
Selagi semuanya tengah asyik dengan perbincangan mereka masing-masing, Adelia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah belakang untuk mencuci tangannya.
Diwaktu yang bersamaan, ternyata Daniel sedang berada di dalam kamar kecil yang tidak terlalu jauh dari wastafel tempat Adelia mencuci tangan.
"Kreeek"
Daniel keluar dari kamar kecil dengan langkah tertatih-tatih. Efek minuman yang cukup banyak dia konsumsi, membuat kepalanya terasa pusing sehingga kesulitan mengendalikan dirinya sendiri.
Adelia baru saja selesai mencuci tangannya. Dia meraih tisu dan mengeringkan tangannya sembari berbalik hendak meninggalkan ruangan belakang.
"Braaak"
Tiba-tiba saja langkah Adelia terhenti saat mendengar suara benturan yang begitu jelas di telinganya.
Dengan raut wajah yang terlihat sedikit cemas, Adelia memberanikan diri melangkah kearah sumber suara dengan perlahan.
"Kak Daniel," gumam Adelia yang terkejut melihat Daniel yang sudah terduduk di atas lantai.
Adelia bergegas menghampiri Daniel dan menekuk kakinya di atas lantai dalam posisi bersimpuh.
"Kak Daniel, apa yang terjadi?" tanya Adelia sembari menepuk-nepuk lengan Daniel dengan pelan.
"Adel, kamu..." gumam Daniel.
"Iya Kak Daniel, ini Adel. Ayo, Adel bantu berdiri!"
Adelia mencoba menarik tangan Daniel untuk membantunya berdiri. Namun tubuh Daniel yang begitu berat, membuat Adelia kesulitan mengangkat tubuh laki-laki tampan itu.
"Kak Daniel berat sekali, Adel tidak sanggup membantu Kakak. Adel minta bantuan sebentar ya, Kakak tunggu dulu disini!" ucap Adelia sembari bangkit dari lantai.
Daniel dengan cepat menahan tangan Adelia dan menggenggamnya dengan erat.
"Jangan Adel, cukup kamu saja yang tau. Jangan memberi tau siapapun!" pinta Daniel dengan tatapan memelas.
Adelia kembali menekuk kakinya dan duduk di samping Daniel. Gadis yang tidak mengetahui apa-apa itu, hanya bisa menatap wajah Daniel dengan perasaan iba.
__ADS_1
"Adel, tolong bawa Kakak ke taman belakang ya!" pinta Daniel sembari bangkit dari lantai dengan perlahan.
Adelia melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Daniel. Begitupun dengan Daniel yang mulai melingkarkan sebelah tangannya di pundak Adelia. Mereka berdua mulai melangkah dengan perlahan menuju taman belakang istana megah itu.
Sesampainya di belakang, Adelia kemudian mendudukkan laki-laki yang sudah dia anggap sebagai kakak itu di sebuah kursi. Adelia pun ikut duduk menemani Daniel di sebelahnya.
Daniel menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Pelan-pelan dia mulai menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
"Kak Daniel ada masalah, kenapa minum terlalu banyak?" tanya Adelia dengan polosnya.
"Maafkan Kakak karena sudah merepotkan kamu. Kakak hanya minum sedikit, tapi perasaan inilah yang membuat Kakak menjadi mabuk." sahut Daniel sembari menatap kearah langit yang bertabur bintang.
"Tidak apa-apa Kak, jadi Kak Daniel sedang patah hati toh!" ucap Adelia dengan santainya.
"Ya begitulah, untung saja perasaan itu belum terlalu dalam. Jadi tidak terlalu menyakitkan buat Kakak." sahut Daniel sembari menoleh kearah Adelia.
"Ikhlaskan saja Kak, mungkin dia itu bukan jodohnya Kakak!" ucap Adelia yang ikut menatap kearah Daniel.
Sesaat pandangan mata mereka berdua pun bertemu dan saling terdiam satu sama lain. Kecantikan dan kepolosan Adelia membuat Daniel terpaku tanpa bisa berucap sepatah katapun.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi. Cinta itu memang terkadang memiliki jalannya sendiri. Kita tidak pernah tau kemana hati kita akan berlabuh. Tapi Adel yakin, laki-laki baik seperti Kak Daniel pasti akan menemukan wanita yang baik pula!" ucap Adelia yang membuat Daniel mulai tersenyum dengan tipis.
"Hahahaha... Tentu saja. Apa Kakak pikir Adel ini akan jadi anak kecil terus?" ucap Adelia sembari tertawa cekikikan.
