CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 133


__ADS_3

BAB 133


Trimester kedua kehamilan kedua Emira


Arjuna menatap istrinya yang tengah men*yusui baby Kenz, memasuki trimester kedua kehamilannya Emira masih menyusui baby Kenz, walau sudah tak sesering ketika belum hamil, karena kini ASI untuk bayi tampan tersebut, telah bercampur dengan susu Formula, untunglah Emira juga masih punya banyak stok ASIP di dalam freezer, jadi baby Kenz masih bisa menikmati ASI walau dengan cara tak langsung.


Sementara Emira bahagia karena masih bisa memberikan ASI untuk baby Kenz, maka Juna bahkan tak bisa tersenyum, karena tak bisa berdekatan dengan Emira.


Jika di kehamilan pertamanya, Emira begitu lengket dengan Juna, maka sebaliknya pada kehamilan kedua, ibunda baby Kenz itu akan segera memuntahkan isi perutnya jika sang suami mendekat, tak disangka apa yang Emira ucapkan ketika melalui proses melahirkan anak pertama, kini menjadi kenyataan, padahal sebelum tahu kalau dirinya Hamil Emira tak pernah menolak, bila Juna mendekat, sepertinya otaknya segera merespon berita kehamilannya, karena tubuhnya memang sedang dikuasai hormon Kehamilan maka Total sudah dua bulan Juna kembali berpuasa.


#othor tertawa jahad mas … Bumil memang selalu menang … hahahaha …


“Yang .. aku duduk situ yah, mau sampai kapan jauh jauhan sama aku, bahkan sendal jepit aja tempatnya deketan.” rengek Juna manja, yang jangankan mencium memeluk, baru mendekat setengah meter, Emira sudah menutup hidungnya, kemudian berlanjut mengeluarkan semua makanan yang ia makan, tentu Juna juga tak ingin anaknya kekurangan nutrisi, karena itulah ia terpaksa mengalah.


Emira menatap wajah tampan yang tengah kusut carut marut, karena sudah dua bulan berpuasa, sebenarnya ia sungguh kasihan pada sang suami, tapi mau bagaimana lagi, hormon kehamilan kedua nya ini membuatnya tak bisa mendekat pada Arjuna.


Flashback on


“Yaaangg …” Juna berteriak kegirangan, usai melihat hasil test kehamilan istrinya, bagaimana tidak, bibit premiumnya kembali berhasil membuahi sel telur sang istri, wah ternyata dirinya sungguh perkasa, pikir Juna bangga.


“Gimana mas, negatif kan?” tanya Emira yang masih resah.


Juna memeluk erat Emira, ia ingin memberikan rasa sayang tak terkira pada wanita kesayangannya ini, karena sekali lagi ia mengandung buah cinta mereka. “Positif yang, selamat yah, kita akan memiliki seorang anak lagi, aku seneng banget yang, makasih yah, karena sudah membuatku jadi pria sempurna.”  


Tapi lain juna, lain pula Emira, ia masih belum percaya bahwa kini ia kembali hamil, entah saat ini apakah ia harus tertawa atau menangis, tapi jika di pikir pikir, bayi ini juga tak minta dihadirkan, kenapa keberadaanya harus ditolak, sementara ia hadir karena kedua orang tuanya sangat saling mencintai.


“Yang kok diam?” Juna pun melepaskan pelukannya.


“Nggak mas, aku masih terkejut, jadi belum tahu harus bereaksi seperti apa.”


Juna mengusap wajah Emira yang masih diam tak bereaksi, “Makasih yah, tolong jangan membenci kehadirannya, katakan saja padaku jika kamu tak nyaman, aku akan melakukan apapun agar kamu nyaman, tetap bahagia, karena perhatianku akan selalu tertuju padamu dan anak anak kita.” 


Emira mengangguk, namun tiba tiba hal aneh terjadi, Emira membekap hidungnya, karena merasa ada aroma yang mengganggu indera penciumannya, “Mas … kamu bau.” seru Emira tanpa filter.


Arjuna menautkan kedua alisnya heran, biasanya Emira tak pernah mengatakan dirinya bau, walau tak seperti Andre kakak iparnya yang harus selalu wangi, perfect, dan limited edition, Juna selalu memastikan dirinya mandi dua kali sehari, agar istrinya pun senang berdekatan dengannya, dan pagi ini memang masih terlalu pagi untuk mandi.


“Aku kan emang belum mandi yang … tapi aku yakin aku gak bau badan.” sanggah Juna

__ADS_1


“Nggak mas, aku serius, bau tubuhmu mengganggu hidungku,” Emira berjingkat menjauh, membuat Juna semakin keki.


