Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Rencana


__ADS_3

Tidak berselang lama, Tata dan Adelia turun dari lantai atas. Mereka berdua terlihat begitu cantik, hingga Riuga tak bisa berkedip sedikitpun menatap dua wanita kesayangannya itu.


Tata๐Ÿ‘‡



Adelia ๐Ÿ‘‡



"Ya Tuhan, mereka ini manusia atau bidadari sih?" batin Soni yang saat itu tengah berdiri di samping Riuga.


Riuga mengayunkan kakinya menghampiri dua wanitanya itu. Tanpa berucap sepatah katapun, Riuga langsung berdiri diantara Tata dan Adelia. Hanya guratan senyum yang mampu melukiskan bagaimana bahagianya Riuga saat ini.


"Sudah siap?" ucap Riuga yang masih terpesona melihat kecantikan calon istrinya.


"Sudah Kak, bagaimana penampilan kami?" tanya Adelia dengan polosnya.


"Cantik sekali, sayang!" sahut Riuga sembari mengecup kening adik perempuannya.


Mendengar pujian dari kakaknya, Adelia langsung tersenyum dan melangkahkan kakinya lebih dulu menuju mobil yang sudah menunggu mereka didepan istana.


Melihat Adelia yang sudah menjauh, Soni pun ikut menyusul. Asisten pribadi Riuga itu tidak ingin mengganggu Tuannya yang tengah berbunga-bunga di hadapan wanitanya.


Riuga menatap Tata yang terlihat begitu sempurna di matanya. Laki-laki itu tak sanggup lagi menahan perasaannya. Tanpa malu, Riuga langsung mengecup bibir Tata dengan lembut.


"Mm... Riu, apa yang kau lakukan?" ketus Tata sambil mendorong tubuh calon suaminya dengan kuat.


"Aku sungguh tidak tahan, sayang! Kau begitu menggoda." bisik Riuga sembari menjulurkan lidahnya ke kuping Tata.


"Jangan Riu!" sahut Tata sembari mengangkat sepasang bahunya menahan geli.


"Ya sudah, ayo jalan. Tapi, nanti malam tidur bersamaku ya!" ucap Riuga sembari menggenggam tangan wanitanya dengan erat.


"Tidak mau, kau nakal!" bisik Tata tersenyum malu sembari mengikuti langkah kaki calon suaminya.


"Tapi aku kan nakalnya hanya padamu, sayang?" sahut Riuga dengan tatapan yang tak biasa.


"Mana aku tau, aku bukan pengawal pribadimu yang bisa mengikuti mu selama 24 jam!" ucap Tata yang membuat langkah kaki Riuga terhenti seketika.


"Kau curiga padaku? Kalau begitu, mulai besok kau harus selalu ikut denganku kemanapun aku pergi!" sahut Riuga yang tidak ingin ada kesalahan pahaman diantara mereka.


"Sudahlah Riu, Adelia sudah menunggu kita!" ucap Tata mengalihkan pembicaraan mereka.


"Baiklah, tapi nanti kita bicarakan lagi!" sahut Riuga yang kembali melanjutkan langkahnya.


Sesampainya didepan istana, Riuga dan Tata duduk di bangku belakang. Sementara Adelia duduk di samping Soni yang bertugas menyetir mobil. Mobil mewah itupun melaju meninggalkan kediaman Riuga.


"Kita mau kemana, Tuan?" tanya Soni yang belum tau arah tujuan mereka sebenarnya.

__ADS_1


"Mampir dulu ke tempat Jimmy!" ucap Riuga dengan santainya.


"Baik, Tuan!" sahut Soni yang tengah fokus menyetir mobilnya.


Adelia yang duduk di depan, tidak menghiraukan siapapun. Gadis cantik itu hanya fokus pada layar ponselnya sembari senyum-senyum sendiri menahan gelak tawanya.


Sementara dibelakang sana, Riuga tengah bucin-bucinnya terhadap Tata. Laki-laki batu itu tidak merasa malu sedikitpun menyandarkan kepalanya ke pundak Tata.


Sesekali Riuga mengecup pundak wanitanya yang terbuka itu sembari melingkarkan tangannya di perut Tata.


"Riu, jangan begini ih! Malu tau." bisik Tata tepat di telinga laki-lakinya.


"Diamlah, sayang!" sahut Riuga yang semakin mempererat pelukannya.


Riuga bahkan tidak malu mengelus-elus perut datar Tata dengan telapak tangannya. Pikiran laki-laki itu sejenak berlayar membayangkan bocah kecil yang akan tumbuh didalam rahim wanita yang sangat dia cintai itu.


"Sayang, kamu mau punya anak berapa?" tanya Riuga dengan polosnya.


Ucapan Riuga itu sontak saja membuat Soni dan Adelia terkejut bukan main. Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan raut wajah terlihat bingung.


Mengetahui reaksi dua manusia di depannya, Riuga kemudian menaikkan sebelah bibirnya tanpa menghiraukan mereka sama sekali.


"Riu, apa maksudmu? Kita ini belum menikah, kenapa membicarakan masalah anak?" ketus Tata yang merasa malu mendengar celetukan Riuga.


"Kita memang belum menikah, tapi kita akan segera menikah kan? Jadi, apa salahnya membahas itu sekarang?" ucap Riuga yang membuat pipi Tata memerah seketika.


