Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Mencurigakan


__ADS_3

Soni melangkahkan kakinya sembari terus menatap ke arah laki-laki yang tidak dia kenali itu. Raut wajah laki-laki asing itu terlihat seperti menyimpan sebuah misteri yang tidak sanggup dipecahkan oleh Soni sendirian.


"Permisi, apakah Bapak sedang menunggu seseorang di sini?" tanya Soni sembari menekuk kakinya dan duduk tepat di hadapan laki-laki itu.


"Benar sekali, saya sedang menunggu pemimpin perusahaan ini. Kalau boleh saya tau, anda siapa ya?" tanya balik laki-laki berkacamata hitam itu.


"Kenalkan nama saya Soni, saya asisten pribadi dari orang yang Bapak cari!" ucap Soni sembari mengulurkan tangannya ke arah laki-laki itu.


"Senang berkenalan dengan anda!" sahut laki-laki itu sembari menyambut uluran tangan Soni dengan santainya.


Laki-laki yang tidak diketahui identitasnya itu bahkan tidak menyebutkan namanya sama sekali. Hal itu justru membuat kecurigaan Soni semakin bertambah besar kepadanya.


"Maaf jika saya boleh tau, ada keperluan apa ya Bapak ingin bertemu dengan atasan saya?" tanya Soni mencari tau tujuan kedatangan laki-laki itu.


"Saya tidak bisa memberitahukannya kepada anda, saya harap anda bisa mengerti!" sahut laki-laki itu dengan dinginnya.


"Hadeuh, sombong kali gaya kau Pak. Kalau bukan karena menghargai Riuga, sudah aku tendang pantat mu hingga tepos!" batin Soni dengan tatapan penuh kekesalan.


Soni bangkit dari tempat duduknya. Dia berniat untuk kembali ke ruangannya dan membiarkan tamu sombong itu menunggu sendirian.


Belum sempat Soni melangkahkan kakinya, tiba-tiba pandangan matanya tertuju ke arah luar. Soni langsung tersenyum saat melihat Riuga yang tengah melangkah memasuki perusahaan bersama istrinya.


Soni berjalan ke arah pintu masuk dan menyambut kedatangan pasutri itu dengan raut wajah berseri-seri.


"Cie, cie, aku pikir hari ini kalian tidak akan datang ke kantor!" ucap Soni yang berniat menggoda pasangan pengantin baru itu.


"Kau pikir aku ini seorang pemalas sepertimu!" ketus Riuga yang merasa kesal mendengar candaan Soni.


"Aku pemalas, hahaha... Bukankah terbalik?" sahut Soni sembari tertawa menyindir Riuga.


"Sudahlah, kenapa kau malah enak-enakan di sini? Apa tugasmu di kantor ini hanya untuk mengurusi urusan orang lain?" tanya Riuga dengan tatapan menyeramkan.


"Siapa juga yang sibuk ngurusin orang? Noh, ada yang nyari!" sahut Soni sembari menunjuk ke arah ruang tunggu.

__ADS_1


Riuga mengernyitkan keningnya sembari menatap lurus menembus kaca penyekat ruangan. Raut wajahnya terlihat kebingungan karena tidak mengenali laki-laki yang tengah duduk sembari memainkan layar ponselnya itu.


"Siapa dia?" bisik Riuga sembari terus melirik ke arah laki-laki itu.


"Mana aku tau, ditanyain lagaknya seperti bintang film terkenal saja!" sahut Soni yang masih kesal melihat laki-laki asing itu.


"Sayang, kamu ke atas duluan ya sama Soni. Aku mau menemui orang itu sebentar!" ucap Riuga sembari melepaskan tangan Tata dari genggamannya.


"Iya sayang, hati-hati ya!" sahut Tata.


Tata tersenyum dengan manja ke arah suaminya. Perlahan dia mulai mengayunkan kakinya beriringan dengan Soni dan masuk ke dalam lift menuju ruangan mereka yang ada di lantai atas.


"Siapa laki-laki tadi Soni?" tanya Tata yang ikut penasaran.


"Aku juga tidak tau, dia bahkan tidak menyebutkan namanya padaku." sahut Soni sembari mengangkat kedua bahunya dengan bibir sedikit maju ke depan.


"Mencurigakan sekali, apa kalian benar-benar tidak mengenalinya?" tanya Tata dengan tatapan semakin penasaran.


