
"Cukup sayang, jangan membuatku bertindak konyol di tempat seperti ini!" ucap Riuga dengan tatapan penuh keinginan.
"Lakukan saja. Aku ingin melihat, apa yang bisa kau lakukan di tempat ini!" sahut Tata dengan santainya.
"Kau benar-benar mempermainkan emosiku, sayang!"
Tanpa berpikir panjang, Riuga langsung melahap bibir Tata tanpa ampun sedikitpun. Dia melum*at bibir seksi itu dan mengulumnya dalam-dalam.
Tata pun tak mau kalah dari Riuga. Dia mulai membalas permainan panas itu dan menyusuri setiap inci bibir laki-lakinya dengan nafas yang sudah memburu.
Lidah mereka pun saling menyerang hingga hisapan demi hisapan pun terdengar menciut-ciut didalam mobil yang hanya ada mereka berdua di dalamnya itu.
"Sudah cukup sayang, nanti kita lanjutkan di rumah. Aku tidak akan mengampuni mu kali ini!" ucap Riuga yang ingin menahan dirinya agar tidak lepas kendali di tempat umum seperti itu.
Riuga mengangkat tubuh Tata dan mengembalikannya ke posisi semula. Dia pun segera menginjak gas mobilnya dan melaju kearah tujuan mereka sebenarnya.
Sesampainya di sebuah kantor, Riuga segera memarkirkan mobilnya. Mereka berdua kemudian turun dan melangkah masuk kedalam kantor tersebut.
"Untuk apa kita kesini, Riu?" tanya Tata dengan tatapan kebingungan.
"Kau bisa baca kan? Kau pasti tau, untuk apa kita kesini?" ucap Riuga sembari tersenyum tipis.
"Apa kita mau mendaftarkan pernikahan kita?" tanya Tata mencari tau.
"Tidak, aku sudah mendaftarkannya dua hari yang lalu!" sahut Riuga dengan santainya.
"Kalau sudah didaftarkan, untuk apa kesini lagi?" tanya Tata yang masih tidak tau maksud Riuga sebenarnya.
"Buku nikah kita sudah selesai. Aku hanya perlu mengucapkan ijab. Setelah itu kau akan resmi menjadi istriku!" sahut Riuga sembari tersenyum dengan lebar.
"Kau ini benar-benar tidak bisa di tebak, Riu!" ucap Tata dengan tatapan yang sulit di mengerti.
"Siapa suruh kau selalu mempermainkan emosiku? Malam ini kau tidak akan bisa mengelak lagi! Aku akan membuatmu lemah, hingga bangkit dari tempat tidurpun kau tidak akan sanggup!" bisik Riuga sembari mengecup telinga Tata dengan lembut.
"Apakah sesakit itu?" tanya Tata dengan polosnya.
"Kita lihat saja nanti!" sahut Riuga sembari menarik tangan Tata menuju sebuah ruangan.
Sesampainya didalam ruangan, Riuga pun langsung masuk dan duduk di sebuah kursi bersama Tata.
"Selamat datang, Pak Riuga! Senang bisa bertemu dengan anda!" ucap seorang pegawai yang bekerja di kantor itu.
"Terimakasih, Pak! Apa semuanya sudah selesai?" tanya Riuga yang sudah tidak sabar menghalalkan wanita yang tengah duduk di sampingnya itu.
"Sesuai permintaan anda. Ikutlah denganku!" ucap pegawai itu sembari bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
Mereka bertiga melangkah kearah ruangan khusus untuk melakukan ijab qabul. Di sana sudah ada seorang penghulu yang tengah menunggu kedua calon mempelai itu.
Tidak lama, Adelia pun datang dan bergegas mencari keberadaan kakaknya.
"Kak Riu!" teriak Adelia dengan lantangnya.
Mendengar suara Adelia, Riuga dan Tata pun serentak menoleh kearah sumber suara.
"Adel, kamu sudah datang sayang?" ucap Riuga sembari memeluk adik kesayangannya itu.
"Maaf Kak, Adel telah ya?" tanya Adelia dengan nafas terengah-engah usai berlari.
"Tidak sayang, kamu datang tepat pada waktunya. Ijab baru saja akan dilaksanakan!" sahut Riuga.
"Syukurlah kalau begitu!" ucap Adelia sembari tersenyum manis.
Adelia kemudian mendekati Tata dan memeluk calon kakak iparnya itu dengan tatapan penuh rasa haru.
"Adel senang sekali. Sebentar lagi kalian berdua akan menjadi suami istri!" ucap Adelia dengan mata yang terlihat berbinar.
