
Sore harinya, Riuga dan Tata tiba di rumah. Sebelum pulang, keduanya sempat mampir di tempat Jimmy. Persiapan resepsi mereka sudah berjalan 80%, sisanya akan selesai dalam satu atau dua hari ke depan.
Riuga menaiki anak tangga dan langsung masuk ke dalam kamar, sementara Tata memilih tetap di bawah. Dia ingin bertemu dan bicara dengan Febri sebelum menyusul suaminya ke atas.
Baru saja Tata melangkah menuju pintu kamar Febri, tiba-tiba pria itu sudah berdiri di hadapannya dengan wajah sedikit pucat.
"Febri, apa yang terjadi denganmu? Apa kamu sakit?" tanya Tata khawatir.
"Tidak Tata, aku tidak apa-apa. Tadi aku telat makan, jadi maag ku kambuh." jawab Febri sembari memegangi perutnya.
"Astaga. Sudah tau memiliki riwayat maag, kenapa masih telat makan?" tanya Tata dengan nada sedikit tinggi.
Febri berjalan ke arah sofa dan duduk di sana sembari memegangi perutnya yang masih terasa perih. Dia menghela nafas dan membuangnya kasar, lalu bersandar pada tampuk sofa.
"Tunggu di sini! Akan aku ambilkan obat untukmu." ucap Tata, kemudian meninggalkan Febri sendirian di sana.
Tata berlari menaiki anak tangga, dia terburu-buru masuk ke dalam kamar mencari obat maag yang selalu dia sediakan di rumah. Dia juga memiliki riwayat penyakit yang sama dengan Febri.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Riuga yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tidak apa-apa, aku mencari obat maag. Kamu melihatnya tidak?" jawab Tata, dia membuka semua laci namun tak menemukan obat itu.
"Apa kamu sakit?"
Riuga mendekati Tata dan menarik tangannya hingga tatapan keduanya saling bertemu.
"Tidak, aku tidak sakit. Kamu jangan khawatir! Ini untuk Feb...,"
Tata tiba-tiba menghentikan ucapannya, hampir saja dia keceplosan mengatakan obat itu untuk Febri.
__ADS_1
"Untuk siapa? Feb siapa?" tanya Riuga penasaran.
"Tidak sayang, aku salah bicara. Ya sudah, pakailah pakaianmu! Aku ke bawah dulu."
Tata meninggalkan kamar dan Riuga yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Hal itu menjadi tanda tanya besar di benak Riuga. Dia bergegas mengenakan pakaiannya lalu menyusul Tata turun ke bawah.
Sementara itu, Tata sekarang sudah berada di dapur mencari kotak obat. Dia ingat kalau sebelumnya dia juga menyimpan obat itu di sana.
Setelah mendapatkan obat itu, Tata berjalan ke arah sofa yang ada di depan kamar Febri. Namun sebelum sampai di sana, Tata tak sengaja berpapasan dengan Riuga yang baru saja turun dari anak tangga.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu terlihat panik seperti ini?" tanya Riuga semakin penasaran.
Tata tampak gugup menjawab pertanyaan suaminya, dia tidak tau harus menjawab apa.
"A, aku."
"Jangan coba-coba membodohi aku! Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Riuga dengan tatapan tak biasa.
Mendengar itu, Riuga menggertakkan giginya geram. Febri ada di rumahnya, tapi Tata menyembunyikan itu darinya. Meskipun kesal dengan Tata, tapi dia juga lega karena Febri tidak jadi pergi meninggalkan dirinya.
"Dimana dia, kenapa tidak memberitahu aku kalau dia ada di sini?" tanya Riuga menuntut penjelasan.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongimu. Febri masih canggung bertemu denganmu, dia merasa bersalah atas kejadian tadi."
"Saat aku dan Soni menyusulnya, dia tidak mau kembali. Tapi kami berhasil meyakinkannya kalau kamu tidak marah padanya. Jika kamu bertemu dengannya sekarang, aku takut kamu tidak bisa menahan diri dan kembali menyinggung perasaannya." ucap Tata.
Mendengar penjelasan Tata, Riuga mengusap wajahnya. Dia menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar.
"Apa yang kamu katakan sayang, bagaimana mungkin aku menyakiti hatinya lagi. Aku tau aku salah, tapi tidak seharusnya kamu menyembunyikan ini dariku." jawab Riuga.
__ADS_1
"Maafkan aku," Tata memeluk suaminya erat, dia takut Riuga salah paham lagi.
"Sudah, tidak apa-apa. Aku mengerti. Masuklah ke kamar, bersihkan tubuhmu! Biar aku saja yang menemuinya."
Riuga mengusap ujung kepala istrinya dan mengecupnya dengan sayang. Dia mengambil obat yang ada di tangan Tata, kemudian melangkah menuju kamar Febri.
Sesampainya di depan pintu, Riuga melotot kan matanya melihat Febri yang terduduk lesu di atas sofa dengan mata terpejam. Namun tangannya masih bergerak menekan perutnya perlahan. Riuga mendekat dan duduk di samping Febri.
Merasa ada yang bergerak di sampingnya, Febri dengan cepat membuka matanya. Betapa kagetnya dia saat menatap wajah Riuga yang begitu dekat dengan dirinya.
"Riu," gumam Febri gugup.
Tanpa berucap sepatah katapun, Riuga dengan cepat memeluk Febri dengan erat. Matanya berkaca-kaca saking bahagianya Febri mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Saudara macam apa kau ini? Jika marah padaku, pukul saja aku sepuas hatimu! Kenapa harus pergi meninggalkan aku?" ucap Riuga, air matanya sudah tak terbendung lagi, satu persatu jatuh membasahi pundak Febri.
Mendengar itu, Febri tak kuasa menahan dirinya. Air matanya ikut jatuh, dia membalas pelukan Riuga dan memukul punggungnya keras.
"Aku tidak ingin merusak rumah tanggamu. Kau sudah bahagia bersama wanita yang kau cintai. Aku pikir aku tidak perlu lagi mengganggu kehidupanmu." jawab Febri lirih.
Riuga melepaskan pelukannya dan menatap Febri penuh emosi. Dia kemudian memukul wajah Febri saking kesalnya.
"Dasar pria bodoh!" umpat Riuga, kemudian terkekeh.
"Hahahaha, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mencuri istrimu, aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri sama seperti Adel." Febri ikut terkekeh sembari menjelaskan perasaannya.
"Sudahlah, tidak usah membahas itu lagi! Minumlah obat ini! Kata Tata maag mu kambuh." ucap Riuga, dia memberikan obat yang ada di tangannya kepada Febri. Kemudian mengambil botol air mineral yang ada di meja.
Setelah Febri meminum obatnya, dia kembali menyandarkan punggungnya pada tampuk sofa.
__ADS_1
"Istirahatlah dulu! Awas kalau pergi lagi dari sini, tangan ini yang akan menghabisi mu jika kau berani melakukannya." ancam Riuga sembari menunjukkan kepalan tangannya di hadapan Febri.
Febri tersenyum mendengar itu. Setelah Riuga berlalu meninggalkan dirinya, dia pun memejamkan matanya perlahan. Tidur sejenak pasti akan mempercepat penyembuhannya.