
"Cukup sayang, ayo jalan!" ucap Tata sembari tersenyum melihat kelakuan suaminya.
"Aku belum puas, sayang!" sahut Riuga yang masih ingin bermain-main dengan bibir istrinya.
"Jangan nakal di tempat umum seperti ini. Kalau masih ngeyel, nanti malam kita pisah kamar saja!" ancam Tata sembari membulatkan matanya lebar-lebar.
"Curang ih, masa' pengantin baru harus tidur di kamar yang berbeda!" sahut Riuga dengan tatapan penuh kekesalan.
"Pilihan ada di tanganmu, sayang. Mau disini atau nanti, pas malam pertama kita!" ucap Tata dengan begitu manjanya.
"Iya, iya. Kita jalan sekarang!"
Riuga mengecup kening Tata dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Dia pun menginjak gas dan berlalu menuju kearah Riuga Group.
"Kita kembali ke kantor dulu ya, sayang. Masih ada sedikit lagi pekerjaan yang harus aku selesaikan!" ucap Riuga sembari fokus mengendarai mobilnya.
"Terserah kau saja, sayang. Kemana pun kau pergi, aku akan selalu menemanimu!" sahut Tata dengan begitu semangatnya.
"Benarkah?" tanya Riuga sembari melirik kearah Tata.
"Tentu saja, mulai hari ini kita akan selalu bersama. Aku tidak mau jauh-jauh darimu walaupun sedetik!" ucap Tata sembari merebahkan kepalanya ke lengah Riuga.
"Iya, aku tau. Aku juga tidak ingin jauh-jauh dari istriku yang bawel ini!" ucap Riuga sembari tersenyum dengan lebar.
Setelah beberapa menit didalam perjalanan, mobil mereka pun akhirnya tiba di parkiran kantor.
Riuga turun dari mobilnya dengan wajah yang terlihat berseri-seri. Dia pun melangkah kearah pintu lainnya dan membukakannya untuk Tata.
Mereka berdua saling menebar senyum dan bergandengan tangan satu sama lain. Perlahan, mereka mulai melangkah menuju lift dan naik ke lantai atas.
Sesampainya di depan ruangan Soni, Riuga sempat terkejut mendengar suara Malik yang terdengar begitu jelas di telinganya.
"Sayang, kamu ke atas duluan ya. Aku ingin menemui mereka sebentar!" ucap Riuga kepada istrinya.
"Iya, tapi jangan lama-lama ya!" sahut Tata sembari melepaskan tangannya dari lengan suaminya.
Tata melangkah masuk ke dalam lift, begitupun dengan Riuga yang langsung masuk kedalam ruangan Soni.
__ADS_1
"Malik, kenapa kau ada disini?" tanya Riuga dengan tatapan penasaran.
"Tuan, kebetulan sekali kau datang. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu!" sahut Malik dengan tatapan yang membuat Riuga semakin penasaran.
"Bicaralah!" ucap Riuga sembari duduk di atas sofa.
Malik memberitahukan semua informasi yang sudah dia dapat kepada Riuga dan Soni. Percakapan mereka bertiga terlihat begitu serius. Bahkan sampai menghabiskan waktu hingga satu jam lamanya.
"Jadi, apa tindakan yang harus kita ambil untuk saat ini, Tuan?" ucap Soni yang mulai terlihat gelisah.
"Mereka sepertinya ingin bermain-main dengan kita. Kita harus melayani mereka dengan cara kita sendiri!" sahut Riuga dengan begitu santainya.
"Tapi, mereka itu cukup berbahaya Tuan!" tambah Malik memperingatkan Riuga.
"Tidak masalah, cuma inilah satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang sedang mereka rencanakan sebenarnya!" ucap Riuga dengan tatapan yang terlihat menakutkan.
"Tapi bagaimana dengan Nona Tata, Tuan! Dia adalah target utama dalam masalah ini!" sahut Malik mengkhawatirkan keselamatan wanita Tuannya itu.
Sejenak tatapan mata Riuga terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia sebenarnya ingin merahasiakan tentang pernikahannya menjelang resepsi dilaksanakan. Tapi mau tidak mau, Riuga harus mengatakannya kepada Malik dan Soni.
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Tata sekarang sudah resmi menjadi istriku. Aku akan melindunginya dari siapapun yang ingin mencelakainya." ucap Riuga yang membuat Malik dan Soni saling ternganga satu sama lain.
"Baru saja!" ucap Riuga dengan santainya.
