
BAB 129
Dua bulan kemudian.
Arjuna berlari kencang melewati setiap lorong rumah sakit, ia baru saja menerima kabar bahwa sang istri tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit, karena persalinan yang maju dari jadwal seharusnya, Arjuna sungguh panik karena kondisi lalu lintas yang padat tak bersahabat, berkali kali ia melongok jam tangan, berharap bahwa baby K akan menunggu kedatangannya, tak lupa ia panjatkan doa agar persalinan sang istri berjalan lancar tanpa ada kendala.
Setibanya di depan ruang persalinan, Seorang perawat tengah menunggu nya, “Sabar dok … tarik nafas sebentar, silahkan cuci tangan dulu sebelum masuk,” perawat tesebut memberikan instruksi tentang apa saja yang harus Juna lakukan sebelum masuk ruang persalinan.
Susah payah, sang calon ayah muda tersebut mengatur nafas, kemudian ia melepas jas dan dasi yang membelit lehernya, dinginnya air membantu Juna mendinginkan ketegangan dalam dirinya, usai memastikan kedua tangannya bersih, Arjuna di bantu perawat memakai baju dan penutup kepala khusus sebelum masuk ke ruangan sterile.
“Kakak ipar.” sapa Juna pada Gadisya.
Gadisya tersenyum menyambut kedatangan sang calon papa muda tersebut, “Ayo masuk, Emira menunggu.”
Arjuna duduk di kursi yang sudah tersedia di samping ranjang Emira, “Sayang …” sapa Juna lirih, ingin menangis rasanya melihat wajah Emira sudah banjir keringat, dan tampak menahan nyeri yang terus bertambah dari waktu ke waktu. “Kamu bisa, kamu pasti bisa, bertahanlah sedikit lagi yah, kita akan segera bertemu baby K.”
(Yang baca Because We Are Young, pasti sudah tahu nama baby K)
Emira hanya mengangguk lemah tanpa suara, terlalu lelah, itulah yang ia rasakan kini, tapi resiko, karena ia yang ingin melakukan persalinan normal, padahal Juna sudah mengusulkan cesar.
Sesaat kemudian nyeri itu kembali datang, Emira kembali meringis, susah payah ia menarik dan menghembuskan nafas di tengah himpitan rasa sakit nya, “Gigit saja tanganku.” kata Juna ketika Emira mencengkeram erat telapak tangannya, namun tentu saja hal itu tak Emira lakukan karena tak berpengaruh apa apa.
“Aku tak akan menggigitmu mas, tapi berjanjilah satu hal padaku.” kata Emira di tengah rasa sakit yang mendera nya.
“Katakan sayang, apapun akan ku lakukan untukmu.” jawab juna.
Emira menarik nafas kembali, “Berjanjilah kamu tak akan membuatku hamil lagilagi, ini sakit sekali, dan aku tak mau mengalaminya lagi." Ringis Emira.
Arjuna mengangguk seperti robot yang telah di program. “Iya sayang aku janji, bila perlu kita cukup memiliki seorang anak saja.”
Gadisya dan beberapa perawat yang mendengar janji konyol tersebut, hanya mengulum senyuman, “Apa mungkin kalian hanya menginginkan satu anak, si kembar pasti protes,” Celetuk Gadisya, yang terdengar di telinga Emira.
__ADS_1
“Kalau begitu, kakak dan abang saja yang menambah momongan.” teriak Emira, ia tak senang dengan celetukan kakak iparnya.
Gadisya kembali tertawa, ia memang kerap mendengar janji janji konyol semacam yang Emira ucapkan, tapi kebanyakan janji tersebut tak pernah terwujud, karena beberapa bulan kemudian si ibu kembali datang padanya untuk memeriksakan kandungannya.
“Awas kamu mas, kalau tidak menepati janji, aku akan membuatmu puasa setahun penuh.” Ancam Emira.
Dan kali ini Gadisya tertawa keras tanpa malu malu. "Hahahaha… dokter Juna… kamu dalam masalah, jika ingkar janji."
Arjuna bergidik ngeri membayangkan ancaman sang istri. “Iya sayang, aku janji, yakin … ini janji seorang lelaki,” jawab nya karena sudah keburu ngeri membayangkan jika hal itu benar benar terjadi.
