Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Mengalah


__ADS_3

Setelah kepergian Soni dari ruangannya, Riuga mulai memeriksa satu persatu berkas tawaran kerja sama yang sudah terletak di atas meja kerjanya.


Dari sekian banyak berkas yang dia pelajari, hanya satu yang mampu mencuri perhatian Riuga. Sebuah perusahaan yang berdiri sudah sejak lama, namun sepertinya sangat tertarik memiliki hubungan kerja sama dengan Riuga Group.


Dengan begitu gagahnya, Riuga bangkit dari tempat duduknya dan berjalan membawa berkas yang sudah dia pegang itu ke ruangan Soni.


"Soni, cari tau lebih dalam lagi tentang perusahaan ini! Entah kenapa, aku merasa tertarik untuk menerima tawaran kerja sama dari mereka!" ucap Riuga sembari melemparkan berkas yang dia pegang itu tepat di atas meja kerja Soni.


"Baik Tuan, sesuai perintah mu!" sahut Soni yang selalu siap melakukan tugas yang diberikan Riuga kepada dirinya.


"Ya sudah, lakukan dengan baik. Informasi sekecil apapun, pasti sangat berguna!" ucap Riuga sembari memutar tubuhnya hendak meninggalkan ruangan asisten pribadinya itu.


"Tunggu, Tuan! Aku lupa memberitahumu, beberapa hari ini Tuan Daniel selalu datang kesini mencari mu!" ucap Soni yang sudah beberapa kali di datangi oleh sahabat Riuga itu.


"Oh, baiklah. Aku akan menghubunginya!" sahut Riuga dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan.


Dengan santainya, Riuga melangkah kembali ke ruangannya. Sebelah tangan laki-laki tampan itu masuk kedalam saku celananya dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Halo, Daniel!" sapa Riuga dari balik telepon.


"Halo, Riu! Kau dimana, kenapa susah sekali menghubungimu?" ucap Daniel yang sudah beberapa hari mencari keberadaan sahabatnya itu.


"Aku di kantor, aku baru saja kembali dari luar kota!" sahut Riuga dengan santainya.


"Aku akan segera ke sana. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" ucap Daniel yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Riuga.


"Kebetulan sekali, aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu! Tapi, kita bertemu di kafe sebelah kantorku saja ya!" ucap Riuga yang ingin berbicara sedikit pribadi dengan Daniel.


"Ok, tidak masalah. Aku jalan sekarang!"


Daniel mematikan sambungan telepon mereka dan bergegas meninggalkan Daniel Group. Laki-laki baik hati itu benar-benar penasaran dengan apa yang sudah terjadi sebenarnya.


Ditempat lain, Tata dan Adelia baru saja selesai berbincang-bincang dan melepaskan kerinduan mereka satu sama lain.


Adelia bangkit dari tempat duduknya dan membawa calon kakak iparnya itu masuk kedalam kamar yang baru saja selesai dibersihkan oleh pelayan.

__ADS_1


"Kak Tata, ini adalah kamar untukmu yang sudah lama disiapkan oleh Kak Riu!" ucap Adelia yang sudah berada didalam kamar mewah itu.


"Wow, kamar ini tak kalah mewah dari kamar Riu! Aku merasa tidak pantas mendapatkan semua ini." sahut Tata yang merasa tidak enak hati.


"Jangan seperti itu, Kak Riu itu kan calon suami Kakak! Ini cuma sementara kok, sebentar lagi kalian juga akan tidur di kamar yang sama!" ucap Adelia menggoda sahabat kecil sekaligus calon kakak iparnya itu.


Adelia benar-benar gadis yang sangat polos, bahkan ucapan yang keluar dari mulutnya selalu terdengar apa adanya. Tata yang mendengar ucapan itupun hanya tertunduk malu dengan wajah merah menyala.


"Adel, jangan panggil Kakak ya. Kita kan seumuran!" ucap Tata mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kamu benar, kita memang seumuran. Tapi karena kamu sebentar lagi akan menjadi istri Kak Riu, aku harus memanggilmu Kakak!" sahut Adelia dengan senyuman polos yang membuat Tata tidak tahan untuk mencubit pipi Adelia saking gemesnya.


"Ahhh... Jangan cubit aku! Aku tidak ingin wajahku rusak. Susah payah aku merawatnya selama ini!" teriak Adelia sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Dasar gadis centil!" ketus Tata sembari tersenyum dan memeluk Adelia saking bahagianya.


Ditempat lain, Daniel baru saja tiba di kafe yang berada di sebelah Riuga Group. Tatapan mata Daniel terlihat sedikit liar mencari keberadaan sahabatnya.


"Aku disini!" teriak Riuga sembari melambaikan tangannya kearah Daniel.


