Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Nyoblos Lagi


__ADS_3

Setelah semuanya masuk ke dalam kamar masing-masing, Riuga kemudian kembali ke kamarnya untuk menemui Tata yang sempat merajuk ulah perkataan Febri tadi.


Riuga membuka pintu kamarnya, dia melangkah dengan pelan dan menutup kembali pintu kamarnya itu dan segera menguncinya.


Laki-laki tampan itu berjalan ke arah tempat tidur dan mendapati istrinya yang tengah tertidur dalam posisi miring.


Riuga naik ke atas tempat tidur dan bersandar di kepala ranjang. Dia kemudian menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.


"Sayang, apa kamu marah padaku karena ucapan Febri tadi?" tanya Riuga sembari memeluk tubuh Tata dari arah belakang.


Tata tidak menjawab pertanyaan suaminya. Dia sengaja berpura-pura tidur agar Riuga merasa bersalah atas kejadian di bawah tadi.


"Sayang, jangan marah dong. Febri kan hanya bercanda, kenapa kamu malah melampiaskannya padaku?" ucap Riuga penuh kekecewaan.


Tata kemudian membuka matanya dan tersenyum saat mendengar ucapan suaminya. Namun mulutnya masih saja enggan untuk menyahut ucapan Riuga.


"Ya sudah, aku tidur di luar saja. Percuma juga tidur di sini, istri sendiri saja tidak mau menatap wajah suaminya!" ucap Riuga sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Tata.


Riuga tentunya tidak mau kalah dengan istrinya yang merajuk tanpa alasan yang jelas. Dia bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke arah pintu.


Namun tiba-tiba saja langkah Riuga langsung terhenti saat Tata memanggilnya dengan lantang.


"Riu, kamu mau kemana?" teriak Tata.


Riuga yang tadinya sempat kesal melihat Tata, akhirnya bisa tersenyum kembali. Namun dia sengaja berpura-pura tidak mendengar agar istrinya menghentikan langkahnya dengan pelukan, bukannya dengan suara semata.


Riuga kembali melanjutkan langkahnya dan membuka kunci pintunya tanpa menghiraukan Tata yang sudah bangkit dari tempat tidur.


"Sayang jangan pergi, aku takut tidur sendiri!" ucap Tata sembari berlari mengejar Riuga.


Tata memeluk tubuh Riuga dari belakang, dia menggigit punggung suaminya karena kesal melihat Riuga yang sengaja mengabaikan dirinya.


"Awh, sakit sayang!" ketus Riuga.


"Siapa suruh mengabaikan aku, apa kamu sudah bosan tidur bersamaku?" bentak Tata dengan wajah cemberutnya.


Riuga mengunci pintunya kembali dan segera membalikkan tubuhnya. Dia pun tersenyum saat melihat wajah istrinya yang sudah berubah drastis.


"Kenapa menahan ku untuk tetap di sini, bukankah kamu sendiri yang lebih dulu mengabaikan aku?" tanya Riuga.


Riuga melingkarkan tangannya di pinggang Tata dan menarik tubuh Tata hingga menempel ke tubuhnya.

__ADS_1


"Tidak sayang, aku hanya bercanda. Maafkan aku!" sahut Tata.


"Tidak semudah itu meminta maaf padaku, kamu harus di hukum terlebih dahulu!" ucap Riuga dengan senyum sinis nya.


"Hukuman apa?" tanya Tata dengan polosnya.


Riuga tidak menjawab pertanyaan Tata, dia malah langsung mengecup bibir istrinya itu dan melahap nya dengan penuh nafsu.


"Uhm..."


"Kamu mau ngapain sayang?" tanya Tata sembari memalingkan wajahnya.


Riuga lagi-lagi tidak mau menjawab pertanyaan Tata. Dia kemudian menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke atas tempat tidur.


Riuga membaringkan tubuh Tata dan merangkak naik menindih tubuh istrinya yang hanya menggunakan lingerie berwarna kuning yang transparan.


"Karena kamu sudah membuatku marah, malam ini aku tidak akan membiarkan kamu tidur begitu saja!" ucap Riuga dengan tatapan penuh hawa na*su.


"Jangan sayang, bukankah tadi malam kita baru saja melakukannya?" sahut Tata dengan wajah paniknya.


"Aku menginginkannya setiap malam, apa kamu keberatan?" tanya Riuga.


Riuga tidak mau mendengarkan alasan istrinya dan langsung melahap bibir Tata dengan rakus. Bibir mereka berdua kemudian saling bertautan dan saling meluma* satu sama lain.


