
"Riu, jadi maksudmu..."
Tata mengangkat kepalanya dari dada Riuga dan menatap mata laki-lakinya itu mencari kebenaran.
"Iya Tata, Papamu Paman Haikal kan? Dia adalah Pamanku yang sangat aku sayangi. Sebelum kau lahir, akulah yang menjadi putra kesayangannya." ucap Riuga sembari meneteskan air mata kerinduannya.
"Riu, maafkan aku. Aku sudah salah paham padamu!"
Tata merasa bersalah karena sudah menuduh Riuga yang bukan-bukan. Wanita cantik itu kembali memeluk tubuh Riuga dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di dada laki-laki tampannya itu.
"Sejak kepergian kedua orang tuaku, hanya kotak inilah yang tersisa. Aku sudah berusaha mencari kalian waktu itu, tapi keadaanku saat itu tidak memungkinkan. Aku kehilangan semuanya, aku juga harus membanting tulang di sebuah pertambangan untuk melanjutkan hidupku dan Adelia yang saat itu masih terlalu kecil." ucap Riuga berderaian air mata.
Riuga menenggelamkan wajahnya di pundak Tata dan membalas pelukan wanitanya tak kalah erat. Air mata yang tak henti-hentinya menetes, membuat pakaian Tata jadi basah ulah Riuga.
"Riu, lalu apa yang terjadi? Kenapa hidupmu bisa berubah seperti ini?" tanya Tata tanpa melepaskan pelukan mereka.
"Di pertambangan, aku di perlakukan seperti seekor anjing. Bahkan anak-anak seusia ku yang bekerja di sana, sering memberontak karena upah yang kami dapatkan tidak sebanding dengan tenaga yang sudah kami keluarkan."
Riuga mulai terpaku dan mengingat kembali kejadian pahit yang sudah dia lalui saat bertahan hidup demi Adelia.
Flashback
Beberapa minggu setelah kepergian kedua orang tuanya, laki-laki tampan itu selalu saja mendapatkan ancaman dari beberapa orang yang ingin mengambil alih harta yang sebenarnya milik Pamannya Haikal. Hal itu membuat Riuga mengambil keputusan untuk meninggalkan semuanya dan pindah ke luar kota demi keselamatan adik perempuannya.
Setelah sampai di luar kota, Riuga mulai kebingungan karena sudah tidak memiliki uang sama sekali. Bahkan untuk membeli makanan saja, Riuga sudah tidak sanggup.
Selama dua malam Riuga dan Adelia harus tidur di bawah kolong jembatan, mengikuti orang-orang yang tidak memiliki rumah seperti mereka.
Malam itu, Riuga tidak bisa memejamkan mata sedikitpun. Matanya mulai berbinar memandangi adik kecilnya yang tengah tertidur lelap di atas pahanya. Tidur di atas kardus berkas tanpa selimut, menggulung tubuh sendiri menahan dingin yang menusuk hingga ke jantung.
"Hai, kau kenapa?" tanya seorang anak laki-laki yang baru saja datang kearah mereka.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit sedih memikirkan nasib adikku ini!" ucap Riuga sembari mengusap kedua matanya.
__ADS_1
"Kau sudah makan? Aku ada sedikit makanan, makanlah dulu! Nanti kita berbincang-bincang lagi!" ucap anak laki-laki yang seumuran dengan Riuga.
"Itu makananmu, kau saja yang makan! Aku sudah kenyang." sahut Riuga berbohong, padahal perut Riuga saat itu sudah sangat kelaparan.
"Jangan berbohong, aku tau kau belum makan dari tadi! Tadi aku menyelipkan makanan ini dari tempat kerjaku, kau makanlah dulu! Sebelum kesini aku sudah makan." ucap anak laki-laki itu sembari menaruh makanan itu ke tangan Riuga.
"Terimakasih!" ucap Riuga yang akhirnya menerima makanan itu.
Dengan tangan yang sudah gemetaran menahan lapar, Riuga mulai membuka nasi bungkus itu dan melahapnya dengan berderaian air mata.
"Jangan menangis, hidup ini memang kejam! Kau harus kuat demi adikmu ini!" ucap anak laki-laki yang masih duduk di hadapan Riuga.
Selesai makan, mereka berdua kembali berbincang-bincang dan saling mengenalkan diri satu sama lain.
"Kenalkan, namaku Riuga. Dan ini adikku Adelia." ucap Riuga sembari mengulurkan tangannya kearah anak laki-laki itu.
"Namaku Febrian, cukup panggil aku Febri saja!" sahut anak laki-laki itu sembari bersalaman dengan Riuga.
