Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Kemarahan


__ADS_3

Setelah mendengar pengakuan dari Riuga, Tata tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Tangisan Tata pun pecah hingga menggema dan memantul di dinding kamar.


"Dasar laki-laki iblis, tidak punya perasaan!" teriak Tata sembari terus memukul Riuga dengan sangat keras.


Riuga yang menyadari kesalahannya, tidak menghindar sama sekali dari pukulan Tata. Dia hanya pasrah menerima apapun yang dilakukan oleh wanita cantik yang tengah mendidih itu.


"Maafkan aku!" Hanya itu kata-kata yang terlontar dari mulut Riuga.


"Aku membencimu, Riuga! Aku sangat membencimu! Hiks,,, hiks,,, hiks." teriak Tata yang mulai terisak-isak.


Riuga kemudian berjalan meninggalkan kamar Tata dengan penuh rasa penyesalan. Bukan penyesalan karena telah membunuh Sania, tetapi penyesalan karena sudah menyakiti hati wanita yang sudah mulai masuk kedalam hatinya.


"Semua yang kau katakan itu memang benar. Aku memang brengsek, aku tidak punya hati!" gumam Riuga sembari masuk kedalam mini bar yang ada di lantai paling atas.


"Kenapa aku begitu menjijikkan?" batin Riuga yang mulai meneguk sebotol anggur yang selalu jadi temannya dikala kesepian.


Pagi harinya, Riuga bangkit dari sofa yang ada didalam mini bar. Riuga turun untuk membersihkan tubuhnya dan bergegas menemui Tata di kamarnya.


"Kreeek"


Riuga masuk dan terpana melihat Tata yang sedang duduk didepan cermin meja riasnya.


"Untuk apa kau kesini?" tanya Tata tanpa melihat wajah Riuga sama sekali.


"Aku ingin bicara denganmu sebentar!" pinta Riuga sembari menggenggam tangan Tata dan menekuk kakinya di atas lantai.


"Lepaskan aku!" bentak Tata yang merasa jijik dengan sentuhan tangan Riuga.


"Jangan menolakku, aku mohon! Sekali ini saja!" ucap Riuga yang membuat Tata langsung terdiam.


"Bicaralah, katakan apa yang ingin kau katakan! Setelah itu, pergi dari sini!" bentak Tata sembari mengalihkan pandangannya.


"Tolong, maafkan aku! Aku telah salah paham kepadamu, aku pikir kau itu keluarga Sania. Jadi, aku membawamu kesini untuk melampiaskan kemarahan ku padamu." ucap Riuga penuh rasa penyesalan.


"Jika sudah selesai, pergilah!" usir Tata yang sama sekali tidak menghiraukan ucapan Riuga.


"Apa kau benar-benar ingin pergi dari sini?" tanya Riuga sambil meletakkan tangan Tata di pipinya.


"Iya..." jawab Tata singkat.


"Bersiap-siaplah, aku akan membawamu pergi!" ucap Riuga yang tidak punya alasan untuk menahan Tata.


Tata berdiri dari tempat duduknya, dan bergegas mengambil ponselnya yang terletak di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Sudah. Ayo, antar aku pulang!" ucap Tata tanpa ekspresi.


"Tunggu sebentar! Apa aku boleh meminta sesuatu kepadamu?" tanya Riuga sambil merapatkan tubuhnya kearah Tata.


"Minta apa?" tanya Tata singkat.


"Sekali saja, izinkan aku mencium bibir itu tanpa memaksamu! Aku sangat merindukannya." pinta Riuga untuk terakhir kalinya.


"Tidak mau!"


"Aku berjanji, setelah ini aku tidak akan menggangu kehidupanmu lagi! Anggap saja ini permintaan terakhirku!" ucap Riuga sembari menempelkan hidungnya ke hidung Tata.


"Dag... Dig... Dug"


"Kenapa jantungku berdetak sekencang ini?" batin Tata yang merasakan hangatnya hembusan nafas Riuga.


"Uhm..."


Riuga mulai mengecup bibir Tata dengan sangat lembut. Sentuhan bibir Riuga itupun membuat Tata hanya bisa memejamkan matanya tanpa bisa menolak.


Perlahan Riuga ******* bibir atas dan bibir bawah Tata secara bergantian. Dengan penuh kelembutan, Riuga menghisap bibir itu sembari menahan hasratnya yang ingin lebih dari sekedar ciuman. Manisnya bibir Tata membuat Riuga ketagihan dan enggan sekali untuk melepaskan ciumannya.


"Huh..."


"Ya Tuhan, kenapa tubuhku jadi panas seperti ini?" batin Tata yang merasa nyaman dengan kelembutan Riuga.


