
Setibanya di Riuga Grup, Riuga sengaja tidak mengenalkan Febri kepada karyawan kantornya. Mereka bertiga bergegas masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai atas.
Sesampainya di lantai atas, mereka berhenti di depan pintu ruangan Soni. Riuga meminta Tata untuk lebih dulu masuk ke dalam ruangan mereka. Dia tidak ingin membebani istrinya dengan masalah yang tengah menanti mereka saat ini.
"Sayang, kamu ke ruangan duluan ya. Kami ingin menemui Soni sebentar!" ucap Riuga kepada Tata.
"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa beritahu aku ya!" pinta Tata kepada Riuga.
"Aku tidak ingin kamu terbebani dengan masalah ini. Biarlah semua ini menjadi tugas kami sebagai laki-laki. Kamu bisa mengerti kan?" sahut Riuga.
"Ya sudah, terserah kamu saja!"
Tata melanjutkan langkahnya menuju ruangan kerjanya, sementara itu Riuga dan Febri langsung masuk ke dalam ruangan Soni tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kreeek..."
Soni yang tadinya tengah serius mengerjakan tugasnya, langsung terperanjat kaget melihat kedatangan Riuga yang selalu muncul di hadapannya seperti hantu.
"Astaga, kau lagi. Kenapa kau selalu membuatku kaget, apa kau ingin membuatku cepat mati karena serangan jantung?" ketus Soni dengan tatapan tajamnya.
"Hahahaha... Jangan mati dulu, aku masih membutuhkan dirimu. Kalau semua masalah ini sudah selesai, ya silahkan saja. Aku tidak akan menahan mu lagi!" sahut Riuga sembari tertawa cekikikan.
"Dasar bajingan, kau ingin aku cepat mati rupanya!" ketus Soni dengan kesalnya.
"Hahahaha... Kalian ini seperti anak kecil saja, kenapa sejak semalam kalian berdua bertengkar terus?" sambung Febri yang ikut tertawa melihat kelucuan Riuga dan Soni.
"Jangan ketawa kau Febri. Sudah ku bilang dia itu bukanlah manusia, kejamnya itu melebihi Fir'aun. Untung saja aku hidup dari uang dia, kalau tidak..." ucap Soni menghentikan perkataannya.
"Kalau tidak apa hah?" tanya Riuga dengan tatapan seriusnya.
"Kalau tidak, ah sudahlah. Capek bicara dengan orang sepertimu!" sahut Soni yang tidak ingin melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
Febri yang tadinya begitu dingin, tiba-tiba saja tampak begitu terharu melihat kedekatan diantara Riuga dan Soni. Dia merasa sedikit iri melihat Riuga yang benar-benar menganggap asisten pribadinya itu seperti sahabatnya sendiri. Tidak ada sedikitpun kecanggungan yang tampak di wajah mereka berdua.
"Banyak sekali yang sudah aku lewatkan, aku bahkan merasa iri melihat kedekatan diantara kalian. Apa aku masih bisa mendapatkan kesempatan seperti kalian ini?" ucap Febri sembari menarik kursi dan mendudukinya.
"Bicara apa kau ini, bagiku kalian semua itu sama. Kau, Soni, bahkan Malik sekalipun, kalian bertiga adalah saudaraku. Dan aku berharap kalian bertiga bisa bekerja sama dengan baik!" sahut Riuga yang juga ikut duduk di samping Febri.
"Iya Febri, mulai sekarang kita berempat adalah saudara. Kau tidak perlu merasa sungkan. Kau hanya perlu menebalkan telingamu saja jika berhadapan dengan manusia aneh itu!" ucap Soni yang kembali menyindir Riuga.
"Ya Tuhan, apa aku harus membunuhmu sekarang?" ketus Riuga yang semakin kesal mendengar ucapan Soni.
"Tuh kan, kau lihat sendiri bukan. Dia itu benar-benar sudah tidak waras." tambah Soni dengan senyuman sinis nya.
"Iya kau benar, aku tau itu. Untuk masalah ini lebih baik nanti saja kita lanjutkan di rumah. Bukankah kalian masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan?" sahut Febri yang menjadi penengah diantara mereka berdua.
"Kau benar juga, pekerjaan ini saja sudah membuatku pusing." sahut Soni.
