
"Hahahaha,,, kau masih sama seperti Riuga yang ku kenal dulu, tidak punya nyali sama sekali!" ejek Daniel sembari menertawakan sahabatnya itu.
"Jangan menertawakan ku seperti itu! Kau juga sama, sampai saat ini juga masih sendiri." balas Riuga yang tidak mau kalah dengan ejekan Daniel.
"Siapa bilang? Setidaknya aku sudah punya calon. Tidak seperti dirimu." ucap Daniel dengan sangat yakin.
"Aish,,, aku sama sekali tidak percaya padamu! Mana mungkin putri malu seperti dirimu memiliki seorang wanita?" sahut Riuga yang tidak yakin dengan ucapan sahabatnya itu.
"Kau meremehkan sahabatmu ini? Baiklah, kita lihat minggu depan. Aku akan mengenalkannya padamu!" ucap Daniel yang sebenarnya juga masih ragu dengan perkataannya sendiri.
Daniel sebenarnya sama saja dengan Riuga, mereka sama-sama tidak mempunyai keberanian untuk mendekati seorang wanita. Apalagi Riuga yang selama ini hidup dalam kebencian.
"Ya sudah, aku pulang dulu! Kepalaku sudah mulai terasa pusing. Minggu depan kau jangan lupa menghadiri acara ulang tahun perusahaan ku!" ucap Daniel yang sudah mulai sempoyongan.
"Iya, aku pasti akan hadir!" sahut Riuga yang juga mulai merasa pusing.
Setelah pesta berakhir, Riuga kembali kedalam kamarnya dibantu oleh Soni yang saat itu ikut menghadiri acara tersebut.
"Istirahatlah!" ucap Soni sembari membaringkan tubuh Tuannya itu di atas tempat tidur.
"Tata..."
"Tata siapa? Ini Soni, Tuan!" sahut Soni dengan raut wajah kebingungan.
"Tata... Jangan pergi!"
"Ternyata dia mengigau." batin Soni setelah melihat mata Tuannya yang masih terpejam.
Soni kemudian melangkah meninggalkan Riuga sendirian di kamarnya. Namun, pikiran Soni sedikit terganggu dengan nama yang baru saja terucap dari mulut Tuannya itu.
"Siapa, Tata? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya." batin Soni yang mulai curiga dengan keanehan Tuannya.
"Apa dia menyukai seorang wanita? Tapi tidak mungkin, dia pernah bilang kalau tidak ingin.... Ah sudahlah, kenapa juga aku harus pusing memikirkan semua itu?" batin Soni sambil menggaruk kepalanya.
Pagi harinya, Riuga dan Soni berangkat bersama menuju Riuga Group.
Didalam perjalanan menuju perusahaan, Riuga hanya terdiam tanpa bersuara sedikitpun.
"Apa semalam Tuan tidur dengan nyenyak?" tanya Soni yang masih penasaran dengan kejadian tadi malam.
"Kenapa kamu menanyakan itu?" Bukannya menjawab pertanyaan Soni, Riuga malah bertanya balik kepada asisten pribadinya itu.
"Tidak apa-apa, Tuan! Semalam saya mendengar Tuan memanggil-manggil nama Tata. Memangnya Tata itu siapa, Tuan?" tanya Soni tanpa ragu.
"Bukan siapa-siapa! Fokus saja dengan pekerjaanmu!" ucap Riuga yang merasa aneh dengan pertanyaan Soni.
__ADS_1
"Baik, Tuan" sahut Soni yang memang sedang fokus mengemudikan mobil.
"Apa aku benar-benar menyebut nama wanita itu? Aish... Tidak mungkin!" batin Riuga yang tidak mengingat sama sekali apa saja yang terjadi dengannya tadi malam.
Sesampainya di perusahaan, Riuga meninggalkan Soni begitu saja dan bergegas masuk kedalam ruangannya dengan perasaan yang tidak menentu.
"Kenapa aku masih memikirkan wanita itu? Aku bahkan sudah lama tidak bertemu dengannya. Entah dimana dia sekarang? Aku tidak tau." batin Riuga yang tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.
"Tuan, kenapa?" tanya Soni yang baru saja sampai di ruangan Riuga.
"Tidak ada apa-apa! Apa jadwal ku hari ini?" tanya Riuga yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Sebentar lagi ada rapat dengan Daniel Group. Karena Tuan Daniel berhalangan hadir, dia mengutus sekretarisnya untuk menghadiri rapat ini." ucap Soni.
"Ya sudah, persiapkan semuanya sebelum orang itu datang!" perintah Riuga yang mulai terlihat dingin.
