
Setelah puas melepaskan rasa rindu mereka yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, Riuga akhirnya membawa Febri masuk menuju ruang tengah.
Tata yang masih menunggu Riuga pun sempat tercengang melihat suaminya yang tengah berjalan bersama seorang laki-laki yang tidak dia kenali.
Setelah saling berhadapan satu sama lain, Riuga kemudian melangkah ke arah Tata dan berdiri di samping istrinya itu sembari melingkarkan tangannya di pinggang Tata.
Febri yang belum mengenal Tata pun sempat beranggapan kalau wanita cantik yang dipeluk oleh Riuga itu adalah Adelia, adik kecil yang pernah dia sayangi.
"Apakah wanita cantik ini adalah Adelia?" tanya Febri menduga-duga.
"Hahahaha... Kau masih ingat dengan Adel?" tanya Riuga sembari tertawa.
"Tentu saja, mana mungkin aku bisa melupakan adikku yang cantik itu." sahut Febri sembari terus menatap wajah Tata dengan intens.
"Sudah, jangan menatapnya seperti itu. Dia ini bukan Adelia, tapi dia adalah istriku!" ucap Riuga yang tersenyum sembari melirik ke arah Tata.
Sesaat, Febri pun tampak terdiam setelah mendengar ucapan Riuga. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sahabatnya itu ternyata sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri.
"Oh, maafkan aku. Aku pikir dia adalah Adelia." sahut Febri.
Febri mengulurkan tangannya ke arah Tata, istri Riuga itupun menyambut uluran tangan Febri sembari tersenyum dan memperkenalkan dirinya.
"Kenalkan, aku Tata istrinya Riuga." ucap Tata.
"Senang bertemu denganmu, aku Febri sahabat lama Riuga." sahut Febri memperkenalkan dirinya.
Tata mengernyitkan keningnya sesaat setelah mendengar nama yang sudah tidak asing lagi di telinganya itu.
"Sayang, sepertinya aku pernah mendengar nama ini sebelumnya?" ucap Tata.
"Tentu saja, dia adalah sahabatku yang pernah aku ceritakan padamu tempo hari!" sahut Riuga.
"Oh, jadi dia orangnya. Pantesan muka kalian berdua tidak jauh berbeda." ucap Tata.
"Apa maksudmu sayang?" tanya Riuga heran.
"Kalian berdua kan dulunya sama-sama nakal, jelas sekali terlihat tampang pencuri di wajah kalian berdua." ketus Tata sembari menahan tawanya.
"Sayang, jangan bicara seperti itu. Itu kan dulu, kenapa di ungkit lagi?" sahut Riuga dengan nada suara sedikit kesal.
__ADS_1
"Hahahaha... Kau benar, kami ini dulunya memang nakal. Mungkin saja saat ini kelakuan kami masih sama seperti dulu!" sambung Febri yang membuat wajah Tata berubah masam.
"Eit, jangan coba-coba mempengaruhi suamiku, dia sudah bertaubat!" ketus Tata.
"Apa kau yakin, mungkin saja dia hanya bertaubat di depanmu saja. Kita tidak tau kan apa yang bisa dia lakukan di belakangmu?" ucap Febri yang sengaja ingin menggoda Tata.
"Hei apa yang kalian bicarakan, kenapa meributkan masalah yang tidak jelas begini?" tambah Riuga yang mulai kesal mendengar obrolan mereka berdua.
"Duduklah, aku mau ke belakang sebentar. Awas saja kalau kalian berencana yang tidak-tidak!" ancam Tata dengan tatapan mematikan ke arah suaminya.
Tata menghentakkan kakinya dengan keras sembari berlalu meninggalkan ruang tengah. Bagaimanapun, istana mereka sedang kedatangan tamu. Jadi mau tidak mau, Tata harus melayani tamu mereka dengan baik meskipun hatinya sedang kesal.
"Kau ini, untuk apa memanas-manasi istriku seperti tadi?" ketus Riuga yang mulai menekuk kakinya di sofa.
"Mana aku tau, aku pikir kau masih sama seperti dulu?" sahut Febri tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kau tidak tau betapa susahnya aku mendapatkannya. Aku bahkan sudah tidak mengenali diriku lagi, dia sudah berhasil mengubah hidupku menjadi lebih baik!" jelas Riuga.
