CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 108


__ADS_3

BAB 108


Pagi hari yang sibuk di kediaman keluarga Dewanto, hari ini akhirnya mama Yuna berhasil mewujudkan keinginan yang sejak lama ia pendam, yakni mengenalkan menantu pertamanya kepada teman teman arisannya, jadi segala macam persiapan dan kehebohan sudah sangat terasa sejak hari sebelumnya, bertambah bahagia lagi ketika perkenalan sang menantu sekaligus mengabarkan bahwa sebentar lagi keluarga Dewanto memiliki calon penerus baru.


Dan karena Arjuna harus mengurus pekerjaan, maka sejak pagi Bisma yang sibuk wara wiri membantu sang mama menyiapkan segala sesuatu nya, “Bisma … kue pesanan mama gimana?” 


“Sudah ma … sebentar lagi sampai, semuanya sudah diangkut ke sini.” jawab Bisma santai.


“Mah … Heboh banget persiapannya? memang ada berapa orang teman arisan mama?” tanya Emira yang baru menyelesaikan sarapannya yang sedikit kesiangan.


“Iya kan mau sekalian syukuran, buat calon cucu mama.” Jawab mama yuna bahagia.


“Harusnya nanti aja mah, kalau sudah empat bulanan.”


“Kelamaan, nanti di sekitaran waktu itu, pasti sudah ruwet sama persiapan resepsi pernikahan kalian, jadi gak papa dimajukan sekarang aja.” Jawab mama Yuna, sambil mengawasi para ART yang sedang menata hidangan di meja makanan. “Semoga sebelum empat bulan yah acaranya, ntar keburu perut kamu membesar.”


“Nggak papa kali mah, kan mas Juna emang sudah lama nikahnya, bukan karena hamil duluan baru menikah.” Bisma bersuara tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel pintarnya, sepertinya hingga kini Bisma sendiri masih belum mengetahui kenapa pernikahan Arjuna dan Emira diadakan secara mendadak. 


“Iya juga yah, kapan aja lah, yang penting kalian sehat.” mama Yuna tersenyum mengusap lengan sang menantu, kemudian kembali ke dapur demi memastikan persiapan berjalan lancar.


Emira pun duduk manis di sofa seraya mengutak atik ponselnya, hendak membantu pun dilarang keras oleh sang mertua, sebab tak ingin mama Yuna mengomel, maka Emira pun menurut saja, toh ARTsi rumah ini sudah sangat cekatan menuruti setiap perintah mama Yuna.


Beberapa saat kemudian, beberapa wanita sosialita dengan tampilan glamour dan mentereng, mulai datang, beberapa kali pula, emira berdiri menyambut disusul kemudian sang mama mertua mengenalkannya pada mereka, semasa belum menikah pun Emira kerap menemani mommy Stella menyambut teman teman arisannya, maka kini Emira tak lagi terkejut dengan acara perkumpulan ibu ibu sosialita semacam ini, Emira cukup memasang wajah manis serta senyum terbaik saja, tak perlulah terlalu dalam menghayati obrolan dengan mereka karena kadang kadang topiknya cukup membuat panas telinga.


“Mantunya jeng Yuna cantik yah,”


“Terima kasih tante,” Jawab Emira sopan.


"Muda sekali? Baru lulus SMU nak?"

__ADS_1


"Oh yah?" Mama Yuna ikut tersanjung mendengar pujian yang ditujukan untuk sang menantu, "wah sayang, sepertinya kebiasaanmu sarapan buah di pagi hari sepertinya ikut berperan."


"Aa… seperti itu rupanya," Para ibu sosialita tersebut nampak terkesima dengan penuturan mama Yuna, rupanya kebiasaan baik, memberi efek yang baik pula. 


Tak lama salah seorang wanita lagi berbisik dengan nyinyir bahkan sengaja di keraskan, “Kemarin Ipang pulang, dia bawa pacarnya, muda, cantik, dengan rambut hitam natural, khas orang asia.” 


Emira ingin tertawa rasanya, mendengar sindiran tersebut, jelas sekali bahwa wanita itu hendak mengomentari rambutnya yang kecoklatan. 


“Ahahaha…senangnya punya calon mantu orang Asia asli, tapi harap maklum saja ya jeng, mantu saya blasteran Eropa, jadi warna rambut dan matanya berbeda, tapi Daddy nya asli indonesia, bahkan mantu saya penggemar ikan asin.” mama Yuna mendadak kesal mendengar hal tersebut, “kurang Indonesia apa coba, Iya kan sayang?” 


Emira menatap mama mertuanya, “Eh iya mah …” jawab Emira kikuk, tadinya ia ingin mengabaikan, rupanya mama Yuna tak terima sang menantu kesayangan, disindir secara terang terangan.


“Ayo silahkan … dicicipi dulu hidangannya, sambil menunggu yang lain datang.” mama Yuna mempersilahkan.


Arisan penuh kepalsuan itu pun berlangsung, obrolan penuh senyum, namun tak ada yang tahu seperti apa di dalam hati mereka. 


