Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Makan Malam


__ADS_3

Didalam perjalanan menuju kediaman mereka, Riuga menyempatkan diri untuk menghubungi Daniel.


Walaupun Riuga tau kalau sahabatnya itu tengah patah hati, tapi bagaimanapun juga Daniel harus tau mengenai pernikahan mereka yang sudah dilaksanakan.


"Drttt... Drttt..."


"Halo, Riu. Ada apa?" tanya Daniel dari balik telepon.


"Halo, Daniel. Maaf, mengganggu waktumu sebentar!" ucap Riuga.


"Kau ini seperti orang lain saja, ada apa?" sahut Daniel.


"Malam ini kau ada acara tidak? Aku ingin mengundangmu untuk makan malam di rumah!" ucap Riuga.


"Tumben, ada acara apa?" tanya Daniel.


"Aku dan Tata sudah menikah. Kami ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan!" ucap Riuga.


"Baiklah, aku pasti datang. Selamat untuk kalian berdua!" sahut Daniel.


Daniel kemudian memutuskan sambungan telepon mereka. Meskipun hatinya masih sedikit kecewa, tapi dia juga ikut bahagia untuk sahabatnya itu.


Sesampainya di rumah, mereka berdua di sambut oleh semua penjaga dan pelayan yang bekerja di istana itu dengan istimewa.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Riuga!" ucap mereka semua secara bersamaan.


"Terimakasih!" sahut Riuga dan Tata sembari menebar senyum kepada semua orang.


Saat hendak melangkah kearah pintu utama, mereka berdua tiba-tiba terkejut melihat bunga-bunga yang berjatuhan di atas kepala mereka.


Saking senangnya, Tata sampai berputar-putar menikmati suasana yang sama sekali belum pernah dia rasakan sebelumnya itu.


"Wow, indah sekali!" ucap Tata sembari merentangkan kedua tangannya dan menari-nari di bawah siraman bunga tersebut.


Melihat keceriaan di wajah istrinya, Riuga tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Dia pun dengan cepat menarik tangan Tata ke dalam pelukannya.


Tanpa malu, Riuga langsung mengecup bibir istrinya itu di hadapan semua orang. Suasana romantis itupun membuat semua orang tersenyum bahagia sembari bertepuk tangan.


Sadar dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya, Tata pun terlihat malu-malu kucing. Dia mulai menutupi wajahnya dan bersembunyi di belahan ketiak suaminya.


Melihat wajah istrinya yang sudah merah menyala, Riuga pun segera mengangkat tubuh Tata dan menggendongnya menuju kamar mereka.


Sesampainya di dalam kamar, Tata semakin terkejut melihat kamar mereka yang sudah di hiasi layaknya kamar pengantin baru pada umumnya.


Tidak hanya kilauan cahaya lampu yang berkerlipan, tapi juga bunga-bunga yang bertaburan di atas lantai. Bahkan di atas tempat tidurpun sudah bertaburan bunga mawar merah berbentuk hati.

__ADS_1


"Sayang, apa aku sedang bermimpi?" tanya Tata sembari mengucek kedua kelopak matanya.


"Tidak sayang, ini nyata!" sahut Riuga sembari menurunkan Tata dari gendongannya.


Tata kembali melompat ke dalam pelukan suaminya dan mengalungkan tangannya di leher Riuga.


"Terimakasih, sayang. Aku benar-benar bahagia!" ucap Tata yang begitu senang dengan semua kejutan yang sudah di siapkan oleh suaminya itu.


"Tidak perlu berterimakasih. Aku ini suamimu, sudah kewajiban ku membuatmu selalu tersenyum. Karena senyuman ini begitu indah di mataku!" ucap Riuga sembari menempelkan hidung mereka berdua.


Tata meninjitkan kakinya dan mulai mengecup bibir suaminya dengan lembut. Bibir mereka pun saling bertautan dan mulai ******* satu sama lain.


"Sudah cukup sayang, jangan memancingku disaat seperti ini!" ucap Riuga sembari melepaskan ciuman mereka.


"Kenapa sayang, kau tidak suka? Atau karena aku belum mandi?" tanya Tata sembari mengendus area ketiaknya.


"Bukan itu sayang, gak mandi seminggu pun tidak masalah bagiku. Aku hanya takut lepas kendali. Kita masih harus turun ke bawah untuk makan malam. Apa kau mau turun dalam keadaan kesakitan?" sahut Riuga sembari mengacak-acak rambut istrinya.


"Oh iya, aku lupa. Kalau begitu, aku mau kembali ke kamarku dulu!" ucap Tata sembari melangkah kearah pintu.


"Sekarang kamarmu disini sayang. Kenapa masih mau kembali ke sana?" ucap Riuga menahan langkah kaki Tata.


