Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Kebenaran


__ADS_3

Setelah menceritakan semua kejadian memalukan itu, Riuga meminta Adelia untuk menjauh dari Emilia. Dia tidak ingin adiknya mendapat pengaruh buruk, jika tetap berteman dengan wanita yang tidak tau malu seperti itu.


Satu minggu kemudian.


Satu minggu sudah berlalu sejak kejadian itu. Selama itu juga, Riuga tidak pernah datang ke villa untuk menemui Tata. Namun, malam itu tiba-tiba saja Riuga ingin sekali datang ke villa.


"Selamat malam, Tuan!" ucap penjaga villa menyambut kedatangan Riuga.


"Ya, selamat malam!" sahut Riuga sembari mengayunkan kakinya menuju kamar Tata.


"Kreeek"


Riuga mendorong pintu kamar Tata, tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Kau...!" ucap Tata yang terkejut melihat kedatangan Riuga.


"Kenapa kau terkejut melihatku?" tanya Riuga yang kebingungan melihat tatapan Tata.


"Tidak apa-apa, untuk apa kau datang kesini?" tanya Tata dengan dinginnya.


"Apa kau lupa ini villa siapa, kenapa harus bertanya lagi?" ucap Riuga yang membuat Tata langsung terdiam.


Tata melangkahkan kakinya kearah pintu. Dia kemudian menghindar, dari laki-laki yang sudah membuat hidupnya terasa seperti didalam penjara itu.


"Kau mau kemana?" tanya Riuga sembari menahan tangan Tata.


"Lepaskan aku. Jangan pernah berani menyentuhku lagi!" bentak Tata sembari mengibaskan tangan Riuga dengan kasar.


"Ada apa denganmu?" tanya Riuga yang mulai terlihat kesal dengan tingkah Tata.


Tata tidak menjawab pertanyaan dari laki-laki jahat itu. Dia hanya menangis sambil berlari meninggalkan Riuga sendirian didalam kamar.


"Apa yang terjadi dengan wanita itu?" gumam Riuga sembari melangkah mengikuti Tata dari belakang.


Tata berlari keluar dari villa. Dia memilih untuk duduk dibawah sebuah pohon besar, yang ada di taman samping villa.


"Hiks... Hiks... Hiks..."


Air mata gadis cantik itupun tak henti-hentinya menetes menyesali nasib yang tidak pernah berpihak kepadanya.


"Hei, kenapa kau menangis?" tanya Riuga dengan raut wajah kebingungan.


"Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau mengurungku disini? Apa salahku padamu? Hiks... Hiks." isak Tata mencari kebenaran tentang Riuga.


"Kau tidak perlu tau siapa aku. Ayo masuklah, ini sudah larut!" ucap Riuga yang mulai melunak di hadapan Tata.


"Tidak mau, aku ingin tetap disini!" sahut Tata yang masih terisak.


"Ya sudah, terserah kau saja. Berhati-hatilah disitu. Pohon itu ada penunggunya!" ucap Riuga menakuti Tata sembari melangkah meninggalkan gadis itu sendirian.

__ADS_1


"Hei, tunggu. Jangan tinggalkan aku!" teriak Tata yang mulai ketakutan setelah mendengar ucapan Riuga.


Tata berlari sekencang-kencangnya, menyusul Riuga yang sudah berada lumayan jauh dari dirinya.


"Dasar laki-laki kurang ajar!" gerutu Tata yang kemudian berlari mendahului laki-laki batu itu.


Dengan nafas yang terengah engah, Tata kembali kedalam kamarnya. Perkataan Riuga tadi, benar-benar membuatnya ketakutan. Bahkan sekujur tubuhnya ikut menggigil, ulah laki-laki setengah serigala itu.


Riuga yang tadinya berniat menakuti Tata, akhirnya tersenyum dengan lepas tanpa bersuara sepatah katapun.


"Kau kenapa, hah?" tanya Riuga yang baru saja sampai didalam kamar yang ditempati Tata.


"Dasar laki-laki brengsek, bajingan, tidak punya hati!" teriak Tata sembari melempar Riuga dengan bantal yang diambilnya di atas tempat tidur.


"Dasar wanita gila!" gumam Riuga sembari menaikkan sebelah bibirnya.


"Pergilah dari sini. Aku muak melihat wajahmu itu!" bentak Tata dengan tatapan penuh kekesalan.


"Memangnya kau siapa? Berani sekali kau mengusirku dari tempatku sendiri!" ucap Riuga yang membuat Tata langsung terpaku tak bersuara.


Tata langsung terdiam setelah mendengar ucapan Riuga. Dia kembali menyadari, kalau dirinya hanyalah seorang pelayan bagi laki-laki yang tidak memiliki hati itu.


"Maafkan aku. Kau benar, aku bukanlah siapa-siapa disini. Aku hanyalah seorang pelayan. Kalau boleh, biarkan aku pergi dari sini!" ucap Tata sembari melangkah kembali menuju pintu kamarnya.


Melihat kesedihan di wajah Tata, Riuga pun dengan cepat menahan tangan wanita itu agar tidak melanjutkan langkahnya.


"Lepaskan aku, aku mohon! Tolong, biarkan aku pergi dari sini! Hiks...Hiks..."


"Kenapa kau begitu keras kepala?" bentak Riuga yang mulai kehilangan kesabarannya menghadapi Tata.


"Aku tidak ingin disini, aku ingin pulang! Hiks...Hiks..." isak Tata yang sudah merasa lelah dengan semua permainan Riuga.