"Maaf aku telat!" ucap Daniel sembari menekuk kakinya dan duduk tepat di hadapan Riuga.


"Tidak apa-apa, aku juga baru datang!" sahut Riuga dengan senyuman yang begitu menawan.


Riuga memanggil pelayan kafe dan segera memesan makanan untuk mereka berdua. Kebetulan siang itu adalah jam istirahat, jadi kafe tersebut sangat ramai dengan suara hiruk pikuk orang-orang yang tengah menikmati jam makan siang mereka di sana.


"Kenapa kau mencari ku, apa ada masalah?" tanya Riuga yang mulai membuka percakapan mereka.


"Ini mengenai Tata, dia menghilang saat pesta malam itu. Aku bermaksud meminta tolong padamu untuk mencarinya. Tapi, sepertinya aku menemukan keanehan saat menyelidikinya. Apa kau ada hubungan dengan menghilangnya Tata?" tanya Daniel tanpa ragu sedikitpun.


"Hahahaha, insting mu sangat kuat Daniel!" sahut Riuga sembari tertawa cekikikan.


"Aku tidak bercanda Riu. Kenapa kau malah tertawa?" tanya Daniel dengan tampang kebingungan.


"Maafkan aku Daniel, aku belum sempat memberitahumu! Tapi kali ini kau harus mengalah untukku!" ucap Riuga yang membuat Daniel semakin kebingungan sembari menggaruk kupingnya.

__ADS_1


"Jangan bertele-tele Riu! Aku sudah pusing, jangan membuatku semakin pusing!" sahut Daniel dengan tatapan penuh kegelisahan.


Melihat raut wajah sahabatnya yang sudah seperti anak monyet tak bertemu induknya itu, Riuga pun mulai merasa kasihan.


"Iya, iya. Gadis itu beberapa hari ini ikut bersamaku! Kami menghabiskan waktu berdua saja di sebuah pulau terpencil. Makanya kami tidak bisa menghubungi siapapun!" ucap Riuga dengan santainya.


"Apa maksudmu? Kau dan Tata..." Daniel mulai terbata-bata setelah mendengar pengakuan sahabatnya.


"Kami saling mencintai satu sama lain. Kami juga akan segera menikah dalam waktu dekat ini. Aku berharap, kau bisa melepaskannya untukku!" ucap Riuga dengan tatapan yang sangat meyakinkan.


"Bagaimana mungkin? Bukankah kalian baru saja berkenalan di acara malam itu?" tanya Daniel yang sama sekali tidak percaya dengan perkataan Riuga.


"Malam itu, kami hanya pura-pura tidak mengenal satu sama lain. Ego diantara kami berdua begitu tinggi, sehingga kami tidak berani mengakui perasaan masing-masing!" ucap Riuga yang membuat Daniel sedikit merasa kecewa.


Sesaat, tatapan mata Daniel terlihat begitu menyedihkan. Bagaimana tidak, satu-satunya wanita yang dicintainya ternyata mencintai sahabatnya sendiri. Laki-laki baik hati itu hanya terdiam mendengar penjelasan Riuga pada dirinya.


"Satu hal lagi yang perlu kau tau. Kami tidak hanya saling mencintai, tapi kami sudah terikat sejak kami masih kecil! Apa kau ingat dengan gadis kecil yang ku ceritakan tempo hari? Gadis itu ternyata adalah Tata. Entah ini hanya kebetulan ataukah jodoh yang sudah mempertemukan kami berdua. Aku harap kau bisa mengerti!" ucap Riuga menuntut kemurahan hati sahabatnya itu.


Lagi-lagi Daniel hanya terdiam mendengar perkataan Riuga. Hati Daniel memang terasa sangat hancur. Namun, Daniel juga memahami perasaan sahabatnya itu. Daniel sangat tau sekali, betapa tersiksanya Riuga selama ini mencari keberadaan gadis kecilnya itu.


"Ya sudah, aku mengerti. Aku harap kau bisa menjaganya dan membahagiakannya. Jika aku mendengar kau menyakitinya, jangan salahkan jika aku merebutnya darimu!" ucap Daniel yang dengan ikhlas mengalah demi sahabatnya itu.


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan membahagiakannya dengan caraku sendiri!" sahut Riuga sembari bangkit dari tempat duduknya.


Riuga menghampiri Daniel dan langsung memeluk sahabatnya itu dengan penuh rasa haru.


"Terimakasih, kau memang sahabatku yang terbaik. Semoga kau secepatnya menemukan wanita lain yang bisa mencintaimu dengan tulus!" ucap Riuga dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Adelia👇



Daniel👇


__ADS_1


__ADS_2