Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Kepergian Febri


__ADS_3

Riuga berteriak sekencangnya dan berusaha mengejar taksi tersebut, namun sayangnya Febri dan sopir taksi sama sekali tidak mendengar maupun melihat keberadaan Riuga dan terus berlalu meninggalkan pekarangan hotel.


Sementara itu Soni dan Tata baru saja tiba di gerbang kantor, mereka berdua bahkan sempat menyaksikan kejadian tersebut dan hanya bisa saling menatap satu sama lain.


"Soni, bagaimana ini?" tanya Tata dengan wajah sedihnya.


"Tunggu di sini, aku akan mengambil mobil!" sahut Soni yang terlihat kebingungan.


"Aku ikut, aku harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Febri tidak boleh pergi dengan cara seperti ini!" ucap Tata yang merasa bersalah.


"Baiklah, ayo cepat!" ajak Soni.


Mereka berdua berlari ke arah mobil yang sedang terparkir di parkiran kantor. Dengan wajah penuh tanda tanya, Soni pun bergegas masuk ke dalam mobil yang kemudian diikuti oleh Tata yang sudah tak kuasa membendung air matanya.


Wajah Soni masih tampak kebingungan memikirkan apa yang sedang terjadi sebenarnya, namun laki-laki tampan itu berusaha untuk tenang dan dengan sigap menyalakan mesin mobilnya.


"Cepat Soni, jangan sampai kita kehilangan jejak Febri!" pinta Tata sembari menyeka air matanya yang masih berjatuhan.


Soni pun menginjak pedal gas mobilnya dan melaju menyusul taksi yang ditumpangi oleh Febri.


Sementara itu, Riuga tampak sangat terpukul atas kepergian sahabatnya yang baru saja berkumpul dengan dirinya setelah sekian lama.


Dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya, Riuga terlihat menekuk kakinya hingga terduduk lesu di atas trotoar. Dia memukul wajahnya sendiri karena menyesali keegoisan yang sudah dia lakukan.


"Apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku jadi seperti ini?" gumam Riuga sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


Di tempat lain, Soni berhasil mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Febri. Dari arah belakang, Soni terus membuntuti taksi tersebut dan berusaha menghentikannya. Namun keadaan jalan yang sedang ramai, membuat Soni kesulitan mendahului taksi tersebut.


"Cepat Soni, hentikan taksi itu!" pinta Tata harap-harap cemas.


"Tenanglah Tata, kita pasti bisa menyalip taksi itu. Aku juga tidak ingin Febri pergi dengan cara seperti ini. Lagian, apa yang sudah terjadi dengan kalian sebenarnya?" tanya Soni yang masih fokus menyetir mobilnya.


"Entahlah, aku sendiri juga bingung. Kenapa Riuga harus cemburu kepada sahabatnya sendiri?" sahut Tata dengan wajah sedihnya.


"Ya Tuhan, hanya gara-gara itu. Apa dia sudah gila?" ketus Soni.


"Mungkin saja, aku bahkan tidak mengerti dengan sikapnya yang terlalu berlebihan itu." sahut Tata dengan lesunya.


"Ya begitulah dia, kau harus belajar membiasakan diri agar bisa lebih sabar menghadapinya." ucap Soni mengingatkan Tata.


"Kau benar, sudahlah tidak usah dibahas lagi. Fokus saja menyetir, jangan sampai kita kehilangan jejak!" sahut Tata.


"Ya, ya, kau tenang saja. Jangan remehkan kemampuan menyetir ku!" sahut Soni sembari tersenyum lebar.

__ADS_1


Setelah cukup lama membuntuti taksi yang ditumpangi Febri, Soni akhirnya berhasil menyalip dan menghadang laju dari taksi tersebut.


Ulah keberanian Soni tersebut, sang sopir taksi pun tampak terkejut dan menginjak pedal rem secara tiba-tiba. Febri yang duduk di bangku belakang pun tak kalah terkejutnya hingga membuat tubuhnya tersungkur ke arah depan.


"Apa yang kau lakukan, kenapa berhenti mendadak seperti ini?" tegas Febri sembari memperbaiki posisi duduknya.


"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud mencelakai Tuan. Ada mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak dan menghadang kita di depan sana." sahut Sopir taksi.


"Ada apa lagi ini?" gumam Febri sembari membuka pintu taksi.


Febri yang tidak menyadari kalau semua itu ulah Soni, akhirnya turun dari taksi dan bergegas menghampiri mobil yang sudah mengganggu perjalanannya itu.


Belum sempat Febri memarahi sang Sopir yang dianggapnya ugal-ugalan di jalan itu, Soni pun turun dari mobil bersamaan dengan Tata.


"Soni, Tata, kalian..."


