
Di tempat lain, Rere sedang gelisah memikirkan sahabatnya yang tidak pulang semalaman. Rere kembali mencoba menghubungi ponsel Tata, tapi sayangnya ponsel Tata tidak bisa dihubungi sama sekali.
Akhirnya Rere mencoba menghubungi Daniel yang tak lain adalah Direktur perusahaan tempat mereka bekerja. Rere mulai sedikit curiga karena terakhir kali Tata bersama dengan Daniel di acara perusahaan mereka.
"Drrrt... Drttt..."
"Halo Rere, ada apa menelepon pagi-pagi begini?" tanya Daniel dari balik telepon.
"Maaf Tuan, apa Tata ada di sana bersama Tuan?" tanya Rere sedikit gugup.
"Tata? Kenapa kau menanyakan dia padaku? Aku tidak bersamanya. Apa yang terjadi dengannya?" tanya Daniel sedikit kebingungan.
"Tata semalaman tidak pulang, aku pikir dia bersama Tuan. Kalau begitu saya minta maaf, terimakasih!" ucap Rere sembari mematikan sambungan telepon mereka.
Rere semakin khawatir, dia tidak tau kemana harus mencari sahabatnya itu. Tidak ada petunjuk sama sekali tentang keberadaan sahabatnya.
Sementara Daniel yang mulai mengkhawatirkan Tata, kembali ke hotel tempatnya mengadakan acara semalam. Daniel mencoba mencari informasi lewat rekaman cctv yang ada di hotel itu. Menghilangnya Tata tentu saja menjadi misteri bagi semua orang.
Setelah melihat hasil rekaman cctv, Daniel hanya terduduk lesu. Tidak ada satupun petunjuk yang menguatkan kalau Tata sudah dibawa oleh seseorang.
Malik benar-benar melakukan tugasnya dengan sangat rapi. Bahkan tidak ada satupun jejak yang dia tinggalkan ditempat itu.
"Kemana kau sebenarnya Tata?" batin Daniel yang mulai takut terjadi hal buruk terhadap Tata.
Setelah cukup lama berpikir, Daniel akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan kepada sahabatnya Riuga.
Daniel yakin, Riuga pasti bisa membantunya menemukan Tata. Daniel tau Riuga merupakan salah satu orang yang kuat di kota itu. Selain ditakuti oleh semua orang, Riuga juga memiliki anak buah yang elit dan profesional.
Daniel meninggalkan hotel dan mengemudikan mobilnya menuju Riuga Group.
"Selamat pagi, apa Tuan Riuga sudah datang?" tanya Daniel kepada seorang satpam setelah memarkirkan mobilnya.
"Selamat pagi Tuan Daniel, maaf untuk beberapa hari ini Tuan Riuga tidak akan datang ke perusahaan! Beliau sedang ada urusan di luar kota." sahut satpam yang sudah mendapatkan instruksi dari Soni sebelumnya.
*****
Semalam setelah mengantarkan Tuannya ke pelabuhan, Malik segera memberitahukan kepada Soni untuk mengurus perusahaan dan memberikan instruksi kepada semua karyawan bahwasanya Tuan mereka sedang sibuk di luar kota.
*****
"Baiklah kalau begitu, terimakasih!" ucap Daniel yang sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengan sahabatnya.
Dengan raut wajah penuh kekhawatiran dan kekecewaan, akhirnya Daniel memutuskan untuk segera ke perusahaannya dan menemui Rere.
__ADS_1
Sesampainya di Daniel Group, laki-laki tampan itu melangkah masuk dan menghampiri meja kerja Rere.
"Selamat pagi Tuan!" sapa Rere dan memberi hormat kepada bosnya itu.
"Ikut ke ruangan ku, sekarang!" ucap Daniel dengan tatapan yang sangat dingin.
Daniel kembali melanjutkan langkahnya, begitulah Rere yang langsung mengikutinya dari belakang.
"Dag... Dig... Dug."
Jantung Rere berdetak sangat kencang, dia benar-benar ketakutan melihat ekspresi bosnya yang tidak biasa itu.
Sesampainya didalam ruangan, Daniel berdiri tegap dengan posisi kedua tangan didalam saku celananya.
Rere hanya bisa berdiri mematung sembari menekuk kepalanya. Ketakutan yang dia rasakan, sudah menjalar ke seluruh tubuhnya sehingga membuat kakinya bergetar.
"Apa yang terjadi tadi malam?" tanya Daniel mencari tau.
"Maaf Tuan, aku pikir semalam Tata sudah pulang bersama Tuan! Makanya aku memilih pulang sendiri. Tapi sampai pagi ini, Tata belum pulang sama sekali." sahut Rere yang masih bergetar karena ketakutan.
"Kira-kira dia kemana, apa kau tau sesuatu? Keluarganya, atau kekasihnya mungkin." tanya Daniel penuh penekanan.
