Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Menyakitkan


__ADS_3

Ucapan yang keluar dari mulut Riuga, membuat Tata terkejut bukan main. Wanita cantik itupun semakin mengencangkan pelukannya dan mulai meneteskan air matanya di pundak Riuga.


"Apa maksudmu, Riu? Apa kau ingin melepaskan aku begitu saja?" tanya Tata yang sudah tak kuasa menahan kesedihannya.


"Maafkan aku Tata! Selama ini aku terlalu percaya diri dan berharap bisa mendapatkan cintamu. Bahkan tanpa rasa malu, aku mengakui kepada orang lain bahwa kau itu adalah istriku. Aku memang bodoh, perasaan ini benar-benar sudah membuatku gila."


Riuga mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas kelancangan nya terhadap Tata. Laki-laki tampan itupun menyadari kalau dirinya tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari wanita yang sudah pernah dia sakiti itu.


"Aku tidak ingin memaksa mu lagi, Tata! Aku sadar selama ini aku terlalu egois dan tidak pernah memikirkan perasaanmu. Kalau aku tau mencintai itu sesakit ini, aku tidak akan pernah mau merasakannya. Biar saja aku hidup dalam kegelapan seperti sebelumnya." ucap Riuga sembari melepaskan dirinya dari pelukan Tata.


"Tapi Riu..."


"Tidak apa-apa Tata, tidak perlu merasa bersalah padaku. Aku yang sudah memberikan seluruh hatiku padamu, jadi aku juga harus siap menanggung resikonya. Ada aku ataupun tidak, itu tidaklah penting. Aku hanya ingin melihat kau bahagia." ucap Riuga sembari berdiri dan melangkah meninggalkan Tata sendirian.


Riuga berjalan menuju resort tanpa menoleh kearah Tata yang sedang terduduk lesu sembari mencurahkan seluruh air matanya yang sudah tidak bisa di bendung lagi.


"Kenapa jadi seperti ini, Riu? Aku tidak bermaksud membuatmu terluka seperti ini. Aku tidak marah padamu, aku justru senang karena kau mengakui ku sebagai istrimu. Tapi kenapa susah sekali untuk menjelaskannya padamu?" gumam Tata sembari menangis tersedu-sedu.


Dengan perasaan bersalah, Tata menyeka air mata yang berjatuhan di pipinya. Wanita cantik itupun mulai mengikuti langkah kaki Riuga dari belakang.


Sesampainya di resort, Riuga memilih untuk berbaring di atas tempat tidur sembari menunggu kapal yang akan menjemput mereka berdua.


Tidak lama, Tata pun masuk kedalam kamar dan menatap kearah Riuga yang sama sekali tidak memperhatikannya.


Tata duduk di ujung kasur dan berharap Riuga akan mengatakan sesuatu kepadanya. Namun sayang, tidak ada satu katapun yang terucap dari mulut mereka berdua.


Tata akhirnya memilih untuk berpindah ke sofa dan berdiam diri tanpa bisa berkata-kata.


"Kenapa kau jadi sedingin ini, Riu? Aku sangat merindukan Riuga yang selalu bersikap manja padaku!" batin Tata yang terus menatap kearah laki-laki tampannya itu.


Tidak lama, Riuga pun bangkit dari tempur tidur dan melangkah kearah pintu. Sesaat langkah kaki Riuga terhenti dan menoleh kearah Tata yang masih berdiam diri di sofa yang ada di dekat jendela.


"Apa kau sudah sarapan?" tanya Riuga dengan tatapan yang sangat dingin.

__ADS_1


Tata sama sekali tidak menjawab pertanyaan Riuga. Wanita cantik itu hanya menundukkan kepalanya tanpa berani menatap kearah Riuga.


Melihat Tata yang hanya berdiam diri seperti kukang, Riuga pun berjalan menghampirinya.


"Kau belum sarapan kan? Ikutlah denganku!" ajak Riuga sembari mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Tata.


Laki-laki yang sudah pasrah dengan perasaannya itupun membawa Tata ke kafe tempat mereka makan tadi malam.


Mereka berdua bahkan tidak bicara sepatah katapun saat menikmati makanan yang sudah mereka pesan. Berbeda sekali dengan malam tadi yang terasa begitu hangat.


Selesai sarapan, mereka kembali kedalam kamar. Lagi-lagi mereka hanya membisu dan terlihat sangat canggung satu sama lain.


