
Daniel mendekati Adelia dan Nora yang masih berdebat di hadapannya. Dia bahkan tidak segan-segan menggenggam tangan gadis cantik itu di depan teman-teman kuliah Adelia.
Semua teman-teman Adelia yang menyaksikan itu sampai melotot seakan tidak percaya. Setau mereka Adelia selama ini tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun apalagi berpacaran.
"Kakak pinjam Adel dulu ya, biar Adel pulang sama Kakak saja!" ucap Daniel meminta izin kepada teman-teman Adelia.
"Tapi Kak,..."
"Sudahlah Adel, pergi saja. Kami tidak apa-apa kok!" ucap Nora memotong perkataan Adelia.
"Iya Adel, pergilah!" sambung teman-teman Adelia yang lainnya secara bersamaan.
"Hati-hati ya, kami pulang dulu!" ucap Nora sembari melambaikan tangannya ke arah Adelia dan Daniel.
Nora melangkahkan kakinya ke arah teman-temannya yang lain, mereka kemudian berlalu meninggalkan Adelia yang masih terpaku di samping Daniel.
"Mereka sudah pergi, ayo ikut Kakak!" ajak Daniel sembari menarik tangan Adelia dan berjalan ke arah mobilnya.
Mau tidak mau, Adelia akhirnya terpaksa mengikuti langkah kaki Daniel dan masuk ke dalam mobil mewah itu.
Di tempat lain, laki-laki yang sedang mencari Riuga tadi baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Dia tampak sedang berdiri di dekat jendela sembari menatap ke arah perusahaan Riuga yang terlihat jelas dari kamar yang dia tempati.
"Aish, kenapa aku bodoh sekali?" gumam laki-laki itu sembari menepuk keningnya sendiri.
Laki-laki itu bergegas keluar dari kamarnya dan meninggalkan hotel dengan terburu-buru. Dia kemudian kembali ke Riuga Grup dan menghampiri Ana yang sedang berkemas-kemas karena jam kerja di perusahaan itu sudah habis.
"Permisi Nona, maaf menganggu waktumu sebentar." sapa laki-laki itu dengan nafas yang terengah-engah usai berlari.
"Anda lagi, ada apa?" sahut Ana dengan tatapan kebingungan.
Laki-laki itu kembali mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan. Dia berusaha untuk terlihat lebih tenang sembari mengusap dadanya dengan pelan.
"Apa saya boleh meminta nomor telepon Riuga?" tanya laki-laki itu penuh harap.
"Maaf Tuan, saya tidak memiliki wewenang untuk itu." sahut Ana dengan tatapan menyelidik.
"Kau benar, tapi aku ingin sekali bertemu dengan Riuga." ucap laki-laki itu.
"Kalau Tuan ingin bertemu dengan beliau, Tuan bisa kembali lagi besok. Tapi jika Tuan tidak bisa menunggu lama, saya hanya bisa memberikan nomor telepon Tuan Soni yang merupakan asisten beliau!" sahut Ana.
__ADS_1
"Baiklah, tidak masalah." ucap laki-laki itu sembari tersenyum lega.
Laki-laki itu dengan cepat merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel. Dia kemudian memberikan ponsel tersebut ke tangan Ana dengan harapan bisa menghubungi Riuga secepat mungkin.
Ana mengambil ponsel tersebut dari tangan laki-laki itu dan segera mengetik nomor telepon Soni. Meskipun perasaannya sedikit gelisah, tapi Ana sama sekali tidak melihat keanehan di wajah laki-laki itu.
"Ini Tuan, saya sudah menyimpannya di kontak anda. Anda bisa menghubungi Tuan Soni setelah ini!" ucap Ana sembari mengembalikan ponsel tersebut ke tangan laki-laki itu.
"Baiklah, terima kasih Nona. Kalau begitu saya permisi dulu!"
Laki-laki itu tampak begitu bahagia setelah mendapatkan nomor telepon Soni. Dia kemudian kembali ke hotel dan duduk di lobi sembari membuka kembali layar ponselnya.
Tidak ingin mengulur-ngulur waktu, laki-laki itu langsung mencari kontak Soni dan menghubunginya dengan segera.
"Drrrt... Drrrt..."
Soni yang saat itu masih berada di jalan, langsung menatap layar ponselnya yang tengah berdering itu. Tatapannya tampak kebingungan melihat nomor yang tidak dikenali sedang memanggilnya.
"Halo," ucap Soni setelah menerima panggilan tersebut.
"Halo, apakah benar ini nomornya Soni asistennya Riuga?" tanya laki-laki itu.
"Maaf mengganggu waktumu. Apa kita bisa bertemu sebentar, aku ingin sekali bertemu dengan Riuga. Tapi aku tidak bisa mendapatkan nomor teleponnya!" sahut laki-laki itu dengan penuh harap.
