
Tari berlari ke arah mobil Bram yang tengah terparkir di luar hotel. Dia mencoba membuka pintu mobil itu, namun dia tidak bisa melakukannya karena kunci mobil itu masih ada di tangan Bram.
Selang beberapa detik, tiba-tiba Bram datang dan memeluk tubuh Tari dari arah belakang. Meskipun kepalanya masih terasa pusing, tapi Bram berusaha menahannya. Dia tidak ingin membuat istrinya berpikiran buruk terhadap dirinya.
"Sayang, tolong percaya padaku. Aku tidak melakukan apa-apa dengan wanita itu!" jelas Bram meyakinkan istrinya.
"Lepaskan aku, aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tidak ada gunanya berkelit lagi!" isak Tari dengan air mata yang masih berjatuhan di pipinya.
"Demi Tuhan aku tidak melakukannya sayang, aku bersumpah demi anak-anak kita. Aku tidak tau kenapa aku bisa sampai di kamar itu, kamu juga tau kan kalau aku tidak suka minum alkohol. Tapi entah kenapa tubuhku rasanya begitu oleng?" ucap Bram menjelaskan semuanya kepada Tari.
Setelah mendengar ucapan suaminya, Tari pun mulai sedikit mereda. Dia sangat mengenali sifat dan kebiasaan suaminya dengan baik. Bram memang tidak suka minum alkohol selama yang dia tau.
"Aku mengerti, berikan kuncinya padaku!"
Tari membalikkan tubuhnya dan merogoh saku celana suaminya untuk mengambil kunci mobil. Setelah mendapatkan kunci tersebut, Tari memapah tubuh Bram dan membantunya masuk ke dalam mobil.
Tari menempatkan suaminya di bangku sebelah kiri, kondisi Bram yang sudah teler tidak memungkinkan bagi Tari untuk membiarkan suaminya menyetir mobil sendirian.
Tari kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi. Meskipun hatinya terasa begitu sakit, tapi dia sangat meyakini kalau suaminya tidak akan melakukan semua itu.
Tari mulai menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas. Mobil itupun melaju meninggalkan hotel mewah tersebut.
Dari kejauhan, terlihat sepasang mata yang tengah tersenyum dengan licik. Aura wajahnya memperlihatkan kepuasan tersendiri saat melihat sepasang suami istri itu meninggalkan lokasi.
Di dalam hotel, Randi tengah tersenyum sumringah setelah berhasil memainkan permainannya. Dia sangat yakin kalau besok pagi akan ada berita heboh yang akan menghiasi layar kaca dan surat kabar terkemuka.
Sementara itu, Tari masih fokus mengendarai mobilnya. Kejadian tadi membuatnya bertanya-tanya dan berpikir kalau ada seseorang yang ingin menghancurkan reputasi suaminya.
"Sayang, percayalah padaku. Aku tidak melakukannya!" gumam Bram yang masih memicingkan matanya.
"Iya sayang, aku percaya padamu. Tidurlah!" sahut Tari sembari melirik ke arah suaminya yang tengah mengigau itu.
Bram membuka kedua matanya, air matanya terlihat menetes sembari menatap ke arah istrinya.
"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar tidak melakukan semua itu. Aku yakin sekali kalau ini adalah sebuah jebakan untuk menghancurkan keluarga kita!" ucap Bram sembari memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
__ADS_1
"Kamu benar, aku juga memikirkan semua itu. Mereka tidak hanya ingin menghancurkan keluarga kita, tapi mereka juga ingin menghancurkan reputasi mu sebagai pebisnis yang sukses." sahut Tari.
"Apa maksudmu?" tanya Bram dengan tatapan kebingungan.
"Mereka sudah mengatur semuanya dengan sangat baik. Kalau tidak, bagaimana mungkin bisa ada wartawan sebanyak itu di sana?" sahut Tari yang lebih mengedepankan akalnya dibanding hatinya.
"Ya kamu benar sayang, tapi siapa yang tega melakukan itu semua padaku?" tanya Bram yang masih tersandar lemah di tempat duduknya.
"Sepertinya itu perbuatan,..."
Belum sempat Tari melanjutkan perkataannya, tiba-tiba mobil mereka di hantam oleh sebuah truk besar dari arah belakang.
"Braaak..."
"Awh..."
