Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Mengungkapkan


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Tata mulai terbangun setelah tidak sadarkan diri cukup lama.


"Aku dimana?"


Tata bergumam sembari memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Dia mencoba bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu.


"Kreeek"


Sebelum Tata berhasil meraih gagang pintu, Riuga sudah lebih dulu membukanya dari arah luar.


"Tata, kamu sudah sadar?" ucap Riuga sambil tersenyum manis kearah wanitanya.


"Kau? Kenapa kau ada disini? Dimana aku?" teriak Tata yang mulai emosi melihat keberadaan Riuga.


"Tata, jangan berteriak! Kau masih pusing."


Riuga meraih tangan Tata dan membawanya kembali ke atas kasur.


"Lepaskan aku! Dasar laki-laki brengsek!"


Tata menyentak kan tangan Riuga karena tidak sudi disentuh oleh laki-laki yang sangat dia benci itu. Apalagi berada dalam satu kamar seperti saat ini.


"Tata, tenanglah dulu! Aku tidak akan menyakitimu!"


Riuga mencoba berkata-kata dengan lembut untuk meredakan kemarahan dari wanitanya. Dia juga bingung harus berbuat apa kepada wanita yang sedang duduk di sampingnya itu.


"Dimana ini? Kau mau mengurungku lagi?" tanya Tata yang sudah mulai sedikit tenang.


"Tidak, aku tidak akan mengurung mu! Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama denganmu untuk beberapa hari ini." ucap Riuga sembari memeluk tubuh Tata dari arah samping.


"Jangan sentuh aku!" bentak Tata.


Riuga segera melepaskan pelukannya. Dia tidak ingin membuat Tata semakin membenci dirinya hanya karena keegoisannya.


"Apa kau benar-benar membenciku? Tidak adakah sedikit saja rasa itu untukku?" tanya Riuga sembari menatap dalam ke wajah cantik wanitanya itu.


"Tidak, aku tidak suka dengan laki-laki playboy sepertimu!" ketus Tata dengan raut wajah penuh kekesalan.


"Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan hal itu kepadaku? Apa kau pernah melihatku bersama wanita lain?" tanya Riuga yang tidak mengerti arah pembicaraan Tata.


"Jangan berlagak suci di depanku!" ucap Tata yang mulai berat mengeluarkan suaranya.


Riuga tertegun mendengar perkataan Tata yang seakan-akan menyudutkan dirinya. Dengan penuh rasa penasaran, Riuga kembali bertanya kepada wanita cantiknya itu.


"Tata, apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapan mu itu? Tolong, katakanlah dengan jelas!"

__ADS_1


"Sudahlah, tidak penting juga membahas semua ini. Aku ingin pergi dari sini!"


Tata melangkah keluar dari kamar untuk mencari jalan keluar. Dia tidak ingin berlama-lama berada di sisi laki-laki yang menurutnya tidak baik itu.


"Ya Tuhan! Dimana ini? Kemana dia akan membawaku?" gumam Tata yang terkejut melihat keadaan di sekelilingnya.


Tata berlari terengah engah dan kembali masuk kedalam kamar dengan raut wajah penuh kemarahan.


"Dasar laki-laki brengsek! Bajingan! Mau kau bawa kemana aku?" teriak Tata sembari memukul tubuh Riuga berulang-ulang kali.


"Jangan takut! Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama denganmu untuk beberapa hari." ucap Riuga yang mulai tersenyum melihat kepanikan di wajah Tata.


"Aku tidak mau, cepat bawa aku kembali!" bentak Tata sambil memukul kembali tubuh laki-laki yang berdiri di depannya itu.


"Jangan takut, Tata! Aku ada disini bersamamu." ucap Riuga sembari meraih tangan Tata dan memeluknya dengan erat.


"Bawa aku kembali, Riuga! Aku benar-benar takut berada disini. Hiks... Hiks... Hiks."


Tata menangis didalam pelukan Riuga. Dia benar-benar merasa takut karena baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat yang belum pernah dia pijak sebelumnya.


"Tidak apa-apa, jangan menangis lagi! Aku akan menjagamu, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi kepadamu!" ucap Riuga sembari mengecup kening Tata dengan lembut.


Sesaat Tata merasa sangat nyaman berada didalam pelukan Riuga. Dia pun memeluk tubuh laki-laki itu dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di dada laki-laki tampan itu.


"Tata, apa kau mencintai Daniel?" tanya Riuga yang ingin mengetahui isi hati wanita yang ada didalam pelukannya itu.


