
Setibanya di Riuga Group, seorang satpam langsung berlari dan bergegas membukakan pintu mobil, untuk pimpinan mereka yang kali ini datang bersama seorang wanita cantik.
Riuga kemudian turun lebih dulu dan menyambut tangan Tata, seperti seorang permaisuri kerajaan.
Pemandangan langka itupun membuat para karyawan yang melihat mereka, saling menatap dan berbisik satu sama lain.
"Jangan begini Riu, bersikaplah dengan wajar. Semua orang sedang menatap kearah kita. Aku tidak ingin menjadi bahan ghibah untuk mereka!" ucap Tata yang merasa malu diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya.
"Biarkan saja sayang, tidak perlu di pikirkan!" sahut Riuga sembari melingkarkan tangan Tata di lengannya.
Riuga dan Tata mulai mengayunkan kaki mereka. Mereka berdua berjalan layaknya sepasang pengantin baru yang masih begitu hangat, tanpa bisa dipisahkan satu sama lain.
"Selamat pagi, Tuan!" sapa seorang pegawai wanita yang sudah lama menaruh hati pada atasannya itu.
"Selamat pagi!" sahut Riuga dengan santainya.
Riuga menghentikan langkahnya diantara semua karyawan, yang sudah lebih dulu sampai di perusahaan.
"Kenalkan, wanita cantik yang berdiri di hadapan kalian ini namanya Tata. Dia adalah calon istriku. Mulai hari ini, dia akan membantuku menjadi asisten khusus di perusahaan ini! Apa ada pertanyaan?" ucap Riuga dengan begitu gagahnya.
"Selamat datang di perusahaan ini, Nona Tata. Senang bertemu denganmu!" ucap beberapa karyawan secara bersamaan.
"Terimakasih, jangan panggil Nona. Panggil Tata saja!" sahut Tata yang merasa tidak enak hati diperlakukan begitu istimewa.
Selesai memperkenalkan Tata kepada karyawan kantornya, Riuga kembali melanjutkan langkahnya. Mereka berdua masuk kedalam lift, menuju ruangan Riuga yang ada di lantai atas.
"Riu, kenapa harus jadi asisten khusus? Aku tidak masalah kok jadi karyawan biasa!" ucap Tata yang berada begitu dekat dengan Riuga.
"Ikuti saja peraturan yang sudah ku buat! Atau kamu mau aku kembalikan lagi ke rumah?" ancam Riuga sembari merapatkan tubuhnya ke tubuh Tata.
"Ti... Tidak mau. Kalau begitu, terserah kau saja. Aku akan mengikuti semua peraturan yang sudah kau buat!" sahut Tata yang mulai gelisah melihat tatapan Riuga.
"Gadis pintar." ucap Riuga sembari mengecup bibir Tata dengan lembut.
"Jangan Riu. Ingat, ini kantor bukan rumah. Jangan membuatku malu dengan tingkah gila mu itu!" ketus Tata yang mulai panik melihat tingkah Riuga yang tidak pernah kenal tempat itu.
__ADS_1
"Bibirmu itu selalu menggodaku, sayang. Aku tidak tahan melihatnya!" ucap Riuga sembari mengedipkan sebelah matanya menggoda Tata.
"Dasar gila!" ketus Tata dengan senyuman tipisnya.
Tidak lama, pintu lift pun terbuka dengan lebar. Tata melangkah terburu-buru, tanpa menghiraukan Riuga yang masih tertinggal di belakangnya.
Kepanikan Tata itupun, membuat Riuga merasa sangat senang. Dia bahkan berpikir untuk terus menggoda wanitanya itu. Raut wajah kesal Tata, terlihat begitu menggemaskan dimata laki-laki tampan itu.
Sesampainya didalam ruangan, Riuga segera menghubungi Soni. Dia meminta agar Soni menata ulang ruangan kerjanya. Dia tidak mau berjauhan dengan Tata dan memilih berbagi ruangan dengan calon istrinya itu.
"Permisi, Tuan!" sapa Soni dari depan pintu.
"Masuklah, Soni!" sahut Riuga dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Maaf Tuan, bukankah posisi seperti ini sudah sangat bagus. Kenapa harus di atur ulang?" tanya Soni yang belum mengetahui rencana Riuga.
"Tidak Soni, aku membutuhkan satu meja kerja lagi untuk Tata. Kau harus mengaturnya sedemikian rupa! Untuk sementara, aku akan bekerja di ruangan pribadiku!" ucap Riuga sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Baiklah Tuan, aku mengerti!" sahut Soni yang mulai paham maksud dan tujuan Riuga.
