
BAB 76
Juna menarik kasar rambut nya dengan kedua tangannya, "shh iiit." Makinya kesal.
Rupanya Hari telah mempermainkan nya, dengan sengaja membuatnya menunggui Ayu yang kebetulan sakit.
Juna segera melakukan panggilan pada Hari, sekali, dua kali, tiga kali, tak kunjung diperoleh jawaban, Arjuna tak pantang menyerah, hingga hampir tiga puluh kali ia melakukan panggilan, barulah Hari menjawab.
"Halo…" Jawab Hari dengan suara parau, khas orang bangun tidur.
"Om dimana?" Tanya Juna mencoba berbaik sangka.
"Di rumah,"
"Tadi om bilang ada urusan?" Juna mulai menyolot kesal.
"Iya, tapi sudah selesai satu jam yang lalu, dan baru saja om ketiduran." Akunya tanpa rasa bersalah.
"Kapan om kembali ke rumah sakit?"
Hening sesaat, Hari tak memberi jawaban, "halo om?" Juna mencoba memastikan, apakah Hari masih menjawab panggilannya.
"Eh i… iya… Iya Juna?"
"Kapan om atau tante Ratna kembali ke rumah sakit?" Ulang Juna semakin kesal.
"Aduh… eh… mmm bisakah kamu jaga Ayu dulu untuk malam ini? Om ngantuk sekali."
"Apa om pikir aku nggak ngantuk?"
"Ya tapi kan, kamu sudah terbiasa jaga malam di rumah sakit,"
"Tapi itu bukan alasan untuk om melemparkan tanggung jawab," Pekik Juna.
"Apa maksudmu melempar tanggung jawab?"
"Apa om pikir aku tak tahu, ini semua akal akalan om saja kan? Supaya aku semakin merasa bersalah karena menolak menikahi Ayu?"
"Kalau iya kenapa?"
__ADS_1
"Om…" Pekik Juna keras, tak peduli ia yang kini berada di lorong rumah sakit.
"Apa? Kenapa? Berani kamu berkata keras pada adik dari ayahmu?" hardik Hari tak mau kalah.
“Om …”
“Lagipula sejak awal Ayu memeng menjadi tanggung jawabmu, ingat … kamu dulu bersedia menjaga dan menyayanginya, ketika kakung memintamu, apa karena sekarang kamu sudah dewasa, lantas kamu melupakan janjimu?”
“Bukan aku melupakan janji om, tapi aku sudah beristri, aku harus memikirkan perasaan istriku.”
“Lalu apa kamu memikirkan perasaan Ayu? dia sudah berharap, menanti, bahkan mencintaimu dengan sepenuh hati, setelah itu kamu meninggalkannya begitu saja.”
“Aku tak pernah meninggalkannya, apalagi memberinya harapan palsu, sejak bertahun tahun yang lalu, sudah aku katakan padanya, bahwa aku menolak perjodohan ini, karena dia hanyalah adik bagiku, aku tak pernah mencintainya, tapi aku mencintai istriku,” Balas Juna tak kalah sengit, “aaaa … satu lagi, bukankah om sudah menikmati kompensasi dari pembatalan perjodohan ini? silahkan nikmati kompensasi yang om dapatkan, tapi jangan lupakan kewajiban om untuk menjaga Ayu, terserah mau om apakan Ayu, aku tak akan lagi peduli.”
Juna mengakhiri panggilan tersebut, tak peduli di ujung sana Hari berteriak dan mengumpat kasar.
Arjuna segera meninggalkan ruangan Ayu, walau marah ia tak sekejam itu meninggalkan Ayu begitu saja, ia menitipkan pesan di meja perawat, bahwa pasien sendirian, karena keluarganya belum datang.
Arjuna bergegas meninggalkan ruangan area ruangan tempat Ayu dirawat, ia ingin segera pulang dan menemui wanitanya.
Tak butuh waktu lama untuknya tiba di apartemen, karena lalu lintas kota sudah mulai sepi.
Lampu remang remang menyambut kedatangannya, bahkan kamar sudah sepi tanpa ada tanda tanda seseorang yang masih terjaga, Emira pasti sudah terlelap.
.
.
.
Mentari pagi menyeruak melalui celah celah tirai kamar, dinginnya pagi masih terasa karena pendingin ruangan yang masih terus bekerja, sementara selimut Emira entah sudah berada dimana.
Emira menggeliat membuka mata, ia terkejut ketika mendapati kaki dan lengannya dengan kurang ajar menjadikan tubuh Juna sebagai pengganti guling, dan lebih terkejut lagi karena telapak tangan suaminya bergerilya nakal di sana mengusap dan membelai tungkai jenjang hingga pertengahan Pa ha mulusnya, seketika ia merutuki dirinya yang semal memilih piyama pendek.
"Sudah bangun sayangku?"
Mendengar suara khas sang suami, seketika Emira menarik kaki dan tangannya hendak menjauhkan diri, tapi ternyata tangan Juna lebih dulu mengeratkan pelukan, hingga Emira tak bisa beranjak menjauh.
"Lepas…" Ujar Emira ketus, teringat semalam bagaimana pria itu diam saja ketika ada seorang gadis memeluk tubuhnya.
__ADS_1
"Gak mau,"
"Kenapa?"
"Karena aku suka kalau kamu memelukku seperti ini." Jawab Juna dengan seringai dan wajah tengil nya.
"Bo'ong banget."
"Nggak, saat ini aku sedang sangat jujur."
Emira tersenyum seraya memiringkan sudut bibirnya, "dasar genit, sekarang aja kamu bilang suka, terus semalam di peluk gadis lain, diem aja, gak nolak, gak marah, gak ingat juga kalau sudah punya istri." Emira mengeluarkan uneg uneg nya.
Arjuna tersenyum senang menikmati wajah cemberut sang istri, "kamu cemburu?"
"Nggak, harus banget yah aku cemburu?"
"Ya nggak harus sih, tapi aku lebih suka kalo kamu cemburu, itu artinya kamu mulai ada rasa, mulai takut kehilangan, mulai tak rela kalau aku di dekati gadis lain."
"Iiihhh ge er, nggak lah yah, ga level, awas minggir kita harus bersiap ke rumah sakit." Emira mencoba berkelit, dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Juna.
Juna kembali menyeringai, "apa kamu lupa, hari ini jadwal kita di jam dua belas siang."
.
.
.
Hahaha mas jun, memang kenapa kalau jadwal kerjanya jam dua belas siang??? 😁
.
.
Hayoo bakal lanjut atau nanggung lagi? 🤪
.
.
__ADS_1
.
💜