Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Bibir


__ADS_3

Riuga kembali ke dalam kamarnya dengan raut wajah yang mengundang tanda tanya. Tiba-tiba ponselnya berdering saat menerima panggilan masuk.


"Halo, ada apa?" tanya Riuga dengan nada sangat santai.


"Halo Tuan, Tuan dimana? Dua jam lagi akan ada pertemuan dengan klien penting kita. Tuan jangan sampai terlambat ya!" ucap Soni mengingatkan Riuga tentang pekerjaan yang sedang menunggu di kantor.


"Ya aku ingat, kau urus dulu mereka sebelum aku datang. Aku akan sampai sekitar satu setengah jam lagi!" sahut Riuga sembari mematikan sambungan teleponnya.


Riuga bergegas mengenakan pakaian kerjanya. Setelah rapi, Riuga berjalan keluar dari kamar.


Sebelum pergi meninggalkan villa, dia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk menemui Tata di dalam kamarnya.


"Kreeek..."


"Hei, kau." sapa Riuga setelah membuka pintu kamar Tata.


Tata hanya terdiam tanpa menyahut sepatah katapun sapaan dari Riuga itu.


"Hei wanita bodoh, kau tidak dengar aku sedang memanggilmu?" ketus Riuga yang mulai kesal melihat Tata yang tidak menyahutinya sama sekali.


"Kau bicara sama siapa?" tanya Tata tanpa melihat ke arah Riuga sama sekali.


"Tentu saja aku berbicara denganmu, siapa lagi?" ucap Riuga sembari menatap setiap sudut kamar.


"Aku memiliki nama, cobalah kalau berbicara itu yang sopan sedikit!" sahut Tata sembari melangkah ke arah jendela.


"Ya Tuhan, wanita ini benar-benar menjengkelkan sekali!" gumam Riuga sembari berjalan mendekati Tata.


"Tap... Tap..."


"Kau ingin aku menyebut namamu?" ucap Riuga yang semakin mendekat ke arah Tata.


"Tidak, aku tidak sudi namaku terucap dari bibir kotor mu itu!" sahut Tata sembari menjaga jarak dengan Riuga.


"Kau bilang bibirku apa tadi, coba katakan sekali lagi!" ucap Riuga yang sudah mulai tersulut emosi.


"Apa kau sudah tuli? Aku bilang bibirmu itu kotor, masih tidak dengar juga!" sahut Tata dengan suara sedikit lantang.


Ucapan dari bibir Tata benar-benar membuat Riuga kehilangan kendali. Dengan cepat Riuga menarik tangan Tata dan melemparkan tubuh wanita cantik itu ke atas kasur.


Riuga menindih tubuh Tata dan menahan kedua tangan wanita cantik itu agar tidak bisa memberontak melawannya.


"Ahh... Lepaskan aku. Dasar bajingan, laki-laki brengsek!" teriak Tata sembari meronta ronta mencoba melepaskan diri dari jeratan Riuga.


"Kau ingin lihat seberapa brengseknya aku, iya!" ketus Riuga sembari tersenyum sinis dan menatap tajam ke wajah cantik yang begitu dekat dengan wajahnya itu.


"Lepas... Uhm... Uhm..."


Riuga dengan cepat mel*mat habis bibir Tata seperti orang yang sedang kerasukan setan. Tidak peduli Tata menginginkannya atau tidak, Riuga tetap saja menghisap bibir mungil itu tanpa ampun.


"Uhm... Uhm..."


Sejenak Riuga terhanyut dalam ciuman yang membangkitkan ga*rahnya itu. Lembutnya bibir Tata membuatnya enggan sekali untuk melepaskan ciumannya. Riuga malah memainkan lidahnya dan masuk semakin dalam menjelajahi mulut Tata yang sangat menggoda itu.


"Bagaimana, enak tidak bibir yang kau bilang kotor ini?" ucap Riuga setelah melepaskan ciumannya.


"Laki-laki gila, bejat, bajingan. Aku jijik dengan bibirmu itu!" teriak Tata yang sangat marah dengan perlakuan Riuga terhadap dirinya.


"Hei, asal kau tau saja. Banyak sekali wanita yang menginginkan bibirku ini, kau malah mengatakan jijik." sahut Riuga.


"Kalau begitu cium saja wanita itu. Jangan cium aku!" ucap Tata yang membuat Riuga kembali melahap bibir merah Tata penuh nafsu.

__ADS_1


"Uhm... Uhm..."


"Bagaimana, masih mau bilang jijik?" tanya Riuga sembari tersenyum licik.


"Dasar laki-laki tidak tau malu!" teriak Tata yang semakin kesal melihat Riuga.


"Uhm... Uhm..."


"Mau bilang apa lagi?" (R)


"Laki-laki iblis, Cuih!" (T)


"Uhm... Uhm..."


"Ayo, bicara lagi!" (R)


"Tidak, sekarang lepaskan aku!" (T)


"Bilang apa dulu biar aku lepaskan?" (R)


"Tidak tau!" (T)


"Katakan dengan manis kalau kau menyukai bibirku ini!" (R)


"Tidak suka!" (T)


"Uhm... Uhm..."


