
BAB 89
“Awaaaaaassss … !!!”
“Lanaaaa … !!!”
Pemuda itu mendorong tubuh Lana, hingga terhindar dari kecelakaan, namun demikian remaja putri itu pingsan dengan kening lebam dan sedikit berdarah.
“Lana …” Risna memanggil nama anaknya dengan suara tangis pilu, dipeluknya gadis remaja tersebut, namun ia tak kunjung sadar.
Sementara orang orang mulai heboh berkerumun, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Tante … sebaiknya kita bawa dia ke UGD agar ia mendapatkan pertolongan pertama.” pemuda itu mengemukakan pendapatnya.
“I … Iya … bisakah tante meminta bantuanmu?” Risna menatap pemuda berseragam SMU tersebut. “Tolong bantu tante menggendongnya.”
Pemuda itu tersenyum kemudian mengangguk, setelah mengamankan ranselnya di punggung, pemuda itu membawa Lana dalam gendongannya, kemudian berjalan cepat menuju emergency room.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Lana sudah diberi pertolongan pertama, dan kini sudah siuman, dengan infus yang masih menempel di pergelangan tangannya, rRisna bernafas lega melihat kondisi putrinya, tak ada kalimat yang bisa ia ungkapkan untuk menghibur Alana, gadis remaja itu sedang dalam masa mencari jati diri, sangat membutuhkan kehadiran papa nya, tapi sosok yang ia harapkan justru tak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.
“Terima kasih nak … karena sudah menyelamatkan putri tante.”
“Sama sama tante … saya senang melakukannya.” pemuda itu tersenyum ramah pada Risna, dan gadis yang ia tolong beberapa saat yang lalu.
“Terima kasih kak,” Ucap Alana dengan suara lemah.
“Berjanjilah, kamu tak akan melakukan hal konyol yang membuat ibumu khawatir.”
Alana mengangguk pelan, membuat pemuda itu kembali tersenyum.
“Saya permisi tante,”
“Oh … iya,” Risna berdiri hendak mengantarkan kepergian pemuda itu, “Boleh tante tahu siapa namamu?”
“Saya Bisma tante …”
__ADS_1
“Yuna … aku masih mencintaimu … sungguh, percayalah padaku.” Mohon Gunawan. “Bahkan sebelum kepergiannya, Risna mengatakan bahwa ia akan segera mengajukan gugatan perceraian.” Gunawan melanjutkan kalimatnya.
“Pergilah … apapun yang kamu katakan, tak akan membuatku bergeser dari sisi mas Satrio, walau suatu saat Tuhan berkehendak aku kembali sendiri, aku tak akan pernah kembali padamu.” jawab Yuna dingin, bahkan wajahnya terlihat lebih menyeramkan dibanding sebelumnya.
“Yuuunn …” tiba tiba Gunawan bergerak mendekat, bahkan tanpa aba aba pria memeluk Yuna, melihat Gunawan sudah melampaui batasnya, Emira bergerak maju, kemudian dengan kasar melepas pelukan Gunawan, hingga membuat Pria itu terdorong ke belakang beberapa langkah.
“Kau … berani melakukan ini pada orang yang seusia orang tuamu?” tanya Guna marah.
“Karena orang tua seperti anda, tak layak mendapatkan kata hormat, apalagi harus dihormati.”
“Berani kamu berkata kurang ajar padaku?” Gunawan berteriak, dan mengangkat tangannya ke udara, namun belum sampai telapak tangannya mendarat ke wajah Emira, gadis itu dengan mudah menangkap pergelangan tangan gunawan, kemudian memutarnya ke belakang punggung pria itu.
“Aaaaa …” pekik Gunawan kesakitan.
“Ini bahkan tidak seberapa menyakitkan, jika dibandingkan dengan kejahatanmu pada mas Juna, hingga berakhir menyeretku, bahkan kini menyakiti kedua orang tua kami, Anda layak mendapatkan yang lebih menyakitkan dari ini.” Desis Emira, bahagia rasanya, setelah beberapa minggu menahan keinginannya, kini ia bisa berhadapan langsung dengan dalang dari peristiwa yang menimpanya.
Gunawan menatap marah pada Gadis yang ia ketahui sebagai putri dari Alexander Geraldy tersebut, “kenapa? tidak terima? silahkan bawa masalah ini ke direktur utama rumah sakit, karena salah seorang dokternya berbuat kurang ajar pada pengunjung rumah sakit.”
__ADS_1
Gunawan terdiam, hingga membuat Yuna melerai pertengkaran tersebut, “mas … sampai kapan pun tidak akan pernah ada hubungan diantara kita selain mantan suami istri, karena kisah kita sudah berakhir, kamu memiliki kisah baru bersama keluarga barumu, begitu pun aku dengan keluarga baruku, kembalilah pada mereka, karena mereka adalah orang orang yang mencintaimu sepenuhnya, jangan lagi bergantung pada harapan kosong tentang kembalinya kisah cinta kita, sampai maut menjemputku, aku tak akan pernah kembali padamu.” Yuna mengakhiri kalimatnya, “Ayo nak … urusan mama dengan pria ini sudah selesai.” mama Yuna membawa Emira menjauh dari hadapan Gunawan.
💚