Melihat ketawa Adelia yang begitu lepas, beban di benak Daniel pun mulai sedikit berkurang. Ucapan Adelia membuat Daniel sadar kalau cinta itu tidak harus saling memiliki.
"Kamu benar, Kakak harus move on dan merelakan wanita itu bersama laki-laki yang dia cintai!" ucap Daniel yang kembali bersemangat setelah mendengar ucapan Adelia.
"Nah gitu dong, itu baru namanya Kak Daniel. Laki-laki tampan yang baik hati dan tidak egois." sahut Adelia sembari tersenyum dengan lebar.
"Kamu ini, jangan memuji Kakak terlalu berlebihan. Bisa-bisa nanti kamu malah naksir sama Kakak!" canda Daniel sembari mencubit pipi Adelia saking gemesnya.
"Naksir sama Kakak, gak dulu deh. Mana mau Adel sama laki-laki yang sudah tua seperti Kakak. Bisa-bisa nanti Adel ikut-ikutan tua lagi." sahut Adelia dengan begitu polosnya.
"Hahahaha... Benar juga apa yang kamu bilang itu. Sudahlah, ayo kita masuk!"
__ADS_1
Daniel bangkit dari tempat duduknya dan tanpa sadar langsung menggenggam tangan Adelia dengan erat. Mereka berdua mulai mengayunkan kaki dan melangkah menuju pintu belakang.
"Kak Daniel, cepat lepaskan tangan Adel. Nanti semua orang melihatnya dan mereka bisa salah paham pada kita!" pinta Adelia yang tidak ingin membuat kegaduhan di acara kakaknya itu.
Daniel mulai menyadarinya dan bergegas melepaskan genggaman tangannya dari Adelia. Dia kemudian tersenyum dan terlihat sedikit canggung karena sudah lancang menyentuh tangan gadis cantik itu.
Sesampainya di ruang utama, ternyata suasana rumah sudah kembali sepi. Satu persatu dari mereka sudah meninggalkan kediaman Riuga karena malam sudah semakin larut.
"Dari mana saja kalian?" tanya Riuga yang saat itu tengah duduk bersama istrinya.
"Kami tidak sengaja bertemu di belakang, makanya kami berjalan berbarengan!" sahut Daniel menjelaskan kepada sahabatnya itu.
Adelia menundukkan kepalanya karena takut akan kemarahan kakaknya. Dia mulai melangkahkan kakinya dan naik ke lantai atas menuju kamarnya.
"Aku pulang dulu ya, terimakasih untuk jamuan makan malamnya!" ucap Daniel tanpa beban sedikitpun.
"Iya Pak Daniel, terimakasih juga atas kedatangannya!" sahut Tata kepada mantan bos nya itu.
"Tidak perlu memanggilku dengan sebutan itu. Kau sekarang sudah menjadi Nyonya besar di rumah ini. Panggil saja namaku seperti suamimu memanggilku!" ucap Daniel.
"Ayo aku antar ke depan!" ucap Riuga sembari merangkul pundak sahabatnya itu.
Mereka berdua melangkah kearah pintu utama. Tidak ada beban sedikitpun terlihat diantara mereka.
Rencana Tuhan memang tidak selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan. Tapi ikatan persaudaraan terkadang mampu meruntuhkan keegoisan dalam diri seseorang.
"Terimakasih sudah datang Daniel. Aku harap semua ini tidak akan merusak persahabatan diantara kita!" ucap Riuga sembari memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Aku sudah ikhlas Riu, jangan merasa bersalah padaku. Ini sudah Tuhan gariskan untuk kita. Tata adalah jodohmu, tidak ada seorang manusia pun yang bisa mengubah takdir itu!" sahut Daniel sembari menepuk-nepuk punggung Riuga.
Setelah kepergian Daniel, Riuga kembali ke dalam menemui istri cantiknya yang sudah menunggu di bawah tangga.
Dengan senyuman yang begitu menawan, Riuga langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya melangkah menaiki anak tangga.
"Sayang, aku bisa berjalan sendiri!" bisik Tata sembari mengalungkan tangannya di leher Riuga.
__ADS_1
"Tenaga mu tidak boleh terkuras dengan menaiki anak tangga ini. Pekerjaan berat sudah menantimu sayang, jadi kumpulkan dulu tenaga mu untuk tugas penting itu!" sahut Riuga sembari mengecup kening istrinya dengan lembut.
Mendengar ucapan suaminya, Tata langsung paham dan menyembunyikan wajahnya di belahan ketiak Riuga. Perasaan takut dan malu pun sudah membaur menjadi satu di dalam hati wanita cantik itu.