
Sontak saja, Riuga dan Tata saling bertatapan satu sama lain. Pemandangan itu benar-benar tidak pernah terpikirkan oleh wanita cantik itu sebelumnya.
"Tata, kau sudah membuatnya bangun!" ucap Riuga dengan nafas yang mulai memburu.
"Maafkan aku Riu, aku tidak sengaja!" ucap Tata dengan mata terbuka lebar.
"Tidak penting sengaja atau tidak, kau sudah membuatnya marah! Kau harus bertanggungjawab, Tata!" ucap Riuga yang sudah tak sanggup menahan hasrat yang sudah memuncak di jiwanya itu.
"Jangan sekarang Riu, aku belum siap!" ucap Tata memohon kepada laki-lakinya itu.
Riuga memeluk tubuh Tata dengan sangat erat. Kepalanya mulai berdenyut, menahan hasrat yang sudah meronta-ronta hingga ke ubun-ubunnya.
"Aku tidak tahan lagi, Tata. Tolong bantu aku, aku mohon!" pinta Riuga dengan mata yang mulai memerah sembari menggigit pundak wanitanya.
"Bagaimana cara membantumu? Aku benar-benar belum siap untuk itu!" sahut Tata yang kebingungan melihat ekspresi laki-lakinya yang sudah mulai menuntut keinginan yang belum bisa diwujudkannya.
Riuga melepaskan pelukannya dan mengangkat tubuh wanitanya itu dengan enteng. Laki-laki yang sudah setengah gila itupun membawa wanitanya ke kamar mandi dan memasukkannya kedalam bathtub.
Riuga menyalakan shower yang membuat tubuh mereka berdua mulai basah dibawah guyuran air. Tanpa malu, Riu melepaskan satu-satunya pengaman yang masih dia pakai dan melemparnya kearah kloset.
"Ahhhhh..."
Tata menutup matanya dan berteriak saat menyaksikan pusaka laki-lakinya yang sudah sangat siap untuk melahap mangsanya itu.
"Kau sudah gila, Riu!"
"Sssttt... Jangan takut, aku tidak akan melakukannya sekarang!" bisik Riuga yang sudah terengah-engah menahan hasrat yang semakin menggebu di jiwanya.
Karena sudah semakin menyesakkan dada, Riuga pun dengan sigap ******* bibir Tata dan menggerayangi tubuh wanitanya itu dengan kedua tangannya.
Riuga semakin menggila, tangannya semakin liar sembari melahap bibir yang terasa sangat manis melebihi gula itu. Lidah laki-laki tampan itupun mulai menari-nari dengan leluasa menyusuri kedalaman mulut Tata dan menghisapnya penuh hasrat.
Tak berhenti disitu, bibir Riuga mulai turun dan menjilati leher putih mulus Tata yang begitu menggoda. Laki-laki tampan itu bahkan tak melewati satu inci pun dan terus menyerang. Riuga juga membuat beberapa cap tanda hak milik yang akan selalu dikenang oleh wanitanya itu.
"Ahkk, Riu..."
Erangan Tata seketika membuat hasrat di jiwa Riuga semakin bergejolak. Dengan deru nafas yang semakin memburu, Riu langsung melahap bakpao kembar yang sedari tadi sudah dimainkannya itu.
Bakpao dengan toping bola coklat itu benar-benar terasa nikmat sehingga Riuga enggan sekali untuk melepasnya. Hisapan Riuga benar-benar jos, Tata bahkan sampai dibuat bergetar berulang-ulang kali.
"Ahkk,,, sudah cukup Riu! Aku tidak sanggup lagi!"
__ADS_1
Tata menggeliat dan memohon agar Riuga berhenti sampai disitu. Mendengar permintaan Tata, laki-laki yang sudah setengah jalan itupun segera menghentikan kegilaannya dan membalikkan posisi mereka.
"Cepat, bantu aku mengeluarkannya. Ini benar-benar menyakitkan!" pinta Riuga dengan suara yang mulai terdengar berat.
"Bagaimana caranya?" tanya Tata sembari mengernyitkan keningnya.
"Gunakan mulutmu! Kalau kau merasa jijik, pakai tanganmu saja!" ucap Riuga yang sudah benar-benar menegang menahan lumpur panas yang sudah siap menyembur itu.
Melihat raut wajah Riuga yang sudah semakin aneh, Tata pun dengan cepat memainkan tangannya sembari ******* bibir laki-lakinya itu dengan liar.
Bantuan dari tangan Tata dan ******* bibirnya yang begitu lembut, membuat Riuga semakin menegang sembari menutup kedua matanya. Tidak lama, lumpur vanila itupun menyembur dan berserakan di tangan wanita cantik itu.
"Ahkk,,,"
Riuga mengerang begitu dahsyat. Kesakitan yang sedari tadi dia tahan, akhirnya berubah menjadi kenikmatan yang sungguh luar biasa.