Tata tidak menjawab pertanyaan Riuga sama sekali, dia hanya membisu sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu, kenapa kau bersedia untuk menjadi pasangannya di acara tadi?" tanya Riuga yang mulai penasaran dengan tindakan Tata.


"Dia bos ku, aku tidak bisa menolak permintaannya." sahut Tata dengan jelas.


"Tapi secara tidak langsung, kau telah memberikan harapan kepadanya. Apa kau tidak takut jika dia beranggapan kalau kau menyukainya?" tanya Riuga.


Tata melepaskan pelukannya dari tubuh Riuga dan memperlihatkan tatapan membunuh kearah laki-laki tampan itu.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku salah bicara?" tanya Riuga yang mulai ciut melihat ekspresi wanitanya itu.


"Kau menanyakan hal konyol itu kepadaku. Lalu apa yang telah kau lakukan bersama wanita tadi? Kau pikir aku tidak memperhatikanmu. Dengan santainya kau memperlihatkan kemesraan kalian di depanku. Dasar laki-laki tidak tau malu! Kau anggap apa aku ini?" bentak Tata yang mulai melampiaskan kemarahan yang sedari tadi sudah dia pendam.


Riuga sejenak terdiam setelah mendengar ucapan dari Tata. Dia berpikir kalau Tata telah salah paham terhadap dirinya. Dia pun tersenyum


setelah mengetahui kalau Tata ternyata cemburu melihat kedekatannya dengan Adelia.


"Hahahaha... Tata, apa kau cemburu kepada gadis kecil itu?" tanya Riuga sambil tertawa terkekeh-kekeh.

__ADS_1


"Tidak, siapa juga yang cemburu?" sahut Tata sembari memalingkan wajahnya.


Riuga kembali tertawa dan menyentuh wajah Tata dengan lembut.


"Lihat aku! Apa kau menyukaiku?" tanya Riuga sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Tata.


"Tidak, aku tidak menyukai laki-laki brengsek sepertimu!" ketus Tata yang mulai terlihat malu mengakui perasaanya sendiri.


Riuga semakin mendekat dan mengecup bibir Tata dengan lembut. Tata bahkan tidak menolaknya sama sekali.


"Dasar wanita bodoh! Wanita yang kamu cemburui itu adalah adikku. Dia Adelia, adik kandungku satu-satunya." jelas Riuga kepada wanita yang sedang cemburu buta itu.


Tata melotot kan matanya kearah Riuga. Seketika wajah Tata pun memerah karena merasa malu telah cemburu tanpa alasan yang jelas.


"Kenapa wajahmu jadi merah seperti ini? Kamu malu?" goda Riuga sambil tersenyum puas didepan Tata.


"Ti... Tidak!"


Tata berusaha untuk menyangkal tuduhan Riuga terhadap dirinya. Tata pun mencoba menjauh dari laki-laki yang sudah mengobrak-abrik hatinya itu.


"Mau kemana?" tanya Riuga sambil menahan tangan wanitanya itu.


"A... Aku,"


Riuga menarik tangan Tata dan kembali memeluk tubuh indah itu dengan erat.


"Aku mencintaimu, Tata! Tolong, izinkan aku menjadi laki-laki yang mempunyai arti penting didalam hidupmu."


Riuga mengungkapkan isi hatinya dan berharap agar Tata mau menerimanya.


"Tapi, A... Aku,"


"Sudahlah, tidak usah dijawab! Aku mengerti kalau kau sangat membenciku. Setidaknya aku sudah senang karena sudah bisa mengungkapkan isi hatiku padamu. Aku tidak berharap kau akan membalasnya."


Riuga melangkah kearah pintu, dia lebih memilih untuk menghindar sebelum mendengar penolakan dari wanita yang dia cintai itu.


"Tunggu, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri!" teriak Tata sambil berlari dan memeluk tubuh Riuga dengan sangat erat.


"Aku tidak akan pergi! Aku hanya ingin menghirup udara segar di luar sana. Apa kau mau ikut?" ucap Riuga sambil mengelus rambut Tata.


"Tapi, aku takut!" sahut Tata.


"Ada aku, tidak akan terjadi apa-apa jika aku ada di sampingmu!" ucap Riuga dengan sangat yakin.


Tata akhirnya memilih untuk ikut bersama Riuga dan melangkahkan kaki sambil memeluk lengah laki-laki tampan itu.

__ADS_1


__ADS_2