Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Pengakuan


__ADS_3

Keesokan harinya, Tata terbangun dan mendapati Riuga yang tengah tertidur lelap di atas sofa. Senyuman manis Tata pun kembali muncul dari wajah cantiknya sembari menatap wajah tampan yang membuat hatinya berbunga-bunga itu.


Perlahan, Tata menurunkan kakinya dari tempat tidur dan berjalan kearah sofa menghampiri laki-laki tampannya itu.


"Riu bangunlah, ini sudah pagi!" ucap Tata sembari menyentuh pipi laki-lakinya dengan lembut.


"Mm,,,"


"Bangunlah Riu! Apa kau tidak ingin pergi ke kantor?" ucap Tata lagi membangunkan laki-lakinya yang masih tertidur begitu pulas.


Riuga mulai membuka kedua matanya dan tersenyum mendapati Tata yang tengah duduk di sampingnya.


"Tata, kau sudah bangun?" tanya Riuga sembari mengucek kedua kelopak matanya.


"Iya, kenapa kau tidur disini? Bukankah kasur mu sangat luas?" tanya Tata dengan tatapan yang sulit di mengerti.


"Aku tidak ingin mengganggumu! Apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya Riuga sembari bangkit dari sofa.


"Tentu saja nyenyak, aku seperti sedang berada di sebuah kerajaan dongeng!" sahut Tata dengan polosnya.


"Kau ini, aku mau mandi dulu!" ucap Riuga sembari melangkah menuju kamar mandi.


Tata kembali tersenyum melihat punggung Riuga yang mulai menghilang dari pandangannya. Wanita cantik itu kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan bergegas merapikan tempat tidur yang sudah berantakan karenanya.


Tata juga memberanikan diri untuk membuka pintu lemari Riuga dan menyiapkan pakaian kantor untuk laki-laki tampannya itu.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Riuga yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Riu, kau sudah selesai? Maafkan aku, aku tidak bermaksud memeriksa isi lemari mu! Aku hanya ingin menyiapkan pakaian untukmu!" sahut Tata yang mulai bergetar ketakutan dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa kau jadi ketakutan seperti ini? Aku tidak marah! Kau boleh melakukan apa saja yang kau suka, ini juga rumahmu! Kau dan Adelia adalah adik kesayanganku, aku tidak mungkin marah pada kalian berdua!" ucap Riuga sembari mengusap kepala Tata dengan lembut.


Perkataan Riuga sesaat membuat hati Tata menjadi sangat senang, namun wanita cantik itu juga sedih karena Riuga berkata hanya menganggap dirinya sebagai adik.


"Hanya adik?" tanya Tata dengan polosnya.


"Iya, ada yang salah? Kau dan Adelia adalah adik kecilku yang sangat manis!" ucap Riuga sembari mencubit pipi Tata yang terlihat sangat menggemaskan.


Mendengar pengakuan Riuga, hati Tata benar-benar terasa panas. Wanita cantik itu kemudian menarik handuk yang sedang melingkar di pinggang Riuga dan membawanya berlari menjauh dari laki-lakinya itu.


"Tata, apa yang kau lakukan? Berikan handuk itu padaku!" teriak Riuga sembari menutupi area terlarangnya yang hanya memakai segitiga biru.


"Tidak mau!" sahut Tata sembari memanyunkan bibirnya.


"Tata, jangan membuat kesabaran ku habis!" ketus Riuga yang sudah gregetan melihat kelakuan wanitanya itu.


Tata bermaksud berlari menuju kamar mandi untuk menghindari Riuga. Namun sayang Riuga lebih cekatan, sehingga bisa menangkapnya sebelum wanita itu berhasil melarikan diri.


"Sudah terlambat, Tata. Aku tidak menginginkan handuk itu lagi! Kau sudah melihatku seperti ini, kau juga harus bertanggungjawab untuk itu!" bisik Riuga tepat di telinga wanitanya.


Riuga menggendong tubuh Tata dan membaringkannya di atas tempat tidur. Perlahan Riuga mulai naik dan menindih tubuh wanita cantiknya itu, hingga Tata kesulitan untuk bergerak.


