Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Tugas Malik


__ADS_3

"Istirahatlah di sini, aku akan kembali setelah urusanku dengan Malik selesai!" ucap Riuga sembari membantu istrinya berbaring di atas tempat tidur.


"Aku takut," sahut Tata dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


"Tidak ada yang perlu ditakutkan, aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakitimu. Percayalah padaku!" ucap Riuga meyakinkan istrinya.


Riuga membelai rambut Tata dan mencium kening istrinya itu dengan lembut. Dia sangat mengerti dengan kekhawatiran istrinya, tapi bagaimanapun juga permainan itu harus segera di mulai.


Setelah Tata memejamkan matanya, Riuga mulai beranjak dari tempat tidur dan melangkah meninggalkan ruangan pribadinya.


Di lantai tiga terlihat Malik yang baru saja keluar dari lift, dia kemudian berjalan terburu-buru ke arah ruang kerja Riuga dan bergegas mendorong pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Soni yang masih berada di dalam ruangan Riuga pun terperanjat kaget saat melihat kedatangan Malik yang sudah seperti petir sedang menyambar saja.


"Dasar siluman tokek, apa tanganmu tidak bisa digunakan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu?" ketus Soni dengan tatapan yang tak biasa.


"Hahahaha... Siapa suruh melamun di jam kerja seperti ini?" sahut Malik yang malah tertawa cekikikan melihat ekspresi Soni.


"Jangan tertawa. Kalau Riuga mendengarnya, bisa tamat riwayatmu!" ketus Soni yang masih kesal melihat Malik yang masih saja cengengesan di hadapannya.


"Memangnya apa yang terjadi, bukankah dia tengah berbahagia bersama istrinya?" sahut Malik yang belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


Malik mengayunkan kakinya ke arah sofa yang sedang diduduki oleh Soni. Belum juga satu menit, tiba-tiba Riuga muncul dari balik pintu dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Apa kau sudah ingin pensiun?" tanya Riuga dengan santainya sembari melangkah ke arah sofa.


"Apa maksudmu?" tanya Malik kebingungan.


"Sepertinya aku harus mencari orang-orang baru yang bisa lebih profesional dalam bekerja!" ucap Riuga sembari menduduki sofa yang ada di hadapan Malik dan Soni.


"Apa kau sudah tidak membutuhkan aku lagi?" tanya Malik dengan tatapan mencari tau.


"Sepertinya begitu," sahut Riuga dengan tatapan datarnya.


Malik melirik ke arah Soni sesaat setelah mendengar ucapan Riuga. Namun Soni malah membuang mukanya sembari tersenyum tanpa mau menatap ke arah Malik sedikitpun.


"Rasain," batin Soni sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud melalaikan kewajiban ku. Aku tadi benar-benar tertidur!" sahut Malik sembari menundukkan kepalanya.


"Bilang saja kalau kau tengah bersenang-senang dengan wanita mu, ngeles aja bisanya!" tambah Soni yang semakin memperkeruh suasana.

__ADS_1


"Diam kau!" sahut Malik sembari menginjak kaki Soni dengan kuat.


Riuga bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke arah jendela. Tatapan matanya terlihat begitu tajam seperti macan yang tengah bersiap untuk menerkam mangsanya.


"Orang-orang dari perusahaan HVN Grup sudah datang ke sini. Perusahaan itu ternyata adalah perusahaan yang sudah dibesarkan oleh Papaku. Aku yakin dalang dibalik kematian orang tua istriku adalah pemilik perusahaan itu yang sekarang. Mereka mengincar istriku karena masih ada yang belum terselesaikan!" ucap Riuga.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Malik.


Riuga merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah kartu nama yang dia dapatkan dari laki-laki asing yang sempat datang ke Riuga Grup.


"Tugasmu menyelidiki orang ini, dia sepertinya bukanlah orang biasa. Aku yakin semua ini ada kaitannya dengan laki-laki itu!" ucap Riuga sembari memberikan kartu nama itu ke tangan Malik.


"Baiklah, aku akan menyelesaikan tugas ini secepatnya!" sahut Malik.


Malik bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah pintu.


"Tidak hanya itu, mulai malam ini kau akan tinggal bersamaku. Tidak ada alasan lagi untuk menolaknya!" ucap Riuga yang membuat langkah kaki Malik langsung terhenti.


