Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Laki-laki Tampan


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan pukul 15.00 sore, di seberang Riuga Grup tampak sebuah taksi yang tengah berhenti menurunkan penumpangnya yang naik di bandara tadi.


"Sudah sampai Tuan, Tuan bisa menginap di hotel ini. Di depan sana adalah perusahaan Riuga Grup yang Tuan cari!" ucap sopir taksi kepada laki-laki yang menumpangi taksinya itu.


"Baiklah, terima kasih." sahut laki-laki itu.


Laki-laki tampan yang belum diketahui namanya itupun bergegas turun dari taksi dan melangkah memasuki lobi hotel. Raut wajahnya tampak begitu bahagia karena sebentar lagi bisa bertemu dengan orang yang dia cari.


Setelah melakukan check-in di hotel mewah tersebut, laki-laki itu kemudian meminta bantuan kepada petugas hotel untuk mengantarkan barang-barangnya ke dalam kamar.


Dia kemudian memilih untuk keluar dari hotel dan mendatangi Riuga Grup sebelum jam kerja di kantor itu habis.


Laki-laki itu berjalan dengan tegap sembari mengenakan kacamata hitam yang membuat aura ketampanannya semakin terlihat nyata.


Dengan sebelah tangan di dalam kantong celananya, laki-laki itu tampak tengah menyeberangi jalan dengan sedikit senyum yang terpancar dari raut wajahnya.


Sementara itu, Riuga dan Tata baru saja keluar dari lift dan berjalan ke arah mobil mereka yang sudah terparkir di depan gedung.


Riuga membukakan pintu untuk Tata dan membantu istrinya itu masuk ke dalam mobil seperti seorang permaisuri kerajaan. Tata bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perlakuan suaminya yang terlalu berlebihan itu.


Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, Riuga kemudian mulai menginjak pedal gas dan berlalu meninggalkan perusahaan mereka.


Saat mobil mereka sudah keluar dari gerbang, laki-laki yang sedang berjalan ke arah Riuga Grup tadi pun masuk sehingga mereka tidak sempat bertemu apalagi bertatap muka.


"Permisi Nona, apakah saya bisa bertemu dengan Riuga?" tanya laki-laki itu kepada Ana.


Bukannya menjawab, resepsionis cantik itu malah menganga saking terpukau nya melihat ketampanan laki-laki yang berdiri di hadapannya itu.


"Hei Nona, apa kau tidak mendengar ku?" tanya laki-laki itu lagi dengan nada suara sedikit keras.


"I... Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ana terbata-bata.


Ana mengedipkan matanya berulang kali untuk menghilangkan kecanggungan nya. Ketampanan laki-laki itu terlihat bak racun yang sedang menyerang penglihatannya.


"Maaf Tuan, anda terlambat beberapa menit saja. Tuan Riuga baru saja pulang!" sahut Ana.


"Sial, kenapa aku tidak langsung ke sini saja tadi?" gumam laki-laki itu dengan raut wajah kesalnya.

__ADS_1


"Kalau boleh saya tau, Tuan ini siapa dan ada keperluan apa ingin bertemu dengan Tuan Riuga?" tanya Ana yang penasaran.


"Kau tidak perlu tau, kalau begitu aku permisi dulu!" ucap laki-laki itu.


Laki-laki itu tampak begitu kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Riuga. Dia kemudian memilih meninggalkan perusahaan dan kembali ke hotel tempatnya menginap.


Tanpa dia sadari ternyata ada sepasang mata yang sedang menatapnya dari kejauhan. Dan ternyata itu adalah Soni yang baru saja keluar dari lift.


Soni melangkah terburu-buru ke arah Ana dan menanyakan tentang laki-laki yang baru saja dia lihat itu. Otak Soni mulai terasa kusut memikirkan semua yang sudah terjadi hari ini.


"Siapa dia?" tanya Soni mencari tau.


"Tidak tau Tuan, dia tidak menyebutkan namanya. Sepertinya hari ini terlalu banyak orang aneh yang datang mencari Tuan Riuga!" sahut Ana yang terlihat masih kebingungan.


"Kau benar, otakku bahkan sudah tidak bisa berpikir lagi. Entah siapa saja orang-orang itu?" ucap Soni sembari mengernyitkan keningnya.


"Sepertinya hidup Tuan Riuga itu terlalu penuh dengan misteri." sahut Ana.


