Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Masa lalu


__ADS_3

Tata menikmati cemilan dan jus mangga yang dibawa Ratna tadi sembari bersantai di atas sofa yang ada di pojok kamar.


Sesaat Tata seperti kebingungan memikirkan sesuatu. Raut wajah kesedihan pun tampak jelas di wajah wanita cantik itu.


"Ternyata nasib kami tidak jauh berbeda. Kami sama-sama kehilangan orang-orang yang kami sayangi diusia yang masih sangat muda. Hanya saja dia lebih beruntung karena masih memiliki adik. Sedangkan aku, hanya diasuh oleh orang lain yang tidak mempunyai ikatan darah sama sekali." batin Tata dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Oh iya Ibu, dimana dia sekarang? Sudah hampir satu minggu tidak ada kabar, bahkan nomor teleponnya pun sudah tidak bisa dihubungi. Apa dia sengaja meninggalkan ku?" gumam Tata sembari mengotak-atik layar ponselnya.


Tata meraih gelas yang ada di atas meja sembari terus menatap layar ponselnya. Dia mulai meneguk jus mangga tadi untuk menghilangkan rasa dahaganya.


"Awh..."


Tata meletakkan kembali jus yang ada di tangannya itu di atas meja dan melangkah ke arah cermin yang ada di dinding kamar.


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Tanpa sadar aku telah melukai bibirku sendiri. Sungguh menyakitkan sekali, semua ini gara-gara laki-laki brengsek itu." gumam Tata sembari menyentuh bibir merah yang terluka itu dengan jarinya.


Sementara itu Riuga baru saja tiba di perusahaan Riuga Group.


"Selamat siang Tuan." sapa Soni yang sudah sedari tadi menunggu di ruangan Riuga.


"Ya selamat siang, kapan rapatnya dimulai?" tanya Riuga dengan sedikit senyum di bibirnya.


"Sebentar lagi Tuan. Apa Tuan mau memeriksa dokumen ini terlebih dahulu?" tanya Soni.


"Tidak perlu, itu adalah tugasmu. Kalau kau melakukan kesalahan, tanggung sendiri akibatnya!" ucap Riuga tanpa ekspresi sedikitpun.


"Ada apa dengannya, tidak seperti Riuga yang aku kenal? Kesambet dimana dia siang bolong begini?" batin Soni yang merasa aneh dengan sikap Tuannya.


"Tok...Tok...Tok..."


"Masuk!" ucap Riuga.


"Maaf Tuan, rapat akan segera dimulai. Semua pemegang saham sudah berkumpul di ruang rapat!" ucap sekretaris cantik Riuga yang bernama Marisa.


"Ok baiklah, terima kasih." sahut Riuga sambil berdiri dari tempat duduknya.


Riuga dan Soni berjalan menuju ruang rapat untuk membahas pengalihan saham yang sebelumnya sudah mereka rencanakan dengan pemilik saham yang lainnya.


Riuga yang memiliki saham terbesar di perusahaannya itu, berniat untuk mengambil alih semua saham dengan catatan harus memberikan kompensasi yang cukup besar kepada pemilik saham yang lainnya.

__ADS_1


Saham yang akan menjadi milik Riuga sepenuhnya itu, nantinya akan dibagi dua dengan adik perempuannya yang sangat dia sayangi.


Di tempat lain, Adelia baru saja selesai dengan mata kuliahnya. Dia berniat untuk segera pulang ke istananya karena merasa tidak enak badan.


"Adel, kenapa buru-buru?" tanya Emilia yang merupakan sahabat dekat Adelia.


"Emil maaf ya. Aku ingin segera pulang, kepalaku terasa sedikit pusing." sahut Adelia sembari memegangi kepalanya.


"Kamu sakit, biar aku antar ya!" ucap Emilia menawarkan diri untuk mengantarkan Adelia pulang ke istananya.


"Tidak usah Emil, aku tidak ingin merepotkan mu. Aku pulang bersama sopir saja!" sahut Adelia yang tidak ingin merepotkan sahabatnya itu.


"Tidak apa-apa Adel, aku senang bisa menemani kamu. Lagian aku lagi malas di rumah sendirian, Mama sama Papa lagi keluar negeri. Boleh ya?" pinta Emilia sedikit memaksa.


"Ya sudah kalau begitu." sahut Adelia yang tidak bisa menolak keinginan sahabatnya itu.


Mereka berdua berjalan dan masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu di gerbang kampus.


Sesampainya di istana megah milik Riuga, mereka berdua masuk ke dalam sambil berbimbingan tangan.


"Kamu tidak kesepian tinggal di istana sebesar ini berdua saja sama Kak Riuga?" tanya Emilia yang mulai kepo dengan kehidupan Adelia.