Satu jam kemudian, suara tangis bayi menggelegar di ruang persalinan, bayi berjenis kelamin laki laki tersebut, Lahir secara normal dan sehat, tanpa kurang apapun, "Selamat datang ke dunia baby K, kenalkan… ini mama dokter," Bisik Gadisya ketika menimang baby K untuk pertama kali, Arjuna bahkan ikut menangis kencang ketika Gadisya menyerahkan baby K ke pelukannya, oh begini rupanya rasa bahagia menimang putranya untuk pertama kali, sungguh tak bisa tergantikan dengan apapun.
“Ini bunda sayang,” bisik Juna ketika membawa baby K ke d a d a Emira agar bisa melakukan inisiasi meny u sui dini.
“Halo sayang … jagoan bunda … selamat datang ke dunia anakku,” bisik Emira ketika merasakan hangat dan halusnya kulit baby K. “Dia tampan mas,”
“Tentu tak sia sia rasanya, karena dia memang memiliki ayah yang tampan.” Jawab Juna bangga. “Aku mencintaimu sayang ku … terima kasih karena telah bersabar dengan kehamilanmu dan berjuang melahirkan anakku.
Sementara itu, di luar ruang persalinan, Keempat kakek dan nenek mereka saling berpelukan bahagia, menyambut kehadiran sang cucu. “mas … akhirnya kita memiliki cucu.” Tangis mama Yuna di pelukan ayah Satrio.
“Iya ma … aku senang sekali, karena tuhan masih memberiku kesempatan mendengarkan suara tangis cucuku.” Ayah Satrio berujar bahagia, karena masih diberi kesempatan hidup oleh yang Maha Pencipta.
“Selamat jeng Yuna untuk kelahiran cucu perdananya,” Ucap mommy Stella pada mama yuna.
“Iya jeng Stella, selamat juga yah, untuk kelahiran cucu ke enamnya.” balas mama Yuna.
.
.
Suasana bahagia melingkupi kedua keluarga besar, mommy Stella dan mama Yuna, bahkan tak sedikit pun membiarkan orang lain menggendong cucu mereka, bahkan ketika ayah Satrio atau daddy Alex ingin menyentuh baby K, kedua oma mereka kompak melotot tajam, tapi sebaliknya ketika para pasukan Geraldy datang, mommy Stella dan mama Yuna justru memberi akses seluas luasnya, agar mereka bisa berinteraksi dengan adik bayi mereka.
__ADS_1
“Adik bayi, kenapa tidur terus?” Dean.
“Iya … kan adik bayi belum bisa lari.” Luna.
“Seandainya aku jadi bayi lagi,” Daniel.
“Memang mau apa kalau kamu jadi bayi lagi?” Darren.
“Tidur lama di siang hari, tanpa takut mama marah.” Daniel, benar benar meirip Kevin, yang sulit bangun di pagi hari.
“Memangnya kamu kelelawar, tidur kok di siang hari.” Danesh.
“Bukan seratus persen kelelawar, tapi bangun lambat di pagi hari, hanya itu yang ku inginkan.”
“Huuuu sama saja,” Luna.
Para orang dewasa hanya bisa menahan senyuman, mendengarkan oboran anak anak tersebut.
“Oh iya nak … jadi siapa nama bayi kalian?” Tanya Daddy Alex.
Emira dan Juna saling pandang, kemudian Juna bergabung di sofa bersama para orang tua.
“Sebelumnya Kami ingin minta izin pada mommy,”
“Kenapa memangnya?” tanya mommy Stella heran.
“Karena kami ingin memakai nama mendiang kakek buyut baby K.”
Mommy Stella tersenyum haru, “Tentu boleh nak, jadi nama baby K adalah, Kenzo?”
“Benar mom, Kenzo Alexander Dewanto, diambil dari nama ketiga kakek nya.”
__ADS_1
“Oooohhh … nama yang bagus nak, mama suka, Kenzo, namamu Kenzo sayang,” bisik mama Yuna di telinga sang cucu, “beliau seorang dokter hebat, sama seperti oma Stella dan kedua orang tuamu,” lanjut mama Yuna, “Tapi kamu boleh jadi apapun yang kamu inginkan, kami akan selalu mendukung dan memberikan banyak cinta untukmu.”