Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Kecewa


__ADS_3

"Diam lah, jangan banyak bicara!" tegas Riuga yang tidak mau melepaskan pelukannya dari Tata.


"Apa yang kamu inginkan dariku? Bukankah urusan kita sudah selesai." bentak Tata yang mulai berapi-api.


"Kau benar-benar mau tau apa yang aku inginkan? Ikutlah bersamaku!" ucap Riuga sembari menarik tangan Tata dan melangkah menuju ruangan pribadinya.


"Tolong, lepaskan aku! Kemana kau akan membawaku?"


Tata memohon agar Riuga melepaskannya. Apalagi Tata juga merasa malu karena di kantor itu banyak sekali karyawan yang menatap kearah mereka.


"Apa yang kalian lihat?" bentak Riuga kepada karyawannya.


Melihat kemarahan dari bos besar Riuga Group itu, semua karyawan pun terbang berhamburan karena takut menjadi sasaran berikutnya dari laki-laki predator itu.


Riuga membawa Tata masuk kedalam lift menuju lantai paling atas. Di atas sana adalah ruangan pribadi Riuga yang tidak pernah terjamah oleh siapapun, termasuk Soni asisten pribadinya.


"Masuklah kedalam!" perintah Riuga kepada wanita cantik yang tengah ketakutan itu.


"Aku tidak mau, biarkan aku pergi dari sini!" pinta Tata memohon kepada predator liar itu.


Riuga tidak mau mendengarkan permintaan Tata sama sekali. Dia kembali menarik tangan wanita cantik itu dan masuk kedalam ruangan yang tidak kalah mewah dengan villa yang pernah ditempati oleh Tata sebelumnya.


"Hiks,,, hiks,,, hiks"


Tata hanya bisa menangis dan pasrah menerima perlakuan dari laki-laki yang sangat dia benci itu.


"Kenapa kau menangis?" tanya Riuga yang tidak pernah mengerti dengan perasaan seorang wanita.


"Dasar laki-laki tidak punya hati!" teriak Tata yang semakin dikuasai oleh kemarahannya.


"Sudahlah, jangan seperti ini, Tata! Aku tidak akan menyakitimu!" ucap Riuga yang bingung menghadapi sikap Tata yang sangat keras kepala.


"Kau memang tidak menyakiti fisikku, tapi kau telah menyakiti hatiku." teriak Tata yang semakin menjadi-jadi.


Melihat Tata yang sudah kehilangan kendali, Riuga kembali memeluk tubuh wanita itu dengan erat.


"Tenanglah, Tata! Aku mohon!" pinta Riuga dengan penuh kelembutan sambil mengusap rambut panjang Tata.


"Kau jahat, kau laki-laki brengsek, iblis, tidak punya hati, bajingan!" teriak Tata melampiaskan kemarahannya.


Tidak berhenti disitu, Tata juga memukuli dada Riuga sekuat-kuatnya berulang-ulang kali.


"Pukul saja sampai kau puas!" ucap Riuga yang begitu pasrah menerima perlakuan wanita yang berada dalam pelukannya itu.


"Aku membencimu, aku sangat membencimu, Riuga!" teriak Tata sembari menggigit dada Riuga sekuat tenaganya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kuatkan aku! Aw,,," batin Riuga yang dengan pasrah membiarkan Tata menggigitnya dan menahan rasa sakit itu sampai meneteskan air matanya.


Setelah Tata melepaskan gigitannya, Riuga pun ikut melepaskan pelukannya dari tubuh Tata.


Riuga menjauh dan melangkah kedalam kamar mandi sambil memegang dadanya yang terasa sangat perih. Tanpa sadar, air matanya pun kembali menetes karena tidak sanggup menahan sakit yang benar-benar menyiksanya.


"Luka ini memang menyakitkan, tapi jika dibandingkan dengan semua yang sudah aku lakukan padanya, maka luka ini belumlah cukup untuk menggantikannya." batin Riuga sembari mengipas luka di dadanya itu dengan baju yang baru saja dia lepas dari tubuhnya.


Setelah beberapa menit berada didalam kamar mandi, akhirnya Riuga keluar dengan pakaian yang sudah menutup tubuhnya kembali.


"Sekali saja turuti keinginanku, tetaplah disini! Tolong, jangan membantah lagi! Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu!" pinta Riuga yang masih ingin berada di samping Tata.


Riuga duduk di atas kasur dengan keringat yang sudah mengucur deras di tubuhnya.


Tidak lama, ponsel Riuga pun berdering menerima panggilan masuk dari Soni.


"Halo, Tuan! Anda dimana? Kenapa menghilang begitu saja? Hari ini masih ada beberapa pertemuan dengan klien penting." ucap Soni yang mulai gelisah karena tidak menemukan Tuannya.


