
Tidak terasa malam berlalu begitu cepat, mentari pagi pun mulai muncul dari ufuk timur. Biasan kilau cahayanya sudah meniti masuk melalui sela-sela jendela kamar.
Tata tersentak karena silau di pelupuk matanya. Wanita cantik itu mengucek kedua matanya dan membukanya secara perlahan.
Sesaat bola mata indah itupun tertuju pada sosok laki-laki tampan yang tertidur pulas dengan wajahnya yang begitu polos.
Tata tersenyum dan tak putus-putus memandangi keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang satu itu.
"Kenapa kau begitu baik padaku, Riu? Apa kau benar-benar mencintaiku?" batin Tata sembari menyentuh wajah Riuga dengan lembut.
Sentuhan dari Tata itu ternyata dirasakan oleh Riuga. Sesaat netra laki-laki tampan itu terbuka lebar dan menatap sendu ke wajah wanita cantik yang berada begitu dekat dengan wajahnya.
Melihat Riuga membuka kedua matanya, Tata pun dengan cepat menjauhkan tangannya dari wajah laki-laki yang sudah mencuri perhatiannya itu.
"Sayang, kamu sudah bangun?" sapa Riuga sembari menarik tubuh Tata ke dekapannya.
"Lepaskan aku, Riu! Apa yang kau lakukan?" ketus Tata yang sudah berada di atas tubuh Riuga.
"Kenapa menyentuhku secara diam-diam, sayang? Kau bisa melakukannya kapan saja, kenapa harus sembunyi-sembunyi seperti tadi?" ucap Riuga sembari tersenyum dan mengalungkan tangannya di pinggang wanita cantik itu.
"Ti... Tidak, aku tidak menyentuhmu Riu!" sahut Tata tersipu malu.
"Jangan bohong! Bibir manis mu ini bisa saja mengelabui ku, tapi tidak dengan bola matamu yang indah ini." ucap Riuga yang membuat Tata semakin salah tingkah.
"Sudahlah Riu, lepaskan aku! Aku mau mandi dulu dan menikmati udara segar diluar sana!" sahut Tata mengalihkan perhatian Riuga.
"Kenapa terburu-buru sayang? Kau masih punya hutang padaku!" ucap Riuga yang masih penasaran dengan kejadian semalam.
"Hutang apa? Kapan aku meminjam uangmu?" tanya Tata dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Bukan hutang uang sayang, tapi hutang penjelasan!" ucap Riuga sembari menempelkan hidungnya ke hidung Tata.
__ADS_1
Perlakuan Riuga itupun membuat Tata tak sanggup menahan dirinya. Deru nafas Riuga yang sudah memburu, terasa begitu nyata di wajah wanita cantik itu yang membuat jantungnya berdetak sangat kencang.
"Apa kau benar-benar ingin tau?" tanya Tata sembari meletakkan tangannya di wajah Riuga.
"Tentu saja, jangan membuatku gila, Tata! Kau benar-benar sudah mempermainkan hatiku." ucap Riuga yang sudah dikuasai hasrat di jiwanya.
"Salahmu sendiri, kenapa kau mengakui aku sebagai istrimu kepada wanita semalam?" ucap Tata dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Kau mendengarnya?" tanya Riuga dengan wajah memerah karena malu.
"Iya, aku mendengar semuanya dengan jelas. Tidak ku sangka, kau terlalu percaya diri mengatakan kepada orang lain kalau aku ini adalah istrimu. Kapan aku mengatakan kalau aku mau jadi istrimu?" ucap Tata yang membuat Riuga sedikit kecewa dan segera melepaskan pelukannya.
Riuga melepaskan tangannya dari pinggang Tata dan menggeser tubuh wanita yang menindihnya itu ke sebelahnya. Laki-laki sensitif itupun bangkit dan bergegas masuk kedalam kamar mandi.
Dengan raut wajah penuh kekecewaan Riuga berdiri dibawah shower dan mengguyur tubuhnya sembari mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Kenapa aku menjadi bodoh seperti ini? Jelas-jelas dia tidak menginginkanku, kenapa aku malah semakin memaksakan diri untuk memilikinya?" batin Riuga dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Selesai mandi, Riuga keluar dengan tampang yang terlihat begitu dingin. Laki-laki itu bahkan tidak berucap sepatah katapun.
