
Mariam langsung memeluk Geri, ia tak kuat menahan rasa sedihnya. Gino yang melihat hal itu langsung keluar kamar dan membiarkan istrinya berbicara dengan putranya.
" Ibu kenapa ibu menangis " ucap Geri dengan wajah kagetnya
" Ibu sampai menangis begini,, apa memang hubunganku dengan Leya harus benar-benar berakhir, aku juga tidak mau melihat ibu sesedih ini " batin Geri
" Ibu kangen Gea " ucap Mariam
" Ibu,, kita harus mengikhlaskan kepergian Gea, aku tidak mau ibu larut seperti ini,, nanti Gea sedih disana " ucap Geri menenangkan Sang ibu
" Tadi Margaret kesini " ucap Mariam membuat Geri kaget
" Jangan-jangan ibu akan menentang hubungan ku dengan Leya, jangan sampai kalau begitu " batin Geri
" Apa Margaret yang membuat ibu sedih begini " tanya Geri
" Margaret hanya membicarakan hubungan mu dengan Leya " ucap Mariam
Deg, Geri benar-benar takut jika hubungannya tidak direstui oleh Sang ibu.
" Bu, aku bisa jelaskan " ucap Geri
" Tidak usah semuanya sudah jelas " ucap Mariam
" Bu, dengarkan aku baik-baik, aku sangat mencintai Leya,, aku harap ibu merestui kami.. aku mohon " ucap Geri dengan wajah memelas pada Sang ibu
" Aku lapar " ucap Mariam mengalihkan pembicaraan
" Aku sudah bawakan ibu bubur kesukaan ibu,, biar aku siapin " ucap Geri sambil tersenyum
" Baiklah " ucap Mariam melihat wajah Geri
" Geri memang benar-benar tulus mencintai Leya, apa aku bisa menerima Leya sebagai menantu ku, apa keluarga Leya juga akan setuju pada Geri,, ini terllau rumit " batin Mariam
Geri langsung membuka kotak makanan yang berisi bubur lalu mencoba menyuapi sang ibu dengan pelan-pelan karena bubur masih panas.
" Ayo Bu, jika mulutnya " ucap Geri sambil tersenyum
" Aam... " ucap Mariam dengan wajah Senang
" Gimana Bu enak " tanya mariam
" Sangat enak apalagi di suapi anak ibu yang ganteng " ucap Mariam
" Siapa dulu ibunya juga cantik " ucap Geri
__ADS_1
Tiba-tiba Gino datang ke kamar Mariam dengan membawakan minuman hangat untuk sang istri.
" Wah-wah, kenapa kalian tertawa tidak mengajak ku " ucap Gino pada sang istri
" Ayah, mau aku suapi bubur juga " ucap Geri
" Tidak usah " ucap Gino merasa malu
" Ayolah sini biar putramu menyuapi mu " Ucap Mariam menggoda suaminya
" Sayang " ucap Gino sambil tersenyum
" Sekarang giliran ayah yang menyuapi ibu, aku akan kembali lagi ke kamar " ucap Geri meninggalkan kamar ibunya.
Gino tampak bahagia karena istrinya sudah tidak sedih lagi, ia juga tampak senang karena istrinya sudah mau makan dan tidak sesedih tadi.
Geri duduk di ranjangnya ia bingung dengan percintaannya dengan Leya, masalah yang menyangkut ibunya sudah ia atasi meskipun ia sendiri tidak tahu apakah ibu ya merestuinya atau tidak.
Ia mengambil handphonenya dan menghubungi Leya. Teleponnya tersambung namun Leya tidak mengangkat teleponnya.
" Kenapa kamu seperti ini sih Leya.. aku merindukan mu " batin Geri
Geri pun mencoba menghubungi Leya kembali dan kali ini Leya mengangkat teleponnya.
Tut... Tut... Tut...
" Halo " ucap Leya
" Leya aku merindukanmu sayang " ucap Geri sambil tersenyum
" Geri aku mau bicara sesuatu yang penting " ucap Leya
" Ada apa sayang, coba katakan.. " ucap Geri heran
" Aku mau hubungan kita berakhir sampai disini " ucap Leya
" Aku tidak mau sayang, aku benar-benar mencintai mu sayang " ucap Geri mencoba menyakinkan Leya
" Tapi hubungan kita terlalu rumit,, gara-gara saudaraku adikmu meninggal,, aku tidak pantas untukmu " ucap Leya dengan suara menangis
" Sayang dengarkan aku,, hubungan kita dengan Gea itu tidak ada kaitannya,, kamu harus percaya padaku, aku akan mencoba memperbaiki semuanya " ucap Geri
" Itu akan sulit Geri " ucap Leya
" Percaya padaku dan berikan aku kesempatan " ucap Geri
__ADS_1
" Jika kamu tidak percaya padaku aku akan datang ke negaramu besok,, aku akan buktikan padamu jika aku sungguh-sungguh " ucap Geri.
Leya mulai luluh dengan ucapan Geri, ia pun mulai memberikan kesempatan pada Geri untuk membuktikan apa yang dia ucapkan.
" Baiklah aku memberikan kesempatan padamu, jika kamu gagal maka tinggalkanlah aku " ucap Leya
" Baik sayang, kamu lihat aku akan membuktikannya " ucap Geri
" Disini sudah malam, aku tutup ya " ucap Leya
" Kamu selamat tidur,, mimpi yang indah " ucap Geri sambil tersenyum senang
" Ia sayang " ucap Leya langsung menutup teleponnya
Geri bangkit dari tempat tidurnya dan pergi menuju kamar Gea, kamar yang masih rapi dan terawat, Ibu memang selalu menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar Gea.
Ia melihat semua barang-barang milik Gea, sebenarnya ia juga merindukan sosok Gea, karena Geri dan Gea sangat dekat. sekarang Geri hanya bisa memeluk adiknya itu dalam sebuah Foto.
" Gea,, kakak merindukan mu,, kakak hara kamu bisa bahagia diatas sana, kamu juga harus merestui hubungan ku dengan Leya,, karena aku sangat mencintai Leya " ucap Geri masih memeluk foto Gea
Ia meletakkan kembali foto itu di tempatnya lalu membuka laci lemari Gea, biasanya disana ada boneka kecil kesukaan Leya.
Tanpa diduga ternyata dibawah boneka itu ada buku harian Milik Gea, ia mulai penasaran dengan semua tulisan Gea. ia mulai membaca satu persatu setiap halaman di buku tersebut.
Ia takut Sang ibu sedih kembali karena ia berada di kamar sang adik, ia pun langsung membawa buku harian itu ke kamarnya untuk ia baca semuanya.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......
Biar saya lebih semangat nulisnya..
Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......
So... Ikuti terus kisahnya...
Jangan bosen-bosen ya .....
__ADS_1
Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz