
Kulit wajah Adelia yang tadinya putih, sekarang sudah berubah menjadi merah seperti udang rebus. Bukannya memerah karena malu, tapi Adelia justru terlihat ketakutan.
Riuga yang melihat itupun tak sanggup menahan rasa harunya. Dia teringat kembali saat dirinya tidak mempunyai keberanian untuk menemui Adelia yang dia titipkan di panti asuhan.
Febri lah yang saat itu selalu siap sedia menggantikan posisinya sebagai seorang kakak. Dia juga yang selalu datang menemui Adelia dan memberikan semua kebutuhan gadis manis itu.
Disaat Riuga tampak begitu bahagia, Daniel justru terlihat sangat kesal melihat pemandangan itu. Entah apa yang ada di benaknya saat itu, tapi tiba-tiba saja raut wajahnya berubah menjadi masam.
"Tidak ku sangka, adik kecilku sekarang sudah besar dan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik." ucap Febri dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Adelia tampak semakin kebingungan setelah mendengar ucapan Febri. Dia sama sekali tidak mengingat siapa laki-laki yang sudah berani memeluknya itu.
Pelan-pelan, Febri mulai melepaskan pelukannya dan menarik tangan Adelia. Mereka berdua kemudian duduk bersebelahan di samping Riuga.
"Kakak siapa?" tanya Adelia bingung.
"Kamu dan Kakakmu sama saja, tidak ada yang bisa mengenali Kakak sedikitpun!" sahut Febri sembari mencubit pipi Adelia.
Daniel yang sedari tadi menjadi penonton, mulai muak melihat adegan yang tidak dia inginkan itu. Dia memilih untuk berpamitan dan mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Riuga.
"Kalau begitu aku pamit dulu!" ucap Daniel sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Kenapa cepat sekali, apa kau tidak ingin mengobrol dengan kami terlebih dahulu?" tanya Riuga yang tidak menyadari perubahan sikap Daniel.
"Lain kali saja, aku masih ada urusan yang penting!" sahut Daniel dengan dinginnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Riuga ataupun Adelia, Daniel bergegas melangkahkan kakinya keluar dari istana itu dan masuk ke dalam mobilnya dalam keadaan kesal. Dia bahkan tidak ingin mengetahui ataupun berkenalan dengan laki-laki yang tidak dia kenal itu.
Daniel menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menghela nafasnya dengan kasar.
"Apa yang terjadi denganku, kenapa dadaku rasanya sesak sekali?" gumam Daniel dengan tatapan yang sulit dimengerti.
Daniel kembali menarik nafasnya dan membuangnya dengan pelan. Dia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau semua itu tidak ada kaitannya dengan dirinya.
"Sadar Daniel, jangan berpikir yang tidak-tidak. Adel itu adikmu, tidak boleh memikirkannya berlebihan!" gumam Daniel sembari menepuk pipinya sendiri.
Daniel berusaha menepis perasaannya. Dia menyadari kalau diantara dia dan Adelia hanyalah sebatas hubungan kakak dan adik, tidak boleh lebih dari itu.
__ADS_1
Daniel mulai menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas. Perlahan, mobil mewah itupun mulai keluar dari gerbang dan berlalu meninggalkan kediaman Riuga.
Di dalam, Adelia masih terlihat kebingungan memikirkan Febri yang tengah duduk di sampingnya itu. Dia sama sekali tidak bisa mengingat apa-apa tentang laki-laki tampan itu.
"Adel, apa kamu ingat dengan laki-laki yang dulu sering mengunjungi kamu di panti asuhan?" tanya Riuga sembari mengusap kepala Adelia.
"Tentu saja ingat. Meskipun sudah lama, tapi Adel tidak bisa melupakannya. Dia lah yang selalu menemui Adel saat Adel merindukan Kakak." sahut Adelia yang kembali mengingat masa lalunya.
"Apa kamu tidak merindukannya?" tanya Riuga.
"Tentu saja Adel merindukannya, tapi bukannya kata Kakak dia sudah pergi ke luar negeri?" sahut Adelia.
"Iya benar, tapi sekarang dia sudah kembali dan dia sedang duduk di samping kamu saat ini!" ucap Riuga dengan senyumannya.
Adelia benar-benar terkejut mendengar perkataan Riuga, dia kembali menoleh ke arah Febri dan memandangi wajah laki-laki tampan itu tanpa berkedip sedikitpun.
"Kak Febri, apa ini benar Kak Febri?" tanya Adelia dengan mata yang terbuka lebar.