"Kenapa, apa aku sudah mengganggu perjalananmu?" sahut Soni sembari mendekat ke arah Febri.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Febri.


"Dasar bodoh, tentu saja kami di sini untuk mencegah kepergian mu." bentak Soni.


"Maafkan aku Soni, tapi aku benar-benar harus pergi. Ada pekerjaan penting yang harus aku urus." sahut Febri dengan dinginnya.


"Maafkan aku, aku tidak bisa ikut dengan kalian. Aku benar-benar harus pergi."


Febri memalingkan wajahnya dari Soni dan Tata. Dia kemudian melangkah kembali ke arah taksi yang masih menunggunya di pinggir jalan.


"Tunggu Febri, tolong jangan pergi!" teriak Tata sembari berlari dan menghadang langkah Febri.


"Aku mohon Tata, biarkan aku pergi!" ucap Febri.


"Tidak Febri, kau tidak boleh pergi. Kita harus bicara dan menyelesaikan kesalahpahaman ini!" tegas Tata.


"Tolong mengertilah Tata, aku harus pergi!" ucap Febri.


"Aku tau kau tersinggung dengan ucapan Riuga tadi, tapi bukan begini caranya menyelesaikan masalah. Kalian baru saja bertemu, kenapa harus berpisah lagi hanya gara-gara masalah sepele seperti ini?" jelas Tata meyakinkan Febri.


"Aku tidak bisa tinggal bersama kalian lagi, kehidupan kami sudah berbeda. Riuga sudah memiliki keluarganya sendiri, aku tidak ingin menjadi perusak diantara hubungan kalian!" ucap Febri.


"Apa kau pernah berpikir untuk merusak hubungan kami?" tanya Tata dengan lantangnya.


"Tentu saja tidak, aku bahkan sudah menganggap mu seperti adikku sendiri." sahut Febri membantah pertanyaan Tata .

__ADS_1


"Kalau begitu tidak ada alasan lagi untuk pergi meninggalkan kami." tegas Tata.


"Tapi Tata..."


"Ssttt... Tidak ada tapi-tapi. Ayo Soni, tolong ambil koper Febri dan bawa masuk ke dalam mobil!" pinta Tata.


"Siap bos, aku datang." sahut Soni sembari tersenyum senang.


Soni pun bergegas mengambil koper Febri dan membayarkan tagihan taksi yang baru saja ditumpangi oleh Febri.


"Maaf ya Pak, teman kami tidak jadi pergi." ucap Soni sembari mengulurkan beberapa lembar uang kepada Sopir taksi.


"Baik Tuan, tidak apa-apa. Tapi ini kebanyakan Tuan." sahut Sopir taksi.


"Tidak apa-apa, ambil saja untuk Bapak!" ucap Soni sembari tersenyum sumringah.


"Ya ampun, terima kasih banyak ya Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Sopir taksi.


"Baiklah, silahkan!" sahut Soni.


Setelah taksi tersebut pergi meninggalkan mereka, Soni pun membawa koper Febri masuk ke dalam mobil.


"Ayo masuklah Febri, duduklah di depan bersama Soni. Biar aku duduk di belakang saja!" ajak Tata.


"Tapi Tata..."


"Jangan membantah lagi Febri, ikuti saja permintaan Tata itu. Aku harus segera kembali ke kantor. Kalau tidak, aku bisa mati sia-sia di tangan Riuga!" canda Soni sembari tersenyum tipis.


"Baiklah, tapi aku belum siap berhadapan lagi dengan Riuga. Aku tidak ingin membuatnya semakin marah!" sahut Febri yang masih merasa bersalah.


"Untuk apa kau takut bertemu dengannya, kau belum tau saja bagaimana reaksi dia tadi saat mengejar taksi yang kau tumpangi. Hahahaha..." ucap Soni sembari tertawa dengan lantang.


"Apa maksudmu, apa dia melihat kepergian ku?" tanya Febri heran.


"Bukan hanya melihat, tapi dia juga mengejar taksi mu dan berteriak seperti orang gila." sahut Soni menjelaskan.


"Benarkah?" tanya Febri dengan tatapan tidak percaya.


"Sudahlah, ayo masuk. Nanti saja kita bahas setelah sampai di kantor. Riuga pasti saat ini sedang meratapi kesalahannya." tambah Tata.


"Ya, kau benar. Aku bahkan ingin sekali menertawakan dirinya. Tapi ya sudahlah, sebaiknya kita segera kembali. Takutnya dia semakin marah saat menyadari istri tercintanya menghilang dari kantor." sambung Soni.


Setelah mereka bertiga masuk ke dalam mobil, Soni pun dengan cepat memutar setir mobilnya dan kembali ke arah kantor dengan raut wajah bahagianya.

__ADS_1


__ADS_2