"Lanjutkan saja pekerjaanmu itu, nanti siang aku akan menemui klien bisnis yang kemarin bersama Febri. Kau tidak perlu ikut!" ucap Riuga yang masih kesal melihat wajah Soni.
"Dia bisa membantuku menyelesaikan musuh berbau klien itu. Apa salahnya?" sahut Riuga.
"Tidak ada salahnya sih, tapi alangkah baiknya jika Febri tidak usah bertemu dengan mereka!" ucap Soni.
"Apa maksudmu, aku tidak mengerti." sahut Riuga.
"Terkadang kau ini terlalu terburu-buru mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dahulu. Untuk masalah ini sebaiknya jangan menggunakan otot, tapi gunakanlah otak mu untuk berpikir!" ucap Soni meremehkan Riuga.
"Bicaralah dengan jelas, jangan membuatku bingung seperti ini!" pinta Riuga sembari mengernyitkan keningnya.
"Febri adalah orang baru di sini, tidak ada seorangpun yang mengenali dia kecuali kita. Maka dari itu, kita bisa memakai Febri untuk menjadi mata-mata di perusahaan mereka!" jelas Soni.
"Kau benar, kenapa aku tidak memikirkan itu dari tadi?" sahut Riuga yang setuju dengan pendapat Soni.
__ADS_1
"Kalian sudah gila, bagaimana mungkin aku bisa masuk ke dalam perusahaan mereka. Aku tidak mempunyai pengalaman kerja seperti kalian!" tambah Febri.
"Tidak harus bekerja di kantor mereka juga, masih banyak cara lain yang bisa kita tempuh. Yang penting untuk saat ini kau tidak boleh menampakkan dirimu di depan mereka!" jelas Soni.
"Aku setuju denganmu, mungkin inilah satu-satunya cara untuk mengetahui tujuan mereka. Bagaimana denganmu Febri, apa kau bisa melakukan ini untukku?" tanya Riuga kepada Febri.
"Tidak masalah, aku siap membantu kalian!" sahut Febri dengan senang hati.
"Kalau begitu, kau tetaplah di sini bersama Soni. Kau bisa belajar banyak darinya. Meskipun wajahnya terlihat bodoh, tapi otaknya lumayan pintar. Sebab itulah aku mempertahankan dia sebagai asisten pribadiku!" ucap Riuga yang secara tidak langsung memuji kehebatan Soni.
Riuga meninggalkan ruangan itu dan berlalu menuju ruangannya. Meskipun dia sering beradu mulut dengan Soni, semua itu tidak pernah meruntuhkan kekompakan mereka.
Riuga mengetuk pintu dan bergegas masuk ke dalam ruangannya sembari tersenyum ke arah Tata yang sedang sibuk di depan layar laptopnya.
"Sayang, kamu sudah selesai?" tanya Tata sembari menoleh ke arah Riuga.
"Sudah sayang, maafkan aku karena beberapa hari ini aku sudah mengabaikan dirimu!" ucap Riuga sembari duduk di kursi kebesarannya.
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku tau suamiku ini adalah pekerja keras, aku lah yang harus lebih memahami dirimu!" sahut Tata.
Riuga kembali bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Tata dengan hangatnya.
"Terima kasih sayang, aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu. Aku janji setelah resepsi nanti, aku akan membawamu ke tempat dimana tidak akan ada seorangpun yang bisa mengganggu kita. Hanya kita berdua saja!" ucap Riuga yang kemudian mengecup kening Tata dengan lembut.
"Tidak perlu sayang, berada di sisimu seperti ini saja sudah cukup bagiku!" sahut Tata sembari menenggelamkan wajahnya di perut Riuga.
Riuga benar-benar bangga memiliki istri yang pengertian seperti Tata. Hal itu membuat rasa cinta di hatinya semakin hari semakin bertambah untuk wanita cantik itu.
Tata tidak hanya cantik dari tampilannya saja, tetapi hatinya juga sama cantiknya seperti wajahnya. Hal itu mengingatkan Riuga kembali kepada sosok Haikal yang sudah dia anggap seperti papanya sendiri.
Sifat yang dimiliki Tata saat ini, tidak jauh berbeda dengan sifat Haikal yang sama persis seperti Tata. Hal itulah yang membuat Riuga merasa beruntung memiliki istri seperti Tata.
__ADS_1