"Kau pergilah menggantikan aku, bawa Marisa bersamamu. Aku ada pekerjaan yang lebih penting!" perintah Riuga sambil mematikan teleponnya.


"Baik, Tu..."


"Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia menyuruhku menemui klien tanpa dirinya? Makin aneh saja ini orang." batin Soni yang semakin bingung memikirkan Tuannya itu.


Dilantai atas, Riuga sedang merintih menahan sakit di dadanya. Gigitan Tata membuat dadanya terluka bahkan sampai berdarah.


"Kau kenapa?" tanya Tata heran.


"Aku tidak apa-apa!" sahut Riuga santai.


"Apa kau sakit?" tanya Tata yang mulai sedikit khawatir.


"Tidak apa-apa, kemari lah!" pinta Riuga penuh penekanan.


Tata melangkah kearah Riuga dan duduk di samping laki-laki yang sangat dia benci itu.


"Terimakasih!" ucap Riuga sembari meraih tangan Tata.


"Kenapa berterimakasih?" tanya Tata heran.


"Terimakasih, karena kau telah menemaniku disini!" sahut Riuga.


"Aku disini karena kau paksa, bukan keinginanku sendiri!" ketus Tata sambil menatap tajam kearah Riuga.


Riuga kembali memeluk tubuh wanita cantik itu dengan erat.

__ADS_1


"Lepaskan aku!" pinta Tata sembari memberontak.


"Biarkan aku memelukmu, aku janji tidak akan menyakitimu lagi! Tolong, maafkan semua kesalahan yang pernah ku lakukan padamu!"


Riuga meminta maaf dengan tulus kepada Tata tanpa melepaskan pelukannya. Kali ini Riuga merasa sangat nyaman berada dekat wanita cantik yang pernah dia sakiti itu.


"Semuanya sudah terjadi, aku harus melupakan semua itu. Mulai hari ini biarkan aku menjalani kehidupan ku sendiri. Aku mohon, jangan ganggu aku lagi!"


Tata memohon agar Riuga melepaskannya dan tidak mengganggu kehidupannya lagi.


"Jangan bicara seperti itu, aku sungguh ingin memperbaiki semuanya! Beberapa bulan ini aku sudah berusaha melupakanmu, tapi aku tidak bisa. Bayangan mu selalu saja datang menghantuiku." jelas Riuga kepada Tata dengan tatapan yang aneh.


"Tapi, aku,,,"


"Aku sangat merindukanmu, Tata! Aku merindukan semua yang ada pada dirimu."


Riuga mengangkat wajah Tata, dan menatapnya dengan penuh perasaan.


Hatinya semakin yakin untuk menerima Tata didalam hidupnya.


"Aku memang bersalah kepadamu, jika kau ingin membalaskan rasa sakit hatimu itu, maka lakukanlah. Aku siap menerima apapun yang akan kau perbuat kepadaku."


Riuga meneteskan air matanya dihadapan Tata, Tata sampai tidak bisa berkutik lagi melihat besarnya penyesalan dimata Riuga.


"Aku sudah memaafkan mu, tidak perlu membahas itu lagi!" ucap Tata sambil memalingkan wajahnya.


Riuga merasa senang mendengar ucapan dari mulut wanitanya itu. Saking senangnya, Riuga hampir tidak bisa mengendalikan dirinya untuk mencium bibir Tata yang sudah membuatnya ketagihan itu.


"Jangan lakukan itu!" ucap Tata sambil menahan bibir Riuga dengan tangannya.


"Kenapa kau menolaknya? Aku sangat merindukan bibir manis mu itu." ucap Riuga yang sudah mulai terbawa perasaan.


"Lakukan saja dengan wanita yang kau bilang menyukainya itu, aku tidak suka!"


Tata menolak Riuga dan berjalan menjauh dari laki-laki yang dia pikir mempunyai banyak wanita dalam hidupnya itu.


"Apa maksudmu? Jadi waktu itu..."


"Waktu itu kau yang memaksaku, aku tidak pernah menginginkannya!" ucap Tata.


Riuga tertegun mendengar ucapan wanita cantik yang sudah mengisi kekosongan di hatinya itu. Dia pikir, waktu itu Tata juga menginginkannya. Tapi ternyata pikirannya salah, Tata hanya terpaksa melakukannya.


"Aku pikir dihari terakhir aku mencium mu, kau juga merasakan hal yang sama denganku. Ternyata..."


"Aku memintanya waktu itu karena aku benar-benar menyukaimu. Aku bahkan tidak pernah menyentuh wanita manapun selain kamu." ucap Riuga dengan penuh kekecewaan.

__ADS_1


__ADS_2