"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud kurang ajar." ucap Riuga sambil mengusap bibir Tata dengan ibu jarinya.


Wanita cantik itupun segera memalingkan wajahnya dari hadapan Riuga yang terlihat aneh di matanya.


"Terimakasih! Ayo, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Riuga sembari membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan kamar.


Pagi itu, mereka meninggalkan villa dengan mobil mewah yang dikemudikan oleh sopir. Tangan Riuga yang masih terluka, membuatnya tidak sanggup memegang stir mobil.


Didalam mobil, mereka berdua duduk berdampingan. Namun, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mereka karena merasa sangat canggung satu sama lain.


Setelah satu setengah jam perjalanan, mereka akhirnya sampai didepan kontrakan Tata yang terlihat sangat sederhana.


"Terimakasih, untuk waktu yang sudah aku curi darimu beberapa hari ini, pergilah! Aku membebaskanmu!" ucap Riuga sembari memalingkan wajahnya.


Tanpa bersuara, Tata turun dari mobil Riuga dan berjalan kearah kontrakannya. Mobil itupun akhirnya menghilang hanya dalam hitungan detik.


Tiga bulan kemudian

__ADS_1


Sejak kejadian hari itu, Riuga dan Tata tidak pernah bertemu lagi ataupun menjalin komunikasi.


Tata sudah pindah dari kontrakan lamanya, dia tidak ingin lagi hidup dalam bayang-bayang ibu angkatnya yang sudah pergi menyusul papa dan mamanya.


Sementara, Riuga sudah kembali sibuk dengan urusan pekerjaan dan adik perempuannya.


Pagi itu, adalah hari pertama Tata mulai bekerja di sebuah perusahaan besar. Perusahaan yang dipimpin oleh seorang Direktur muda yang sangat tampan.


"Selamat pagi, Pak!" sapa Tata kepada Direktur perusahaan yang sedang duduk didalam ruangannya.


"Selamat pagi! Apa kau yang bernama Tata?" ucap Daniel kepada wanita cantik yang berdiri di depannya.


"Iya, Pak!" jawab Tata yang terlihat sedikit gugup didepan bosnya.


"Baiklah, sepertinya kau memang cocok untuk posisi ini. Selamat bergabung di Daniel Group! Semoga betah bekerja disini!" ucap Daniel menyambut kedatangan sekretaris barunya.


"Terimakasih, Pak Daniel! Saya akan berusaha sebaik mungkin. Kalau begitu, saya permisi dulu!" ucap Tata sembari melangkah keluar dari ruangan bosnya.


Mulai hari itu, Tata selalu fokus dengan pekerjaannya.


Keputusan untuk move on dari masa lalu, membuat Tata tidak ingin mengenang masa-masa pahit itu lagi dan mengubur semua sedalam mungkin agar tidak menjadi beban untuk masa depannya.


Hari demi hari berjalan dengan sangat menyenangkan. Tata yang sudah merasa nyaman dengan kehidupannya sekarang, tidak pernah lagi terlihat sedih.


Tata yang selalu terlihat ceria, mudah sekali bergaul dengan teman kantornya. Termasuk Daniel, bosnya yang sangat tampan dan baik kepada semua orang.


Malam itu, di istana megah Riuga sedang mengadakan acara menyambut kelulusan Adelia yang berhasil mendapatkan nilai terbaik di kampusnya.


Riuga yang merasa bangga dengan kemampuan adik perempuannya, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia mengundang beberapa tamu penting dan rekan bisnisnya.


"Hei, Harimau Sumatra!" sapa Daniel yang merupakan sahabat Riuga sejak mereka duduk di bangku kuliah.


"Tapir liar, akhirnya kau datang juga! Apa kabar?" sahut Riuga sembari memeluk sahabatnya yang sudah lama sekali tidak bertemu.


"Kau ini, makin lama makin tampan saja!" puji Daniel yang sangat merindukan sahabatnya itu.


"Kau juga, aku nyaris tidak mengenalimu. Aku pikir tamu tak diundang, hahahaha." Riuga tertawa begitu lepas saking senangnya menyambut kedatangan sahabat lamanya.


"Bisa saja kau ini, Riu! Hehehehe," sahut Daniel yang sedikit tersipu malu.


Riuga dan Daniel akhirnya menghabiskan waktu mereka bercengkrama sambil minum beberapa botol anggur.


"Riu, bagaimana kehidupan asmaramu? Apa kau sudah punya pendamping hidup?" tanya Daniel yang penasaran dengan laki-laki yang selalu kaku didepan wanita itu.

__ADS_1


"Pendamping hidup? Aish... sangat membosankan!" sahut Riuga yang tidak pernah mempedulikan wanita dalam hidupnya.


__ADS_2