
BAB 115
Sekali lagi Emira Mengamati penampilannya, ia melepas cardigan rajut kemudian mengikatkannya di pinggang, membuat pinggang langsingnya tercetak jelas, karena kehamilannya yang masih berada di trimester pertama, walau ia tak melepas kepangan rambut nya, tapi penampilannya sungguh terlihat semakin jauh berbeda.
Dengan langkah penuh percaya diri Emira meninggalkan toilet, kembali menghampiri meja tempat Suaminya berada.
Dan benar saja, keempat kawan Juna dibuat tercengang di tempat, mereka bahkan tak berkedip ketika mengamati pergerakan Emira, Egi bahkan meneteskan air liur nya ketika melihat perubahan wajah istri sahabatnya tersebut.
“J … j … ju … juna … itu?” tanya Egi menunjuk ke arah Emira.
Emira kembali duduk di tempatnya.
“Kenapa?”
“D d d d dia … siapa?” Kali ini Rafa yang tak bisa membendung rasa penasarannya.
“Bini gue lah, jaga mata lo pada yah, kalo nggak gue colok mata kalian.” ujar Juna tak suka, karena keempat tamannya tampak terpesona menatap wajah cantik sang istri.
“Yakin ini bini lo? gak ketuker kan?”
“Ya nggak lah, lo pikir bini gue barang, bisa di tukerin, habis gue di bantai mertua kalo berani nukerin anak gadisnya, ini wajah asli bini gue sejak lahir,”
Sementara Emira mendadak merasa risih dengan tatapan keempat pria yang mendadak terpesona menatap wajahnya, padahal ia hanya melepas kacamata dan mengganti pulasan make up di wajahnya.
“Aaaaahhh kenyangnya …” ujar Reza usai menghabiskan dua mangkuk makanannya. “Thanks yah…”
“Mas … Reza udahan nih, kita masih harus ke butik.”
“Bentar … aku bayar dulu.” Arjuna berdiri dan menghampiri kasir.
“Habis ini mau kemana Za?” tanya Emira yang lebih memilih berbincang dengan Reza, ketimbang dengan teman teman Juna.
“Lanjut kerja lah, biar asisten ku bisa menikmati liburannya.” Jawab Reza dengan maksud menyindir asistennya.
Seketika Egi merasa tersindir, “Maaf bos.” ia hanya menunduk,
Melihat asisten barunya menunduk malu, Reza tertawa keras, “Ha ha ha santai aja kali, aku bercanda kok, kalo aku gak kasih kamu libur, ntar aku kena pasal undang undang perlindungan tenaga kerja.” kelakar Reza.
Emira mengambil sebuah undangan dari dalam tas nya, kemudian memberikannya pada Reza, “Nih … tadinya mau ku titipkan di customer service, tapi rupanya kita ketemu di sini.”
Reza menatap undangan mewah dengan sampul berwarna nude tersebut, bibirnya menyunggingkan senyuman, sebelum kemudian mengangguk pelan.
“Harus datang, jangan lupa bawa Alea,”
Reza menatap Emira dengan pandangan muram, “Lea masih ngambek, gimana dong.”
“Yaaaa gimana lagi, bujuk terus sampai berhasil, kalau tidak salah dia masih ada satu lagi jadwal temu dengan dokter kan?”
“Iya …”
__ADS_1
“Tuh manfaatkan, jangan sampai gagal.”
“Manfaatkan apa? gagal kenapa?” tanya Juna usai kembali dari kasir.
“Gagal bawa pasangan ke acara resepsi kita.” Jawab Emira.
Arjuna hanya tersenyum simpul mendengar jawaban istrinya. “pepet terus, cewe suka di rayu,” imbuh Juna.
Arjuna kembali meminta undangan dari Emira, “Nih undangan buat kalian, harus datang, awas kalau gak pada datang, gue bantai kalian satu persatu.” ancam Juna, jika yang mengancam sang ketua geng, tentu membuat ciut nyali teman temannya.
“Iya … galak amat,” gerutu Rendi.
“Mira … kalo udah bosen sama Juna, kasih tahu kami yah.” ujar Egi terang terangan.
Emira tersenyum mengejek, baru beberapa saat lalu mereka merendahkan bahkan terang terangan menyindir, dan kini seolah olah mereka mengemis cinta kepadanya.
Emira enggan menjawab, ia justru memeluk erat lengan suaminya, “Ogah …” Tolak Emira, “Mending nyamperin pak Dirut, jelas duitnya, iya gak pak?” jawab Emira, demi membalaskan rasa kesalnya.
Skak matt.
Seketika empat lelaki bermulut pedas itu merengut, sadar diri, bahwa mereka tak ada apa apanya dengan kedua pria disisi Emira.
