Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Titik Terang


__ADS_3

Riuga dan Tata sudah lebih dulu tiba di dalam ruang rapat. Mereka duduk berdampingan karena Riuga tidak ingin berjauhan dengan istri cantiknya itu.


Tidak berselang lama, pintu ruangan itupun terbuka dengan lebar dan masuklah Soni bersama dua orang laki-laki yang bertugas menangani proyek yang akan mereka bicarakan.


Tata mulai terlihat gugup, matanya terus saja memperhatikan dua orang laki-laki asing itu dengan seksama. Namun pandangannya kemudian teralihkan saat Riuga mulai menggenggam tangan istrinya itu dengan erat.


"Silahkan duduk!" ucap Riuga dengan santainya.


"Terima kasih," sahut Abrar sembari menarik salah satu kursi yang ingin dia duduki.


Abrar dan rekannya terlihat biasa-biasa saja di depan Riuga. Tidak ada sedikitpun hal mencurigakan yang tampak dari raut wajah laki-laki gagah itu.


"Maaf sebelumnya, saya datang ke sini hanya sebagai perwakilan saja. Pemilik HVN Grup berhalangan hadir sehingga saya lah yang ditugaskan menggantikan beliau!" ucap Abrar dengan begitu santai.


"Baiklah, tidak masalah. Jadi apa tujuan anda sebenarnya datang ke sini?" tanya Riuga yang tidak ingin berbasa-basi.


"Sesuai arahan dari atasan saya, di sini ada beberapa berkas kerja sama yang ingin beliau realisasikan dengan perusahaan ini. Tuan bisa mempelajarinya terlebih dahulu!" sahut Abrar sembari memberikan beberapa berkas yang dia bawa ke tangan Riuga.


Dengan tatapan yang sulit dimengerti, Riuga bergegas mengambil berkas tersebut dan membukanya bersama Tata. Benar saja, mata Riuga tampak membesar setelah membaca beberapa isi berkas itu dan mulai memahami maksud perusahaan itu mengajukan kerja sama dengan Riuga Grup.


"Tidak buruk, tapi kami butuh sedikit waktu untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu!" ucap Riuga dengan tatapan penuh keseriusan.


"Tidak masalah, kami siap menunggu jawaban dari Tuan. Mungkin dalam 3 hari ini kami akan tetap berada di kota ini. Saya harap sebelum kami kembali ke kota P, Tuan sudah memberikan jawabannya!" sahut Abrar.


"Baiklah, besok siang kita bisa bertemu di luar kantor sembari menikmati makan siang. Mungkin akan ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan sebelum memutuskan kerja sama ini!" ucap Riuga dengan tatapan menyelidik.


"Sesuai keinginan Tuan saja, kalau begitu kami permisi dulu. Masih ada urusan yang harus saya selesaikan!" sahut Abrar sembari bangkit dari tempat duduknya.


Abrar dan rekannya menyalami Riuga dan Soni secara bergantian. Raut wajah mereka sama sekali tidak memperlihatkan keanehan sedikitpun yang membuat Riuga mulai bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya.


"Soni, tolong antarkan mereka ke bawah!" perintah Riuga.


"Baiklah Tuan," sahut Soni.

__ADS_1


Soni bangkit dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan ruang rapat. Dia masuk ke dalam lift bersama dua orang itu dan mengantarkan klien misterius itu sampai ke parkiran kantor.


Sementara itu Riuga dan Tata masih berdiam diri di dalam ruang rapat sembari membolak-balikkan berkas yang ada di tangan mereka.


"Apa yang terjadi sayang, kenapa kamu malah mengulur-ngulur waktu?" tanya Tata mencari tau.


"Aku mengenali perusahaan ini, sepertinya yang dikatakan Malik waktu itu benar adanya. Kita harus sangat berhati-hati mengikuti permainan licik mereka!" sahut Riuga.


"Apa maksudmu sayang, aku tidak mengerti?" tanya Tata yang tampak kebingungan.


"Ini adalah perusahaan HVN Grup, aku yakin pemiliknya yang sekarang merupakan biang kerok dari semua masalah yang sudah terjadi!" sahut Riuga.


