
Beberapa menit berselang, Riuga mulai terlihat sedikit tenang di dalam pelukan istrinya. Tata kemudian meraih tisu yang ada di atas meja kerjanya. Dia pun segera menyeka pipi suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Kita ke atas saja ya, kamu bisa beristirahat sebentar di sana!" ajak Tata sembari menggenggam tangan suaminya.
Riuga bangkit dari tempat duduknya. Dia kemudian memeluk tubuh Tata dan mengecup kening istrinya dengan lembut sembari menarik ingusnya yang sudah hampir keluar dari lubang hidungnya.
Tata kembali menyeka pipi dan hidung suaminya dengan tisu. Dia kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Riuga dan mulai melangkahkan kaki mereka menuju pintu ruangan.
Saat hendak memasuki lift, tiba-tiba Soni muncul di hadapan mereka. Raut wajah laki-laki itupun terlihat kebingungan saat memperhatikan wajah Riuga yang sudah sembab seperti habis menangis.
Belum sempat Soni mengeluarkan kata-katanya, Tata sudah lebih dulu memberi kode sembari melotot kan matanya ke arah asisten pribadi suaminya itu.
Soni pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk berbicara ataupun bertanya. Dia memilih untuk membalikkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Tata dan Riuga masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka naik ke lantai paling atas. Tata bahkan tidak melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya itu.
Sesampainya di ruang pribadi suaminya, Tata kemudian membantu Riuga berbaring di atas tempat tidur. Dengan penuh kesabaran, Tata mulai melepaskan sepatu suaminya dan menaruhnya di atas lantai.
Tata juga membantu melepaskan jas suaminya dan membuka kancing kemeja Riuga. Dia kemudian menarik selimut dan menutupi tubuh suaminya agar tidak kedinginan. Pelan-pelan dia mulai menyentuh pipi Riuga dan mengecupnya dengan lembut.
"Jangan pergi sayang, berbaringlah di sini bersamaku!" pinta Riuga sembari menarik tangan istrinya ke dalam pelukannya.
"Tapi pekerjaanku masih banyak sayang, kamu tidur saja dulu. Setelah pekerjaanku selesai, aku akan kembali ke sini!" sahut Tata sembari mengusap-usap kepala suaminya.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya. Aku maunya saat bangun nanti, wajah inilah yang pertama kali aku lihat!" sahut Riuga mengizinkan istrinya untuk kembali ke ruang kerja mereka.
Riuga mulai memejamkan matanya. Kehadiran Tata dalam hidupnya bagaikan obat penawar yang selama ini dia butuhkan.
Tata mulai mengecup kening, hidung, pipi, dagu dan bibir suaminya secara bergantian. Senyuman di wajahnya pun tampak mengambang sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Riuga sendirian.
*****
"Apa yang terjadi dengannya?" gumam Soni yang masih kebingungan memikirkan keadaan Riuga.
Soni mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuk kanannya. Sebelah tangannya memegangi pulpen dan menaruh ujung pulpen itu diantara barisan giginya sembari menggigitnya dengan pelan.
__ADS_1
Sementara itu Tata baru saja keluar dari lift, dia tampak melangkah ke arah pintu ruangan Soni dan langsung mendorongnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Soni, apa jadwal Riuga hari ini?" tanya Tata sembari melangkah menghampiri meja kerja asisten suaminya itu.
"Tata, kau ini bikin kaget saja." sahut Soni yang terkejut melihat kedatangan Tata yang menyelonong tanpa permisi itu.
"Kenapa melihatku seperti itu, apa wajahku terlihat menakutkan?" tanya Tata yang heran melihat ekspresi wajah Soni.
"Bukan begitu, aku sedang memikirkan keadaan Riuga. Tapi kau tiba-tiba saja datang seperti petir, tentu saja aku kaget!" sahut Soni dengan raut wajah datarnya.
"Hahahaha... Makanya jangan melamun. Riuga tidak apa-apa, dia hanya butuh istirahat sebentar!" ucap Tata sembari menertawai Soni.
"Huft, syukurlah kalau begitu." sahut Soni sembari menghela nafasnya dan membuangnya dengan pelan.
Soni meraih beberapa berkas yang ada di atas meja kerjanya. Dia kemudian membukanya satu persatu dan menunjukannya kepada Tata.