"Kenapa kau ingin sekali meninggalkan tempat ini? Apa pelayanan disini tidak cukup untuk membuatmu betah?" ucap Riuga yang sudah mulai tersulut emosi.


"Tidak ada alasan untukku tetap disini. Jika kau membenciku, bunuh saja aku! Aku tidak ingin hidup didalam penjara seperti ini!" teriak Tata sembari menekuk kakinya di atas lantai.


"Kau benar, aku memang membencimu. Aku akan menyelesaikan dendam ini sekarang juga!" ucap Riuga sembari mengeluarkan senjata apinya dari pinggang celananya.


"Lakukan saja. Lebih cepat lebih baik!" pinta Tata yang sudah pasrah sembari menutup kedua matanya.


Dengan emosi dan kemarahan yang sudah menjadi-jadi, Riuga langsung mengarahkan senjata api itu tepat di kepala Tata.


"Katakan permintaan terakhirmu, agar kau tidak mati penasaran!" ucap Riuga dengan senyuman sinisnya.


"Papa, Mama, dulu kalian dilenyapkan dengan benda yang sama. Sekarang giliran Tata. Tata akan menyusul kalian berdua. Kita akan berkumpul kembali. Tata merindukan kalian!" ucap Tata sembari meneteskan air matanya.


Perkataan yang terlontar dari mulut Tata barusan, membuat Riuga terkejut setengah mati. Dia mengurungkan niatnya dan segera menjauhkan senjata api itu dari kepala wanita cantik yang sudah pasrah menunggu ajalnya itu.


"Ayo, lakukan! Kenapa kau diam saja!" bentak Tata yang sudah siap menerima timah panas itu.

__ADS_1


"Bangunlah, aku tidak bisa melakukannya!" ucap Riuga sembari memutar tubuhnya membelakangi Tata.


"Kenapa tidak bisa? Bukankah kau sangat membenciku?" teriak Tata dengan sangat lantang.


Riuga memilih untuk meninggalkan Tata sendirian. Perasaannya mulai gelisah setelah mendengar ucapan wanita itu barusan.


"Apa maksud ucapannya? Apa wanita jal*ng itu bukan ibu kandungnya?" batin Riuga sembari melangkah masuk kedalam kamarnya.


Riuga tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Dia akhirnya melampiaskan kemarahannya itu, dengan menghancurkan semua barang-barang yang ada didalam kamarnya.


"Blam,,,"


"Craaang,,,"


"Brak,,,"


"Apa yang sudah aku lakukan? Wanita itu tidak berdosa sama sekali. Kenapa aku membuat hidupnya menderita?" teriak Riuga sembari melemparkan semua benda yang ada didepannya.


Tata terperanjat mendengar suara berisik dari kamar sebelah. Dia mencoba memberanikan diri, melihat apa yang sedang terjadi, meskipun sebenarnya dia sangat ketakutan.


"Tuan, apa yang kau lakukan?" teriak Tata sembari berlari dan menahan tubuh Riuga.


"Pergilah, ini bukan urusanmu!" bentak Riuga yang sudah berlumuran darah ditangannya.


"Tidak, aku tidak akan pergi. Kau sedang terluka. Kenapa tidak melampiaskan kemarahan mu padaku saja?" tegas Tata yang mulai panik melihat kondisi Riuga.


Tata melingkarkan tangannya di pinggang Riuga. Gadis itu mulai memapah laki-laki yang tengah terluka itu, kembali kedalam kamarnya.


"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali!" ucap Tata sembari berlari mengambil kotak obat.


Tidak lama, Tata kembali sembari menenteng kotak obat di tangannya. Dia dengan cepat mengobati luka di tangan laki-laki gila itu dan membalutnya dengan perban.


"Maafkan aku. Jika kau membenciku, maka lenyapkan saja aku. Jangan melukai dirimu sendiri seperti ini!" ucap Tata yang merasa bersalah dengan kejadian itu.


"Siapa kau sebenarnya? Dimana kedua orang tuamu?" tanya Riuga memastikan ucapan Tata yang dia dengar tadi.


"Aku seorang yatim piatu. Papa dan Mama sudah tidak ada lagi. Mereka dibunuh saat aku masih kecil." ucap Tata menahan kesedihan yang begitu mendalam.


"Lalu, Sania itu siapa?" tanya Riuga yang mulai penasaran.


"Dia adalah Ibu yang telah membesarkanku. Saat orang tuaku dibunuh, aku lari dari rumah dan hampir saja ditabrak oleh taksi yang ditumpangi Ibu. Ibu kemudian membawaku pulang dan menyayangiku seperti anaknya sendiri."


Tata menjelaskan kepada Riuga, tentang masa lalunya yang begitu memilukan sembari menangis terisak-isak.


"Apa kau mengenal Ibuku? Atau jangan-jangan..."


"Iya, Ibumu sudah tiada. Aku sendiri yang telah melenyapkan wanita itu!" ucap Riuga dengan begitu santainya.


"Dasar laki-laki tidak punya hati, bajingan. Kenapa kau melakukan itu pada Ibuku?" teriak Tata sembari memukul wajah Riuga dengan sangat keras.

__ADS_1


"Aku melakukannya untuk membalaskan dendam keluargaku. Dia adalah wanita penggoda. Dia juga yang membuat kedua orang tuaku mati mengenaskan!" sahut Riuga tanpa rasa bersalah sedikitpun.


__ADS_2