"Ya sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Aku pulang dulu!" ucap Soni.


Soni mengayunkan kakinya ke arah parkiran dan melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan. Meskipun banyak sekali keanehan yang dia temui hari ini, tapi dia berusaha untuk tetap tenang karena tidak ingin ambil pusing dengan semua itu.


Tata memilih untuk langsung ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang mulai berkeringat setelah seharian beraktivitas.


Sementara itu, Riuga memilih untuk langsung berbaring di atas tempat tidur sembari meregangkan otot-ototnya yang mulai terasa kaku.


Tidak lama, Tata keluar dari kamar mandi dan bergegas mengenakan pakaiannya. Dia kemudian ikut berbaring di samping suaminya yang sudah mulai memejamkan matanya.


"Sayang," ucap Tata sembari menatap wajah tampan suaminya yang terlihat begitu kelelahan.


"Ehm," sahut Riuga tanpa membuka matanya yang terasa begitu berat.


Tata menyentuh wajah suaminya dengan lembut. Dia kemudian merebahkan kepalanya di lengan Riuga dan memeluk tubuh suaminya itu sembari ikut memejamkan matanya.


Riuga membuka matanya kembali dan tersenyum melihat istrinya yang sudah semakin lekat dengan dirinya itu. Bahkan sudah tidak ada lagi kata-kata yang mampu mengungkapkan betapa bahagianya Riuga saat ini.


Riuga memiringkan tubuhnya dan mengecup kening Tata dengan lembut. Dia membiarkan bibirnya tetap menempel di kening istrinya itu dan kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


Di tempat lain, Adelia tengah berada di sebuah mall bersama teman-temannya. Mereka menghabiskan waktu untuk jalan-jalan karena sebentar lagi mereka semua akan berpisah.


Di waktu yang bersamaan, ternyata Daniel juga tengah berada di mall tersebut. Saat itu Daniel tengah berada di sebuah toko jam tangan. Dia sedang mencari kado untuk hadiah pernikahan Riuga yang belum sempat dia berikan.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Daniel pun melangkahkan kakinya keluar dari mall. Tiba-tiba saja Adelia berteriak saat melihat Daniel hendak menaiki mobilnya di parkiran.


"Kak Daniel," teriak Adelia dengan lantang.


Daniel menatap sekelilingnya dan mendapati Adelia yang tengah berada di kerumunan teman-temannya.


Daniel menutup pintu mobilnya kembali dan melangkah ke arah Adelia yang juga tengah berjalan ke arahnya.


"Adel, kamu di sini juga?" sapa Daniel sembari tersenyum.


"Iya Kak, Adel habis jalan-jalan sama teman kuliah Adel. Kakak ngapain di sini?" tanya Adelia mencari tau.


"Kakak baru saja mencari kado untuk hadiah pernikahan Kak Riu." sahut Daniel.


"Oh, apa hadiahnya sudah dapat?" tanya Adelia.


"Sudah kok, apa kamu sudah selesai?" tanya Daniel.


"Sudah Kak, ini kami mau pulang." sahut Adelia.


"Kebetulan sekali, kamu pulang sama Kakak saja ya!" ajak Daniel.


Adelia menoleh ke arah teman-temannya yang masih berdiri di belakangnya. Dia merasa tidak enak hati meninggalkan teman-temannya jika pulang bersama Daniel.


"Tidak usah Kak, Adel pulang bersama mereka saja!" sahut Adelia.


Salah seorang teman Adelia datang menghampiri mereka. Gadis cantik yang bernama Nora itu langsung berbisik di telinga Adelia.


"Siapa ini Adel, pacar kamu ya?" bisik Nora.


"Hust, jangan asal bicara. Dia itu sahabatnya Kakak aku!" balas Adelia.


"Oh, aku pikir pacar kamu. Tapi dia itu tampan loh Adel, apa kamu tidak menyukainya?" goda Nora yang suka sekali melihat Daniel.

__ADS_1


"Apa kamu sudah gila, dia itu lebih tua dariku!" ketus Adelia yang sedikit salah tingkah.


Meskipun mereka berdua sudah bicara dengan pelan, namun suara mereka tetap saja sampai ke telinga Daniel. Daniel pun tampak melebarkan senyumnya setelah mendengar ucapan Adelia.


__ADS_2