"Ini adalah perusahaan dari kota P yang ingin menawarkan kerja sama dengan kita. Kami sudah mendiskusikannya sebelumnya, Riuga sepertinya sangat tertarik untuk menerimanya. Tapi aku dan Malik khawatir kalau perusahaan ini punya maksud tertentu. Menurut keterangan Malik, perusahaan ini sedang mengincar kau yang sudah mereka ketahui sebagai Natasya!" jelas Soni.
"Siapa mereka, untuk apa mereka mengincar ku?" tanya Tata dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kalau itu keputusan Riuga, maka terima saja. Dia pasti sudah memikirkannya dengan baik. Aku percaya suamiku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padaku!" ucap Tata yang sangat percaya dengan suaminya.
"Kalau begitu bersiap-siaplah, siang ini mereka akan datang ke kantor ini. Kita tidak boleh terlihat gugup di depan mereka. Kita harus mengikuti alur permainan mereka sesuai dengan apa yang sudah direncanakan oleh Riuga!" ucap Soni.
"Baiklah, aku mengerti." sahut Tata.
Tata bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Soni sendirian di ruangannya. Raut wajahnya seketika berubah drastis saat mengingat kota P yang baru saja disebutkan oleh Soni.
Tata masuk ke dalam ruangan kerjanya dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Wajahnya tampak begitu lesu, dia pun menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sembari menatap ke arah langit-langit ruangannya.
"Apakah semua ini ada hubungannya dengan kematian Papa sama Mama?" gumam Tata dengan tatapan penuh tanda tanya.
Tata menarik nafas panjangnya dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Uhhh... Huft..."
__ADS_1
Wanita cantik itu bangkit dari sofa dan mengayunkan kakinya menuju kamar kecil. Dia berdiri di depan cermin dan memandangi wajahnya yang sudah terlihat begitu kusut.
Tata memutar kran air dan menampungnya dengan kedua telapak tangannya. Dia mulai membasahi wajahnya sembari terus menatap ke arah cermin yang ada di depannya.
"Huft, semua ini seperti misteri saja. Kapan aku bisa hidup tenang kalau begini?" gumam Tata sembari meraih handuk dan mengelap wajahnya dengan pelan.
Tata berusaha melupakan teka teki itu dan bergegas duduk di meja kerjanya. Dia kembali membuka laptopnya dan mulai menyelesaikan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.
*****
Hari sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Tata tampak tengah meregangkan otot-ototnya yang mulai terasa kaku setelah duduk di depan laptopnya selama kurang lebih satu setengah jam.
Dia tidak hanya menyelesaikan pekerjaannya saja, tapi dia juga berhasil menyelesaikan pekerjaan suaminya yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya.
"Huft, akhirnya selesai juga. Tinggal menunggu Riuga menandatangani semuanya, kelar deh." gumam Tata sembari tersenyum manis.
Tata kembali menutup laptopnya dan membereskan meja kerjanya serapi mungkin. Dia kemudian melangkah meninggalkan ruangannya dan masuk ke dalam lift menuju ruangan pribadi suaminya.
Sesampainya di ruangan atas, Tata kemudian menghampiri suaminya yang masih terlelap di atas tempat tidur.
Tata membuka blazer yang dia kenakan dan naik ke atas tempat tidur. Pelan-pelan dia mulai berbaring di samping suaminya dan tersenyum sembari menyentuh wajah Riuga dengan lembut.
"Sayang, kamu sudah kembali?" gumam Riuga yang masih memicingkan matanya.
Riuga menarik tubuh Tata ke dalam dekapannya. Dia kemudian membuka kelopak matanya sembari tersenyum menatap wajah cantik yang selalu dia rindukan itu.
"Kamu sudah bangun?" tanya Tata yang sudah terkunci di dalam pelukan suaminya.
"Sentuhan lembut tangan inilah yang sudah membuatku terbangun." sahut Riuga sembari meraih tangan istrinya dan meletakkannya di bibirnya.
"Gombal ih, ayo bangunlah. Kata Soni siang ini ada pertemuan dengan klien baru kita!" ucap Tata dan menempelkan bibirnya di dada suaminya.
"Dasar Soni sialan, apa saja yang dia katakan padamu?" tanya Riuga yang terlihat sedikit kesal.
"Semuanya," sahut Tata.
__ADS_1