"Setau aku, Tata sudah tidak mempunyai keluarga lagi Tuan. Tapi kalau kekasih, aku juga tidak tau. Tata tidak pernah menceritakan kalau dia punya kekasih. Tapi dia pernah bercerita, kalau dia sangat membenci seorang laki-laki." jelas Rere kepada Daniel.
Sesaat Daniel terdiam sembari memikirkan sesuatu yang menurutnya terasa sedikit janggal.
Mulai dari rekaman cctv yang sangat bersih, tidak ada petunjuk sedikitpun. Semuanya pasti dilakukan oleh orang yang sangat profesional.
Kedua...
Kepergian Riuga yang sangat mendadak, padahal tadi malam mereka masih bertemu. Tapi Riuga tidak mengatakan apa-apa kepada dirinya.
Ketiga...
Tata meninggalkan tempat acara tanpa berpamitan kepada dirinya. Begitupun Riuga yang pulang secara diam-diam.
Keempat...
Tata sangat membenci seorang laki-laki. Siapa lagi yang akan di benci oleh seorang wanita, kalau bukan laki-laki kejam dan tidak punya hati seperti sahabatnya itu. Semua itu menjadi tanda tanya besar di benak Daniel.
"Pergilah dan lanjutkan pekerjaanmu!"
Daniel menyuruh Rere meninggalkan ruangan dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara Direktur Daniel Group itu, kembali meninggalkan perusahaan dan melaju menuju istana Riuga.
__ADS_1
Kejanggalan yang Daniel rasakan, semakin memperkuat kecurigaannya terhadap sahabatnya.
"Aku yakin Tata ada di tanganmu Riu. Hanya kau yang bisa melakukan semua ini dengan sangat rapi seperti ini. Semalam aku melihat tatapan kalian juga menunjukkan sesuatu yang berbeda. Ada hubungan apa antara kalian sebenarnya?" batin Daniel yang semakin penasaran dengan kepergian mereka berdua.
Sesampainya di istana megah Riuga, Daniel segera turun dan disambut oleh penjaga dengan sopan.
"Selamat datang Tuan Daniel!" sapa penjaga yang sedang bertugas.
"Terimakasih, apa Tuan Riuga ada didalam?" tanya Daniel yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sahabatnya.
"Maaf Tuan, Tuan Riuga sedang tidak berada ditempat. Mungkin beberapa hari lagi baru kembali." sahut penjaga yang membuat Daniel tidak bisa berkata-kata lagi.
Daniel akhirnya memutuskan untuk meninggalkan istana Riuga, tanpa masuk terlebih dahulu. Namun disaat Daniel akan masuk kedalam mobilnya, tiba-tiba Adelia memanggilnya dari arah pintu masuk.
"Kak Daniel..." teriak Adelia.
Daniel menoleh dan menutup pintu mobilnya kembali. Adelia pun berjalan menghampiri Daniel yang masih berdiri di samping mobilnya.
"Kak Daniel, kenapa tidak masuk dulu?" tanya Adelia yang sudah menganggap Daniel seperti kakaknya sendiri.
"Lain kali saja Del, kakak kamu juga tidak ada didalam kan?" ucap Daniel kepada gadis cantik itu.
"Kak Riu, ada pekerjaan diluar kota. Mungkin akan kembali dalam beberapa hari lagi." sahut Adelia.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Kamu mau kuliah ya, biar kakak antar!" ucap Daniel menawarkan tumpangan kepada Adelia.
"Tidak usah Kak, Adel di antar sama sopir kok!" sahut Adelia menolak ajakan Daniel dengan sopan.
"Sama kakak saja, kakak kebetulan lewat sana juga!" ucap Daniel sedikit memaksa.
Merasa tidak enak hati, akhirnya Adelia menerima tawaran Daniel untuk mengantarnya ke kampus.
Didalam perjalanan, Adelia tidak banyak bicara. Dia hanya sibuk memainkan ponselnya sembari sesekali meletakkan ponsel itu di telinganya.
"Kamu lagi menghubungi siapa Del, kok kelihatannya gelisah sekali?" tanya Daniel sembari mengemudikan mobilnya.
"Adel sedang menghubungi Kak Riu, dari tadi ponselnya tidak bisa dihubungi." sahut Adelia dengan polosnya.
"Kamu tau Kak Riu pergi kemana?" tanya Daniel mencari tau.
"Tidak Kak, sepulang dari acara semalam Kak Riu tidak menghubungi Adel sama sekali." sahut Adelia.
"Memangnya semalam kalian tidak pulang bersama?" tanya Daniel lagi mencari sedikit informasi.
__ADS_1
"Tidak Kak, semalam Kak Riu mabuk berat. Adel pulang bersama Soni, Kak Riu kemudian di jemput oleh Malik. Pagi ini Malik memberi tahu kami kalau Kak Riu pergi ke luar kota." jelas Adelia yang semakin memperkuat kecurigaan Daniel.
Sesampainya di depan kampus, Adelia turun dari mobil Daniel dan masuk ke dalam gerbang. Sementara Daniel kembali melajukan mobilnya dan kembali ke perusahaan.