*****
"Riuga, kau mau tidak bekerja di tempatku? Kerjanya memang sedikit berat, tapi setidaknya bisa membantumu menghidupi adikmu ini!" ajak Febri yang kasihan melihat nasib Riuga.
"Aku mau, tapi aku tidak bisa meninggalkan adikku sendirian! Dia masih terlalu kecil." sahut Riuga memikirkan kondisi adiknya saat itu.
"Ikutlah denganku, aku punya tempat yang aman untuk adikmu itu!" ucap Febri yang mulai melangkah keluar dari kolong jembatan.
Riuga menggendong Adelia di punggungnya dan mengikuti langkah kaki Febri menuju sebuah rumah yang tidak begitu jauh dari tempat mereka tidur.
"Tempat apa ini, Febri?" tanya Riuga kebingungan.
"Ini adalah panti asuhan khusus untuk anak perempuan. Kau bisa menitipkan adikmu disini dulu! Kau bisa mengunjunginya kapanpun yang kau mau!" ucap Febri yang membuat mata Riuga melotot seketika.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkan adikku disini sendirian?" ucap Riuga dengan tatapan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Kau harus bisa, Riuga! Jika tidak, bagaimana bisa kau memenuhi kebutuhan kalian?" ucap Febri menguatkan Riuga.
Mau tidak mau, dengan berat hati Riuga akhirnya meninggalkan adiknya yang tengah tertidur di gendongannya itu di panti asuhan. Riuga menitipkan Adelia kepada Ibu panti, dan berjanji menjemput adiknya itu secepat mungkin.
*****
Setelah beberapa bulan bekerja di pertambangan, Riuga belum pernah sekalipun menjenguk adiknya, dia takut Adelia sedih melihat kedatangannya. Namun, Riuga selalu mengirimkan hadiah untuk Adelia dan uang untuk Ibu panti melalui sahabatnya Febri.
"Riuga, adikmu baik-baik saja! Aku sudah memberikan hadiah darimu padanya, dia sangat senang! Tapi, dia juga sedih karena ingin sekali bertemu denganmu!" ucap Febri yang baru saja kembali dari panti asuhan.
"Terimakasih, Febri. Kau memang yang terbaik. Kita akan segera menjemputnya dan pergi dari tempat ini secepat mungkin!" ucap Riuga sembari tersenyum dengan liciknya.
"Kalau begitu, saatnya kita beraksi!" sahut Febri yang ikut tersenyum dengan licik.
Dua laki-laki itupun kembali ke pertambangan dan mulai mengatur siasat mereka.
Sejak bekerja di pertambangan, Riuga mulai terlatih menjadi sosok laki-laki yang keras dan kejam. Diperlakukan seperti seekor anjing, sudah tidak masalah lagi untuk Riuga dan Febri. Dipukul, dicambuk bahkan diinjak-injak, sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka berdua.
Dalam beberapa bulan terakhir, Riuga dan Febri sudah berhasil menggelapkan hasil tambang dan menjualnya dengan harga yang lumayan rendah.
Tentu saja banyak orang-orang yang berlomba menampung hasil curian mereka itu. Semua itupun terpaksa mereka lakukan karena kekejaman pemimpin yang hanya memanfaatkan tenaga mereka saja.
Pagi itu, Riuga dan Febri mendapat tugas membawa barang hasil tambang ke tempat yang lumayan jauh. Saat itulah, dua sahabat itu mulai melakukan aksinya dan membawa pergi semuanya tanpa jejak sedikitpun.
Setelah menukar hasil curiannya dengan uang, Riuga dan Febri pun berpisah untuk sementara waktu. Febri terbang ke luar negeri, sementara Riuga segera menjemput Adelia di panti asuhan dan membawa adiknya pergi dari tempat itu.
Sejak saat itulah, sosok Riuga berubah menjadi laki-laki batu yang tidak punya perasaan sedikitpun. Bahkan laki-laki tampan itu tidak pernah segan untuk melenyapkan siapapun yang berani menentang dirinya.
Beberapa tahun berlalu, Riuga berhasil mengembangkan bisnisnya dan menjadi salah satu pebisnis muda yang sukses. Hal itulah yang membuatnya menjadi pengusaha yang sangat disegani oleh lawan bisnisnya.
Riuga juga sempat kembali ke pertambangan dan mengganti semua kerugian yang pernah dia curi. Laki-laki tampan itu bahkan memberikan ganti rugi berkali-kali lipat, yang membuat perusahaan itu langsung menutup kasus yang sempat ditangani oleh pihak berwajib.
Flashback Selesai
__ADS_1