"Siapa kau, untuk apa kau ingin bertemu dengan Riuga?" tanya Soni dengan datarnya.
"Aku akan menjelaskannya setelah kita bertemu nanti. Aku sekarang sedang menginap di hotel yang ada di depan Riuga Grup. Kalau kau tidak keberatan, bisakah kau datang ke sini untuk menemuiku. Aku tidak mengenali kota ini!" sahut laki-laki itu.
Soni memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, tatapan wajahnya terlihat begitu bimbang mengingat banyaknya musuh yang sedang mengintai Riuga saat ini.
Namun Soni juga sangat penasaran siapa laki-laki itu. Mungkin saja dia bisa mendapatkan petunjuk setelah menerima ajakan untuk bertemu dengan laki-laki asing itu.
"Baiklah, tunggu aku di sana!"
Soni mematikan sambungan teleponnya dan memasukkan ponsel tersebut ke dalam kantong celananya.
Dia pun bergegas membuka laci mobilnya dan mengambil pistol yang dia sembunyikan di dalam sana. Soni kemudian menyelipkan pistol tersebut di pinggang celananya untuk berjaga-jaga.
Setelah merasa siap, Soni kembali memutar setir mobilnya dan melaju ke arah Riuga Grup. Meskipun keputusan Soni itu memiliki resiko yang besar, namun dia juga tidak bisa tinggal diam jika ada orang-orang yang berniat jahat terhadap Riuga yang sudah membantunya selama ini.
__ADS_1
Sesampainya di depan hotel, Soni langsung memarkirkan mobilnya dan menelepon kembali nomor yang tadi menghubunginya itu.
Tidak lama, seorang laki-laki tampan pun keluar dari pintu kaca dan melangkah ke arah mobil Soni yang sudah menunggu di depan hotel.
Sesaat pandangan Soni pun terlihat menyelidik memandangi laki-laki yang datang itu. Soni ingat sekali kalau laki-laki itu adalah orang yang sempat dia lihat di perusahaan tadi.
Soni keluar dari mobilnya dan menatap wajah laki-laki itu dengan intens. Sekilas tidak ada sesuatu yang mencurigakan tampak dari wajah laki-laki itu.
"Maaf, apakah kau orang yang bernama Soni?" tanya laki-laki itu sembari tersenyum.
"Iya benar, berarti kau lah orang yang telah menelepon ku tadi." sahut Soni dengan tatapan dinginnya.
"Benar sekali, terima kasih sudah mau menemui ku!" ucap laki-laki itu.
"Tidak masalah, katakan saja apa mau mu sebenarnya. Aku tidak bisa berlama-lama di sini!" sahut Soni yang masih saja terlihat dingin.
Laki-laki itu menghampiri Soni dan mengulurkan tangannya sebagai salam perkenalan. Soni pun tampak ragu-ragu meskipun pada akhirnya dia terpaksa menyambut uluran tangan dari laki-laki itu.
Mereka berdua kemudian duduk di taman hotel dan mulai berbincang-bincang. Laki-laki itupun dengan tegas menceritakan siapa dirinya dan untuk apa dia ingin bertemu dengan Riuga.
Sementara itu di tempat lain, Daniel tengah memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe. Hari yang sudah mulai gelap, membuat Daniel ingin menghabiskan waktu untuk makan terlebih dahulu bersama Adelia.
"Kak Daniel, kenapa kita ke sini?" tanya Adelia dengan polosnya.
"Temani Kakak makan dulu ya, perut Kakak terasa sedikit perih. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Daniel sembari memegangi perutnya.
"Kakak punya riwayat sakit magh?" tanya Adelia.
"Begitulah Adel." sahut Daniel.
"Ya sudah, ayo turun!" ajak Adelia sembari membuka pintu mobilnya.
Mereka berdua turun dari mobil dan melangkah memasuki kafe tersebut untuk memesan makanan. Tanpa sadar, Daniel kembali menggenggam tangan Adelia tanpa canggung sedikitpun.
Berbeda sekali dengan Adelia yang merasa sangat gugup mendapatkan sentuhan tangan Daniel yang menurutnya terlalu berlebihan itu.
Mereka berdua kemudian memilih untuk duduk di area outdoor karena tempat itu terasa begitu nyaman dengan pemandangan yang sangat menyejukkan mata.
Tidak hanya taman bunga, di sana juga dihiasi dengan lampu tumblr berwarna-warni. Belum lagi air mancur nya yang juga bisa berubah warna mengikuti warna lampu yang berkerlipan di sana. Ditambah lagi dengan kolam ikan yang membuat Adelia sangat terpesona.
__ADS_1
Namun Adelia kembali terlihat canggung setelah memandangi sekelilingnya. Wajahnya terlihat memerah saking malunya melihat pengunjung lain yang ternyata kebanyakan adalah pasangan yang tengah di mabuk cinta.