"Tapi mereka itu kan cuma pekerja." ucap Emilia.


"Walaupun mereka cuma pekerja, tapi mereka sudah kami anggap seperti keluarga kami sendiri. Kak Riu mengajarkan aku menjadi wanita yang rendah hati, tidak boleh sombong dengan apa yang kami miliki!" sahut Adelia yang membuat Emilia langsung terdiam.


Adelia kemudian membawa sahabatnya itu masuk ke kamar pribadinya yang berada di lantai atas.


"Aku mau tidur sebentar ya Emil. Kalau kamu mau mandi, nanti ambil saja pakaian ganti di dalam lemari. Dan jika kamu membutuhkan sesuatu, bisa minta tolong sama pelayan yang ada di bawah sana!" ucap Adelia yang mulai berbaring di atas ranjang.


"Ok terima kasih, kamu istirahat saja dulu!" sahut Emilia yang tidak ingin mengganggu sahabatnya itu.


Saat Adelia sudah mulai memicingkan matanya, Emilia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi Emilia turun ke lantai bawah untuk mengambil minuman saat merasa kering di tenggorokannya.


"Eh ada Nona Emil, ada yang bisa dibantu?" sapa Lena seorang pelayan yang melihat kedatangan Emilia.


"Iya, aku merasa haus sekali. Boleh aku minta minuman?" sahut Emilia kepada Lena yang tengah menyiapkan makan malam bersama beberapa rekannya.

__ADS_1


"Nona mau minuman dingin atau panas? Kalau mau yang dingin, ada di dalam kulkas. Tapi kalau mau yang panas, biar aku buatkan sebentar!" ucap Lena.


"Terima kasih, biar aku ambil sendiri saja. Aku butuh yang dingin-dingin!" sahut Emilia sembari melangkah ke arah kulkas.


Pukul 17.00 sore Riuga pulang ke istananya diantar oleh Soni.


"Tuan, dalam dua hari ini sepertinya tidak ada jadwal yang penting. Aku boleh minta izin kan?" tanya Soni kepada Riuga yang sudah berada di depan pintu utama istananya.


"Memangnya kau mau kemana?" tanya Riuga dengan tatapan mencari tau.


"Aku berencana untuk melamar kekasihku Tuan. Jadi aku ingin segera menyiapkan segala sesuatunya lebih cepat." sahut Soni memberi tau rencana baiknya kepada Riuga.


"Laki-laki sepertimu masih punya pikiran untuk menikah? Aish, sungguh tidak masuk akal." ucap Riuga yang sama sekali tidak percaya dengan ucapan Soni.


"Memangnya kenapa kalau aku ingin menikah Tuan? Aku juga ingin hidup bahagia dengan orang yang aku cintai dan menjadi ayah untuk anak-anak aku kelak." ucap Soni yang merasa seperti diremehkan oleh Riuga.


"Lalu wanita yang selama ini dekat denganmu apa kabarnya?" tanya Riuga yang tau sekali kalau Soni selama ini memiliki banyak wanita di dalam hidupnya.


"Mereka bukanlah apa-apa Tuan. Mereka hanya mengincar kenikmatan sesaat dariku. Dulu aku memang tidak pernah berpikir sampai ke sini karena bagiku wanita itu sama saja. Bahkan banyak sekali yang rela menyerahkan tubuhnya secara cuma-cuma hanya demi menikmati tubuhku ini. Tapi setelah aku bertemu dengan Reina, aku merasa hidupku lebih berwarna. Wanita itu mampu merubah jalan pikiranku ke arah yang lebih baik. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku mencintainya dan ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya dan anak-anak kami nanti." ucap Soni yang membuat raut wajah Riuga berubah seketika.


"Ya sudah, terserah kau saja. Kalau kau butuh apa-apa jangan sungkan memintanya padaku!" ucap Riuga.


"Baiklah Tuan, terima kasih." sahut Soni sembari melangkah meninggalkan istana megah Tuannya itu.


Riuga melangkahkan kakinya ke dalam istana menuju kamar adik tersayangnya.


"Tok...Tok...Tok..."


Emilia berjalan menuju pintu kamar dan segera membukanya dengan lebar.


"Kak Riuga." sapa Emilia yang merasa senang melihat kedatangan orang yang dia sukai.


"Kamu Emil, kapan datang?" tanya Riuga dengan santainya.


"Tadi sore Kak." sahut Emilia sembari menatap wajah tampan yang berdiri di depannya itu.


"Adel mana?" tanya Riuga yang tidak memperhatikan Emilia sama sekali.


"Ada Kak, dia lagi mandi." jawab Emilia yang tidak berhenti menatap wajah tampan kakak dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu Kakak ke kamar dulu!" ucap Riuga sembari melangkah meninggalkan kamar adiknya.


__ADS_2