
Riuga bangkit dari tempat tidur dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Dia awalnya berniat untuk menyembunyikan semuanya dari Tata karena tidak ingin membuat istrinya khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak.
Fokus utama Riuga saat ini adalah membuat istrinya cepat hamil. Dia tidak ingin menunda-nunda memiliki momongan karena keinginannya memiliki anak banyak sudah sangat mantap.
Tapi karena Soni sudah terlanjur mengatakan semuanya kepada Tata, mau tidak mau Riuga harus jujur kepada istri tercintanya itu.
Riuga keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak lebih fresh dari sebelumnya. Dia memasang kembali kancing bajunya dan meraih jas nya yang ada di sandaran kursi.
"Sayang, siapa orang-orang itu?" tanya Tata sembari membantu mengenakan jas suaminya kembali.
"Entahlah sayang, yang pasti mereka itu bukanlah orang-orang sembarangan!" sahut Riuga dengan santainya.
"Kata Soni mereka itu sedang mengincar ku, apa ini ada hubungannya dengan kematian kedua orang tuaku?" tanya Tata yang sangat penasaran.
"Bisa jadi sayang. Tapi kamu tidak perlu khawatir, biarkan ini menjadi urusanku!" sahut Riuga sembari mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Tapi, aku takut terjadi sesuatu padamu sayang." ucap Tata mengkhawatirkan suaminya.
Tata mendekap tubuh Riuga dengan erat, dia kemudian menempelkan pipinya di dada suaminya itu dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
"Tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku sudah siap melayani permainan mereka. Tidak akan ada seorang pun yang bisa menyakiti suamimu ini!" sahut Riuga meyakinkan istrinya.
Riuga membalas pelukan istrinya dan mengecup kening Tata dengan penuh kasih sayang.
"Percayalah padaku, aku akan baik-baik saja selama kau ada di sisiku. Tapi, aku ada satu permintaan yang harus kau kabulkan!" pinta Riuga yang mulai terlihat serius.
"Permintaan apa sayang?" tanya Tata dengan tatapan kebingungan.
"Kau harus secepatnya hamil, aku sudah tidak sabar ingin menjadi seorang Ayah!" pinta Riuga sembari tersenyum.
"Hehehe, semua itu tergantung rejeki kita sayang. Kalau Tuhan memberikan kepercayaan itu dalam waktu dekat, aku tidak akan keberatan!" sahut Tata yang juga memiliki keinginan yang sama dengan suaminya.
"Aku mengerti, setidaknya kita harus berusaha terus bukan?" ucap Riuga dengan senyuman menawannya.
__ADS_1
"Ah, itu mah mau nya kamu saja." sahut Tata sembari mencubit lengan suaminya.
"Hahahaha... Tapi kamu suka kan sayang?" tanya Riuga menggoda istrinya.
"Gak suka, rasanya sakit sekali!" sahut Tata dengan tatapan yang sulit di mengerti.
"Sakitnya cuma sementara saja sayang, kalau sudah terbiasa pasti rasanya lebih enak!" ucap Riuga yang membuat Tata tak sanggup lagi menahan rasa malunya.
"Ah sudahlah, jangan membahas itu lagi. Lebih baik kita pergi makan, aku sudah sangat lapar!" sahut Tata mengalihkan pembicaraan mereka.
Tata melangkah ke arah pintu dan segera membukanya lebar-lebar. Dia tidak ingin berlama-lama melayani guyonan suaminya yang selalu saja membicarakan tentang hal pribadi mereka.
Melihat ekspresi istrinya yang sudah berubah, Riuga pun akhirnya ikut mengayunkan kakinya mengikuti langkah Tata yang sudah lebih dulu berjalan di depannya. Mereka berdua masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka turun ke lantai bawah.
Sesampainya di lobi, ternyata Soni juga sudah berada di bawah sana dan hendak meninggalkan kantor untuk makan siang.
"Kebetulan sekali kau ada di sini, ayo ikutlah dengan kami!" ajak Riuga kepada asisten pribadinya itu.
"Memangnya kalian mau kemana?" tanya Soni dengan tatapan mencari tau.
"Ya cari makan lah, mau kemana lagi? Bukankah setelah ini akan ada pertemuan dengan klien baru itu?" sahut Riuga yang sebenarnya masih kesal melihat Soni.
