CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 84


__ADS_3

BAB 84


Gunawan meringis sendiri manakala handuk dingin tersebut menyentuh kulitnya yang memar akibat hantaman Hans, ini juga ia siapkan seorang diri dengan susah payah, karena selepas pertengkaran mereka, Risna sudah tak ingin lagi peduli pada Gunawan. 


Dalam hati kecilnya ia sungguh takut pada ancaman Alexander Geraldy, tapi sisi keegoisannya belum mau merelakan Yuna berbahagia dengan keluarga baru nya, sungguh egois memang, tapi begitu lah, bagi Gun, Yuna adalah segalanya, tawanya akan ia bagi pada Yuna, sedihnya akan ia tutupi rapat rapat, karena tak rela jika Yuna ikut bersedih, bahkan seluruh hasil kerja kerasnya akan ia persembahkan untuk Yuna. 


 


Sementara di dalam kamar utama Risna tengah memandangi selembar kertas yang sudah sejak lama ingin segera ia isi, agar ia bisa segera terbebas dari pernikahan menyakitkan ini, tapi lagi lagi ketika melihat wajah putra dan putri nya ketika tidur, Yuna jadi menyesali niat nya, bahkan Gunawan menunjukkan sikap yang hangat pada kedua anak mereka, hanya pada dirinya saja Gunawan bersikap dingin dan acuh.


Entah benar atau salah, tapi kali ini Risna tak ingin lagi membatalkan niatnya, sudah cukup, bukankah selama ini Gunawan hanya menganggapnya sebagai raga yang bisa memberinya keturunan, rupanya raganya menginginkan lebih, ingin sebuah kasih, ingin di sayangi, ingin di cintai dengan segenap hati dan perasaan, setelah hampir dua puluh tahun berharap, kini Risna mulai lelah, mungkin inilah saat yang tepat, saatnya ia memikirkan kebahagiaannya sendiri, bukan lagi kebahagiaan anak anaknya, apalagi suami yang tak pernah menganggap dirinya ada. 


Risna menghapus air mata nya, ia mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa ini adalah terakhir kali ia menangisi nasib pernikahannya. 


Kemudian Risna mengeluarkan koper, serta memasukkan baju bajunya ke sana, ia akan meninggalkan rumah ini, menjauhi pria yang tak pernah menginginkan kehadirannya. 


Setelah memastikan sebagian pakaiannya masuk ke koper, Risna meninggalkan kamar yang bahkan lebih banyak meninggalkan kenangan sedih untuk nya, di bandingkan kenangan bahagia. 


Risna pergi, ia kalah, ia lelah, dan ini adalah batas akhir perjuangannya. 


"Selamat tinggal mas, hari ini aku akan mengabulkan keinginanmu, aku akan segera mendaftarkan gugatan perceraian kita, segala sesuatunya akan diurus oleh pengacara, karena aku yakin, kamu tak akan pernah sudi berbicara denganku, maaf jika selama ini aku menjadi penghalang diantara kamu dan mbak Yuna, aku titip anak anak, selamat tinggal.” itulah yang Yuna katakan ketika ia berpapasan dengan Gun di ruang tengah.


Gunawan terdiam, pria egois ini bahkan tidak memiliki keinginan untuk menghalangi kepergian sang istri, walau tiba hatinya merasa kosong, bahkan semangat nya sedikit memudar.





"Hahahaha…" Dua orang pria paruh baya itu tampak tertawa puas melihat berkas berkas di hadapan mereka, "ini baru benar… setelah puluhan tahun kita mengurus aset perusahaan dan menjadi orang kepercayaan Tuan Satrio mengurus DENt PHARMATION, akhirnya kita mendapatkan imbalan yang semestinya."


"Aku setuju, dia yang enak enakan mengurus cabang yang ada di London, begitu kembali ke tanah air, adiknya yang bodoh itu mengambil alih… aku benar benar tak terima."


"Tapi Setidaknya kita harus bersyukur, berkat kedua adik Satrio itu, kota bisa mendapatkan semua ini."


Hahahaha … tawa mereka kembali berderai, tanah perkebunan tersebut adalah tanah puluhan ribu hektar yang digunakan sebagai tempat menanam tanaman herbal yang selama ini mensuplai bahan obat DENt PHARMATION, para petani yang bekerja di sana sudah bersertifikat, serta rutin mengikuti pelatihan cara menanam tanaman herbal berstandar internasional, dan kini tanah tersebut diambil alih oleh kedua orang kepercayaan Satrio tersebut, langkah mereka terasa semakin mudah karena Hari dan Bayu sama sekali tak pernah terlibat secara langsung dengan perusahaan, mereka hidup nyaman tanpa kekurangan satu apapun, karena kepandaian dan kecakapan Satrio dalam mengurus perusahaan. 


Dan kini karena kebodohan kedua adik Satrio, perusahaan justru kehilangan aset berharga mereka, ditambah lagi kini sedang di bayang bayangi dengan ancaman Gunawan. DENt PHARMATION kini benar benar di ujung tanduk.

__ADS_1


.


.


.


Waktu istirahat makan siang ini,  Emira membawa beberapa kantong makanan yang ia beli dari cafe rumah sakit, ada waktu istirahat satu jam dan akan ia manfaatkan untuk menemani mama Yuna makan siang.


“Kenapa memesan makanan sebanyak ini? apa ini untuk dibagi bagikan?” tanya Febiola yang kebetulan baru akan memulai makan siang.


