
Sesampainya didepan butik, Riuga mulai mendorong pintu yang terbuat dari kaca itu dengan tangan kanannya. Mereka berdua langsung di sambut oleh Jimmy dengan gaya khasnya yang lemah gemulai.
"Hai, selamat datang calon pengantinku! Akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama. Bagaimana kabarmu, Riu? Aku sangat merindukanmu, sayang!"
Jimmy memeluk tubuh Riuga dan memberi cipika cipiki kepada sahabatnya itu. Tata yang saat itu belum mengenali sosok Jimmy, tentu saja merasa aneh dengan kelakuan laki-laki yang terlihat menggelikan itu.
"Kenalkan, ini calon istriku Jims. Namanya Tata!" ucap Riuga memperkenalkan Tata kepada sahabatnya.
"Aduh sayang, ternyata kaulah wanita yang sudah merebut Riu dariku! Huhu... Menyedihkan sekali, kau sudah membuatku patah hati!" ucap Jimmy sembari meliuk-liuk manja.
Mendengar celetukan Jimmy, Tata tak kuasa menahan amarahnya. Wajah gadis cantik itu langsung memerah, tatapan matanya pun berubah sangat menakutkan.
Tata menarik tangan Riuga dan menyeretnya ke tempat sepi.
"Ada apa dengan gadis itu? Kenapa dia sepertinya sangat marah?" tanya Jimmy kepada Adelia yang duduk tidak jauh darinya.
"Hahahaha, tentu saja dia marah. Ucapan Kak Jims tadi seolah-olah menyiratkan kalau kalian berdua itu punya hubungan istimewa." sahut Adelia sembari tertawa cekikikan.
"Astaga, jadi aku salah bicara ya sayang?" ucap Jimmy sembari menutup mulutnya dengan jari jemarinya yang begitu lentik.
Jimmy mulai merasa resah, dia benar-benar takut jika Riuga marah karena kesalahpahaman ini. Dengan cepat laki-laki setengah jadi itu duduk di sebelah Adelia untuk mencari perlindungan.
Sementara itu, Tata dan Riuga masuk kedalam toilet. Tatapan mata wanita cantik itu, terlihat seperti seekor serigala yang sudah lama tidak diberi makan.
"Ada apa sayang, kenapa membawaku kesini? Masih belum puas dengan yang tadi?"
Riuga mengangkat tubuh Tata dan mendudukkannya di atas wastafel. Kedua tangan laki-laki itupun mulai mengunci tubuh wanitanya hingga tak bisa menghindar sama sekali.
"Cukup Riu, turunkan aku! Aku tidak ingin bercanda denganmu!" ketus Tata yang sudah semakin tersulut emosi.
"Siapa yang bercanda sayang? Aku hanya menuruti keinginanmu!" ucap Riu dengan senyum menyeringai didepan Tata.
"Aku tidak menginginkan apa-apa, aku hanya butuh penjelasan darimu!" bentak Tata sembari memukul pundak Riuga berkali-kali.
"Sayang, kau ini kenapa?" tanya Riuga dengan tatapan kebingungan sembari menahan kedua tangan Tata.
"Ada hubungan apa antara kau dan laki-laki tadi? Apa kau ini penyuka sesama jenis?" ketus Tata yang membuat Riuga tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha... Hahahaha..."
__ADS_1
"Kenapa kau malah tertawa? Apa semua itu benar?" tanya Tata dengan tatapan menuntut penjelasan.
Entah apa yang ada di benak Tata saat ini. Prasangka nya membuat Riuga meradang dan tidak sanggup mengendalikan dirinya.
Riuga menekan tubuh Tata hingga tersandar di cermin. Laki-laki itu dengan beringas melahap bibir wanitanya. Bahkan suara hisapan Riuga sampai menggema didalam ruangan kecil itu.
Hasrat yang sudah sedari tadi Riuga tahan, akhirnya membludak yang membuat Tata tak sanggup melawan sedikitpun.
Riuga mengulum bibir atas dan bibir bawah Tata secara bergantian. Perlahan lidah laki-laki itupun masuk dan menjajal mulut wanitanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Hisapan demi hisapan membuat gairah Riuga semakin memuncak.
Bibir Riuga mulai turun dan mengecup leher wanitanya itu secara bertubi-tubi. Rasa geli yang begitu menggelitik, membuat Tata tak kuasa menahan suaranya.
"Akhh... Akhh..."
Tata mendes*h menikmati setiap sentuhan yang membuat tubuhnya bergetar tak karuan.
Mendengar desa*an Tata, Riuga semakin tak terkendali. Laki-laki yang tengah san*e itu, menurunkan baju wanitanya hingga memperlihatkan duo bakpao yang ditutupi kacamata yang tidak memiliki tangkai sama sekali.
Melihat duo bakpao yang begitu menantang, pusaka bersejarah itupun langsung bereaksi. Riuga sampai kewalahan karena celananya terasa menyempit seketika.