"Jangan sedih, Adel. Meskipun kami menikah, kamu akan tetap menjadi satu-satunya adik kesayangan kakakmu!" ucap Tata sembari mengelus rambut Adelia dengan lembut.
Tidak lama, pegawai tadi pun datang membawa surat nikah yang sudah jadi. Disusul oleh dua orang laki-laki yang akan menjadi saksi untuk pernikahan mereka.
"Ayo, masuklah ke dalam!" ucap pegawai itu.
"Bisa kita mulai!" ucap penghulu yang akan menikahkan mereka berdua.
Riuga dan Tata pun saling menatap satu sama lain. Riuga menggenggam tangan Tata dan menatapnya dengan intens.
"Apa kau sudah siap menerimaku menjadi suamimu?" tanya Riuga memastikan hati calon istrinya.
"Aku siap, Riu!" sahut Tata tanpa ragu sedikitpun.
Mendengar jawaban Tata yang begitu jelas, Riuga pun tersenyum sembari kembali menatap lurus kearah depan.
"Mulailah, kami berdua sudah siap!" ucap Riuga dengan begitu gagahnya.
Penghulu mulai membacakan semuanya dan memberikan pengarahan untuk sepasang insan manusia yang akan terikat dalam sebuah ikatan yang sangat sakral itu.
Ijab qabul pun segera di mulai. Penghulu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Riuga yang mulai terlihat sedikit gugup.
Dengan suara yang terdengar begitu lantang, penghulu mulai mengucapkan ijab dan dibalas oleh Riuga dengan suara yang tak kalah lantangnya.
"Sah!" ucap dua orang saksi yang bertanggungjawab didalam pernikahan itu.
__ADS_1
"Sah!" ucap Adelia sembari meneteskan air mata kebahagiaannya.
Mendengar kata sah yang begitu jelas di telinga, Riuga pun tak sanggup menahan rasa harunya.
Tanpa sadar, Riuga mulai meneteskan butir-butir kecil dari kelopak matanya. Dia pun langsung mengecup kening wanita yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya itu.
Begitupun dengan Tata yang ikut menangis setelah mendengar ijab yang terucap dari mulut laki-laki yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
Tata pun dengan cepat meraih tangan Riuga dan mengecup tangan suaminya itu dengan berderaian air mata.
"Selamat, kalian berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Sayangi dan cintailah pasangan kalian dengan sepenuh hati! Belajarlah dari tauladan kita sebelumnya!" ucap penghulu kepada mereka berdua.
"Silahkan di tanda tangani terlebih dahulu!" sambung pegawai tadi sembari memberikan beberapa lembar kertas yang harus mereka tanda tangani.
Setelah semuanya selesai, pegawai itupun memberikan surat nikah untuk mereka berdua. Satu persatu dari mereka mulai menyalami pasangan pengantin baru itu dan berlalu meninggalkan ruangan.
"Terimakasih!" ucap Riuga sembari menebar senyumnya.
Setelah semua pergi, Adelia pun bergegas memeluk kedua kakaknya itu.
"Selamat ya Kak Riu, Kak Tata. Adel senang sekali, akhirnya kalian berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri!" ucap Adelia yang begitu kegirangan.
"Terimakasih, sayang!" ucap Riuga dan Tata secara bersamaan.
Mereka bertiga melangkah meninggalkan ruangan. Kebahagiaan yang tengah mereka rasakan saat ini tidak ada bandingannya dengan semua yang Riuga miliki saat ini. Kehadiran Tata benar-benar sudah mengubah hidup Riuga.
"Kalau begitu, Adel pergi dulu ya Kak! Adel harus kembali ke kampus. Bersenang-senanglah!" ucap Adelia sembari berlari kearah mobilnya.
"Hati-hati, sayang!" sahut Riuga yang tak henti-hentinya menebar senyumannya.
Setelah Adelia menghilang dari peredaran, Riuga dan Tata pun masuk kedalam mobil mereka.
"Kita mau kemana lagi, Riu?" tanya Tata yang sudah duduk di samping suaminya.
"Sssttt... Jangan panggil Riu lagi!" ucap Riuga sembari menarik tangan Tata kearahnya.
"Lalu, aku harus memanggilmu seperti apa?" tanya Tata sedikit manja.
"Seperti aku memanggilmu biasanya!" sahut Riuga sembari menyentuh pipi istrinya dengan lembut.
"Sayang? Begitu kah?" tanya Tata sembari tersenyum dengan manis.
"Itu terdengar lebih baik!" ucap Riuga.
"Baiklah, sayang!" ucap Tata dengan manisnya.
__ADS_1
Mendengar kata sayang yang terucap dari mulut Tata, Riuga pun dengan cepat melahap bibir manis istrinya.