
Siang harinya, Riuga dan Tata turun dari ruangan pribadi pemilik Riuga Group itu. Pancaran sinar wajah mereka berdua, jelas sekali memperlihatkan kebahagiaan yang begitu besar di dalam hati mereka masing-masing.
"Tok...Tok...Tok..."
Riuga langsung mendorong pintu ruangan Soni, setelah mengetuknya terlebih dahulu.
"Tuan, masuklah!" ucap Soni dengan begitu sopan.
"Tidak perlu, kami akan keluar untuk makan siang!" sahut Riuga dengan santainya.
"Tunggu, Tuan. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini mengenai perusahaan yang kemarin menawarkan kerja sama dengan kita!" ucap Soni menahan langkah Riuga.
"Kalau begitu, ikutlah dengan kami! Kita bisa membicarakannya sambil makan siang!" sahut Riuga yang sebenarnya sudah menunggu hasil kerja Soni itu.
"Ok baiklah, tapi apakah aku tidak mengganggu kalian?" tanya Soni sembari mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa Soni, ayo ikutlah dengan kami!" sambung Tata yang sama sekali tidak keberatan dengan kehadiran Soni.
"Baiklah, kalau begitu!" sahut Soni sembari bangkit dari tempat duduknya.
Riuga menggenggam tangan Tata dan melangkah menuju lift. Begitupun dengan Soni yang mengikuti mereka dari arah belakang.
Sesampainya di parkiran kantor, Soni segera mengambil mobil dan membukakan pintu untuk Tuannya dan calon Nyonya Riuga itu.
"Kita mau makan dimana, Tuan?" tanya Soni sembari fokus mengemudikan mobilnya.
"Terserah kau saja, yang penting makanannya enak!" sahut Riuga yang tengah duduk di bangku belakang bersama Tata.
Karena tidak ada tempat khusus yang di inginkan Tuannya, Soni pun mengarahkan mobilnya ke sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari perusahaan mereka.
"Disini bagaimana, Tuan!" ucap Soni sembari menginjak rem mobilnya.
"Tidak masalah, ayo turunlah!" sahut Riuga yang tidak pernah memilih-milih tempat itu.
Meskipun Riuga tergolong sebagai salah satu orang terkaya di kota tempatnya tinggal, dia tidak pernah merasa berada di atas angin. Kesederhanaannya tetap terlihat, meskipun jarang sekali di ketahui oleh orang-orang di sekitarnya.
Mereka bertiga turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam kafe. Mereka pun memilih duduk di tempat tertentu, agar bisa dengan leluasa membicarakan masalah pekerjaan, tanpa adanya gangguan dari pengunjung lainnya.
"Soni, kapan-kapan ajaklah istrimu main ke rumah dan bertemu dengan Tata!" ucap Riuga sembari menarik bangku untuk calon istrinya.
"Iya Tuan, nanti akan aku bicarakan dengannya. Dia orangnya sedikit pemalu, agak sulit berbaur dengan orang lain!" jelas Soni.
"Tidak masalah, jika wanita dengan wanita bertemu, mana ada istilah malu lagi diantara mereka. Apalagi jika disuruh menghabiskan uang di mall, pasti kau akan terabaikan sebagai seorang suami!" ucap Riuga sembari melirik kearah Tata.
__ADS_1
"Riu, kau menyindirku!" sambung Tata yang merasa tersinggung dengan ucapan Riuga.
"Tidak sayang, aku hanya berbicara fakta!" sahut Riuga sembari tersenyum tipis.
"Dasar laki-laki tidak punya hati!" ketus Tata sembari memalingkan wajahnya.
"Jangan marah sayang, aku hanya bercanda!" sahut Riuga sembari menggenggam tangan Tata dengan erat.
"Lanjutkan saja pembahasan kalian, aku mau memesan makanan!" ucap Tata sembari berdiri dari tempat duduknya.
Sementara Tata tengah pergi memesan makanan untuk mereka bertiga, Soni pun mulai mengatakan apa yang harus dia katakan kepada Riuga.
"Apa yang kau temukan?" tanya Riuga yang kembali terlihat serius.
"Ada yang aneh dengan perusahaan itu, Tuan!" sahut Soni dengan tatapan penuh keraguan.
"Apa maksudmu?" tanya Riuga yang mulai penasaran.
"Aku sendiri juga bingung. Kalau kau ingin tau lebih jelas, kau bisa menghubungi Malik. Dia yang lebih paham dengan kondisi perusahaan itu!" sahut Soni yang masih bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Riuga.
"Dimana Malik?" tanya Riuga dengan tatapan menuntut.