"Wanita nakal!" (R)


"Aku tidak nakal, aku wanita baik-baik!" (T)


"Uhm... Uhm..."


"Tidak!" (T)


"Terus, bilang apa dulu?" (R)


"A... Aku suka." (T)


"Suka apa?" (R)


"Bibirmu." (T)


"Bagus, mulai hari ini setiap aku menginginkan bibirmu ini, kau tidak boleh menolaknya, paham!" ucap Riuga.


"Tidak, aku tidak mau!" sahut Tata.


"Uhm... Uhm..."


"Bagaimana, masih berani menolak?" (R)


"Tidak, cepat lepaskan aku!" (T)


Riuga akhirnya melepaskan tangan Tata. Dia beranjak dari tubuh wanita cantik itu sembari tersenyum puas karena sudah bisa menaklukkan wanita yang menurutnya sangat keras kepala itu.


"Aku pergi dulu. Ingat, setiap aku menginginkannya kau tidak boleh menolak!" ucap Riuga sambil melangkah meninggalkan Tata di dalam kamarnya sendirian.


Tata terdiam sejenak menatap punggung Riuga yang sudah mulai menjauh dari pandangannya itu.


"Laki-laki brengsek, bajingan, iblis!" teriak Tata penuh amarah dan kekesalan.

__ADS_1


Tata menelungkup di atas kasur sambil menangis memeluk bantal guling. Bibir yang selama ini dia jaga dengan baik, sekarang sudah disentuh oleh laki-laki yang sangat dia benci.


"Menjijikkan sekali," gumam Tata sembari berlari ke dalam kamar mandi.


Tata berendam di dalam bathtub sembari menggosok bibirnya dengan kasar. Tak terasa air matanya pun ikut menetes mengingat perlakuan buruk Riuga yang memperlakukannya seperti seorang wanita murahan.


"Aku benci bibir ini. Bibir ini sudah kotor, menjijikkan." teriak Tata sembari terus menggosok bibirnya itu hingga lecet.


Setelah puas melampiaskan kekesalannya di dalam kamar mandi. Tata kembali keluar dan segera mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup usai berendam.


"Tok... Tok... Tok..."


"Siapa?" sahut Tata.


"Ratna Nona, boleh aku masuk?" ucap Ratna dari balik pintu.


"Iya, masuklah!" sahut Tata yang sudah selesai mengganti pakaiannya.


"Kreeek..."


Ratna mendorong pintu dan masuk ke dalam kamar Tata membawa cemilan dan jus mangga yang terlihat begitu menyegarkan.


"Apa itu Ratna?" tanya Tata sembari melangkah menghampiri pelayan cantik itu.


"Ini aku bawakan jus mangga dan cemilan untuk Nona!" ucap Ratna sembari meletakkan nampannya di atas meja.


"Terima kasih ya." ucap Tata dengan sangat lembut.


"Sama-sama Nona Tata." jawab Ratna.


"Jangan panggil Nona, panggil Tata saja biar lebih akrab. Lagian umur kita sepertinya tidak jauh berbeda!" ucap Tata.


Tata yang merasa asing di tempat itu, ingin sekali mempunyai teman untuk diajak berbicara.


"Ratna, apa kamu sudah lama bekerja di tempat ini?" tanya Tata memulai pembicaraan mereka.


"Belum terlalu lama Nona, aku di sini hanya untuk menggantikan pekerjaan Ibu. Tuan telah banyak membantu keluarga kami selama ini. Sejak Ibu sakit, Tuan Riuga lah yang membantu biaya pengobatan Ibu!" ucap Ratna yang membuat Tata mulai penasaran dengan laki-laki kasar itu.


"Oh,..."


"Tapi sejauh yang aku lihat, Riuga itu orangnya kasar, kejam dan tidak punya hati sama sekali!" ucap Tata dengan begitu polosnya.


"Tuan itu sebenarnya baik Nona, tapi kehidupan lah yang membuatnya berubah menjadi orang yang keras." sahut Ratna.


"Kehidupannya yang seperti apa?" tanya Tata yang semakin penasaran.


"Kalau dari cerita Ibu, dulu orang tua Tuan meninggal dunia gara-gara ada orang ketiga. Semenjak itu, mereka hidup dalam kesengsaraan yang membuatnya berubah jadi seperti sekarang." jawab Ratna.


"Mereka siapa?" tanya Tata lagi.


"Tuan dan adik perempuannya." jawab Ratna.


"Oh, jadi dia punya adik perempuan?" ucap Tata.


"Iya, Tuan sangat menyayangi adik perempuannya itu. Dulu dia tidak bisa memenuhi segala kebutuhan adiknya, tapi berkat kegigihan Tuan akhirnya sekarang dia bisa sukses seperti ini!" jawab Ratna.


Tata hanya terdiam mendengar semua penjelasan dari Ratna. Seketika matanya pun mulai berkaca-kaca saat teringat dengan kedua orang tuanya yang juga sudah meninggal dunia.


"Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, aku permisi dulu ya Nona!" ucap Ratna memohon izin.


"Baiklah, terima kasih ya!" sahut Tata.

__ADS_1


__ADS_2