Semakin siang, para tamu yang datang semakin heboh dengan berbagai cerita, entah benar entah salah, hanya mereka sendiri yang tahu.


“Apa kabar Voni, makin cantik aja, tante jadi pangling.” sapa mama Yuna pada Voni.


“Voni juga pangling tante, tante Yuna pasti pake formalin nih, kok kerutannya sama sekali gak kelihatan,” balas Voni.


Yah dialah Voni, (Yang lupa siapa Voni, boleh kembali ke bab 1) gadis yang sejak lama menjadi rival Emira memenangkan cinta sang Arjuna, bahkan pernah nyaris di jodohkan dengan Arjuna, tapi Arjuna menolak keras.


“Apa kabar Jeng …” sapa bu Farida basa basi, bu Farida sudah lama kenal akrab dengan mama Yuna, karena itulah, ide menjodohkan Juna dan Voni, pernah tercetus begitu saja, terlebih kedua anak mereka pernah belajar di sekolah yang sama, jadilah rencana itu semakin kuat, tapi bu Farida menjadi marah dan sakit hati, ketika mendadak menerima kabar, bahwa Arjuna menikahi gadis pilihannya, karena itulah hari ini ia membawa sang putri mendatangi rumah mama Yuna, untuk melihat dari dekat seperti apa wajah menantu pertama keluarga Dewanto tersebut.


“Baik Jeng … terima kasih loh sudah mau datang,” jawab mama Yuna ramah. “Ini mantu saya, namanya Emira …” lagi lagi mama Yuna dengan bangga memperkenalkan Emira, mama Yuna bersikap demikian, karena niat melakukan perjodohan tak pernah terlaksana, dan hanya sebatas pemanis bibir semata, karena itulah, mama Yuna merasa biasa saja. 


Emira mengulurkan tangannya, dan bu Farida menyambutnya dengan pandangan remeh, “Oh ini toh mantunya, gak MBA kan? Aneh aja gak ada angin gak ada hujan, tau tau udah nikah aja." Sindir bu Farida. 

__ADS_1


"Maa… Jangan ngomong gitu lah," Bisik Voni pelan.


Mama Yuna lagi lagi dibuat dongkol, dengan salah satu teman arisannya tersebut, sekian tahun tak bertemu, kenapa teman temannya berubah, apa karena perubahan zaman, perubahan pergaulan, perubahan status sosial, tapi apakah semua itu lantas menjadi pembenaran, bahwa mereka memandang seseorang hanya dari status sosial semata? hingga membuat mereka meremehkan seseorang secara terang terangan, “ahahaha… jelas aja nggak," Jawab mama Yuna kikuk. 


Obrolan para ibu tersebut berlanjut, tapi tidak dengan Voni dan Emira yang beberapa kali saling tatap, Emira benar benar berusaha keras menahan amarahnya karena melihat salah satu orang yang menjadi penyebab kejadian malam reuni tersebut, walau sudah mengikhlaskan kejadian malam itu, tapi kini berhadapan dengan salah satu pelaku kembali membuat Emira benar benar kehilangan kontrol kemarahannya. 


“Oh iya … Voni … ini istrinya Juna, mungkin kalian saling kenal karena Emira juga satu sekolah denganmu dan Juna.” 


Voni menaikkan salah satu alisnya, “Apa tante, satu sekolah?” tanya Voni penasaran, sekali lagi di tatapnya dalam dalam wajah Emira, ia memang merasa pernah mengenal bentuk wajah Emira, tapi tidak sama persis. “Entahlah tante, saya lupa, mungkin kami tak saling kenal.” Pungkas Voni.


“Ah iya, mungkin begitu, ya sudah kalian ngobrol saja, saling kenalan, siapa tahu nyambung, biar gak bosen dengan pembicaraan para ibu.” 


Emira mengangguk, mengiyakan perkataan mama Yuna, “Iya mah,”


“Voni, mama tinggal dulu yah?”


Sepeninggal mama Yuna, diluar dugaan, Voni benar benar mengulurkan tangannya.


“Voni.”


“Mira.”


Voni terkejut, ia membelalakkan kedua matanya, tak percaya dengan apa yang kini ada di hadapannya.


“M … Mi … Mira?”


“Iya M I R A …” jawab emira tenang sambil memainkan kuku kuku tangannya yang tertata rapi, mengingat profesinya saat ini, ia tak mungkin memelihara kuku, berbanding terbalik dengan Voni, yang kuku tangannya tampak glowing berwarna warni, sangat fashionable, karena ia bekerja di salah satu butik perhiasan mewah. 


“Jangan bilang kamu lupa padaku.” Emira tersenyum puas melihat wajah Voni yang tampak terkejut mendengar pengakuannya. 

__ADS_1


“Gadis culun yang sering kamu perlakukan kasar, bahkan dengan teganya kamu dan teman temanmu mengeroyok nya.”


DUAARRRR 


__ADS_2