“Ya udah aku mandi sekarang, janji yah nanti kalau sudah mandi, boleh peluk kamu lagi.”


Emira hanya mengagguk tanpa suara.


Tapi rupanya harapan Juna hanya tinggal angan, karena hingga kini ia hanya bisa gigit jari tak berani mendekat, benar benar siksa dunia yang menyakitkan, entah sampai kapan othor bulan mengizinkannya buka puasa. 


#hahaha … 😂


Flashback end


Emira terkekeh mendengar anekdot yang Juna lontarkan, "gimana ya mas, aku bukannya gak mau, tapi aku benar benar mual jika berdekatan denganmu," 


"Oh Arjuna … malang nian nasibmu." 


"Kamu marah mas?" Tanya Emira dengan wajah muram. 


"Pengennya sih marah yang, rasanya aku pengen nabokin mak othor pake panci pancinya mama, trus habis itu ku karungin, dan lempar ke kolam duit nya paman Gober," Keluh Juna menumpahkan kekesalan hatinya karena tak bisa minta jatah dari sang istri. 




Bulan ke 7 kehamilan Emira. 


Arjuna yang sudah tak bisa menahan keinginan dan rasa rindunya, tiba tiba nekat berbaring di sisi Emira, walau dengan jarak hampir satu meter, untungnya ranjang mereka sangat besar, jadi hal itu tak mustahil Juna Lakukan, itu pun ia lakukan ketika tengah malam, dan Emira sudah terlelap sejak dua jam yang lalu. 


Terlebih dahulu, Juna meletakkan guling sebagai pembatas, kemudian ia menggapai telapak tangan Emira, menggenggam dan me*rem*as nya perlahan, bisa menatap dan menikmati wajah Emira dari dekat, membuat 


Juna merasa senang, karena sudah sangat lama ia berjauhan dengan Emira. 


Juna melirik ke arah perut buncit istrinya, kini ia bahkan jarang mengusap dan menyapa bayi kecilnya yang sedang tumbuh di dalam sana sana, Arjuna beringsut ke bawah, ia ingin mengusam baby L, "sayang anak ayah, baik baik yah, maaf ayah gak pernah menyapamu, tapi kamu harus tahu, ayah menyayangimu, dan kakakmu dan juga bundamu, kalian bertiga akan selalu menjadi prioritas hidup ayah." Bisik Juna, berharap sang anak mendengarkan doa dan harapan sang ayah, tiba tiba baby L menendang keras, Hingga Arjuna mampu merasakannya, setelah mendapatkan tendangan keras dari baby L, Juna merasa tenang, bahkan tak lama kemudian ia pun terlelap. 


Keesokan harinya, ketika Emira membuka mata, ia terkejut menatap wajah tampan yang menemaninya tidur semalam, walau dengan jarak yang aman, bahkan telapak tangan Juna Menempel di perut nya "aaahhh mas bagaimana aku tak cinta, kalau kamu semanis ini. "


__ADS_1



Minggu Ke 38


"Mas."


Emira mendekati Juna dengan susah payah, kemudian duduk di dekat Juna, yang sibuk memeriksa laporan mingguan dari bawahannya. "Iya sayang? Ada apa?" Tanya Juna, seraya mengusap kepala Emira. 


Tapi Emira tersenyum sambil menggeleng, cantik sekali, wajahnya tampak bulat menggemaskan karena efek kehamilan."nggak papa mas, lama juga aku gak duduk begini," Emira mulai bergelayut manja di lengan Juna, "makasih yah mas, sudah sabar menghadapi penolakanku."


"Apa sekarang kamu tidak mual?"


"Tidak…" 


Emira tak sempat melanjutkan kalimatnya, karena Arjuna sudah meraup bibir merah mudanya, lelaki itu kalap karena sudah terlalu lama menahan rindu, bahkan tanpa sadar sudah membuat istrinya berbaring di sofa, sementara bibir dan tangannya sibuk menjelajah. 


"Mas…" Panggil Emira dengan susah payah, karena Arjuna bahkan tak memberi jeda untuk dirinya bernafas. 


"Please sayang, jangan sekarang iklannya, aku sudah terlanjur on."


Emira menatap wajah Juna dengan perasaan bersalah. 


"Maaf mas, tapi … aduh…" Tiba tiba Emira mend*esah seperti menahan sakit. 


"Kamu kenapa sayang, kok wajahmu mendadak pucat?" 


"Entahlah… tapi sepertinya aku mulai kontraksi." Keluh Emira. 


Jreng 


Jreng 


Jreng 


😁


Sabar Mas Juna ini cobaan. 

__ADS_1


__ADS_2