"Apa yang ingin kau lakukan, Riu? Ingat, aku ini adalah adikmu, tidak boleh melakukan hal ini kepada adik sendiri!" ucap Tata sembari menahan dada Riuga yang semakin menempel ke tubuhnya.


"Kenapa memangnya kalau kau adikku? Kita tidak dilahirkan dari Ibu yang sama, Ayah kita juga berbeda kan? Jadi, tidak ada salahnya jika aku melakukannya pada adikku yang satu ini!" ucap Riuga sembari tersenyum dan mengecup bibir Tata dengan lembut.


"Bukankah tadi kau sendiri yang bilang, kalau kau hanya menganggap ku sebagai adik! Kalau begitu, biarkan hubungan kita ini hanya sebatas kakak dan adik saja! Jangan melakukan hal seperti ini lagi padaku, aku mohon! Hiks... Hiks..."


Tata menangis dibawah tubuh laki-lakinya itu. Ucapan Riuga tadi benar-benar membuat hatinya hancur berkeping-keping.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Riuga yang tidak menyadari kalau ucapannya tadi sudah menyakiti hati wanitanya.


Laki-laki tampan itupun beranjak dari atas tubuh Tata. Dia berbaring di sebelah wanita cantiknya tanpa rasa malu sedikitpun telah memperlihatkan sesuatu yang menonjol di area terlarangnya.


"Kenapa sikapmu selalu berubah-ubah padaku, kau anggap apa aku ini? Terkadang kau membuatku begitu bahagia, seakan-akan aku ini adalah satu-satunya wanita yang sangat kau cintai. Hari ini kau mengganggap ku hanya sebagai seorang adik. Kenapa kau menyakitiku seperti ini? Hiks... Hiks..."


Tata bangkit dari atas tempat tidur dan menjuntaikan kakinya di ujung kasur. Wanita cantik itu tak henti-hentinya meneteskan air mata hingga terisak-isak tak menentu.


"Maafkan aku Tata, aku tidak bermaksud menyakitimu! Aku tidak sanggup lagi menahan perasaan ini!" ucap Riuga yang juga ikut bangkit dan memeluk tubuh Tata dari arah samping.


Tata melepaskan tangan Riuga yang sedang melingkar di pinggangnya. Wanita itu langsung beranjak dari tempat duduknya. Bukannya menghindar, Tata malah duduk di pangkuan Riuga yang hanya menggunakan segitiga biru. Tata juga tidak segan-segan mengalungkan tangannya di leher laki-laki tampan itu.


"Aku tidak mau menjadi adikmu, Riu? Hiks... Hiks..." ucap Tata dengan tatapan menuntut sesuatu.


"Apa maksudmu, Tata?" tanya Riuga dengan tatapan heran.


"Aku mencintaimu, Riu!" sahut Tata yang semakin merapatkan tubuhnya ke dada Riuga yang tidak mengenakan apa-apa itu.


"Apa...? Kau bercanda?" tanya Riuga dengan tatapan yang sangat tajam.


"Tidak, aku serius!" sahut Tata sembari mengecup bibir Riuga dengan lembut.


Tanpa ragu, Tata dengan leluasanya melahap bibir laki-lakinya itu. Tata ********** tanpa perasaan canggung sedikitpun. Riuga hanya terpaku menikmati setiap sentuhan bibir Tata yang terasa lebih liar dari sebelumnya.


"Tunggu, Tata! Apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Riuga sembari menghindar dari serangan Tata.


Tata tidak bersuara sedikitpun, wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dan menenggelamkan bibirnya tepat di leher Riuga.


Perlahan, lidah Tata mulai menari-nari di leher laki-lakinya itu dan menjilatinya penuh kehangatan. Tata bahkan sampai menggigit leher Riuga saking tergoda nya melihat keindahan yang terpampang nyata didepan matanya itu.

__ADS_1


Riuga sampai tak berkutik sedikitpun menerima serangan fajar dari wanitanya. Tata benar-benar membuat tubuh Riuga menegang dan kepanasan. Tanpa disadari, tiba-tiba terjadi pergerakan dari bagian bawah sana yang tertutup segitiga itu.


Merasa ada yang mengganjal di bagian pahanya, Tata pun menghentikan aksinya dan membelalakkan matanya melihat sesuatu yang sudah menunjuk kearahnya itu.


__ADS_2