"Kenapa tidak mengundang kami? Apa kami ini tidak berhak merasakan kebahagiaan itu?" ucap Malik yang merasa kecewa dengan sikap Riuga.
"Bukan begitu Malik, kau jangan salah paham dulu! Aku memang tidak mengundang siapapun. Cuma ada Adel yang mendampingi kami berdua!" ucap Riuga menjelaskan.
"Oh, aku pikir kami sudah tidak penting lagi bagimu setelah kau memiliki Nona Tata!" sambung Soni yang ikut menyudutkan Riuga.
"Apa-apaan kalian ini? Tata itu istriku, dan kalian berdua adalah saudaraku. Tidak ada yang berubah sedikitpun!" ucap Riuga yang mulai tersulut emosi mendengar ucapan Malik dan Soni.
"Iya, kami tau. Kami hanya sedang menguji mu saja. Aku sudah tau dari Adel tadi!" ucap Soni sembari tersenyum puas.
"Gila kau Soni, kau sudah tau tapi tidak memberitahuku sama sekali! Teman macam apa kau ini?" ketus Malik sembari memukul wajah Soni saking kesalnya.
"Apa-apaan kau ini Malik? Kenapa kau malah memukulku?" bentak Soni sembari mengusap pipinya yang terasa sedikit perih.
__ADS_1
Melihat lelucon yang sedang terjadi di depan matanya, Riuga pun dengan cepat menjadi penengah diantara mereka berdua.
"Hahahaha... Sudahlah, jangan bertengkar lagi! Kalian itu sudah pada tua, tapi tingkah kalian masih saja seperti anak kecil!" ucap Riuga sembari tertawa lepas.
"Soni tuh yang sudah tua. Udah mau jadi ayah tapi otaknya masih saja belum matang!" sahut Malik sembari melirik kearah Soni.
"Matang, matang. Memangnya aku telur rebus!" ucap Soni yang masih saja tidak mau mengalah dari Malik.
"Sudahlah Malik, kau pulanglah ke rumah. Suruh pelayan menyiapkan makan malam untuk kita semua. Jangan lupa suruh juga pelayan menghias kamar pengantin untukku dan istriku!" ucap Riuga yang mulai pusing menghadapi dua manusia aneh itu.
"Cie, cie, udah ngebet banget ya pengen ehem ehem!" sahut Malik menggoda Riuga.
"Kau ini, pergilah. Atau aku akan melempar mu dari gedung ini!" ketus Riuga yang merasa malu mendengar ucapan Malik.
"Hahahaha... Marah!" ucap Malik sembari berlalu meninggalkan ruangan Soni.
Setelah punggung Malik menghilang dari pandangan, Riuga mulai bangkit dari tempat duduknya dan melangkah kearah pintu.
"Oh ya Soni. Setelah pekerjaanmu selesai, jemput lah istrimu dan bawa dia ke rumah!" ucap Riuga sembari membalikkan tubuhnya kearah Soni.
"Iya, iya. Pergilah ke atas, istrimu pasti sudah menunggu kedatangan suami tercintanya!" sahut Soni menggoda Riuga.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa mempekerjakan orang-orang yang tidak punya malu seperti kalian ini?" gumam Riuga penuh kekesalan.
Riuga meraih pena yang ada di atas meja kerja Soni dan melemparkannya kearah laki-laki yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri itu.
"Hahahaha... Tidak kena!" ucap Soni sembari tertawa cekikikan.
*****
Soni dan Malik adalah dua orang laki-laki tampan yang di ambil Riuga dari jalanan.
Soni adalah seorang yatim piatu. Saat itu Soni tengah kesulitan karena sedang di buru oleh beberapa preman, yang ingin mengambil uang hasil kerja kerasnya menjadi tukang sol sepatu keliling.
Untung saja Riuga datang tepat pada waktunya. Hingga Soni berhasil selamat meskipun sudah dalam keadaan babak belur.
Sementara itu, Malik saat itu masih mempunyai seorang Ibu. Kondisi Ibunya yang sakit-sakitan, membuat Malik menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang untuk pengobatan Ibunya.
__ADS_1
Kehidupan Malik yang begitu keras, membuatnya menjadi laki-laki beringas yang tidak pernah takut dengan apapun. Hal itulah yang membuat Riuga begitu kagum dengan sifat laki-laki itu.
Riuga bahkan membantu semua biaya pengobatan Ibunya Malik. Namun sayangnya, Tuhan berkehendak lain. Sebelum melakukan operasi, Ibu Malik malah menghembuskan nafas terakhirnya karena telat mendapatkan pertolongan.