"Aku mau istirahat sebentar sayang, tubuhku rasanya lelah sekali. Mana mungkin aku merusak bunga-bunga itu?" ucap Tata sembari tersenyum manja.


"Tidak bisa, kamu istirahat disini saja!" ucap Tata menahan tubuh suaminya.


"Kenapa aku tidak boleh ikut?" tanya Riuga dengan tatapan yang tak biasa.


"Karena suamiku ini tidak bisa dipercaya!"


Tata membuka hills nya dan berlari kencang kearah kamarnya. Dengan cepat, Tata mengunci pintu dan menyandarkan punggungnya sembari mengatur nafasnya yang terasa sedikit sesak.


Riuga hanya bisa tersenyum sembari mengacak-acak rambutnya. Tingkah Tata benar-benar membuat Riuga semakin penasaran dengan istri cantiknya itu.


*****


Malam harinya, Tata kembali ke kamar mereka hanya mengenakan handuk di tubuhnya.


"Sayang, kenapa belum bersiap-siap?" tanya Riuga yang sudah terlihat sangat rapi.


"Tidak ada pakaian di sana. Apa sudah dipindahkan ke sini?" sahut Tata sembari melangkah kearah lemari.


"Iya sayang, maaf aku lupa memberitahumu. Ayo, cepatlah!" ucap Riuga sembari menatap tubuh istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Tata mulai mengenakan pakaiannya tanpa rasa canggung sedikitpun di depan suaminya. Tubuh Tata yang begitu mulus membuat Riuga tak bisa berkedip sedikitpun menyaksikan kemolekan tubuh istrinya itu.

__ADS_1


Sadar dengan respon tubuhnya sendiri, Riuga pun dengan cepat memalingkan pandangannya.


"Sayang, bantu aku!" ucap Tata yang tengah kesulitan memasang resleting gaunnya.


"Ada apa sayang?" tanya Riuga sembari melangkah kearah istrinya.


"Aku tidak bisa menjangkau resleting ini sayang!" ucap Tata sembari membelakangi suaminya.


Melihat punggung istrinya yang putih mulus, Riuga pun hanya bisa menatap sembari menelan air ludahnya sendiri.


"Sayang, ayo cepat!" ucap Tata yang membuat Riuga terperanjat.


"I... Iya sayang!" sahut Riuga terbata-bata.


Dengan sangat hati-hati, Riuga mulai menaikkan resleting gaun Tata dan memberikan sedikit kecupan di sana.


*****


Pukul 19.00 malam, mereka berdua mulai melangkah menuruni anak tangga.


Tata melingkarkan tangannya di lengan Riuga. Mereka berdua tak henti-hentinya menebar senyum kepada kerabat dekat mereka yang sudah datang menghadiri undangan makan malam itu.


Meskipun hanya makan malam keluarga, tapi Riuga tidak melupakan pekerjanya sedikitpun. Semuanya ikut merasakan kebahagiaan yang tengah dia rasakan saat ini. Tidak terkecuali Malik dan anak buahnya yang lain.


Tidak ada perbedaan status di antara mereka. Semua sama rata di mata Riuga. Apa yang mereka nikmati, itu juga yang di nikmati oleh para pekerjanya.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Riuga. Selamat untuk pernikahan kalian!" ucap semuanya secara bersamaan.


"Terimakasih, semuanya!" sahut Riuga dan Tata dengan serentak.


Daniel yang juga sudah hadir pada saat itu, mulai melangkah kearah sepasang pengantin baru itu.


"Selamat ya Riu, Tata. Semoga kalian bahagia selalu dan cepat mendapatkan momongan!" ucap Daniel berlapang hati sembari mengulurkan tangannya kearah mereka berdua.


"Terimakasih, Daniel!" sahut Riuga sembari memeluk sahabatnya itu dan menepuk-nepuk punggung Daniel dengan pelan.


Setelah semua berkumpul, makan malam itupun mulai berjalan dengan begitu hangat. Gelak tawa dan canda pun terdengar bergemuruh di dalam istana megah itu.


Setelah makan malam mereka selesai, satu persatu dari mereka mulai berpencar dan menikmati kesibukan mereka masing-masing.


Tata duduk bersama istri Soni yang saat itu juga datang menghadiri makan malam sederhana itu. Mereka berbincang-bincang ditemani oleh Adelia dan beberapa pelayan wanita yang bekerja di tempat itu.


Sementara itu, Riuga, Soni, Malik, dan Daniel tengah asyik bersenda gurau di ruang tamu. Mereka berbincang-bincang di temani beberapa botol anggur, sekedar penghangat tubuh mereka.


Tidak dengan anak buah Malik dan beberapa pekerja laki-laki lainnya, yang memanfaatkan momen itu dengan minum sepuasnya di teras istana.

__ADS_1


__ADS_2