“Tidak … ini untuk makan siangku,” jawab Emira polos.


“Sebanyak ini?” 


“Iya …”


Febiola yang sejak lama menahan rasa penasaran, kini mendekat, “Sejak kapan?” tanya nya, ia bahkan sengaja mendorong Emira ke dinding.


“Hei … ada apa? tak biasanya kamu seperti ini?” tanya Emira penasaran


“Kamu yang memulai, terlalu banyak rahasia yang kamu sembunyikan dariku.”


“Rahasia pernikahanmu,” 


“Pernikahan apa? siapa yang menikah?” Emira mencoba mengelak, sejujurnya ia merasa bersalah, karena tak membagi rahasia pernikahannya pada kawan baiknya.


Febiola tersenyum, kemudian mengangkat tangan kanan Emira, “LIhat … ini cincin yang sama dengan yang ada di tangan dokter Juna, dan malam dimana kamu lari buru buru ke emergency room, Juna menanyakan keberadaan istrinya, apa menurutmu itu tak patut di curigai?”


Akhirnya Emira tersenyum mengangguk, “Maaf …” ujarnya singkat.


“Dasar …” 


Emira memeluk sahabatnya tersebut, “Aku memang belum bermaksud mempublikasikan pernikahan kami, tapi aku akan menceritakan padamu lain kali, sekarang aku harus menemani mama makan siang dulu.”


“Baiklah, karena aku baik hati, jadi aku melepaskanmu kali ini.”


Emira tersenyum kemudian melambai sebelum meninggalkan Febiola.


Rupanya dari lorong berlawanan, Arjuna melihat keberadaan sang istri,  tapi kemudian ia urung tersenyum karena ia bahkan belum bisa beristirahat saat ini. 

__ADS_1


Arjuna berjalan cepat bahan setengah berlari, menghampiri Emira yang sudah di lorong terakhir menuju ruang rawat inap ayah Satrio, setelah memastikan lorong sepi dan tak ada orang yang berlalu lalang, Arjuna menarik Emira ke ruang penyimpanan, kemudian mengunci pintu ruangan tersebut dari dalam.


“Lama tak jumpa sayangku … kangen tau …” ujar Juna yang langsung meraup bibir Emira dengan segenap rindu, memang benar mereka bekerja di bagan yang sama, tapi sejak pagi Juna bahkan tak sempat mengistirahatkan kedua kaki nya, jadi ketika kebetulan melihat istrinya tengah sendirian, ia tak ingin membuang waktunya.


Emira yang tak siap dengan serangan suaminya, tentu saja gelagapan bahkan kini mulai kehabisan nafas, sekuat tenaga ia mendorong tubuh suaminya yang menempel erat padanya, dengan terpaksa Juna menjeda c iu mannya, “kita sedang di rumah sakit, bukan di apartemen,” gerutu Emira dengan nafas tak teratur.


“Sebentar aja yang … plis jangan menolak, aku lagi butuh asupan vitamin nih.” Arjuna merengek seperti anak kecil yang menginginkan permen.


“Ya … tapi kita …”


“Tak masalah yang … percaya padaku, yah … yah … yah …?” mohon Arjuna, dengan puppy eyes nya, membuat Emira jadi tak tega.


“Bener yah, hanya ci um, tidak yang lain.” jawab Emira, yang membuat ekspresi Juna berbinar seketika, Arjuna mengambil alih kantong kresek dari tangan istrinya, kemudian meletakkannya di atas meja, yang ada di ruang penyimpanan tersebut.


“Siap sayang …” jawab pria itu seraya kembali menyatukan bibir mereka, Juna membawa kedua tangan Emira agar memeluk leher nya, sementara tangannya sendiri mulai bergerilya nakal, ke balik baju Emira, ci uman yang awalnya lembut itu, menjadi semakin panas, kini Emira bisa merasakan apa yang pernah kakak iparnya ceritakan, jantungnya berdetak cepat, membuat tubuhnya yang semula rileks menjadi panas dingin tak karuan, kedua papila mereka saling membelit, bersamaan dengan suara kecapan bahkan l en guh an manja, rasanya sungguh gila, ketika masih menginginkannya namun terpaksa mengakhiri adegan panas tersebut, karena tak ingin ada yang tiba tiba mengetuk pintu.


“Ternyata memang beginilah rasanya,” ujar Emira dengan nafs yang masih belum beraturan.


Arjuna mengusap bibir Emira yang memerah akibat ulah nya, “Maksudmu?”


“Bermesraan di tempat kerja, berdebar, tapi bikin ketagihan.” jawab Emira malu malu.


“Siapapun yang mengatakan itu padamu, aku akan sangat berterima kasih padanya,” balas Juna dengan mata berbinar.


“Dokter Gadisya Kinanti.”


“Hahaha …” Tawa Juna berderai, “yah kamu benar, aku bahkan melihat mereka salah tingkah ketika tanpa sengaja aku memergoki mereka berciuman di lorong sepi.” Arjuna terkekeh. “Jadi apakah apakah lain kali dokter Emira bersedia menciumku kembali di tengah tengah aktivitas pekerjaan kita?”


“Tentu … sekarang aku harus mengantarkan makan siang ini untuk mama.” kali ini EMira menjawab dengan penuh keyakinan.


“Baiklah, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku, kemudian bergabung denganmu dan mama,”


.


.


.


💙

__ADS_1


__ADS_2