Tari berteriak histeris saat mobilnya mulai terasa oleng.
"Injak rem nya sayang!" ucap Bram sembari menahan stir mobil yang sudah terlepas dari pegangan Tari.
Tari kembali memegang stir mobilnya dan mencoba menginjak pedal rem. Namun tatapannya terlihat kebingungan dan segera melirik ke arah suaminya.
Bram mencoba bangkit dari tempat duduknya. Dia berniat untuk mengambil alih kemudi dari tangan istrinya. Namun naasnya, mobil mereka kembali di hantam dengan keras dari arah belakang.
"Braaak..."
"Awh..."
Tari kembali berteriak saat tak mampu lagi mengendalikan kemudi mobilnya. Begitupun dengan Bram yang langsung tersungkur ke arah samping saat ingin duduk di posisi istrinya.
Kepala Bram tampak mengeluarkan begitu banyak darah saat membentur kaca jendela yang sudah pecah.
"Braaak..."
Hantaman mobil yang ketiga kalinya membuat mobil itu langsung terbalik. Bram dengan cepat memeluk tubuh istrinya dengan erat saat mobil mereka mulai terguling-guling dan menghantam beton pembatas jalan.
__ADS_1
Dari arah luar, mobil mewah itu terlihat seperti kaleng minuman kosong yang sudah di remuk dengan tangan.
Tari masih sempat tersenyum sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pelukan suaminya itu.
Selang beberapa detik, Bram pun menyusul istrinya dan terkulai lemah dalam posisi saling berpelukan satu sama lain.
Darah segar pun tampak bercucuran dari kepala, hidung dan mulut mereka masing-masing. Bahkan tubuh mereka pun sudah remuk karena terjepit di dalam mobil yang sudah berlipat itu.
Satu jam berselang, siulan mobil ambulans dan mobil polisi pun terdengar sahut menyahut memecahkan kesunyian malam.
Kabar kematian pebisnis hebat itupun mulai tersebar di seantero negeri. Banyak wartawan yang datang meliput berita heboh itu. Bahkan ada yang langsung melakukan live streaming di tempat kejadian perkara.
Flashback Selesai
Riuga menangis terisak-isak di dalam pelukan istrinya. Potret kematian mengenaskan kedua orang tuanya itu, masih tersimpan utuh di dalam ingatannya. Riuga bahkan sempat melihat sendiri bagaimana kondisi kedua orang tuanya pada saat itu.
Tata mulai memahami apa yang tengah dirasakan oleh Riuga. Dia bahkan ikut meneteskan air matanya sembari mengusap pipi suaminya dengan jari jemarinya.
"Hiks...Hiks..."
Riuga sudah tidak sanggup mengontrol emosinya. Suara tangisannya pun pecah hingga menggema di dalam ruangan kerjanya itu.
Air matanya terus saja menetes tanpa henti. Bahkan air di hidungnya pun mulai menetes dan membaur menjadi satu di wajah tampannya itu.
Tata tak kuasa melihat suaminya yang sudah semakin hanyut dalam kesedihannya itu. Dia bangkit dari pangkuan Riuga dan berdiri di hadapan suaminya itu.
Tata menempelkan tubuhnya ke kepala Riuga. Tangisan itupun semakin pecah saat Riuga menenggelamkan wajahnya di perut istrinya.
Tata mengusap kepala suaminya dengan lembut. Dia bahkan juga tidak sanggup menahan air matanya sendiri dan ikut merasakan kepedihan yang sudah dialami oleh suaminya selama ini.
"Hiks...Hiks..."
"Menangis lah sepuasnya jika itu bisa membuatmu tenang!" isak Tata sembari menempelkan bibirnya di kepala Riuga.
"Aku membenci wanita itu, dialah penyebab dari semua ini, hiks...!" isak Riuga di perut istrinya.
__ADS_1
Meskipun Riuga tidak tau kenyataan yang sebenarnya seperti apa. Tapi dia sangat meyakini kalau penyebab dari semua itu adalah Sania.
Berita yang ada di media saat itu, semuanya mengabarkan kalau pertengkaran diantara Bram dan Tari terjadi karena kehadiran Sania sebagai orang ketiga. Itulah yang menyebabkan mereka berdua bertengkar di dalam mobil dan menyebabkan kecelakaan naas itu terjadi.