
BAB 77
"Kamu cemburu?" Tanya Juna dengan seringai nya yang mengancam.
"Nggak, harus banget yah aku cemburu?" Jawab Emira dingin.
"Ya nggak harus sih, tapi aku lebih suka kalo kamu cemburu, itu artinya kamu mulai ada rasa, mulai takut kehilangan, mulai tak rela kalau aku di dekati gadis lain."
"Iiihhh ge er, nggak lah yah, ga level, awas minggir kita harus bersiap ke rumah sakit." Emira mencoba berkelit, dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Juna.
Juna kembali menyeringai, "apa kamu lupa, hari ini jadwal kita di jam dua belas siang."
"So what? Aku tetap harus bangun pagi."
"Tenang sayang, disini tidak ada mommy mertua yang akan memarahimu jika bangun kesiangan, tapi sebaliknya, suamimu ini akan senang jika kita bangun lebih siang daripada biasa."
Emira masih tak mengerti dengan maksud Arjuna berkata demikian, "maksudmu apa? Jangan berpikir aneh aneh yah,"
"Ih ya nggak lah, aku g berpikir aneh kok, hanya memikirkan apa yang memang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri,"
Emira menyorot tajam, tatapannya langsung bertabrakan dengan kedua sorot mata Juna yang sudah berkabut gairah, pria itu tersenyum, "yah… aku menginginkannya, aku tak perlu menjelaskannya panjang lebar kan? Kamu pasti sudah paham kebutuhan alami seorang laki laki, terutama sekali jika ia sudah beristri."
Emira membeku seketika, bukan ia tak paham, terlebih setelah apa yang terjadi pagi itu di rumah mertuanya, ia tak akan bisa mengelak, bahkan dengan senang hati akan ia berikan, tapi ia sedang dalam kondisi kacau, setelah pemandangan menyakitkan semalam, Arjuna bahkan belum minta maaf, dan memberi penjelasan, sekarang bisa bisa nya ia bersikap seakan akan ia tak bersalah, bahkan meminta hak nya sebagai suami, "tidak… kamu udah janji akan menunggu kesiapanku, sekarang aku belum siap." Tolak Emira tegas.
__ADS_1
"Tapi sampai kapan yang, ini bahkan sudah sebulan berlalu sejak pernikahan kita, apa kamu tahu betapa tersiksanya aku?"
"Bodo amat," Emira membuang muka, bahkan air matanya menetes.
"Sayang kamu nangis?" Tanya Juna panik, "Oke oke aku salah, aku minta maaf berapa banyak yang kamu dengar hingga membuatmu salah paham seperti ini hah?"
Emira tak menjawab, ia hanya menangis karena begitu kesal dengan suaminya.
Arjuna melepas cengkraman nya, "kamu pasti hanya mendengar sebagian kan?" Bisiknya ketika Emira menumpahkan tangis di pelukannya.
Flashback
Tepat setelah Emira menutup pintu dan berlalu pergi, Arjuna melepas pelukan Ayu, wajah gadis itu tampak basah oleh air mata, tapi Arjuna tak peduli, suka atau tidak, Ayu harus mengerti bahwa keadaan sudah berbeda.
"Tapi aku hanya menginginkanmu mas, aku tak ingin pria lain yang jadi pendampingku." Ujar Ayu yang masih keukeuh dengan keinginannya.
"Maaf Yu, kali ini aku harus tegas, aku sudah jadi pria beristri, dan yang terpenting aku sangat mencintainya."
"Bohong!!!" Seru Ayu histeris, "mas Juna hanya beralasan saja kan? Setahuku mas juna tak memiliki kekasih, bahkan sejak dulu, mas Juna tak pernah dekat dengan seorang gadis pun, termasuk mbak Voni yang nyata nyata menyukai mas Juna, tapi tetap mas Juna abaikan, sungguh aneh jika kini mas Juna tiba tiba mengatakan sangat mencintai mbak Mira, apa mas Juna menikahi mbak Mira hanya karena ingin menyingkirkan aku?"
Arjuna mengusap kasar wajahnya, untuk gadis kekanakan seperti Ayu, memberi penjelasan padanya sama seperti menulis diatas air, tak akan ada bekas nya, bahkan mungkin dia tak akan mau tahu, asalkan ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Ceritanya sangat panjang, bahkan mungkin kamu tak akan mengerti apa yang terjadi diantara kami, satu hal yang harus kamu tahu, Emira adalah cinta pertamaku, bahkan setelah berpisah bertahun tahun, di hatiku tetap ada namanya, dan alam semesta mendukung semua keinginanku untuk memilikinya, aku tak bisa mundur, karena aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku padanya."
__ADS_1
Mendengar kalimat tanggung jawab Ayu mendongak menatap Juna. "Apa? Tanggung Jawab? Jangan jangan kalian…"
"Terserah apa yang kamu pikirkan tentangku, aku tak akan menjelaskan dengan detail apa yang terjadi pada kami, tapi sebagai seorang yang sudah dewasa, kita pasti sudah tahu sama tahu akan hal itu, aku tak pernah menyesali malam itu, dan aku akan bertanggung jawab."
Mendengar penjelasan Juna, hati Ayu semakin hancur, tangisnya menjadi jadi, menangisi cintanya yang telah pergi, bertahun tahun memendam cinta seorang diri, rupanya penantiannya selama bertahun tahun, berakhir kecewa, sungguh tragis memang, tapi Juna membiarkan gadis itu menangis sampai puas, hingga ia lelah dan tertidur.
Flashback end
"Aku sangat menyadari, Ayu pasti kecewa, terluka, merana, tapi perasaanku tak bisa dipaksakan, sudah terlalu lama dirimu mengendap di hatiku, bahkan mungkin endapannya sulit untuk dibersihkan," Arjuna menangkup kedua pipi Emira, "sudah berkali kali kukatakan, aku sangat mencintaimu, plis jangan menghindariku lagi, apalagi menolakku… itu sangat menyakitkan, maaf jika di awal awal kita bertemu, aku banyak berprasangka buruk padamu, bahkan meremehkanmu, tapi sejujurnya, di antara para gadis yang berinteraksi denganku, hanya kamu yang jelas jelas berani melawan perkataan ku, bahkan hanya kamu yang sanggup meruntuhkan keegoisanku, berkali kali hatiku oleng, menghianati Miraku yang manis dan baik hati, aku memaki diriku sendiri karena menghianati perasaanku padanya, bahkan setelah melewati malam itu bersamanya, pikiranku resah, gelisah dan jantungku menggila hanya karena mendengar dirimu demam tinggi dan menggigil,” Juna tersenyum lembut, “apa kamu tahu satu hal, aku begitu bahagia ketika mengetahui kalian adalah orang yang sama,”
.
.
.
jangan lupa like komen dan vote nya
.
.
❤
__ADS_1