"Dia masih mencari informasi tentang perusahaan itu. Mungkin malam ini dia kembali!" sahut Soni.
Tidak lama, pembicaraan mereka pun terhenti saat Tata mulai mendekat dan disusul oleh pelayan kafe yang sedang membawakan makanan untuk mereka bertiga.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa malah berhenti?" tanya Tata dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Kami hanya membahas masalah perusahaan yang ingin menawarkan kerja sama dengan perusahaan kita!" sahut Riuga dengan santainya.
"Oh, ayo makanlah dulu!" ucap Tata yang sudah tidak kuat menahan rasa laparnya.
Setelah semua makanan terhidang di atas meja, mereka pun mulai mencicipinya tanpa bersuara sepatah katapun.
Selesai makan siang, Riuga menyuruh Soni kembali ke perusahaan menggunakan taksi. Siang itu Riuga berencana membawa Tata ke suatu tempat, yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.
"Soni, kau kembali naik taksi saja. Urusan di perusahaan, aku serahkan padamu! Aku ada urusan sebentar!" ucap Riuga yang terlihat begitu bahagia.
"Baiklah, kalau begitu aku duluan!" sahut Soni sembari bangkit dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan kafe.
"Kita mau kemana, Riu?" tanya Tata mencari tau.
"Jangan banyak tanya, ikut saja!" ucap Riuga sembari menarik tangan Tata menuju pintu keluar.
__ADS_1
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan berlalu menuju suatu tempat yang akan merubah hidup mereka berdua.
"Sayang, apa kau bahagia bersamaku?" tanya Riuga sembari fokus menyetir mobilnya.
"Pertanyaan macam apa ini? Tentu saja aku bahagia. Kalau tidak, untuk apa aku bertahan dengan laki-laki seperti dirimu?" sahut Tata sembari mengernyitkan keningnya.
"Memangnya aku laki-laki seperti apa, sayang?" tanya Riuga sembari melirik kearah Tata.
"Laki-laki kasar, egois, dan tentunya laki-laki mesum yang tidak punya malu sedikitpun!" sahut Tata dengan polosnya.
"Ya Tuhan, apa aku seburuk itu di matamu?" tanya Riuga penuh tanda tanya.
"Tentu saja!" sahut Tata tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Setelah mendengar ucapan Tata, Riuga pun dengan cepat menginjak rem mobilnya.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Tata sembari menoleh kearah Riuga.
"Kau masih mempunyai waktu untuk berpikir. Aku siap menerima apapun keputusan yang akan kau ambil!" ucap Riuga dengan tatapan yang sulit di mengerti.
"Apa maksudmu, Riu?" tanya Tata yang terlihat kebingungan.
"Aku tau, aku bukanlah laki-laki yang baik untukmu. Aku tidak ingin kau menyesal memilihku sebagai pendamping hidupmu. Kau masih punya kesempatan untuk memilih laki-laki yang lebih baik dari diriku!" sahut Riuga sembari memalingkan wajahnya.
"Apa-apaan kau ini? Siapa yang ingin memilih laki-laki lain?" ketus Tata penuh kekesalan.
"Jangan memaksakan diri jika hatimu tak bisa menerimaku sepenuhnya!" sahut Riuga yang mulai berkaca-kaca.
"Dasar laki-laki bodoh!" Tata beranjak dari tempat duduknya dan naik ke atas pangkuan Riuga.
"Apa yang kau lakukan? Menyingkir lah Tata, ini di dalam mobil!" ketus Riuga yang terlihat begitu panik.
"Kenapa memangnya kalau di dalam mobil? Tidak akan ada yang melihat kita!" ucap Tata sembari mengalungkan tangannya di leher Riuga.
Melihat Tata yang sudah pasrah di atas pangkuannya, Riuga pun tak sanggup menahan dirinya. Jantungnya mulai berdetak begitu kencang dengan nafas yang mulai terdengar memburu.
"Jangan begini sayang, turunlah! Aku tidak sanggup menahan diriku jika kau bersikap seperti ini!" pinta Riuga dengan tatapan memohon.
"Aku mencintaimu, Riu. Kenapa kau menyuruhku memilih laki-laki lain?" ucap Tata sembari menempelkan hidung mereka berdua.
"Bukankah tadi kau sendiri yang bilang kalau aku ini laki-laki yang buruk?" ucap Riuga yang sudah memerah menahan gejolak yang sedang menuntut di jiwanya.
"Kenapa semua ucapan ku selalu membuatmu bertingkah kekanak-kanakan seperti ini? Aku hanya bercanda!" ketus Tata sembari menggigit bibir Riuga saking geramnya.
__ADS_1