Riuga semakin memperdalam luma*annya saat Tata sudah mulai merespon permainan suaminya. Lidah mereka pun saling menyerang satu sama lain dan bermain-main di dalam mulut masing-masing.


Tata kemudian memalingkan wajahnya saat dirinya sudah tidak sanggup lagi menahan nafasnya yang mulai terasa sesak. Deru nafas mereka pun terdengar sahut menyahut saking sesaknya.


Riuga mengecup kening Tata dan turun menjelajahi leher istrinya yang putih bersih. Dia mengecup setiap inci bagian leher istrinya dan menjilatinya dengan nafas yang terdengar memburu. Tak lupa juga Riuga membuatkan tato merah sebagai tanda kepemilikannya.


Tata tampak memicingkan kedua matanya sembari mengerang menahan rasa geli yang menggerayangi bagian sensitif nya.


"Akhh..."


Erangan manja Tata membuat Riuga semakin terbakar api ga*rah dan bergegas melucuti pakaian yang dia kenakan. Dia juga melucuti pakaian istrinya hingga tak ada sehelai benang pun yang tersisa di tubuh mereka berdua.


Tata membuka matanya kembali dan tertegun menatap senjata Riuga yang sudah siap bertempur menghadapi lawannya.


Begitupun dengan Riuga yang tampak tengah menelan air liurnya melihat panorama indah yang terpampang di depan matanya.


Tanpa menunggu lama, Riuga langsung menenggelamkan wajahnya di bakpao kembar milik istrinya yang tampak bulat berisi.

__ADS_1


Riuga meremas bakpao kembar itu dengan jari jemarinya dan menjilati bola coklat yang tengah menegang itu dengan lidahnya. Dia kemudian memainkan bola coklat itu dan menggigitnya dengan perlahan.


Permainan liar Riuga itu seketika membuat tubuh Tata menggeliat geli, Tata bahkan sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak bersuara. Desa*an demi desa*an pun keluar dari mulutnya yang membuat Riuga semakin tak kuasa menahan ga*rahnya yang sudah semakin memuncak.


"Akhh..."


Puas memainkan bakpao kembar milik istrinya, Riuga kemudian semakin turun dan menekuk kaki istrinya. Panorama dengan rerumputan itupun tampak begitu menggoda di mata Riuga.


Riuga menelan air liurnya dan segera menenggelamkan wajahnya sembari bermain-main dengan lidahnya untuk menyirami taman bermain yang baru sekali dia kunjungi itu.


Sentuhan liar dari lidah Riuga itupun membuat tubuh Tata menggeliat dan bergetar berulang-ulang kali.


"Akhh... Ukhh..."


Tata benar-benar dibuat melayang menikmati permainan gila suaminya itu. Tata bahkan sampai berteriak saat merasakan panas yang berasal dari aset berharganya itu.


"Sayang, akhh..."


Tata tampak lemas setelah berkali-kali merasakan sensasi yang luar biasa di tubuhnya. Wajahnya terlihat memerah mengeluarkan sesuatu yang membuat Riuga tersenyum sumringah.


Riuga bahkan tidak merasa jijik saat meneguk sesuatu yang sudah membasahi permukaan bibirnya itu.


Sadar akan reaksi istrinya, Riuga akhirnya menghentikan kegilaannya dan bergegas menempatkan senjatanya pada aset pribadi milik istrinya itu.


Perlahan Riuga mulai mengayunkan tubuhnya dengan gerakan mondar-mandir seperti orang yang sedang kebingungan memikirkan sesuatu.


Tata bahkan sampai mendesa* tiada henti menikmati serangan mematikan dari suaminya itu. Begitupun dengan Riuga yang mulai mengeluarkan suaranya menikmati permainan mereka.


"Akhh... Ukhh... Akhh..."


Seketika kamar mereka pun bergema memantulkan suara desa*an demi desa*an yang keluar dari mulut mereka berdua.


Setelah cukup lama berjibaku dalam peperangan panas itu, lumpur vanilla itupun menyembur dengan derasnya yang membuat Riuga mengerang begitu dahsyat.


"Akhh..."


Riuga tersungkur di atas tubuh istrinya dan menempelkan wajahnya di belahan bakpao kembar milik Tata. Begitupun dengan Tata yang akhirnya terkulai lemas sembari mengusap kepala Riuga dengan lembut.


Setelah cukup lama terdiam dalam posisi tersebut, Riuga kemudian beranjak dari tubuh Tata dan berbaring tepat di sebelah istrinya itu.


Riuga mengecup kening Tata dan tersenyum setelah mendapatkan kepuasan dari istrinya itu. Dia kemudian memeluk tubuh Tata dan terlelap sambil berpelukan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2