"Iya sayang, ini Kak Febri. Kakak sudah kembali!" sahut Febri yang merasa senang karena Adelia tidak melupakan dirinya.
Adelia kembali memeluk Febri dan mencurahkan air matanya di pundak laki-laki itu.
"Kakak kemana saja selama ini? Adel sangat merindukan Kakak." isak Adelia.
"Jangan menangis sayang, Kakak sekarang sudah ada di sini. Kakak berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi!" ucap Febri yang juga ikut menangis di dalam pelukan Adelia.
Febri mencoba menenangkan Adelia sembari membelai rambut adiknya itu. Meskipun Adelia bukan adik kandungnya, tapi rasa sayangnya sudah melebihi kasih sayang seorang kakak kandung terhadap adiknya sendiri.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Kakak jadi ikutan sedih jika kalian terus seperti ini!" ucap Riuga yang berusaha menahan air matanya agar tidak menetes.
Adelia melepaskan pelukannya dari Febri, dia kemudian mencoba melebarkan senyumnya dan menggenggam tangan dua kakak laki-lakinya itu dengan erat.
"Sekarang Adel sudah punya dua Kakak, Adel harap kita bertiga tidak akan pernah berpisah lagi!" ucap Adelia.
"Iya, Kakak janji tidak akan pernah membiarkan Kakak kedua kamu pergi lagi. Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita di sini!" sahut Riuga membenarkan ucapan Adelia.
"Aku tidak akan pergi, tapi aku tidak bisa tinggal di sini bersama kalian!" ucap Febri.
__ADS_1
"Kenapa tidak bisa? Kau ini saudaraku, kau harus tinggal di sini bersamaku!" jelas Riuga.
"Aku bisa mencari kontrakan di sekitar sini. Kau sudah menikah, aku tidak ingin merepotkan dirimu!" sahut Febri.
"Tidak ada yang direpotkan, istriku tidak akan keberatan jika kau tinggal di sini bersama kami. Masalah yang tadi itu tidak perlu di ambil hati, dia hanya kesal padaku. Besok pagi dia pasti sudah tersenyum lagi!" ucap Riuga.
"Iya Kak, rumah ini terlalu besar untuk kami bertiga. Kakak tinggal di sini saja. Jika Kak Riuga pergi, Adel tidak akan kesepian lagi karena masih ada Kakak!" tambah Adelia.
Febri tampak termenung memikirkan permintaan Riuga dan Adelia, dia tidak ingin menyusahkan sahabat dan adiknya itu. Tapi di sisi lain, dia juga tidak mau mengecewakan Adelia.
"Ya sudah, terserah kalian saja. Tapi barang-barang Kakak masih ada di hotel." sahut Febri.
"Tidak perlu dipikirkan, besok kita akan mengambilnya kembali!" ucap Riuga.
"Baiklah," sahut Febri.
"Kalau begitu sebaiknya kita istirahat dulu, besok masih ada waktu untuk berbincang-bincang." ucap Riuga.
"Kau benar, aku bahkan belum sempat beristirahat sejak turun dari pesawat tadi." sahut Febri yang terlihat sangat lelah.
"Ayo, aku antar ke kamarmu!" ajak Riuga sembari bangkit dari tempat duduknya.
Mereka bertiga melangkah meninggalkan ruang tengah dan berjalan ke kamar yang ingin mereka tuju. Adelia menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sementara itu, Riuga mengantarkan Febri ke kamar yang ada di lantai bawah.
"Terima kasih, aku tidak menyangka kita bisa berkumpul lagi seperti dulu." ucap Febri sembari merangkul pundak Riuga.
"Tidak perlu sungkan, kita adalah saudara. Selamanya akan tetap seperti itu!" sahut Riuga sembari menepuk-nepuk pundak Febri.
Riuga membukakan pintu kamar untuk Febri. Suasana kamar itu terasa cukup nyaman dengan ruangan yang lumayan luas dan mewah.
"Tidurlah di sini, besok kita bicara lagi!" ucap Riuga dengan senyuman khasnya.
"Baiklah, tolong sampaikan permintaan maaf ku kepada istrimu!" sahut Febri yang masih merasa bersalah atas kejadian tadi.
"Tidak perlu khawatir, istriku adalah wanita yang baik. Dia tidak akan marah hanya gara-gara hal sepele seperti tadi!" ucap Riuga meyakinkan Febri.
Riuga kemudian melangkah meninggalkan Febri sendirian di kamarnya. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia karena sahabatnya sudah kembali dan berkumpul lagi bersamanya.
__ADS_1