Di tengah-tengah pembicaraan yang membuat bingung itu, pintu lift pun terbuka dengan lebar. Mereka keluar dari lift dan melangkah ke arah ruangan masing-masing.


"Apa ruangan kerja Riu sudah selesai?" tanya Tata sembari terus mengayunkan kakinya.


"Sudah dong, Soni gitu loh!" sahut Soni membanggakan dirinya kepada Tata.


"Kau ini,..."


Tata tersenyum ke arah Soni sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka berdua terlihat semakin akrab semenjak Tata resmi menjadi Nyonya Riuga.


Tata mendorong pintu ruangannya dan kembali tersenyum melihat meja kerjanya yang berdampingan dengan meja kerja suaminya.


"Riu, Riu, bahkan di kantor sekalipun kau masih ingin dekat-dekat dengan istrimu ini!" gumam Tata sembari melangkah ke arah tempat duduknya.


Di lantai bawah, Riuga sudah duduk berhadap-hadapan dengan laki-laki yang ingin bertemu dengannya itu. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan sebelah kaki yang dilipat di atas kaki lainnya.

__ADS_1


Laki-laki asing itu membuka kacamata yang menutupi wajahnya dan meletakkannya di atas meja.


"Riuga Wijaya, senang bertemu denganmu!" ucap laki-laki itu dengan santainya.


"Siapa kau, ada keperluan apa kau mencari ku?" tanya Riuga yang tidak ingin berbasa-basi.


"Hahahaha... Sabar anak muda, jangan terlalu terburu-buru!" sahut laki-laki itu dengan tawanya yang membuat Riuga semakin penasaran.


"Katakan saja apa maksud kedatangan mu, aku tidak punya banyak waktu untuk melayani permainanmu ini!" ucap Riuga dengan tatapan menyelidik.


"Hahahaha... Gaya bicaramu mengingatkan aku pada Bram. Kalian benar-benar mirip, sama-sama ambisius dan selalu bersikap serius dalam segala hal!" sahut laki-laki itu sembari memperhatikan raut wajah Riuga yang sudah berubah drastis.


Sesaat tatapan mata Riuga terlihat semakin menakutkan setelah mendengar nama Papanya disebut-sebut oleh laki-laki asing itu.


"Siapa kau sebenarnya, kenapa kau bisa mengenali Papaku?" tanya Riuga sembari mengepalkan tangannya menahan emosi yang mulai menguasai hatinya.


"Untuk saat ini kau tidak perlu tau siapa aku. Aku hanya ingin menawarkan kerja sama denganmu. Sebagai imbalannya, aku akan memberitahukan sebuah rahasia besar padamu!" sahut laki-laki itu sembari tersenyum sinis.


"Aku tidak membutuhkan bantuan mu. Jika sudah selesai maka silahkan tinggalkan tempat ini, aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!" ucap Riuga sembari menunjuk ke arah pintu keluar.


"Hahahaha... Baiklah, aku juga tidak bisa berlama-lama di sini. Ini kartu namaku, jika kau berubah pikiran maka hubungi aku secepatnya. Ingat, ada satu nyawa yang sedang menanti kedatangan mu!"


Laki-laki itu tersenyum sembari berbisik di telinga Riuga. Dia kemudian memberikan kartu namanya tepat di atas telapak tangan Riuga dan menepuk-nepuk lengan Riuga dengan pelan.


Laki-laki itu kemudian mengenakan kacamatanya kembali dan bangkit dari tempat duduknya. Dia mulai melangkah ke arah pintu sembari tersenyum dengan puas.


Riuga hanya terpaku menatap punggung laki-laki itu yang semakin menghilang dari pandangannya.


"Apa maksud semua ini?" batin Riuga sembari mengepalkan kedua tangannya dan menggertakkan giginya.


Selang beberapa detik terdiam, Riuga kemudian memasukkan kartu nama yang ada di tangannya itu ke dalam kantong celananya. Dia mulai melangkah ke arah lift menuju ruangannya di lantai atas.


Sesampainya di depan pintu ruangannya, Riuga menghela nafasnya dan membuangnya dengan pelan. Perlahan dia mulai mendorong pintu dan tersenyum ke arah istrinya yang sedang sibuk mengotak-atik laptop yang ada di atas meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2