Perlahan, Riuga membuka matanya kembali dan mencium kening wanitanya dengan lembut. Laki-laki itu kemudian memeluk tubuh Tata dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih. Aku sangat mencintaimu, Tata!" ucap Riuga sembari mengusap punggung wanitanya dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu, Riu!" sahut Tata sembari menenggelamkan wajahnya di dada laki-laki yang dia cintai itu.
Sejenak, suasana didalam kamar mandi pun terasa begitu hening. Tata terpaku didalam pelukan laki-lakinya tanpa berucap sepatah katapun.
"Sssttt... Cukup bicaranya, jangan diteruskan lagi!" sahut Tata sembari menempelkan telunjuknya di bibir Riuga.
"Ada apa, Tata?" tanya Riuga dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Aku mau menikah denganmu, Riu!" sahut Tata tersipu malu di dada laki-lakinya.
"Benarkah?" tanya Riuga yang masih belum percaya dengan ucapan wanitanya.
"Iya sayang. Ayo bangunlah, bersihkan tubuhmu!" sahut Tata sembari beranjak dari tubuh laki-lakinya itu.
Tata keluar dari bathtub dan berdiri di bawah shower yang ada diluar ruangan kaca. Wanita cantik itupun mulai membersihkan tubuhnya tanpa malu sedikitpun dilihat oleh Riuga.
Begitupun dengan Riuga yang langsung membuang air sisa pertempuran mereka tadi. Dengan senyuman yang begitu menawan, Riuga kembali mandi untuk yang kedua kalinya.
*****
Selesai mandi dan mengganti pakaian, mereka berdua keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang makan. Tata bahkan tidak malu memakai pakaian Riuga karena dikamar laki-lakinya itu tidak ada satupun pakaian wanita.
__ADS_1
"Pagi sayang!" sapa Riuga kepada Adelia yang sudah lebih dulu duduk di meja makan.
"Pagi Kak, kakak sudah pulang?" tanya Adelia yang terkejut melihat kedatangan kakak tersayangnya.
Sesaat, tatapan Adelia terlihat begitu aneh. Adelia mengernyitkan keningnya memperhatikan gadis cantik yang datang bersamaan dengan kakak laki-lakinya itu.
"Kak, ini siapa?" tanya Adelia sedikit kebingungan.
"Kenalkan, ini Tata. Calon kakak ipar kamu!" ucap Riuga memperkenalkan Tata kepada adik semata wayangnya.
"Calon kakak ipar? Bukannya kakak tidak mau menikah?" tanya Adelia dengan polosnya.
"Hahahaha, kamu ini. Nanti saja kita bahas setelah kakak pulang dari kantor!" ucap Riuga sembari menarik kursi untuk wanitanya.
Tata duduk di sisi kanan Riuga, sementara Adelia duduk di sisi kiri kakaknya. Tata kemudian tersenyum melihat kearah Adelia yang duduk tepat di hadapannya. Adelia pun membalas senyuman Tata dengan sangat manis. Mereka bertiga akhirnya mulai menyantap makanan yang sudah tersedia di atas meja.
"Mbak, tolong bersihkan kamar yang ada disebelah kamar Adel ya!" perintah Riuga kepada salah satu pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Baik, Tuan!" sahut salah satu pelayan sembari membungkukkan badannya.
Dua orang pelayan pun berjalan meninggalkan meja makan dan melangkah menuju lantai atas.
"Adel, hari ini kamu ada mata kuliah gak?" tanya Riuga kepada Adelia yang sedang menikmati makanannya.
"Tidak Kak, hari ini Adel gak ke kampus!" sahut Adelia dengan santainya.
"Baguslah, kalau begitu kamu temani Tata di rumah dulu ya! Jangan merepotkan kakak iparmu!" pinta Riuga kepada adik kecilnya.
"Kakak ipar mau tinggal disini?" tanya Adelia dengan tatapan penasaran.
"Iya, kamu tidak suka?" ucap Riuga dengan tatapan menakutkan.
"Siapa yang bilang tidak suka? Justru Adel sangat senang, akhirnya Adel punya teman!" sahut Adelia sembari tersenyum manja kearah kakaknya.
"Anak pintar!" ucap Riuga sembari membalas tersenyum adiknya.
Melihat kedekatan diantara Riuga dan Adelia, Tata pun ikut tersenyum karena bahagia melihat keharmonisan kedua kakak adik itu.
"Ya sudah, kakak pergi dulu! Kalian yang akur ya!"
Riuga berdiri dari tempat duduknya. Laki-laki tampan itu kemudian memeluk Adelia dan mencium kening adiknya dengan penuh kasih sayang. Kakak Adelia itu juga memeluk Tata dan mencium kening wanitanya dengan lembut.
__ADS_1
Dua wanita cantik itupun saling tersenyum sembari menatap punggung Riuga yang mulai menghilang dari pandangan mereka.