
Setelah cukup lama berada di ruangan Soni, Riuga pun kembali ke ruangan pribadinya menyusul Tata yang sudah lebih dulu naik ke lantai paling atas itu.
Setibanya di lantai atas, Riuga langsung menekan kode pintu dan melangkah masuk untuk menemui istri cantiknya.
"Sayang, aku datang!" ucap Riuga sembari menutup kembali pintu ruangannya.
Sesaat, pandangan mata Riuga dibuat membesar saat melihat Tata yang tengah tertidur pulas di atas ranjang.
Riuga membuka jas nya dan meletakkannya di sandaran kursi. Dia juga membuka sepatunya dan bergegas naik ke atas tempat tidur.
Riuga membaringkan tubuhnya di samping Tata dan memeluk tubuh istrinya yang tengah tertidur dalam posisi miring itu dari arah belakang.
Merasa ada yang menyentuh tubuhnya, Tata pun terperanjat dan dengan cepat membuka kedua kelopak matanya lebar-lebar.
Tata memutar tubuhnya hingga mereka berdua saling berhadap-hadapan satu sama lain. Dia pun tersenyum melihat wajah tampan suaminya yang sudah sangat dekat dengan wajahnya itu.
"Riu, kau sudah kembali?" ucap Tata sembari melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
"Sayang, kenapa masih menyebut namaku? Apa kau lupa kalau aku ini sekarang sudah menjadi suamimu?" ucap Riuga sembari memalingkan wajahnya dari Tata.
"Sayang, jangan marah. Aku belum terbiasa, sayang. Maafkan aku!" ucap Tata dengan manjanya.
Tata meraih wajah Riuga dengan kedua tangannya. Dia kemudian mengarahkan pandangan suaminya itu tepat kearah wajahnya.
"Sayang, jangan marah lagi!" rengek Tata dengan begitu manjanya.
"Hahahaha... Aku tidak marah, sayang!" sahut Riuga sembari tertawa puas melihat ekspresi wajah istrinya itu.
"Kau sedang mengerjai aku?" tanya Tata dengan tatapan menakutkan.
"Sedikit!" sahut Riuga sembari menempelkan telunjuknya dengan ibu jarinya.
Kesal karena sudah dikerjai oleh suaminya, Tata pun bangkit dari tempat tidur dan melangkah kearah meja kerja suaminya.
"Sayang, jangan marah. Kau terlihat jelek sekali dengan wajah seperti itu!" ucap Riuga yang berniat menggoda Tata.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Riuga, Tata pun terlihat semakin kesal. Dia kembali menghampiri suaminya dan menghempaskan tubuhnya di atas tubuh suaminya itu.
"Awh... Apa yang kau lakukan, sayang? Kau ingin membunuh suamimu sendiri?" ucap Riuga sembari mengusap perutnya yang terkena siku Tata.
"Siapa suruh mengerjai aku?" sahut Tata tanpa rasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
"Sakit sekali sayang. Aku tidak kuat lagi, aku rasanya ingin mati!" ucap Riuga sembari memejamkan kedua matanya dan meletakkan tangannya di atas perutnya yang masih terasa ngilu.
Melihat suaminya yang sudah terkulai lemas, Tata pun ternganga saking terkejutnya. Dia mencoba menepuk-nepuk pipi Riuga dengan pelan.
"Sayang, bangunlah. Maafkan aku, aku hanya bercanda! Hiks,..." isak Tata sembari mengusap kepala suaminya dengan lembut.
Tidak tega mempermainkan perasaan istrinya, Riuga pun membuka matanya kembali dan menarik tangan Tata hingga terjatuh ke dalam pelukannya.
"Mmuach... Mmuach... Mmuach..." Riuga mengecup kening, hidung dan bibir Tata secara beruntun.
"Sudah, jangan menangis lagi. Aku tidak apa-apa!" ucap Riuga sembari mendekap tubuh istrinya di dalam pelukannya.
"Kau mempermainkan aku, sayang?" tanya Tata sembari menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
"Kita jadi impas kan?" sahut Riuga dengan senyuman yang begitu menawan.
Mendengar ucapan suaminya, Tata pun ikut tersenyum dan menyelipkan jarinya ke dalam belahan ketiak suaminya.
"Jangan sayang, apa yang kau lakukan? Geli tau!" ucap Riuga sembari menggeliat geli.
"Hahahaha... Ternyata suamiku ini penggeli juga ya!" sahut Tata sembari tertawa lepas.