"Baik, Tuan!" ucap Soni sembari memeriksa kembali berkas yang ada dimeja Riuga.
Di kantor lain, Tata tengah gelisah memikirkan cara untuk menolak permintaan Daniel.
Mendengar nama Riuga Group saja, Tata sudah tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi dengannya jika bertemu kembali dengan laki-laki yang sangat dia benci itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin Tata yang sudah mulai kehabisan akal.
"Nona, sudah waktunya kita pergi! Rapat akan dimulai satu jam lagi." ucap sopir itu kepada Tata.
"Iya, Pak!" sahut Tata yang mulai pasrah dengan keadaannya.
Mau tidak mau, akhirnya Tata terpaksa mengikuti sopir itu. Walaupun sebenarnya Tata ingin menolak, tapi dia tidak mempunyai daya untuk melakukan semua itu.
Didalam perjalanan menuju Riuga Group, mobil yang membawa Tata sempat berhenti di lampu merah. Tiba-tiba mata Tata tertuju kearah pedagang keliling yang sedang menjajakan kacamata.
"Dek, ada kacamata hitam?" tanya Tata sambil membuka kaca mobilnya.
"Ada, Kak" ucap seorang remaja yang menjual berbagai macam kacamata itu.
Akhirnya, Tata bisa bernafas dengan lega setelah membeli kacamata hitam untuk menutupi wajahnya.
"Semoga saja dengan memakai kacamata ini, laki-laki brengsek itu tidak bisa mengenaliku." harapan Tata agar Riuga tidak menyadari kedatangan dirinya.
Sesampainya di Riuga Group, Tata langsung disambut oleh Soni.
"Selamat datang, Nona! Perkenalkan nama saya, Soni!" ucap Soni dengan ramah.
"Terimakasih!" jawab Tata tanpa memberitahu namanya kepada Soni.
__ADS_1
"Sombong sekali." batin Soni yang sedikit aneh melihat penampilan Tata.
Soni membawa Tata ke ruangan yang akan dijadikan untuk tempat pertemuan mereka.
Sesampainya di ruangan itu, jantung Tata tiba-tiba berdetak begitu kencang ketika melihat laki-laki yang dia benci sedang duduk dengan santai didepan matanya.
"Silahkan duduk, Nona!" ucap Soni.
"Terimakasih!" jawab Tata singkat.
Tata bahkan sampai berupaya untuk memalsukan suaranya agar tidak dikenali oleh Riuga.
"Bisa kita mulai?" ucap Riuga yang saat itu tidak menyadari keberadaan Tata di hadapannya.
"Silahkan!" jawab Tata kembali sesingkat mungkin.
Setelah kurang lebih setengah jam membahas kontrak kerjasama, Riuga mulai merasakan keanehan dalam diri wanita yang tengah duduk didepannya itu.
"Perasaan apa ini? Kenapa aku seperti sangat mengenalinya?" batin Riuga yang semakin curiga melihat gerak gerik Tata yang begitu mencurigakan.
"Nona, sebaiknya buka saja kacamata anda itu! Mungkin akan lebih nyaman melihat berkas kerjasama ini." pinta Riuga.
"Maaf, Tuan! Mata saya sedang sakit. Saya tidak ingin Tuan tertular jika saya membuka kacamata ini." jawab Tata sembari menundukkan kepalanya.
Mendengar suara Tata, Riuga seketika tersenyum dengan sinis karena mulai mengenali suara yang berasal dari bibir yang sangat dia sukai itu.
"Soni, tinggalkan kami berdua!" perintah Riuga yang membuat Soni merasa tidak berguna.
"Ada apa dengannya?" batin Soni yang tidak mengerti dengan perbedaan sikap Tuannya itu.
"Kenapa masih disitu? Mau gaji mu bulan ini aku potong!" ketus Riuga.
"Ti... Tidak, Tuan!" sahut Soni sembari berdiri dan melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Pembahasan kita sudah selesai kan, Tuan! Saya juga permisi!" sambung Tata yang mulai ketakutan melihat tatapan mengerikan dari mata Riuga.
Tata dengan cepat mengumpulkan semua berkasnya dan melangkah menuju pintu.
"Jangan pergi!" pinta Riuga sembari memeluk tubuh Tata dari belakang.
"Tuan, lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?" bentak Tata yang tengah membeku didalam pelukan Riuga.
"Percuma saja kau menutupi wajahmu itu, aku masih bisa mengenali dirimu!" ucap Riuga sembari mencium pundak Tata dengan lembut.
"Jika kau memang mengenaliku, sebaiknya lepaskan aku!" bentak Tata yang merasa kesal dengan tingkah Riuga.
__ADS_1