Mendengar ucapan Riuga, Soni dan Adelia kembali saling menatap satu sama lain. Mereka berdua merasa geli hingga tak sanggup lagi menahan tawa yang terasa menggelitik di perut mereka masing-masing.


Tidak tahan mendengar cekikikan dua orang itu, Tata pun ikut tertawa sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Hei, kenapa kalian semua menertawakan aku?" ketus Riuga yang tidak menyadari kalau kepolosannya itu telah mempermalukan dirinya sendiri.


"Tidak Tuan, kami tidak menertawakan mu!" sahut Soni menahan tawanya.


"Awas ya kalian. Dan kau Soni, bulan ini kau tidak akan menerima bonus dariku!" ketus Riuga yang merasa kesal dengan cemoohan asisten pribadinya itu.


Mendengar ancaman dari mulut Riuga, Soni langsung terdiam dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Jangan begitu Riu, kau tidak kasihan pada Soni!" sambung Tata menjinakkan hati Riuga.


"Siapa suruh dia mengolok-olok ku?" sahut Riuga dengan datarnya.


"Tidak Riu, tidak ada yang mengolok-olok mu! Kami hanya terkejut, Riuga yang keras sepertimu bisa berucap seperti tadi!" ucap Tata sembari menyentuh pipi Riuga dengan lembut.


Mendapat sentuhan yang begitu hangat dari tangan wanitanya, Riuga pun kembali tersenyum dan menatap Tata dengan intens.


Tata mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi laki-lakinya itu dengan lembut.


"Sudah, jangan marah lagi! Kami hanya bercanda." ucap Tata dengan senyum yang sangat manis.

__ADS_1


Siapa sangka, kelembutan Tata itu ternyata mampu meruntuhkan kerasnya baja yang bersemayam didalam hati Riuga.


Tanpa sungkan, Riuga langsung melahap bibir Tata yang sedari tadi sudah mengganggu konsentrasinya. Melihat kelakuan Riuga yang tidak kenal tempat itu, Tata pun dengan cepat mengalihkan wajahnya.


*****


"Tuan, kita sudah sampai!" ucap Soni yang masih terlihat murung.


"Ayo turun!" sahut Riuga sembari menggenggam tangan wanitanya turun dari mobil.


Sesaat, pandangan mata Tata terpaku melihat tempat yang tengah mereka kunjungi.


"Tempat apa ini, Riu!" tanya Tata yang masih mematung.


"Ini butiknya Kak Jimmy, teman Kak Riu saat kuliah dulu!" sahut Adelia menjelaskan pada calon kakak iparnya.


"Untuk apa kita kesini?" tanya Tata yang masih kebingungan.


"Tentu saja memesan baju untuk pernikahan kita!" sahut Riuga dengan santainya.


"Apa???"


"Kalian masuk lah dulu!" ucap Riuga kepada Soni dan Adelia.


Mengerti dengan maksud Riuga, Soni dan Adelia pun segera melangkah meninggalkan mereka berdua dan masuk lebih dulu kedalam butik.


"Kau masih ragu padaku?" tanya Riuga dengan tatapan sedikit kecewa.


"Tidak Riu, bukan begitu! Kenapa secepat ini?" tanya Tata yang masih terlihat kebingungan.


"Cepat atau lambat, sama saja kan? Kecuali kalau kau tidak menginginkan pernikahan ini!" ucap Riuga sembari memalingkan wajahnya.


Pelan-pelan Riuga memutar tubuhnya dan membelakangi Tata. Netranya mulai berbinar menahan air mata yang sudah tergenang di kelopak matanya.


Laki-laki itu menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. Sebelah tangannya mulai bergerak mengusap wajahnya yang sudah kecewa melihat ekspresi wanitanya.


"Masuklah kedalam mobil, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi!" ucap Riuga yang kembali masuk kedalam mobilnya.


Melihat ekspresi Riuga, Tata pun bergegas masuk kedalam mobil dan duduk di pangkuan laki-lakinya itu. Tata juga mengalungkan tangannya di leher Riuga sembari mendekatkan bibirnya ke wajah Riuga.


"Riu, jangan begini! Siapa bilang aku tidak ingin menikah denganmu? Aku juga ingin, sayang." ucap Tata sembari menempelkan bibirnya ke bibir Riuga.


"Benarkah?"


"Iya sayang, maafkan aku! Tadi itu aku hanya sedikit kaget." ucap Tata dengan senyuman yang terlihat begitu manis.


Setelah mendengar ucapan Tata, Riuga pun tak kuasa menahan dirinya. Dengan cepat laki-laki tampan itu membungkam bibir Tata dan mengulumnya penuh hasrat. Riuga juga menari-narikan lidahnya dan menghisapnya dengan buas.


"Maafkan aku, aku terlalu takut kehilanganmu!" ucap Riuga setelah melepaskan ciuman mereka.

__ADS_1


"Aku tau, aku juga tidak ingin kehilangan dirimu! Ayo turun, mereka sudah menunggu kita!" ucap Tata yang mulai bangkit dari pangkuan Riuga.


Mereka berdua akhirnya turun dengan senyuman yang masih mengambang di wajah masing-masing. Tata kemudian melingkarkan tangannya di lengan Riuga dan mereka pun melangkah kearah pintu masuk butik.


__ADS_2