"Sudahlah sayang, tidurlah. Aku ingin menyelesaikan pekerjaan tadi sebentar!" ucap Riuga sembari menggeser tubuh Tata dan bangkit dari tempat tidur.
Tata juga ikut bangkit dari tempat tidur dan melangkah kearah suaminya.
"Biarkan aku disini menemanimu. Mataku sudah tidak mengantuk lagi!" ucap Tata sembari duduk di pangkuan suaminya.
Melihat sifat istrinya yang begitu manja, Riuga pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia membiarkan istrinya duduk di atas kedua pahanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Aku bisa mengerjakan ini!" ucap Tata setelah melihat semua yang terpampang di layar laptop suaminya.
"Kalau begitu, selesaikanlah!" ucap Riuga sembari menarik tangannya dan melingkarkannya di perut istrinya.
Tata mulai fokus dengan layar laptop yang ada di depan matanya. Tangannya juga mulai lincah memainkan keyboard tanpa kendala sama sekali.
Sementara itu, Riuga hanya bisa memandangi punggung istrinya dan menenggelamkan wajahnya di pundak Tata. Entah apa yang ada di pikiran Riuga saat itu. Namun, tangannya terlihat semakin liar.
Riuga memasukkan tangannya ke dalam pakaian istrinya. Pelan-pelan, Riuga mulai mengusap-usap perut rata istrinya itu dengan lembut.
"Sayang, kau siap kan melahirkan anak yang banyak untukku!" ucap Riuga dengan polosnya.
__ADS_1
"Jangan banyak-banyak sayang, dua saja cukup!" sahut Tata yang masih fokus dengan pekerjaannya.
"Itu terlalu sedikit, sayang. Aku ingin rumah kita di penuhi dengan canda dan tawa mereka. Aku tidak mau hidup kesepian di masa tua kita nanti!" ucap Riuga penuh harapan.
"Kalau begitu, tiga saja ya!" sahut Tata.
"Tujuh saja, sayang!" ucap Riuga.
"Tidak, sayang. Mana aku sanggup sebanyak itu?" sahut Tata.
"Ya sudah, enam saja!" ucap Riuga.
"Masih kebanyakan sayang, empat saja!" sahut Tata yang mulai kesal dengan suaminya.
"Kalau begitu, genap saja lima!" ucap Riuga yang masih belum puas dengan jawaban istrinya.
"Terserah kau saja, sayang! Kalau dilanjutkan terus tidak akan ada habisnya!" sahut Tata.
Tata kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal selangkah lagi. Namun, tiba-tiba tangannya mulai terpaku saat merasakan tangan suaminya yang sudah semakin naik ke atas.
Tangan Riuga mulai masuk ke dalam kacamata serba guna istrinya. Dia mulai meremas balon air itu dengan kedua tangannya.
Deru nafas yang memburu pun mulai terdengar di telinga Tata yang membuat wanita cantik itu segera menoleh kearah belakang.
"Sayang, jangan disini. Bersabarlah sampai nanti malam!" ucap Tata sembari mengeluarkan tangan suaminya dari dalam kacamata berwarna ungu itu.
"Tapi aku sudah sangat menginginkannya, sayang!" sahut Riuga dengan tatapan menuntut.
"Ingat sayang, ini kantor. Jika kita melakukannya disini, bagaimana caranya kita bisa keluar dari sini? Ini adalah pertama kalinya untukku!" ucap Tata meyakinkan suaminya.
"Kau benar, sayang. Berdirilah sebentar, aku ingin ke kamar kecil!" ucap Riuga dengan raut wajah yang terlihat sedikit aneh.
"Kau marah padaku?" tanya Tata sembari bangkit dari pangkuan suaminya.
"Tidak sayang, mana mungkin aku marah padamu?" sahut Riuga sembari menyentuh kepala istrinya.
Riuga melangkah meninggalkan Tata dan masuk ke dalam kamar kecil. Dia membuka resleting celananya dan segera membuang apa yang seharusnya dia buang.
Setelah keluar dari kamar kecil, ternyata Tata juga sudah selesai melakukan pekerjaannya.
"Sayang, aku sudah selesai!" ucap Tata sembari menoleh kearah suaminya.
__ADS_1
"Baguslah, ayo kita pulang!" ucap Riuga.
Riuga meraih jas nya yang terletak di sandaran kursi dan mengenakannya kembali. Dia kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Tata dan melangkah meninggalkan ruangan pribadinya.