Sesaat, pandangan Tata terlihat melayang. Dia teringat dengan kejadian tempo hari didalam ruangan itu. Tata pun tersenyum dan menatap kearah Riuga dengan tatapan begitu intim.
"Ada apa, sayang, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Riuga sembari melepaskan jas dan meletakkannya di atas tempat tidur.
Tata tak berucap sepatah katapun. Dia langsung memeluk tubuh Riuga dan tersenyum penuh kebahagiaan.
"Ada apa, sayang? Jangan menggodaku. Ingat, kita hanya berdua di tempat ini!" ucap Riuga yang tidak ingin lepas kendali seperti sebelumnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya teringat dengan kejadian tempo hari. Waktu itu, aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi aku tidak berani, aku masih sangat marah padamu saat itu!" ucap Tata dengan kejujurannya.
"Apa maksudmu, sayang? Apa waktu itu kau sudah menyukaiku?" tanya Riuga yang mulai penasaran setelah mendengar ucapan Tata.
"Iya, kau benar!" ucap Tata dengan polosnya.
"Ya Tuhan, kenapa kau mempermainkan emosiku sampai seperti itu, sayang. Kenapa kau malah menolak ku waktu itu?" ucap Riuga dengan tatapan menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Waktu itu aku masih ragu dengan perasaanku sendiri. Aku juga masih sangat takut menghadapimu!" ucap Tata sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Riuga.
"Jadi, kejadian di pulau itu?" tanya Riuga yang semakin penasaran.
"Tentu saja, aku sangat senang menghabiskan waktu berdua denganmu waktu itu!" sahut Tata sembari duduk di ujung kasur.
Kejujuran Tata itu, membuat Riuga seperti disambar petir di siang bolong. Riuga tidak menyangka, kalau Tata akan mempermainkan hatinya sedalam itu.
Riuga menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Raut wajahnya menyiratkan kekecewaan yang begitu besar terhadap Tata. Perlahan, laki-laki itu menarik nafasnya dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Aku tidak menyangka, kau bisa setega itu padaku. Kau benar-benar sudah mempermainkan hatiku, sayang!" gumam Riuga sembari menatap langit-langit ruangannya.
"Maafkan aku Riu, aku tidak bermaksud mempermainkanmu. Aku hanya takut memberikan hatiku padamu saat itu. Aku takut mencintai laki-laki yang salah. Aku hanya ingin menikah dengan orang yang benar-benar mencintaiku!" sahut Tata sembari menggenggam tangan Riuga dengan erat.
"Sejak kapan kau menyukaiku, sayang?" tanya Riuga dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sejak pertama kali kau mengambil ciuman pertamaku!" sahut Tata sembari meletakkan tangan Riuga di bibirnya.
"Selama itu???" tanya Riuga dengan mata yang terbuka sangat lebar.
"Ya..." sahut Tata sembari menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku, sayang. Ini adalah salahku, aku terlalu bernafsu untuk membalaskan dendam ku. Jika saja aku tau, aku tidak akan menyakitimu sedalam itu!" ucap Riuga dengan mata yang mulai berbinar menahan air matanya.
Tata membaringkan tubuhnya di atas tubuh Riuga. Dia kemudian menenggelamkan wajahnya di atas dada bidang calon suaminya itu. Dia bahkan mengecup dada laki-lakinya itu tanpa canggung sedikitpun.
"Aku sudah memaafkanmu, Riu. Semua yang sudah terjadi adalah takdir yang harus kita lalui. Aku tidak menyesal sedikitpun atas kejadian itu!" ucap Tata yang sudah mengubur masa lalunya seiring berjalannya waktu.
"Kau memang wanita yang lembut, sayang. Sekali lagi maafkan aku!" ucap Riuga penuh penyesalan.
"Ya sudah, jangan bersedih lagi. Ayo bangun, masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan!" ucap Tata yang tidak ingin mengingat masa-masa kelam itu lagi.
Setelah mendengar kejujuran dari mulut wanitanya itu. Mereka berdua bangkit dari tempat tidur dan mulai melakukan apa yang harus mereka lakukan saat itu.
"Duduklah disini!" ucap Riuga sembari menepuk kedua pahanya agar Tata duduk di pangkuannya.
__ADS_1
Dengan senang hati, wanita cantik itu langsung mengikuti permintaan calon suaminya. Riuga pun menyelesaikan pekerjaannya sembari memangku wanitanya itu tanpa beban sedikitpun.