Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Kesalahpahaman


__ADS_3

Setelah selesai menghubungi bos misterius itu, Abrar akhirnya kembali duduk diantara Riuga dan Soni. Dia memutuskan untuk membatalkan rencana kerja sama tersebut sesuai perintah bos nya.


"Maafkan saya karena sudah membuat kalian menunggu lama!" ucap Abrar.


"Tidak apa-apa, jadi apa keputusan bos kalian?" tanya Riuga dengan senyuman liciknya.


"Sepertinya kerja sama ini tidak bisa kita lanjutkan, bos kami tidak setuju dengan permintaan anda!" sahut Abrar.


"Hmm, tidak masalah. Kalau begitu kami permisi dulu!"


Setelah mendapatkan jawaban dari Abrar, Riuga pun memutuskan untuk segera meninggalkan kafe dan menyuruh Soni membayar tagihan makan siang mereka.


Tentu saja Soni dengan cepat melaksanakan perintah Riuga meskipun benaknya mulai bertanya-tanya dengan keputusan Riuga yang tidak sejalan dengan rencana mereka sebelumnya.


Sesampainya di dalam mobil, Riuga pun tampak tersenyum sumringah sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


Soni yang baru saja masuk ke dalam mobil merekapun tampak kebingungan melihat ekspresi Riuga yang seakan-akan tengah merasa senang dengan keputusan yang sudah Riuga ambil.


"Ada apa denganmu, kenapa kau bisa berubah pikiran seperti tadi?" tanya Soni dengan kening yang terlihat mengkerut.


"Sudahlah, tidak perlu banyak tanya. Ayo jalan, aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan istriku!" sahut Riuga dengan santainya.


Meskipun Soni sebenarnya sangat ingin mengetahui rencana apa yang sedang dimainkan Riuga, tapi dia lebih memilih untuk menahan rasa penasarannya dan mulai melajukan mobil mereka dan kembali ke arah kantor.


Di tempat lain, Tata terlihat tengah asyik menikmati makan siangnya bersama Ana dan Febri di kantin yang ada di sebelah kantor.


Meskipun Tata baru saja mengenali Febri, tapi mereka berdua sudah terlihat begitu akrab seperti sahabat yang sudah saling mengenal sejak lama.


Berbeda dengan Ana yang justru terlihat begitu kaku berhadapan dengan Febri. Ketampanan Febri seakan-akan telah menghipnotis jiwa Ana sehingga gadis cantik itu hanya bisa menatap wajah Febri tanpa bisa berkata-kata.


"Terima kasih karena kalian berdua sudah bersedia menemaniku!" ucap Tata.


"Sama-sama Nyonya." sahut Ana.


"Tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi tanggung jawab ku mulai hari ini. Aku justru merasa sangat senang karena suamimu sudah memberikan kepercayaannya padaku untuk menjagamu!" sambung Febri.


"Aku tau kau adalah laki-laki yang baik, Riuga sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu." ucap Tata.


"Kau terlalu berlebihan memujiku, aku tidak sebaik yang kau pikirkan. Aku ini seperti seekor bunglon, aku bisa saja berubah sifat sesuai kondisi di sekitar ku." sahut Febri.

__ADS_1


"Kalau itu aku juga tau, kau itu tidak jauh berbeda dengan Riuga. Tapi aku yakin kau itu sebenarnya mempunyai hati yang lembut." ucap Tata.


"Berhentilah memujiku, nanti kau bisa-bisa tertarik padaku jika terlalu...!"


"Siapa yang akan tertarik padamu?"


Belum sempat Febri melanjutkan perkataannya, tiba-tiba saja Riuga sudah berdiri di belakang mereka dan memotong perkataan Febri.


Suara Riuga yang terdengar begitu lantang, membuat Tata, Ana dan Febri pun terkejut bukan main. Mereka bertiga spontan menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan.


"Sayang, kamu sudah kembali?" ucap Tata sedikit gugup.


"Kenapa, apa kamu tidak senang melihat kedatanganku?" tanya Riuga dengan muka masamnya.


"Tidak sayang, bukan begitu. Ayo, duduklah di sini!" sahut Tata sembari menunjuk kursi kosong yang ada di sampingnya.


