
"Pergilah dari sini, biarkan aku sendiri!" ketus Tata sembari membalikkan tubuhnya membelakangi Riuga.
"Sayang, kenapa kamu jadi seperti ini. Maafkan aku jika sikapku telah membuatmu terluka. Aku tidak suka mendengar pembicaraan kalian tadi!" ucap Riuga sembari mengusap kepala Tata.
"Apa kau tidak sadar kalau sikapmu itu bukan hanya melukai perasaanku, tapi kau juga telah melukai perasaan Febri. Kau sendiri yang menyuruhnya menemaniku, kenapa sekarang kau malah mencurigai dirinya?" bentak Tata sembari menepis tangan Riuga.
"Iya, aku akui aku salah. Tolong maafkan aku!" ucap Riuga.
"Jangan meminta maaf padaku, minta maaflah pada sahabatmu itu. Secara tidak langsung kau telah menuduhnya yang tidak-tidak. Jika kau tidak bisa mempercayai sebuah hubungan, maka hiduplah sendiri seperti dulu!" ketus Tata.
"Cukup Tata, jangan memancing emosiku lagi!" bentak Riuga dengan kasarnya.
Tata benar-benar kehabisan akal untuk menyadarkan suaminya. Dia memilih bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Tata mencurahkan rasa kecewanya sembari berdiri di depan cermin. Air matanya tak berhenti menetes mengingat ucapan Riuga yang seakan-akan tidak percaya dengan dirinya.
"Jika suatu hubungan tidak dilandasi dengan sebuah kepercayaan, apakah hubungan ini mampu untuk bertahan?" gumam Tata penuh kekecewaan.
Tata kemudian membuka kran air yang ada di hadapannya. Dengan perasaan gundah, wanita cantik itu perlahan membasahi wajahnya yang sudah sembab oleh tangisannya.
Setelah merasa cukup tenang, Tata pun bergegas meraih handuk dan menyeka wajahnya dengan lembut. Wanita cantik itu kemudian keluar dari kamar mandi tanpa menghiraukan suaminya yang masih duduk menunggunya di atas tempat tidur.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mencurigai kalian. Aku sadar sikapku terlalu kekanak-kanakan. Tapi semua itu terjadi karena aku takut kehilangan dirimu." ucap Riuga penuh penyesalan.
"Dasar dari sebuah hubungan itu adalah kepercayaan. Jika kamu tidak bisa mempercayai istrimu sendiri, maka jangan salahkan orang lain atas sikapmu itu!" sahut Tata sembari melangkah ke arah pintu.
Riuga mulai menyadari kesalahannya dan dengan cepat menahan langkah kaki Tata yang sudah berdiri di depan pintu.
"Maafkan aku sayang, aku mengaku salah. Tolong jangan hukum aku seperti ini, aku sudah kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Aku tidak ingin kehilangan kamu juga!" ucap Riuga dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
"Kau tidak akan pernah kehilangan diriku, tapi kau sudah kehilangan sahabatmu sendiri karena keegoisan mu. Apa kau pernah berpikir bagaimana perasaan Febri saat ini. Dia datang ke sini hanya untuk mencari keberadaan mu. Tapi apa yang sudah kau perbuat padanya. Aku tau pasti bagaimana rasanya hidup sendiri tanpa keluarga. Itulah yang Febri rasakan saat ini, hiks, hiks!" isak Tata.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, ucapan Tata itupun seketika melemahkan jantung Riuga. Laki-laki posesif itupun terkulai lemas sembari terus meneteskan air mata penyesalannya.
"Cukup sayang, jangan diteruskan lagi. Maafkan suamimu ini, tolong jangan menangis lagi. Aku janji akan memperbaiki kesalahpahaman ini, aku akan membawa Febri kembali!" ucap Riuga sembari menyeka air mata yang masih berjatuhan di wajah Tata.
"Aku mencintaimu Riu, aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Sahabatmu adalah sahabatku, keluargamu adalah keluargaku. Kau tidak perlu takut akan kehilangan diriku. Febri, Soni, Malik, mereka bertiga sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. Tolong buanglah prasangka buruk mu itu, itu hanya akan menyakiti orang-orang di sekitarmu!" isak Tata.
