Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Laki-laki Asing


__ADS_3

Keesokan paginya, matahari mulai muncul menerangi alam semesta yang begitu indah.


Riuga lebih dulu membuka matanya dan semakin mengencangkan pelukannya. Dia benar-benar menikmati pemandangan indah yang sangat menyejukkan penglihatannya itu.


Riuga menyentuh wajah istrinya dan mengecup pipi Tata dengan penuh kasih sayang. Dia teringat kembali dengan kejadian semalam yang membuatnya tersenyum dengan lebar.


Tata mulai membuka kelopak matanya saat merasakan sentuhan tangan suaminya.


"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Tata sembari menatap wajah Riuga dengan muka bantalnya.


"Sudah dari tadi sayang." sahut Riuga sembari tersenyum.


"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Tata dengan bibir manyunnya.


"Tidurmu sangat pulas sayang, aku tidak ingin mengganggumu!" sahut Riuga sembari mengecup kening Tata dengan lembut.


"Alasan saja." ucap Tata sembari menarik selimutnya kembali.


"Hei, kenapa di tutup? Biarkan aku memandanginya lebih lama lagi!" pinta Riuga sembari tersenyum nakal.


"Jangan mulai sayang, ini sudah pagi. Pergi mandi sana!" ketus Tata sembari membelakangi Riuga dan menutupi wajahnya dengan selimut.


Melihat istrinya yang masih malu-malu kucing, Riuga pun dengan cepat masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh istrinya yang masih polos itu dari belakang.


Riuga meraba bagian sensitif istrinya dan menghujani punggung Tata dengan ciumannya.


"Sayang, apa yang kau lakukan?" tanya Tata yang mulai gelisah melihat kelakuan suaminya.


"Memangnya apa lagi yang ingin aku lakukan jika sudah seperti ini?" sahut Riuga sembari menyelipkan tangannya dibelahan bakpao milik Tata.


"Jangan sayang, bukannya semalam kita sudah melakukannya!" ucap Tata sembari mengangkat tangan Riuga dari tubuhnya.


"Aku menginginkannya lagi sayang!" bisik Riuga sembari menggigit kuping istrinya dengan lembut.


Tata mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut dan meraih bantal dengan tangannya. Dia kemudian mencubit perut suaminya dan memukul tubuh Riuga dengan bantal tersebut.


"Dasar mesum, udah di kasih sekali mau nya minta terus ya!" ucap Tata sembari terus mencubit perut suaminya berulang kali.


"Hahahaha... Cukup sayang, sakit tau!" ketus Riuga sembari tertawa dan menggeliat menahan serangan bertubi-tubi istrinya.


"Hahahaha... Sakit ya, terus kamu pikir aku gak kesakitan apa?" ucap Tata sembari tertawa melihat ekspresi suaminya.

__ADS_1


"Iya, iya, ampun sayang. Aku menyerah, hahahaha...!"


Riuga memeluk tubuh Tata dengan nafas yang sudah terengah-engah. Tata benar-benar membuatnya tak bisa berkutik lagi menahan rasa sakit bercampur geli yang menggerayangi tubuhnya.


"Masih mau lagi?" bisik Tata tepat di telinga Riuga.


"Tidak sayang, sudah cukup!"


Riuga menarik nafas panjangnya dan membuangnya dengan pelan. Dia kemudian mengecup kening istrinya sembari membelai rambut Tata dengan lembut.


"Sayang," ucap Riuga.


"Ehm," sahut Tata.


"Terima kasih sudah menjaganya untukku, aku benar-benar bahagia mendapatkan kesempurnaan itu!" ucap Riuga dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa berterima kasih? Bukankah aku pernah bilang kalau itu hanya milik suamiku saja!" ucap Tata sembari tersenyum.


"Kamu benar sayang, maafkan aku karena pernah meragukan mu waktu itu!" ucap Riuga sembari meneteskan air matanya.


"Sssttt, sudah cukup sayang. Jangan mengingat masa-masa itu lagi. Semua itu terjadi karena kesalahpahaman yang akhirnya mengantarkan kita sampai ke titik ini!" sahut Tata sembari menempelkan hidungnya di ketiak Riuga.


Riuga kembali mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Dia benar-benar merasa bahagia memiliki istri yang cantik dan juga lembut seperti Tata.