"Kau lihat ini kan sayang, pusaka ku begitu menginginkan dirimu! Kenapa kau bisa menuduhku sebagai gay?" ucap Riuga dengan nafas terengah-engah.
Riuga menaikkan baju Tata dan membantu merapikannya kembali seperti semula. Dengan raut wajah menahan gairah yang semakin menuntut, Riuga mengecup kening wanitanya itu dengan penuh perasaan.
"Tidak apa-apa sayang, aku mengerti! Tapi aku mohon, mulai sekarang jangan pernah ragukan lagi ketulusan cintaku ini!" ucap Riuga yang masih memegangi area terlarangnya.
"Iya Riu, aku percaya padamu!" sahut Tata sembari mengalungkan tangannya di leher Riuga.
"Sudah sayang, keluarlah duluan! Aku ingin menenangkan pusaka ini sebentar!" ucap Riuga dengan suara yang mulai terdengar sedikit berat.
"Baiklah, tapi kau tidak apa-apa kan?" sahut Tata dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Tidak apa-apa sayang, aku masih bisa mengendalikannya!" ucap Riuga sembari melangkah kearah kloset.
Tata turun dari tempat duduknya. Wanita cantik itu berdiri di depan cermin sembari merapikan pakaian dan rambutnya yang sudah berantakan ulah Riuga.
Tata mulai melangkah meninggalkan toilet. Wanita cantik itu mengayunkan kakinya kearah Adelia yang tengah duduk di atas sofa.
"Kak Riu mana Kak?" tanya Adelia yang tidak melihat kakak laki-lakinya sama sekali.
__ADS_1
"Kakakmu masih di toilet!" sahut Tata yang sedikit gugup berhadapan dengan semua orang.
Adelia mengernyitkan keningnya saat memperhatikan wajah Tata dengan seksama. Ada sesuatu yang berbeda yang membuat Adelia mengembangkan senyumannya.
"Kak, kalian habis ngapain di toilet?" bisik Adelia tepat di telinga calon kakak iparnya.
"Tidak ngapa-ngapain, cuma ngobrol sebentar!" sahut Tata dengan wajah terlihat merah merona.
"Kakak pasti bohong, bibir Kakak saja sudah pucat begini! Kemana perginya lipstik merah yang menghiasi bibir Kakak tadi?" ucap Adelia yang berniat menggoda calon istri kakak laki-lakinya itu.
"Jangan berpikir macam-macam, Adel! Lipstik tadi terlalu norak, makanya Kakak hapus." sahut Tata berbohong menutupi kelakuan Riuga.
"Oh begitu ya, aku pikir dihapus sama Kak Riu!" ucap Adelia sembari tersenyum geli.
"Sssttt... Jangan bercanda lagi, Adel!" sahut Tata sembari mencubit pipi Adelia saking gemesnya.
Saat tengah asyik bersenda gurau, tiba-tiba sosok yang mereka bicarakan muncul dengan tubuh berdiri tegap di hadapan mereka semua.
"Riu, maafkan aku. Tadi aku hanya bercanda!" ucap Jimmy yang mulai ketakutan sembari bersembunyi dibelakang Adelia.
"Tidak masalah, istriku juga tidak keberatan sama sekali!" sahut Riuga begitu santainya.
"Istri?"
Jimmy membuka matanya lebar-lebar saking terkejutnya mendengar ucapan Riuga. Laki-laki letoy itu terlihat kebingungan dengan kening yang mulai mengkerut.
"Hahahaha... Maksudku calon istri!" ucap Riuga sembari tertawa lepas.
Candaan Riuga itupun membuat semua orang tertawa terkekeh-kekeh. Termasuk Tata yang begitu senang melihat raut wajah Riuga yang semakin tampan dengan tawa yang jarang sekali dia lihat.
"Ya sudah, ayo tunjukkan padaku pakaian pengantin untuk kami!" ucap Riuga yang sudah tidak sabar menanti hari yang paling bersejarah dalam hidupnya.
Setelah mendengar ucapan Riuga, Jimmy langsung bangkit dari tempat duduknya. Laki-laki lemah gemulai itu membawa Tata dan Riuga kedalam ruangan khusus dan memperlihatkan semua rancangannya kepada dua insan yang sedang dilanda asmara itu.
"Bagaimana sayang, apa ada yang kau sukai? Kalau tidak ada, kita suruh laki-laki jadi-jadian ini membuatkan yang baru untuk kita!" ucap Riuga kepada Tata yang tengah terpaku menyaksikan koleksi Jimmy.
"Tidak perlu Riu, semua ini sudah sangat bagus!" sahut Tata yang masih mematung.
Tata akhirnya mencoba satu persatu gaun pengantin itu, dengan bantuan asisten Jimmy. Hingga pada akhirnya Riuga dan Tata menjatuhkan pilihan mereka pada gaun yang sama.
__ADS_1
Setelah deal dengan pilihan mereka, Riuga pun berpamitan kepada Jimmy. Mereka berempat berlalu meninggalkan butik dan melaju ke tempat lain yang ingin Riuga kunjungi.