Meskipun Riuga terlihat sedikit kesal, namun dia mencoba menahan dirinya dan bergegas duduk di samping Tata.


"Riu, kau jangan salah paham dulu pada kami. Aku hanya bercanda, tidak ada yang serius dalam pembicaraan kami tadi!" ucap Febri yang merasa tidak enak hati terhadap Riuga.


"Salah paham apanya, aku mendengar sendiri perbincangan kalian tadi." sahut Riuga dengan dinginnya.


"Maaf Tuan, Nyonya, kalau begitu aku permisi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!" ucap Ana memohon izin.


"Ya, pergilah!" sahut Riuga.


Ana bangkit dari tempat duduknya dan bergegas meninggalkan kantin tersebut. Raut wajahnya terlihat begitu pucat saking takutnya dimarahi oleh atasannya itu.


"Silahkan lanjutkan perbincangan kalian yang tadi sempat tertunda!" ucap Riuga sembari menatap wajah Febri dan Tata secara bergantian.


"Riu, apa kau sudah gila. Aku tidak suka dengan caramu yang kekanak-kanakan seperti ini!" sahut Febri yang mulai kesal melihat tingkah Riuga.


"Aku memang sudah gila dan kau tau itu dari dulu." ucap Riuga dengan nada yang mulai meninggi.


"Terserah kau saja, tidak ada gunanya menjelaskan semua ini padamu!"


Febri yang sudah mulai tersulut emosi melihat sikap Riuga, akhirnya memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya dan pergi tanpa berucap sepatah katapun.


Begitupun dengan Tata yang juga ikut meninggalkan Riuga sendirian di kantin tersebut.

__ADS_1


"Hei, kenapa kalian semua malah pergi meninggalkan aku?" teriak Riuga penuh amarah.


Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Riuga saat itu, tapi sikap dan kecemburuan nya yang tidak beralasan itu justru menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


Sesampainya di kantor, Tata bergegas masuk ke dalam lift dan memilih untuk naik menuju ruangan pribadi suaminya.


Sementara itu, Febri yang periang dan suka bercanda itupun tampak begitu lesu sembari menyeberangi jalan menuju hotel yang ada di seberang Riuga Grup.


Febri bahkan tidak mengerti dengan kecemburuan Riuga yang terlalu berlebihan terhadap dirinya.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini, apa aku salah karena sudah masuk ke dalam kehidupannya kembali?" batin Febri sembari mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.


Sementara itu, Riuga baru saja masuk ke dalam kantor dan bergegas mencari keberadaan Tata di ruangan kerja mereka.


Raut wajah Riuga pun mulai terlihat panik saat menyadari istrinya tidak ada di dalam ruangan tersebut.


Dengan langkah tergesa-gesa, Riuga dengan cepat melangkah ke arah pintu ruangan Soni untuk mencari keberadaan Tata dan Febri.


"Dimana Tata dan Febri?" tanya Riuga kepada Soni.


"Ada apa, kenapa kau mencarinya di sini. Bukankah kau tadi menyusul mereka di kantin sebelah?" tanya balik Soni.


"Tidak ada apa-apa!" sahut Riuga dan berlalu meninggalkan ruangan Soni.


"Ada apa lagi dengannya?" gumam Soni sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Riuga akhirnya masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai atas untuk mencari keberadaan Tata. Perasaan bersalah pun mulai menggerogoti hatinya.


Sesampainya di depan ruangan pribadinya, Riuga dengan cepat membuka pintu dan mendapati Tata yang tengah menangis sembari berbaring di atas tempat tidur.


Sadar akan kedatangan Riuga, Tata pun dengan cepat menutup wajahnya dengan bantal. Wanita cantik itu mencoba menahan kekecewaannya atas sikap suaminya yang terlalu posesif itu.


"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Riuga sembari mendekat ke arah tempat tidur.


Tata tidak menjawab pertanyaan suaminya sama sekali. Dia memilih untuk tetap diam dan memejamkan matanya.


"Sayang, jawab aku. Tolong jangan seperti ini!" ucap Riuga.


Riuga menekuk kakinya dan duduk di ujung kasur. Dia mencoba menarik bantal yang menutupi wajah istrinya dan mengusap wajah Tata dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2