"Bagus dong, aku juga sudah berubah. Aku tidak pernah main kotor lagi, tapi karena itu juga orang-orang memanfaatkan kebaikanku!" sahut Febri.
"Apa yang terjadi?" tanya Riuga penasaran.
"Kau benar juga, kapan-kapan saja bicaranya." ucap Riuga.
Tidak berselang lama, Tata keluar membawakan minuman dan cemilan untuk teman ngobrol suaminya. Dia menaruhnya di atas meja dan menatap dua laki-laki itu dengan tajam.
"Maafkan aku, aku tadi hanya bercanda!" ucap Febri.
"Untuk apa meminta maaf? Lanjutkan saja obrolan kalian, aku mau kembali ke kamar!" ucap Tata.
Tata meninggalkan mereka berdua dan melangkah menaiki anak tangga. Dia bukannya marah kepada Febri, tapi dia justru marah kepada suaminya sendiri.
Entah apa yang merasuki otaknya saat ini, tapi tiba-tiba saja pikirannya mulai gelisah memikirkan ucapan Febri tadi.
"Apa dia masih marah padaku?" tanya Febri yang merasa tidak enak hati.
"Biarkan saja, nanti dia juga akan membaik dengan sendirinya!" sahut Riuga.
Mereka berdua kembali melanjutkan pembicaraan dan mulai menceritakan kisah hidup masing-masing setelah berpisah sekitar 10 tahun yang lalu.
__ADS_1
Tidak lama, terdengar suara mesin mobil dari arah luar yang membuat raut wajah Riuga berubah seketika.
Adelia dan Daniel tampak tengah turun dari mobil dan melangkah memasuki istana megah itu.
"Sampai di sini saja Kak!" ucap Adelia sembari menghentikan langkahnya di depan pintu utama.
"Kakak antar sampai ke dalam saja, Kakak kebetulan juga ingin bertemu dengan Kak Riu!" sahut Daniel.
Adelia menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan langkahnya. Daniel pun dengan santainya mengikuti Adelia hingga mereka melihat Riuga yang tengah duduk di ruang tengah.
"Malam Kak Riu." sapa Adelia.
Adelia menghampiri Riuga yang tengah menatap mereka dari tempat duduknya. Seperti biasa, dia kemudian memeluk kakaknya itu dengan manja.
"Darimana saja kamu jam segini baru pulang?" tanya Riuga dengan dinginnya.
"Maaf Riu, jangan marah pada Adel. Tadi kami tidak sengaja bertemu di mall. Aku yang meminta Adel untuk pulang denganku, kami hanya mampir di kafe untuk makan malam!" sambung Daniel menjelaskan.
"Tidak masalah bagiku jika Adel pergi bersamamu, tapi lain kali tolong kabari aku!" sahut Riuga.
"Maafkan Adel Kak, ponsel Adel kehabisan baterai!" jelas Adelia.
"Ya sudah, tapi lain kali jangan begini lagi. Kamu kan bisa meminjam ponsel Daniel untuk menghubungi Kakak." ucap Riuga.
"Iya Kak, sekali lagi Adel minta maaf!" sahut Adelia.
Riuga mulai lega karena adiknya ternyata hanya pergi bersama sahabatnya. Dia percaya kalau Daniel adalah orang baik dan bisa menjaga Adelia.
"Duduklah Daniel!" ucap Riuga kepada Daniel yang masih berdiri di hadapannya.
"Ok, terima kasih." sahut Daniel sembari duduk di sebelah Febri.
Febri yang sedari tadi menyaksikan kedatangan Adelia pun sudah tidak sabar ingin menyapa adik kecilnya itu.
"Apakah kamu Adelia?" tanya Febri sembari tersenyum.
"Iya, Kakak siapa ya?" sahut Adelia dan balik bertanya.
Febri tidak menjawab pertanyaan Adelia, dia malah langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menghampiri gadis manis itu. Dia bahkan tidak segan-segan memeluk Adelia di depan Riuga dan Daniel.
__ADS_1
Perlakuan Febri itu sontak saja membuat Adelia terkejut hingga tak mampu bergerak sama sekali. Bagaimana mungkin ada orang asing yang tiba-tiba saja memeluknya tanpa tau identitas orang tersebut.