Riuga kemudian memeluk tubuh indah Tata dengan erat dan mencium kening istrinya itu dengan lembut. Perasaannya terasa tercabik-cabik setelah mendengar ucapan wanita yang sangat dia cintai itu.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi. Ayo, ikutlah denganku. Kita akan mencari Febri dan membawanya kembali!" ajak Riuga sembari membuka pintu ruangannya.
Melihat penyesalan di wajah Riuga, Tata pun tampak tersenyum karena sudah berhasil meyakinkan suaminya. Tata kemudian melingkarkan tangannya di lengan Riuga dan mengikuti langkah kaki suaminya itu menuju lift.
Di tempat lain, Febri terlihat tengah mengemasi barang-barangnya. Laki-laki yang hidup sebatang kara itu telah memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya.
Setelah semua barang-barangnya masuk ke dalam koper, Febri pun meraih ponselnya dan mengirimi pesan kepada Soni.
"Soni, terima kasih karena kau sudah membantuku bertemu dengan Riuga. Tolong jaga Riuga dan keluarganya dengan baik, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku harus pergi karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Maafkan aku karena tidak bisa berpamitan secara langsung kepada kalian. Tolong sampaikan salam ku kepada Adelia, aku sangat menyayanginya. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali."
Setelah mengirimkan pesan tersebut kepada Soni, Febri pun bergegas melangkahkan kakinya meninggalkan kamar hotel dan turun menuju lobi.
Sementara itu, Riuga dan Tata baru saja tiba di ruangan Soni. Soni yang tengah membaca pesan masuk dari Febri itupun menatap ke arah Riuga dengan penuh kecurigaan.
"Soni, berikan nomor telepon Febri padaku!" pinta Riuga terburu-buru.
"Untuk apa kau meminta nomornya padaku?" tanya Soni dengan tatapan menyelidik.
"Berikan saja, jangan banyak tanya!" bentak Riuga.
__ADS_1
Soni bangkit dari tempat duduknya dan memberikan ponselnya ke tangan Riuga.
"Baca ini, entah apa yang sudah terjadi dengan kalian berdua sehingga Febri mengirimiku pesan seperti ini!" ketus Soni.
"Apa maksudmu?" tanya Riuga heran.
"Baca saja sendiri!" ketus Soni dengan tatapan tajamnya.
Riuga yang penasaran dengan maksud ucapan Soni pun dengan cepat membaca isi pesan tersebut.
Lagi-lagi Riuga merasa bak disambar petir di siang bolong setelah membaca pesan tersebut. Raut wajahnya terlihat penuh dengan penyesalan karena tanpa sadar dia sudah menyakiti perasaan sahabatnya sendiri.
"Dimana dia sekarang?" tanya Riuga yang terlihat lemas.
"Mana aku tau, kau yang terakhir bertemu dengannya. Kenapa bertanya padaku?" sahut Soni dengan juteknya.
Riuga mulai kehilangan akal setelah mendengar jawaban dari Soni. Tentu saja hal itu membuat rasa bersalah di dalam dirinya terasa semakin besar.
Dengan raut wajah penuh kesedihan, Riuga berlari meninggalkan ruangan Soni tanpa menghiraukan Tata yang masih berdiri di sampingnya. Hal itu membuat Soni semakin kebingungan karena dia sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Soni kepada Tata yang masih berdiri di hadapannya.
"Nanti saja kita bahas. Ayo, ikutlah denganku!" sahut Tata sembari melangkah menyusul Riuga.
Sesampainya di lantai bawah, Riuga kemudian berlari ke arah jalanan yang sedang ramai dilewati kendaraan. Dia bahkan tidak menghiraukan keselamatan nyawanya sendiri dan bergegas menyeberangi jalanan.
Sementara itu, dari gerbang hotel tampak sebuah taksi yang sedang menunggu penumpangnya di depan teras. Febri pun terlihat keluar dari hotel tersebut sembari menarik sebuah koper.
Riuga yang melihat itupun dengan sigap mempercepat larinya. Namun sayangnya Febri sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi tersebut.
__ADS_1