Malik membalikkan tubuhnya ke arah Riuga yang tengah berdiri dengan tangan yang dilipat di dadanya sembari tersenyum tipis.


"Tapi kekasihku sedang menunggu di rumah." sahut Malik dengan jujurnya.


"Hahahaha... Tumben otakmu jadi waras seperti ini?" sahut Riuga menertawakan Soni.


"Jangan menertawakan aku. Dulu aku memang bajingan, tapi sekarang aku sudah taubat!" ketus Soni.


"Aish sudahlah, aku pergi dulu!" ucap Malik.


Malik melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dan bergegas meninggalkan Riuga Grup. Dia sebenarnya juga ingin memiliki keluarga sendiri seperti Soni dan Riuga. Tapi pekerjaannya yang penuh dengan resiko, membuatnya takut menjalin hidup berumah tangga.


"Aku juga ingin seperti kalian, tapi tanganku ini kotor dan selalu berlumuran darah. Bahkan kematian ku bisa datang kapan saja!" batin Malik sembari melajukan mobilnya meninggalkan kantor.


Sementara itu, Soni ikut berlalu meninggalkan ruangan Riuga karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Di tempat lain, tampak seorang laki-laki tampan yang tengah menunggu taksi di depan bandara. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia sembari tersenyum sumringah.


"Indonesia, aku kembali." gumam laki-laki itu sembari menaiki sebuah taksi yang sudah berhenti di hadapannya.


"Mau kemana Tuan?" tanya sopir taksi.


"Bawa aku ke hotel yang paling dekat dengan Riuga Grup!" ucap laki-laki itu.

__ADS_1


"Baiklah Tuan." Sopir itu menginjak pedal gas dan berlalu meninggalkan bandara.


Di perusahaan, Riuga baru saja selesai menandatangani berkas penting yang sudah tersusun rapi di atas meja kerjanya.


Karena hari sudah semakin sore, Riuga bergegas naik ke lantai atas untuk menemui istri tercintanya dan mengajaknya pulang ke kediaman mereka.


Riuga masuk ke dalam ruangan pribadinya dan menghampiri Tata yang masih berbaring di atas tempat tidur.


Tanpa berbicara sepatah katapun, Riuga langsung melahap bibir istrinya yang tampak begitu menggoda.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Tata sembari membuka matanya.


"Kamu sudah bangun?" sahut Riuga yang terlihat salah tingkah.


"Aku tidak bisa tidur, aku menunggumu dari tadi!" ucap Tata sembari tersenyum menatap wajah tampan suaminya.


"Ya sudah, ayo bangun. Nanti di lanjutkan di rumah saja!" ajak Riuga sembari membantu Tata bangkit dari tempat tidur.


"Melanjutkan apa sayang?" tanya Tata dengan tatapan mencari tau.


"Jangan banyak tanya, ayo cepat!" ajak Riuga yang sudah tidak sabar ingin menghabiskan waktu berdua dengan istrinya.


Riuga mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Ayo cuci wajahmu dulu!" ucap Riuga sembari menurunkan tubuh Tata di depan wastafel.


"Cuciin dong sayang!" sahut Tata dengan manjanya.


"Ya ampun sayang, kok kamu jadi manja gini sih?" ucap Riuga sembari mengacak rambut istrinya.


Riuga hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya yang semakin hari semakin menggemaskan itu. Dengan penuh kasih sayang, Riuga mulai membuka kran dan membasahi wajah istrinya dengan air.


Riuga kemudian meraih handuk dan mengelap wajah cantik istrinya dengan pelan. Sebagai hadiahnya, Riuga langsung melahap bibir Tata dengan lembut dan meluma*tnya dengan penuh na*su.


"Uhm..."


"Kenapa kamu jadi nakal begini sayang?" tanya Tata sembari mendorong tubuh Riuga.


"Itu karena ulah mu sendiri sayang. Ayolah, kita lanjutkan di rumah saja. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi!" ucap Riuga yang kembali mengangkat tubuh Tata sampai ke depan pintu.


Tata bergelayut manja di lengan Riuga sembari melangkah memasuki lift. Raut wajah mereka berdua terlihat begitu bahagia tanpa beban sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2