"Masalah apa sayang?" tanya Tata dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Ini adalah perusahaan Papamu yang dikembangkan oleh Papaku, aku masih mengingatnya dengan sangat baik!" sahut Riuga.


"Kamu yakin?" tanya Tata.


"Aku yakin sekali sayang, Papa sering membawaku ke perusahaan ini. Alamat yang tertera di sini juga sama persis!" sahut Riuga.


"Ayo kembali ke ruangan kita dulu, aku akan menghubungi Malik!" ajak Riuga.


Riuga bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Tata menuju ruangannya. Dia merasa seperti mendapatkan sebuah petunjuk yang selama ini dia cari-cari.


Tidak lama setelah Riuga dan Tata sampai di ruangannya, Soni pun muncul dari balik pintu untuk menemui mereka berdua.


"Boleh aku masuk?" tanya Soni yang tidak mengetuk pintu sama sekali.


"Kebetulan sekali kau datang, masuklah!" sahut Riuga dengan tatapan menakutkan.


"Apa yang terjadi, kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Soni yang mulai gelisah melihat tatapan Riuga.


"Cepat hubungi Malik, aku ingin bertemu dengannya sekarang juga!" perintah Riuga.

__ADS_1


"Ok baiklah," sahut Soni sembari merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya.


Soni berjalan ke arah sofa sembari menghubungi ponsel Malik. Raut wajahnya terlihat semakin gelisah saat Malik tak kunjung menerima panggilan teleponnya.


"Angkat Malik, jangan membuatku menjadi sasaran empuk laki-laki monster itu!" batin Soni sembari melirik ke arah Riuga.


Soni terus saja mengotak-atik ponselnya berulang-ulang kali untuk menghubungi Malik. Dia tau sekali kalau Riuga tidak suka menunggu lama jika ada hal yang mendesak seperti saat ini.


"Kenapa lama sekali?" bentak Riuga yang sudah mulai terlihat emosi.


"Tunggu sebentar, dia belum menjawabnya!" sahut Soni.


"Sabar sedikit sayang, jangan marah-marah begitu!" sambung Tata yang juga mulai takut melihat ekspresi wajah suaminya.


Tata menghampiri suaminya dan berdiri di belakang tempat duduk Riuga. Dia kemudian mengalungkan tangannya di leher suaminya itu sembari mengusap dada Riuga dengan pelan.


Riuga yang tadinya sudah seperti macan kelaparan, seketika mulai mencair setelah mendapatkan sentuhan lembut dari tangan istrinya.


"Halo Soni, ada apa?" tanya Malik yang baru saja menjawab panggilan telepon dari Soni.


"Kau ini kemana saja, cepatlah kemari. Riuga ingin bertemu denganmu!" ketus Soni dengan nada suara terdengar sedikit kasar.


"Aku baru saja bangun. Setengah jam lagi aku akan sampai di sana, tunggulah sebentar!" sahut Malik yang ternyata sedang berada di sebuah hotel bersama seorang wanita.


Malik bergegas mematikan sambungan teleponnya, dia bangkit dari tempat tidur dan bergegas melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tidak memakan waktu lama, Malik pun keluar dari kamar mandi dan bergegas mengenakan pakaiannya.


"Kau mau kemana?" tanya wanita cantik yang ternyata adalah kekasih dari laki-laki tampan itu.


"Ada urusan sebentar, mandilah dan pulang ke rumah. Setelah urusanku selesai, aku akan pulang secepat mungkin!" ucap Malik sembari mengecup kening kekasihnya itu.


Malik meninggalkan kamar yang dia tempati dengan terburu-buru. Meskipun saat ini dia sudah memiliki kekasih, tetap saja urusan Riuga lah yang selalu menjadi hal utama bagi dirinya.

__ADS_1


Sementara itu di perusahaan, Riuga tampak sedang memasuki lift bersama Tata. Dia tidak ingin membuat istrinya terbebani dengan semua masalah yang baru saja memasuki kehidupan mereka. Riuga sengaja mengantarkan Tata ke ruang pribadinya agar istrinya bisa beristirahat dengan nyaman.


__ADS_2