Riuga memeriksa ponselnya karena berniat untuk menghubungi Adelia, adik semata wayangnya. Namun sama seperti sebelumnya, di ponsel Riuga tidak ada jaringan sama sekali.


Riuga akhirnya memilih untuk duduk di sebelah Tata dan menatap wanita cantik itu dengan tatapan yang terlihat begitu sendu.


"Tata, siang ini kapal kita akan segera datang! Aku berharap setelah sampai di kota nanti, kau jangan membenciku ya! Walaupun tidak bisa memilikimu, setidaknya aku bisa menjadi temanmu kan?" ucap Riuga dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Tata tak mampu melanjutkan perkataannya dan langsung memeluk tubuh Riuga sembari menangis di dada laki-lakinya itu.


"Jangan menangis lagi, aku mengerti dan aku bisa memahami perasaanmu! Seperti kata pepatah, cinta itu tidak harus memiliki. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah padaku. Biarlah rasa cinta ini menghilang seiring berjalannya waktu. Entah aku sanggup atau tidak, biar waktu yang akan menjawabnya!" ucap Riuga sembari meneteskan air matanya dan mengecup kepala Tata dengan lembut.


"Riu, a... aku..."


Lagi-lagi Tata merasakan kelu di lidahnya. Tata benar-benar kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya terhadap laki-laki yang sudah mulai mengisi kekosongan hatinya itu.


"Jika tidak sanggup berucap, jangan terlalu dipaksakan! Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Aku hanya ingin melihatmu bahagia, semoga secepatnya kau bisa menemukan orang yang kau cintai dan mencintaimu dengan tulus!" ucap Riuga sembari menyeka air matanya yang tak henti-hentinya menetes.


Karena tak sanggup lagi membendung air matanya, Riuga akhirnya memilih untuk melepaskan pelukannya dan melangkah keluar dari kamar agar Tata tidak melihat kesakitan yang tengah dia rasakan.


Sesampainya diluar, Riuga langsung terduduk dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Laki-laki yang sudah mengikhlaskan Tata itupun membiarkan air matanya berguguran membasahi lantai.


"Ya Tuhan, kenapa rasanya begitu berat dan sesakit ini? Aku tidak sanggup melepaskannya, tapi aku juga tidak bisa memaksanya untuk mencintaiku! Apakah ini hukuman atas dosaku yang telah melenyapkan orang yang sudah membesarkannya?" gumam Riuga tanpa bisa mengendalikan air matanya yang tak habis-habisnya itu.

__ADS_1


"Kreeek"


Tata membuka pintu kamar dan terkejut melihat Riuga yang sedang terduduk di atas lantai dengan air mata yang sudah tergenang.


"Riu..."


Mendengar suara Tata, Riuga pun dengan cepat menyeka air matanya agar tidak terlihat oleh wanita yang sangat dicintainya itu.


"Aku tidak apa-apa!" ucap Riuga sembari berdiri dan melangkah meninggalkan Tata sendirian.


Riuga memilih untuk kembali ke tepi pantai sembari menunggu kapal jemputan nya.


"Riu, kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk berbicara padamu?" gumam Tata yang sebenarnya ingin menjelaskan sesuatu kepada Riuga.


Tata tertunduk lesu dan kembali kedalam kamar dengan raut wajah penuh kesedihan.


*****


Sekitar pukul 11.30 siang, akhirnya kapal Riuga datang dan menepi di dermaga yang tidak terlalu jauh dari tempat Riuga duduk saat ini.


Malik dan beberapa anak buah Riuga pun turun dari kapal dan bergegas mencari keberadaan Tuannya.


Setelah menyusuri sisi pantai, akhirnya Malik melihat Riuga sedang termenung di bibir pantai.


"Selamat siang, Tuan! Apa Tuan baik-baik saja?" sapa Malik yang sedikit curiga dengan raut wajah Tuannya.


"Hah, ya. Kau sudah sampai? Kenapa membawa pasukan sebanyak ini?" sahut Riuga sedikit kebingungan.


"Maaf Tuan, ada hal penting yang ingin aku sampaikan!" ucap Malik dengan tatapan sangat serius.


"Ada apa? Apa terjadi masalah?" tanya Riuga yang mulai penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh anak buahnya itu.


"Iya, Tuan. Ini berhubungan dengan gadis kecil yang Tuan cari selama ini. Aku sudah menemukan informasi tentang gadis kecil itu!" ucap Malik yang membuat Riuga melotot kan matanya seketika.

__ADS_1


__ADS_2