"Mandilah, setelah itu sarapan! Kita akan segera kembali. Aku akan mengantarmu pulang dan kau bisa kembali lagi ke kehidupanmu sebelumnya." ucap Riuga tanpa melihat Tata sedikitpun.
"Riu, ada apa denganmu? Kenapa kau jadi dingin seperti ini padaku?" tanya Tata yang semakin kebingungan.
Riuga bahkan tidak menjawab pertanyaan Tata. Laki-laki yang sudah terlanjur kecewa itupun memilih untuk kembali ke sikap asalnya. Dia tidak ingin semakin larut dalam perasaan yang sudah terlalu besar terhadap Tata.
Riuga dengan sigap mengenakan pakaiannya dan melangkah meninggalkan kamar. Laki-laki gagah itu pergi tanpa pamit kepada wanitanya yang masih terpaku di atas tempat tidur.
Melihat sikap Riuga, Tata pun tak bisa melakukan apa-apa untuk membujuk laki-laki keras kepala itu. Tata sudah sangat mengenali sifat laki-laki tampan yang sangat sulit untuk ditebak itu.
Tata masuk kedalam kamar mandi dengan raut wajah penuh tanda tanya. Sementara itu, Riuga berjalan ke tepi pantai dan duduk tepat dibawah pohon kelapa.
__ADS_1
Tidak terasa, butiran bening itupun jatuh membasahi pipi tampan laki-laki yang sedang patah hati itu.
"Apa salahku, kenapa semua orang yang aku cintai pergi meninggalkanku? Bahkan satu-satunya wanita yang aku cintai, tidak pernah menganggap diriku ada. Apa mencintai seseorang harus sesakit ini?" gumam Riuga berderaian air mata.
Riuga menyandarkan punggungnya di batang pohon kelapa dan menatap jauh ke hamparan air laut yang membentang luas didepan matanya.
Bayangan kedua orang tuanya pun mulai menari-nari di kelopak matanya.
"Riu sayang, kau harus kuat Nak! Hidup ini memang tidak seindah yang kita bayangkan! Ingat, kau masih punya Adelia. Dia masih sangat membutuhkan dirimu, sayang. Jangan menyerah, Mama dan Papa sudah bahagia di sisi Tuhan."
"Mama...!"
Riuga tersentak dari lamunannya dan berteriak histeris memanggil Mamanya yang sudah tenang di alam sana. Wajah tampan Riuga pun seketika berubah menjadi pucat sembari terus meneteskan air matanya.
"Hiks... Hiks... Hiks..."
"Maafkan Riu, Ma! Riu ternyata tidak sekuat itu. Hati dan perasaan Riu sakit sekali, Ma! Kenapa rasa cinta ini begitu menyiksa? Riu juga ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai. Dosa apa yang sudah Riu lakukan, sehingga cobaan ini terus saja menghantui hidup Riu? Dari kecil hingga saat ini Riu selalu merasa kesepian. Tidak ada seorang pun yang bisa mengerti dengan perasaan ini!"
Riuga terus saja bergumam tanpa berhenti mengeluarkan air matanya sembari memukulkan kepalanya ke batang pohon kelapa berulang-ulang kali.
Tanpa Riuga sadari, ternyata Tata sudah berdiri tidak jauh darinya dan terkejut melihat Riuga yang sedang menyakiti dirinya sendiri.
"Riu, apa yang sedang kau lakukan?" teriak Tata sembari berlari menghampiri Riuga yang masih memukulkan kepalanya ke batang pohon kelapa.
Tata menahan kepala laki-lakinya itu dan memeluk nya dengan kuat.
"Lepaskan aku, Tata! Pergilah dari hadapanku!" bentak Riuga yang tidak menginginkan kehadiran wanitanya itu.
"Sadar Riu, apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?" ketus Tata yang tidak mengerti dengan keanehan laki-lakinya itu.
"Pergilah Tata, aku mohon! Biarkan aku sendiri, jangan membuatku semakin sakit menanggung ini semua." ucap Riuga berlinangan air mata.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sebenarnya, Riu? Jangan membuatku khawatir seperti ini!" ucap Tata sembari terus memeluk Riuga dengan erat.
"Jangan seperti ini, Tata! Tolong, tinggalkan aku sendiri! Semakin kau mendekatiku, semakin sulit bagiku untuk melepaskan mu. Jangan menghukum ku seberat ini!" ucap Riuga yang sudah mulai kehilangan suaranya.