Riuga menggendong tubuh istrinya dan melangkah ke dalam kamar mandi. Mereka berdua berendam dengan air hangat untuk meregangkan otot-otot mereka yang mulai terasa kaku efek permainan semalam.


"Awh..." ringis Tata.


"Kenapa sayang?" tanya Riuga mengkhawatirkan istrinya.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit perih!" ucap Tata sembari mengernyitkan keningnya.


"Maafkan aku, semua ini karena ulahku. Aku terlalu bersemangat hingga tidak menyadari keadaanmu yang sudah seperti ini!" ucap Riuga sembari menatap ke arah aset pribadi istrinya itu.


"Sudah sayang, tidak ada yang salah di sini. Ini hanya luka kecil, sebentar lagi juga sembuh dengan sendirinya!" ucap Tata sembari tersenyum.


Riuga mengecup bibir istrinya dan membantu memandikan Tata. Pagi itu benar-benar terasa begitu indah bagi sepasang pengantin baru yang saling melengkapi itu.


*****


Setelah selesai bersiap-siap, mereka berdua turun ke lantai bawah untuk menikmati sarapan pagi yang sudah terhidang di atas meja.

__ADS_1


"Pagi Kak." sapa Adelia yang baru saja selesai menikmati sarapannya.


"Pagi sayang." sahut Riuga sembari memeluk adik semata wayangnya itu.


"Adel pergi dulu ya, hari ini banyak tugas di kampus!" ucap Adelia sembari menyalami kedua kakaknya itu dan berlalu meninggalkan meja makan.


Seperti biasa, Adelia berangkat ke kampusnya diantar oleh sopir pribadi yang sudah bertahun-tahun bekerja bersama Riuga.


Hari sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Soni sudah lebih dulu sampai di Riuga Group karena ingin mengurus klien mereka yang baru saja bergabung dengan perusahaan milik Riuga itu.


Dari luar gedung perusahaan, terlihat sebuah mobil mewah yang baru saja masuk ke dalam gerbang dan berhenti di parkiran.


Terlihat seorang laki-laki yang belum terlalu tua, turun dari mobil itu dan melangkah memasuki gedung dengan kacamata hitam yang menutupi wajahnya.


"Selamat pagi, apa saya bisa bertemu dengan pimpinan perusahaan ini?" tanya laki-laki itu kepada resepsionis.


"Maaf Pak, Tuan Riuga belum datang untuk saat ini! Ada yang bisa saya bantu?" sahut resepsionis itu dengan ramah.


"Kalau begitu, saya akan menunggunya di sini!" ucap laki-laki itu dengan tatapan yang begitu tajam.


Laki-laki itu kemudian mengayunkan kakinya ke arah sebuah sofa dan mendudukinya sembari menyandarkan punggungnya dengan begitu leluasa.


Melihat gelagat laki-laki asing yang membingungkan itu, resepsionis cantik yang bernama Ana itupun bergegas meraih telepon dan menghubungi Soni yang sudah berada di dalam ruangannya.


"Tuan Soni, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Tuan Riuga. Beliau sedang duduk di ruang tunggu!" ucap Ana dengan nada suara sedikit pelan.


"Siapa?" tanya Soni mencari tau.


"Beliau tidak menyebutkan namanya, tampangnya saja terlihat menakutkan!" sahut Ana sembari melirik ke arah laki-laki misterius itu.


"Ya sudah, aku akan turun ke bawah!" ucap Soni sembari menutup teleponnya.


Soni kemudian bangkit dari tempat duduknya. Rasa penasarannya yang begitu besar, membuatnya ingin cepat-cepat sampai di lantai bawah untuk menemui laki-laki asing itu.


Setelah pintu lift terbuka, Soni bergegas melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis.


"Mana laki-laki itu?" tanya Soni dengan pelan kepada Ana.


Ana menoleh ke arah laki-laki misterius itu dan memajukan bibirnya memberi isyarat kepada Soni.


Soni menatap ke arah laki-laki itu sembari mengernyitkan keningnya. Dia bahkan tidak mengenal siapa laki-laki yang ingin bertemu dengan Tuannya itu.

__ADS_1


Soni mencoba menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar. Dia mulai melangkah menemui tamunya itu dengan rasa penasaran yang begitu besar di benaknya.


__ADS_2