Beberapa saat setelah kepergian Emira, Arjuna dan Reza.
Egi, Rafi, Atar dan Rendi nampak diam tak bersemangat, mereka hanya sibuk mengaduk aduk makanannya, semakin rendah diri dan merasa kalah telak manakala mengetahui siapa orang tua Emira, yang namanya jelas jelas tercetak di sampul undangan, bidadari idaman mereka rupanya si culun yang sering mereka ejek dan cemooh terang terangan.
.
.
.
Semua persiapan acara, diserahkan pada pihak EO dan di komando secara langsung oleh kedua menantu perempuan keluarga Geraldy, mengingat mommy Stella sudah tak ingin repot, dan mama Yuna yang masih harus memperhatikan kondisi kesehatan ayah Satrio.
Bella dan Gadisya mengamati gaun berwarna pastel yang sudah diserasikan dengan dengan tuxedo untuk suami serta anak anak mereka.
“Lihat Sya … Luna pasti cantik sekali memakai ini.”
“Iya aku pikir juga begitu, putri cantik kita sudah besar rupanya, padahal aku masih ingin menggendongnya kemana mana.”
“Mom … kapan uncle dan aunty tiba?” tanya Luna yang kini semakin akrab dengan Juna.
“Sebentar lagi sayang,” Jawab Bella, seraya mengusap rambut Luna.
“kemarilah sekarang giliran kamu mencoba gaun,” Gadisya memanggil Luna ke ruang ganti, si putri kecil itu dengan antusias menghampiri sang mama ke ruang ganti, ia exited sekali, mengingat selama ini ia sangat menyukai gaun gaun bertema princess, akhirnya ia benar benar memiliki gaun princess, Luna sengaja meminta gaun dengan model yang sama persis dengan gaun pengantin sang aunty, dan Emira tak keberatan, karena nanti di hari H ia ingin para keponakan kecilnya menjadi pengiring pengantin.
“Wahhh cantik sekali anak mama.”
__ADS_1
Luna tersenyum cerah, pipi chabi nya mengembang, mahkota dengan pita pita bunga, membuat ia terlihat semakin menggemaskan.
“Uncle …”
“Uncle …”
“Uncle …”
Luna berlari keluar dari ruang ganti, ketika mendengar suara teriakan memanggil sang uncle.
“Uncle …” Luna pun tak kalah semangat menyambut kedatangan Juna, melihat sang putri kecil berlari ke arahnya, Juna segera berlutut dan merentangkan tangannya menyambut Luna.
“Waaaahhh … siapa ini? bagaimana bisa secantik ini.”
“Benarkah aku cantik?”
“Tentu …”
Wajah Luna merona merah karena kalimat kecil yang Juna lemparkan.
Setelah Luna, kini giliran para pria kecil geraldy mencoba tuxedo mereka.
“Waaahhh kenapa kalian terlihat sungguh tampan? bolehkah aunty menikah dengan salah satu dari kalian?”
“NO aunty, bagaimana nanti nasib para kekasihku?” tolak Dean tegas.
“Para kekasih? memangnya kamu memiliki berapa kekasih?” tanya Emira heran.
“Lima, jika hari sabtu dan minggu sekolah, mungkin kekasih ku berjumlah tujuh,” jawab Dean tanpa beban.
Emira tercengang mendengar jawaban polos kekasihnya, dan Juna yang sudah tahu sejak awal hanya bisa menahan senyumannya.
“Aku akan melaporkanmu pada mommy Bella.” ancam Emira.
“No aunty, jangan coba coba, karena aku kan marah, uncle Juna sudah janji ini adalah hal rahasia.”
“Itu kan uncle, bukan aunty.”
“Tapi uncle bilang kalian sepaket, seiya sekata, klau aunty berani melapor, berarti uncle Juna berbohong dong.”
Lagi lagi Emira di buat menggelengkan kepala, rupanya anak anak jaman sekarang, mulai pandai memutar balikkan kata kata.
Emira berbalik mendekati suaminya, “Mas rahasia apa saja yang mereka ceritakan padamu?”
“Banyak.” jawab Juna santai.
“Kenapa tak kamu ceritakan padaku?” tanya Emira penasaran, mengingat kedudukannya di hadapan para keponakan kecilnya telah digantikan sepenuhnya oleh Juna.
“Rahasia.” jawab Juna sambil mengulum senyuman.
__ADS_1
Emira menatap marah pada wajah suaminya yang detik ini terlihat menyebalkan.
“Berani merahasiakan sesuatu padaku sekarang, kalau begitu nanti malam, tidur di kamar Bisma!!” bisik Emira penuh penekanan, seketika senyum di wajah Juna menghilang, berganti dengan mendung yang datang tiba tiba, karena kalimat istrinya seperti sebuah hukuman berat baginya.