*****
Pukul 13.00 siang, tampak dua orang laki-laki muda yang sedang melangkah masuk ke dalam Riuga Group. Mereka terlihat seperti klien biasa pada umumnya tanpa ada yang mencurigakan sedikitpun.
"Permisi Nona, kami datang dari perusahaan HVN Grup. Apa kami bisa bertemu dengan Tuan Riuga?" tanya salah seorang laki-laki itu.
"Maaf Tuan, kebetulan Tuan Riuga sedang berada di luar untuk makan siang. Kalian bisa menunggu sebentar, saya akan menghubungi beliau terlebih dahulu!" sahut Ana.
Ana mengantarkan dua laki-laki muda itu ke ruang tunggu yang tidak terlalu jauh dari meja kerjanya. Dia kemudian kembali melangkah ke arah meja kerjanya dan bergegas menghubungi Soni melalui telepon genggamnya.
"Drrrt... Drrrt..."
"Halo Ana, ada apa?" sahut Soni dari balik telepon.
__ADS_1
"Tuan Soni, kalian dimana? Orang yang kalian tunggu-tunggu sudah datang, cepatlah kembali!" ucap Ana.
"Baiklah, suruh mereka menunggu sebentar!" sahut Soni sembari mematikan sambungan teleponnya.
Soni menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Dia sendiri sebenarnya sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa orang-orang yang membuat mereka semakin penasaran itu.
"Ayo cepat, mereka sudah datang!" ajak Soni.
Soni bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju kasir untuk membayar tagihan makan siang mereka.
"Sayang, aku takut." ucap Tata yang tampak sangat gelisah memikirkan klien baru mereka.
"Tidak apa-apa, ada aku. Tidak perlu takut!" sahut Riuga.
Riuga menggenggam tangan Tata dan membawa istrinya kembali ke dalam mobil sembari menunggu Soni yang masih berada di kasir.
Tidak lama, Soni pun terlihat keluar dari pintu kafe dan bergegas masuk ke dalam mobil. Soni mulai menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya kembali ke arah kantor.
Sesampainya di depan kantor, mereka bertiga turun dari mobil dan melangkah ke arah pintu masuk dengan santainya. Namun tidak dengan Tata yang terlihat sangat panik memikirkan ketakutan yang sedang menghantui pikirannya.
"Tidak apa-apa sayang, bersikaplah seperti biasa. Jika kamu seperti ini, mereka akan curiga terhadap kita!" ucap Riuga menenangkan istrinya.
"Kalau kau tidak ingin bertemu dengan mereka, biar aku dan suamimu saja yang menghadapinya. Kau kembalilah ke ruangan atas!" sambung Soni yang merasa iba melihat ketakutan di wajah Nyonya Riuga itu.
"Tidak Soni, aku juga penasaran dengan tujuan mereka. Biarkan aku tetap bersama kalian!" pinta Tata.
Tata berusaha terlihat tenang, dia mulai menarik nafasnya dan membuangnya dengan pelan. Wajahnya pun mulai terlihat santai sembari terus menggenggam tangan Riuga dengan erat.
"Tunggulah aku di ruangan rapat, kami akan menyusul kalian ke sana!" ucap Soni kepada Riuga dan Tata.
Soni terus melangkah ke arah ruang tunggu menemui klien penting mereka. Sementara itu Riuga dan Tata langsung berjalan ke arah ruang rapat sesuai instruksi Soni.
"Selamat siang, maaf sudah membuat kalian lama menunggu. Kenalkan nama saya Soni, saya adalah asisten pribadi Tuan Riuga!" sapa Soni sembari duduk di hadapan tamu penting mereka itu.
"Tidak masalah, kami juga baru datang. Kenalkan nama saya Abrar, saya adalah utusan dari pemilik HVN Grup." sahut Abrar memperkenalkan dirinya kepada Soni.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita langsung saja ke ruang rapat. Tuan Riuga dan istrinya sudah menunggu kita di sana!" ajak Soni yang tidak ingin menunda-nunda waktu mereka lagi.
Soni bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah lift. Abrar dan rekannya pun dengan santainya mengikuti langkah Soni dari belakang.