi sepertinya mood istrinya sedang buruk malam ini, jadi Arjuna pilih mengalah. 


"Yaaaang… tapi aku peluk boleh yah?" 

__ADS_1


"Nggak boleh!!!" 


"Kenapa yang?"


"Karena kamu gak pake baju." Jawab Emira begitu saja, Emira masih risih akan hal itu, bahkan semakin lama Arjuna seperti tak punya rasa malu jika sedang berhadapan dengannya. 


"Kalo aku pake baju, aku gak bisa tidur, kamu mau aku gangguin semalaman?"  Rengek Juna tak mau mengalah, biarkan saja, Juna justru ingin Emira terbiasa dengan kebiasaan nya, lagi pula niat baik memang harus gencar di usahakan, walau toh belum tentu berhasil, setidaknya tak ada penyesalan esok hari, "Boleh yah?" Bisik Juna mulai merapat, bohong besar kalau Juna hanya ingin sekedar berpelukan, walau tak seratus persen, tapi sudah pernah merasakan nikmatnya surga dunia, membuat dia ingin mengulang nya, tentu dengan suasana berbeda, perasaan berbeda, bahkan jika bisa, ada cinta yang mengiringi setiap hembusan nikmat nya. 


Emira diam tak lagi menjawab, ia hanya berpura pura memejamkan mata, bahkan ketika Arjuna merapat dan membelai pipi nya ia pun tak menolak. 


Cup, kecupan lembut itu mendarat di kening. 


Cup, Arjuna tak bisa berhenti, maka berlanjut di pipi. 


"Selamat tidur sayangku, istriku, satu satunya pemilik hatiku, dan calon ibu dari anak anakku,…" Kemudian Juna memeluk erat pinggang Emira, memejamkan mata, megusak lembut diantara harumnya rambut Emira, sungguh aroma yang memanjakan indera penciumannya.



__ADS_1



Othor 🤓: selamat bobo mas Juna 😘 


__ADS_2